7 Puisi Tengsoe Tjahjono –

oleh -58 views


SUARA SEPATU

Lama tak kudengar detak sepatu itu
Melewati lorong, di antara rimbun mawar dan kersik angin
Sebelum pintu dibuka kala fajar

Detak itu seirama detak jantung
Annelies yang datang dengan kereta
Melampaui ladang-ladang
Sebelum berpeluk dengan mimpi

Aku memang bukan Minke
Tak terbaca pada peta sejarah
Hanya suara sepatu itu
Tak habis-habis ditunggu

2021

PUISI DI KELOPAK ANGGREK

Pagi merekah di kelopak anggrek
Membawa pesan puisi. Matahari mencair, menghanyutkan kata-kata.
Sehangat teh tanpa gula.
Seliat pelukan

Pada lembar daun, puisi menyiapkan
ruang berbincang: burung-burung
dan cahaya, jalan dan persimpangan, batu-batu dan tapak kaki, rindu dan sepi
: Paradoks-paradoks ini dinamika asyik sekali

Pada kuncup bunga puisi abadi menulis
Seabadi anggrek yang dikenal sepanjang waktu
Tentang jejak bersama
Melintasi musim-musim

22 Des 2020

MALAM

Burung bangau berumah dalam pigura
Bersama puisi, bulan, dan angin
Tak ingin ia cari pancuran asing
Yang tak dikenali tekstur air dan alir. Hanya puisi itu telaga

Cahaya berpendar dari lampu dinding
Hati yang selalu tawarkan bilik hangat
Ada meja, teh, dan diskusi
Di malam yang berkabut dan gigil

Aku sediakan panggung kecil untukmu
Panggung yang juga tersimpan di jantung
Bacalah sajak di situ
Tentu tentang puisi: danau yang
Dipenuhi desir angin, kecipak air
Dan perahu

25112020

HUJAN

Tampias itu singgah di teras. Di kursi puisi pun basah. Angin hanya kecil. Bertiup sangat kecil. Kaki-kaki hujan melayang tipis ke pipi

Aksara ternyata tak bisa mengabur. Dia bukan tinta biasa. Gigil hujan tak bisa menghapusnya. Puisi itu tetap berbicara dalam bahasa kabut. Di meja sepasang bunga makin kokoh di vas
“Jangan hindari hujan.”

Tampias itu dibiarkan tumpah di pipi sebelum runtuh di lantai. Kakimu melukis sungai. Kita pun berenang di antara batu dan pohonan. Berdua.

24112020

TERAS PAGI

Bias cahaya mendorong pintu terbuka. Salam pertama tentu berupa doa. Embun yang tergelincir dari pucuk daun-daun mawar jambe

Seperti biasa ruap teh mengalir dari meja. Beringsut dari kursi ke kursi sambil sesekali ditingkah berita dari tivi. Ini hari apa? Selasa. Tuhan menciptakan matahari begitu kuning nyala

Di pintu puisi berdiri, menyorongkan kepalanya dengan siur angin ladang. Mari duduk. Kutunjukkan kerikil-kerikil di pelataran. Putih-hitam. Pelan-pelan semua berhitung. Seperti usia. Seperti larik- larik sajak yang enggan beranjak.

Malang 24112020

FELIX JUGA WARGA NEGARA

indonesia ialah keniscayaan
bagi dirinya sebab tanpa diminta ia lahir
di katub katulistiwa
dengan rambut keriting, kulit hitam, dan gunung kering
sungai tanpa ikan, dan jalan hanya punya matahari

indonesia belum pernah ia kenal
sebab indonesia hanya ada di jawa
felix hanya membaca di buku sejarah
yang kadang-kadang ia ragukan kebenarannya

indonesia negeri bahari, namun mengapa laut begitu sepi
indonesia negeri agraris, namun mengapa beras impor dari luar negeri
indonesia negeri besar, namun mengapa tunduk pada yang asing
indonesia negeri damai, namun mengapa warganya suka caci maki
indonesia negeri surga, kenapa ia sering bertemu neraka

felix gundah. perahu yang goyah.
oleng di tengah samudra tanya
: inikah indonesia?

tak ada yang menjawab. bisa jadi membisu.
angin laut tak bisa membawa perahu pulang
karam pada pusaran

indonesia semakin absurd berpusing bagai gasing
kepala felix memening. muntah ia di anjungan
pecahan-pecahan jantung yang rusak akut
hanya yesus yang setia mendampingi
mengumpulkan kepingan-kepingan itu sambil berbisik
: aku bukan indonesia, aku tak berasal dari dunia, namun aku punya negara
aku sangat mencintainya

felix juga ikut berbisik, ya, aku punya negara
sebut saja indonesia

seperti maria bunda yesus
dengan kandungan usia tua
serta yosef pendamping paling setia
beriringan menuju kota
untuk mengikuti cacah jiwa
karena ia seorang warga negara

ia pun tak bisa menolak menjadi bagian dari mosaik ini
mawar di tengah belantara, atau bunga bangkai
tetaplah berakar pada bumi
sebut saja indonesia

berikan pada raja, apa yang menjadi hak raja
berikan pada tuhan, segala yang menjadi milik tuhan
tapi raja tak mengenalku, sergah felix di depan sinagoga
sambil mendengarkan yesus sahabatnya bercerita tentang
burung garuda

tapi raja milik tuhan, dan tuhan memilikimu
felix terdiam, gejolak danau itu perlahan tenang
rambutnya masih keriting, kulitnya masih hitam
pelan-pelan ia mencoba mengenali indonesia

hanya adam membangun pondok di lombok
sebab lombok lebih menyurga daripada bali
semoga hawa kerasan di sana
rumahnya yang baru.

graha raya pondok aren, 19 agustus 2015

JAMAAH KORUPSI

jika korupsi bisa berjamaah
lalu siapa yang menjadi imam
siapa pula yang kalian sembah

pasti Tuhan kalian ubah jadi uang
malaikat-malaikat kalian ganti jadi kesempatan
dan surga hanya ada di rumah-rumah mewah
di kolam renang yang kau aliri air darah

oh, betapa kalian sederhanakan hidup
menjadi singkat dan kering
menjadi pendek dan sepi
menjadi barbar dan liar

jika korupsi berjamaah
bukankah tak beda dengan sampah
berserak di jalan, dikumpulkan, lalu dibakar

pasti Tuhan kalian tinggalkan di rumah ibadat
nabi-nabi terpinggirkan di halaman kitab suci
dan neraka hanya kisah fiktif yang kalian tertawakan
Sambil menghitung jumlah aset di bank dan rekening siluman

oh, betapa kalian nafikan jalan terang
kau singkirkan kaum miskin
kau lupakan kaum papa
kau bunuh akal sehat

korupsi memang asyik
namun lebih asyik jika kalian terusir dari negeri ini.

5 September 2020



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.