AGAR KELAS MENULIS MEMBUATMU BISA MENULIS –

oleh -25 views


Benny Arnas

Saya percaya, tidak ada cara terbaik untuk menjadi penulis selain empat hal: banyak membaca, membaca banyak, banyak menulis, dan menulis banyak.

Bagi yang merasa selalu gagal menulis, jangan mencoba menciptakan cara kelima. Tapi, untuk menuntaskan kepenasaran perihal bagaimana si A menulis dengan baik dan si B menulis dengan baik pula dan si C menulis yang lagi-lagi baik, mengikuti kelas menulis yang diampu si A atau B atau C bisa menjadi sebuah opsi.

Tapi, Anda belum tentu bisa menulis seperti mentor. Bahkan tidak akan bisa. Anda hanya akan—diajarkan—menulis … dengan benar.

Ya, sekali lagi: menulis dengan benar, titik. Jangan banyak tanya ini-ono-ini-kucrut, sebab pada dasarnya itulah yang akan didapatkan dan diminta-kerjakan kepadamu selama kelas berlangsung. Di dalam kelas, tugasmu hanya dua:

1. Percayai gurumu
2. Kerjakan semua tugas

Eh ada tiga ding!

3. Jangan nyinyir

Ketika mengikuti kelas, pastikan Anda sudah mencari tahu rekam jejak pengajar dan bagaimana kiprah alumninya. Rekam jejak untuk memastikan kalau ia memang sudah punya karya yang diperhitungkan dalam dunia kepenulisan. Kiprah alumni untuk memastikan kalau ia memang bisa mengajar. Salah satunya saja tidak dimiliki sang guru, tinggalkan kelas itu. Cari yang lain.

Artinya, tugas pertama (percaya pada guru) harus tuntas sebelum kelas dimulai. Kalau tidak, kelas hanya akan memberikan Anda kekacauan. Bagaimana ilmunya bisa masuk kalau Anda meragukan kapasitas gurunya? Bagaimana bisa mengerjakan tugas dengan baik, kalau Anda tidak yakin sama metodenya? Kalau Anda mengharapkan lebih banyak diskusi (baca: debat) selama kelas, Anda salah alamat. Anda mestinya datang ke bincang karya, bukan kelas menulis. Guru yang baik tidak akan mau menghabiskan waktu untuk debat dan diskusi yang mendiskreditkan metode dan cara mengajarnya. Ini bukan berarti guru itu egois, tapi ia sudah memiliki target pembelajaran yang mesti tercapai murid-muridnya dalam waktu tertentu dan terbatas. Lagi pula, memang peserta yang lain datang hanya untuk menonton aksi kritismu yang salah forum itu? Ingat, kelas itu diikuti banyak orang. Mereka mau nulis, bukan debat! Fahim, Ntum?

Setelah percaya pada guru, pastikan Anda menjadi murid yang patuh. Simak materi dengan saksama dan kerjakan semua tugas dengan benar. Kalau menemukan kesulitan, tanya. Kalau merasa metodenya tidak cocok, cobalah menahan diri.

Setelah mengerjakan tugas demi tugas, Anda seharusnya mendapati perubahan. Seharusnya begitu. Kalau tidak, bisa dipastikan selama kelas kamu tidak menunaikan tiga tugasmu di atas.

Kelas yang baik akan membuat tulisan Anda bergerak maju dari pertemuan ke pertemuan. Paling tidak, selesai kelas Anda akan mendapatkan draf pertama yang selesai. Di kelas menulis, Anda tidak—atau belum diperkenankan—menulis kreatif. Guru akan lebih banyak mengarahkan Anda menulis efektif alias menulis hingga selesai sesuai metode.

Kalau kelas itu sangat membantu Anda dalam menulis dengan benar dan hingga selesai, selamat Anda tidak menghabiskan waktu untuk kesia-siaan. Kalau tidak, bagaimana? Jangan mengutuk-ngutuk kelasmu! Bangun dan sadari hal berikut (ingat, ini hanya berlaku bagi murid yang menunaikan kewajibannya: percaya, rajin, dan tidak nyinyir):

Dengan pemahaman ilmu keterampilan menulis yang benar, cepat atau lambat Anda akan tahu bahwa semua yang diajarkan di kelas tidak bisa berbuat banyak di hadapan proses kreatif yang nakal dan bengalnya minta ampun!

Misal, Anda ingin sekali menulis cerita dengan lima masalah besar yang menabrak protagisnya, sedangkan premis yang ringkas menyilakanmu memasukkan satu halangan mayor. Misal lagi, Anda ingin menulis catatan perjalanan ketika sedang melakukan perjalanan itu sendiri—dengan asumsi Anda akan mendapat banyak kejutan yang bisa ditulis, sementara itu kelas mengajarkan Anda untuk menyiapkan instrumen pramenulis dulu sebelum menulis. Lha?

Mau tidak mau, Anda harus berimprovisasi. Baik sebagai langkah alternatif karena metode yang kamu dapati di kelas tidak bisa membantu, atau sebagai temuan rumus (baru) yang cocok bagimu—yang membuatmu lebih nyaman dan gembira dalam menulis.

Yang harus diingat adalah: improvisasi atau bahkan temuan (rumus) baru dalam menulis adalah piuhan atau kelokan dari pembelajaran yang dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh. Jangan Anda tumpahkan cat ke kanvas karena Anda gagal menggambar pemandangan yang indah atau binatang yang mirip aslinya untuk kemudian buru-buru Anda labeli tumpahan cat itu sebagai lukisan beraliran surelisme. Jangan. Jangan melakukan ketololan itu.

Kalau Picasso mengatakan “Learn the rules like a pro, so you can break them like an artist” (pelajarilah aturan layaknya profesional, agar kamu bisa melanggarnya sebagaimana seniman melakukannya), saya mau bilang, menulislah dengan benar, agar kamu bisa menemukan cara yang tidak benar untuk menghasilkan tulisan yang baik.

Ilmu dan aturan dasar adalah sesuatu yang, meskipun harus khatam dipelajari, berlaku umum. Tidak ada keistimewaan dari yang dipakai banyak orang. Anda bisa menjadi khas, termasuk dalam menulis, kalau ketekunan (belajar) menulis diuji dengan proses kreatif yang rumit dan kamu berhasil melaluinya dengan caramu sendiri—yang bahkan bertolak-belakang dengan ilmu menulis yang umum itu, yang kamu pelajari di kelas dulu.

Jadi, ikuti kelas dengan baik. Murid yang rajin bisa mengerjakan tugas. Untuk menjadikan Anda lebih baik, proses kreatif pasca kelas akan memberi banyak ujian. Untuk membereskannya, murid yang baik diperkenankan atau bahkan berinisiatif tanpa rasa bersalah untuk melanggar apa-apa saja yang telah Anda pelajari. Kalau sudah sampai di titik ini, Anda bukan lagi murid.

Anda sudah menjadi penulis.


Lubuklinggau, 6 Februari 2021



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *