APA KATA MEREKA TENTANG KATA: REKONSILIASI –

oleh -85 views



(Hanuman, The Ninth Author of Grammar, oleh Ranvir Shah)

rekonsiliasi/re-kon-si-li-a-si/rekonsiliasi/n/
1. perbuatan memulihkan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan; 2. penetapan pos-pos yang diperlukan untuk mencocokkan saldo masing-masing antara dua akun atau lebih yang mempunyai hubungan satu dengan lain; 3. ikhtisar yang memuat rincian perbedaan antara dua akun atau lebih. (KBBI)

“One minute of reconciliation is worth more than a whole life of friendship!” (Gabriel Garcia Marquez)
“The worst reconciliation is better than the best divorce.” (Miguel de Cervantes)
***

Sekitar tahun 1952 hingga 1960, seorang diplomat dari Meksiko, mengadakan perjalanan ke pedalaman Galta, Benggala Barat, India. Sang diplomat berusia 38 tahun saat itu dan ia suka menulis. Ia menulis catatan tentang perjalanannya yang diterbitkan menjadi sebuah buku, sebuah memoar perjalanan, yang di dalamnya ia menulis satu bab penuh tentang satu kata: rekonsiliasi. Dan itu adalah tulisan yang sedikit berbeda dari apa yang biasa orang-orang tahu dari tulisan-tulisannya. Mungkin, dalam perjalanannya itu ia menemukan pengalaman-pengalaman baru. Belajar hal-hal baru, bertemu orang-orang atau sesuatu yang baru. Mungkin juga ia belajar gramatika baru. Atau karena itu di India, mungkin juga ia “bertemu” dengan Hanuman: penulis kesembilan dari gramatika. Mungkin juga, ia belajar paramasastra dari Hanuman. Dan ini apa katanya tentang apa itu rekonsiliasi.
***


(Octavio Paz muda)

Octavio Paz (The Monkey Grammarian, Bab 16, 1970)
Diterjemahkan: Rambuana *

“Kata ‘rekonsiliasi’ terus menampakkan diri dan menjelma kembali. Untuk waktu yang lama aku menerangi jalanku dengannya, aku memakan dan meminumnya. ‘Pembebasan’ adalah saudari dan antagonisnya. Ahli bidah yang bersumpah atas kekeliruannya dan kembali ke pangkuan gereja, dirukunkan dengannya; purifikasi tempat-tempat sakral yang telah diprofankan adalah rekonsiliasi. Pemisahan adalah ketimpangan dan penyimpangan. Timpang: sesuatu telah hilang, kita menjadi tidak seutuhnya. Menyimpang: kita telah jauh tersesat, kita tidak berada di tempat semestinya. Rekonsiliasi menyatukan apa yang terpisah, ia mengubah eksklusi menjadi konjungsi, ia mengumpulkan kembali apa yang telah tercerai: kita kembali pada keutuhan dan dengan demikian kita kembali ke tempat asal kita semestinya. Akhir dari pengasingan. Pembebasan membuka ruang pandang yang lain: pelepasan belenggu-belengu dan keterikatan, keberdaulatan dari kehendak bebas. Konsiliasi adalah kebergantungan, ketaklidan; pembebasan adalah kemandirian, kegenapan dari satuan, mutualitas dari keunikan. Pembebasan: ditulenkan, penyucian, pemurnian. Ketika aku sendiri aku tidak sendirian: aku dengan diriku sendiri; jadi terpisah, adalah bukan menjadi tersisih: itu adalah menjadi diri. Saat dengan semua orang, aku terasing dari diriku sendiri; saat aku sendirian, aku di dalam keseluruhan yang diperuntukkan sepenuhnya untukku. Pembebasan tak hanya akhir dari liyan atau keliyanan, tetapi juga akhir dari diri. Kembalinya kedirian–bukan diri itu sendiri; untuk apa yang sama, kembalinya kesamaan.

Apakah pembebasan sama seperti rekonsiliasi? Meskipun rekonsiliasi mengarah pada jalan pembebasan dan pembebasan dengan jalan rekonsiliasi, kedua jalur itu bertemu hanya untuk terpisah lagi: rekonsiliasi adalah identitas dalam kerukunan, pembebasan adalah identitas dalam kebedaan. Kesatuan plural; kesatuan kesama-dengan-dirian. Berbeda, namun sama; tepatnya satu yang sama. Aku adalah yang lain, diriku yang lain. Di dalam diriku, dalam kesama-dengan-dirianku, rekonsiliasi terlewati dengan jalan perselisihan, perpecahan, pemutusan, dan pembebasan. Ia terlewati dan berulang kembali. Itu wujud yang orisinil dari revolusi. Wujud yang mengadakan dan melanggengkan dirinya sendiri dalam masyarakat: regenerasi dari kesepakatan sosial, kembali ke pluralitas yang orisinil. Pada awalnya tak ada satu pun: pemimpin, tuhan, aku; karenanya revolusi adalah akhir dari Yang Satu dan kesatuan yang tak dibedakan, permulaan (kembali ke semula) dari keragaman serta irama-iramanya, aliterasinya, komposisi-komposisi harmonisnya. Degenerasi dari revolusi, seperti bisa dilihat pada pergerakan revolusi modern, semua dari setiapnya, tanpa pengecualian, telah kembali pada caesarisme birokratik, dan pemberhalaan yang terinstitusi dari sistem dan pemimpin, adalah setara dengan dekomposisi terhadap masyarakat, yang menghentikan keberlangsungan harmoni pluralitas, yaitu sebuah komposisi dalam arti kata yang sebenarnya, dan telah membatu dalam topeng dari Yang Satu. Degenerasi terletak dalam fakta bahwa masyarakat mengulang-ulang tanpa akhir gambaran-gambaran dari pemimpin, yang tiada lain adalah topeng dari kegamangan: ekses-ekses yang membingungkan, impostor dari Caesar. Tetapi tak pernah satu orang, juga tak ada yang pernah menjadi seseorang, masing-masing orang adalah semua orang. Tapi tak pernah ada semua orang: selalu ada satu yang hilang. Kita bukanlah satu yang bersama, dan bukan juga setiap dari semuanya. Tak ada satu dan tak ada semua. Yang ada adalah jamak dari satu dan jamak dari semua. Selalu dalam plural, selalu dalam keterlengkapan yang tak lengkap. Sang “kita” sedang dalam pencarian dari masing-masing pada setiapnya: iramanya, metaforanya, pelengkapnya yang berbeda.

Aku merasa terpisah, jauh terpindah–bukan dari orang lain atau hal-hal lain, tapi dari diriku sendiri. Saat aku mencari diri sendiri di dalam diriku sendiri; aku tak menemukan diriku sendiri. Aku keluar dari diri sendiri dan tak menjumpai diriku sendiri juga di sana. Di dalam atau di luar. Aku selalu menghadapi yang lain. Diriku yang sama tetápi selalu diriku yang lain. Ragaku dan aku, bayanganku dan aku, mereka adalah bayangan. Bayangan-bayanganku: raga-ragaku: liyan yang lainku. Mereka mengatakan bahwa ada orang-orang yang kosong; aku berisi, benar-benar berisi diriku sepenuhnya. Ketiadaan, aku tak pernah benar-benar dalam kepemilikan penuh atas diriku, dan aku tak akan pernah bisa masuk dalam diriku sepenuhnya; selalu ada seseorang yang lain di sana. Haruskah aku menjauh darinya, mengadakan ritual pengusiran terhadapnya, atau membunuhnya? Masalahnya adalah saat aku memergokinya, dia menghilang. Bicara dengannya, merangkul pengertiannya, membuat semacam kesepakatan? Aku mencarinya di sini, dan dia muncul di sana. Dia tak punya substansi. Dia tak mengambil bentuk ruang apalah itu. Dia tak pernah ada di mana aku berada; jika aku di sana, dia di sini.; Jika aku di sini, dia di sana. Penampakan-tak-terlihatku yang terlihat, keterlihatanku yang tak-terlihat. Tak pernah sama. Tak pernah di tempat yang sama: di luar adalah di dalam, di dalam adalah di tempat lain. Di sini adalah tak di mana pun. Tak pernah di mana-mana. Jarak yang teramat jauh. Di tempat yang terpencil. Selalu lebih di sebelah sana. Di mana? Di sini. Yang Lain tak bergerak. Aku tak pernah bergerak dari tempatku. Dia di sini. Siapakah itu yang ada di sini? Adalah aku. Yang selalu saja diriku yang sama. Di mana? Di dalam diriku. Sedari awal aku telah jatuh ke dalam diriku dan aku masih terjatuh. Sedari awal aku selalu pergi ke tempat di mana aku berada, tetapi aku tak pernah tiba ke tempat di mana aku berada. Aku selalu diriku sendiri entah di mana: tempat yang sama, Aku yang lain. Jalan untuk keluar adalah jalan untuk masuk. Jalan untuk masuk–tetapi tak ada jalan masuk, adalah seluruh jalan keluar. Di dalam sini adalah selalu di luar sana. Di sini adalah selalu di sana. Di tempat lain yang selalu. Adalah selalu saja sama: dirinya: diriku: Yang Lain. Akulah yang itu. Satu yang di situ. Begitulah adanya. Begitulah Aku adanya.

Dengan siapa aku bisa merekonsiliasi diri? Dengan diriku sendiri atau dengan Yang Lain–dengan liyan? Siapakah mereka, siapakah kita? Rekonsiliasi bukanlah sebuah ide dan bukan pula sebuah kata. Ia adalah benih yang pada mulanya hari demi hari, kemudian jam demi jam terus tumbuh hingga ia berubah menjadi palung kaca spiral dengan bentangan mahaluas yang di dalam arteri-arteri dan filamen-filamennya mengalirkan cahaya, anggur merah, madu, asap, api, air asin dan air tawar, kabut, cairan-cairan yang mendidih, pusaran-pusaran angin dari helai bulu. Bukan termometer dan bukan pula barometer: sebuah pusat pambangkit energi yang berubah menjadi air mancur serupa pohon dengan cabang-cabang dan daun dari segala warna yang bisa dibayangkan; adalah tanaman dari bara yang menyala di musim dingin dan tanaman dari hawa sejuk menyegarkan di musim panas; adalah matahari segala terang dan matahari segala gelap; adalah burung albatros agung yang tercipta dari garam dan udara; adalah kilang pantulan; adalah mesin penunjuk waktu yang setiap jamnya merenungkan dirinya sendiri dalam diri orang lain hingga ia tereduksi menjadi ketiadaan. Rekonsiliasi adalah bebuahan–bukan bebuahannya tetapi kematangannya, bukan kematangannya, tetapi kejatuhannya. Rekonsiliasi adalah planet batu akik dan nyala api kecil, seorang gadis belia, di tengah pijar pualam. Rekonsiliasi adalah warna-warni tertentu yang berkelindan untuk membentuk sebuah bintang konstan yang diguguskan di kening tahun, atau mengambang di rerumpun hangat di antara jalur percabangan musim-musim; getar dari partikel-partikel cahaya yang terpasang pada pupil dari mata para kucing, terlontar ke satu sudut siang; napas dari para bayangan yang tertidur di kaki musim gugur yang dikuliti hidup-hidup; temperatur sewarna oker, embusan-embusan angin dan warna dari kurma, merah kekuning-kuningan, dan hijau dari kolam air yang tergenang. Cekungan-cekungan es dari sungai, langit yang mengembara dengan perca yang megah, tetabuhan dari hujan; matahari tak lebih besar dari waktu yang hanya seperempat jam, namun mengandung seluruh zaman di dalamnya; laba-laba memintal jaring-jaring semi-transparan untuk memerangkap makhluk-makhluk infinitesimal buta yang memancarkan cahaya; dedaunan dari pucuk api, dedaunan dari air, dedaunan dari batu, dedaunan magnetik. Rekonsiliasi adalah rahim dan farji, tetapi adalah juga kerlingan mata, adalah mandala pasir. Ia adalah malam. Kepulauan, gravitasi universal, persenyawaan yang terpilih, adalah keraguan-keraguan cahaya pukul enam di sore hari yang larut, yang tidak tahu apakah ia akan tinggal atau pergi. Rekonsiliasi adalah bukan Aku. Bukan kalian semua, bukan pula rumah, masa lalu atau masa depan. Ia selalu lebih di sebelah sana. Ia bukanlah sebuah kepulangan, perjalanan kembali ke kerajaan dari mata-mata yang menutup. Ia adalah melangkah ke udara terbuka, dan berkata: ‘Selamat Pagi’.”
***


*) Rambuana, pedagang kaki lima yang gemar membaca, senang menulis, dan suka menerjemahkan karya-karya sastra, tinggal di Tangerang, Banten.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.