BATU SANDUNG IMPLEMENTASI KURIKULUM (12) –

oleh -70 views


Djoko Saryono

Sejak masa Kurikulum 75 sampai sekarang tampak nyata bahwa konstruksi kebijakan kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (di dalamnya termasuk sastra) yang dihajatkan atau apa yang hendak dicapai selalu tidak terwujud secara memuaskan di dalam ruang-ruang implementasi kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Indonesia atau kurang terealisasi dalam pembelajaran, pengajaran, dan pemelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai kendala pokok.

Pertama, selalu terdapat ketidakserasian dan ketidaksambungan atau tidak ada harmonisasi dan sinergi antara konstruksi kebijakan dan implementasi kebijakan, bahkan tidak jarang di antara lini kebijakan (baik konstruksi maupun implementasi) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia saling menegasi atau bertabrakan. Sebagai contoh, dalam semua kurikulum yang pernah berlaku untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia selalu dicanangkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi kebijakan penilaian terutama Ujian Nasional selalu berisi pengetahuan bahasa ditambah pengetahuan membaca-menulis, sehingga praksis pembelajaran dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi dan terfokus pada pengetahuan. Demikian juga dalam KTSP sudah dicantumkan kewajiban siswa untuk membaca sejumlah karya sastra, yang lucunya dalam Kurikulum 2013 malah tidak ada, tetapi perpustakaan sekolah “praktis kosong melompong” dari karya-karya sastra dan anehnya dana BOS atau BOSDA senantiasa tak teralokasikan untuk membeli buku-buku karya sastra, padahal boleh untuk membeli LKS dan kertas remeh-temeh lainnya. Pada zaman pandemi malah sama sekali tak ada aktivitas.

Selanjutnya, dalam berbagai kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah berlaku selalu ditekankan kemampuan membaca dan menulis, yang tentu saja memprasyaratkan kemampuan utuh-terpadu (holistik-fenomenologis). Namun, penilaian pembelajaran dan pengajaran selalu analitis-diskrit (lihat: betapa teknik penilaian Kurikulum 2013 sangat analitis-posivistik-behavioristik yang irasional).

Kedua, guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia sebagai salah satu pelaksana atau implementor kebijakan kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Indonesia selalu mengalami penggerusan, pengikisan, pengekangan dan atau pembelengguan birokratis-administratif, malah penafian profesionalitas oleh birokrasi-administrasi pendidikan sehingga di dalam diri mereka tidak tumbuh dan berkembang otonomi dan etos profesi yang kuat. Seperti guru-guru mata pelajaran lainnya, guru-guru bahasa Indonesia terjangkiti tuna kuasa akibat sedemikian lama kehilangan otonomi dan etos profesi.

Sebagai contoh, secara akademis-profesional, perihal perencanaan pembelajaran, pengembangan bahan ajar, dan pemilihan strategi pembelajaran merupakan bagian otonomi profesi guru, tetapi sampai sekarang hal tersebut telah disabotase oleh birokrasi-administrasi pendidikan dalam rupa penyediaan silabus, buku ajar, dan bahkan sintaks pembelajaran oleh pihak birokrasi-administasi pendidikan. Tidak mengherankan, guru menjadi tuna kuasa dan serba menunggu: tak aneh ketika buku ajar Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia tidak tersedia pada waktunya, terjadi peristiwa “kelabakan nasional” guru-guru Indonesia termasuk guru-guru bahasa Indonesia karena ketidaktersediaan buku ajar bahasa Indonesia! (sungguh mengharukan atau memilukan?).

Di samping itu, guru-guru bahasa Indonesia, seperti halnya guru-guru mata pelajaran lainnya, mengalami penurunan etos profesi berupa keengganan dan kemalasan mengajar (baca: bukan tidak masuk kelas!), mendampingi, dan melatih siswa-siswanya karena dihimpit oleh nomenklatur tugas guru (yang dibuat oleh birokrasi-administrasi pendidikan) bahwasanya tugas guru sekarang menjadi fasilitator dan motivator siswa, bukan meloloh informasi kepada siswa. Hal ini merupakan reduksi peran dan fungsi guru: mengapa guru hanya menjadi fasilitator, bukankah tugas utama guru mengajar, menginspirasi, membimbing, dan melatih?

Menurut hemat saya, hal tersebut merupakan nalar jungkir balik: dalam dunia sepakbola profesional saja selalu ditekankan orang seperti Pepp Guardiola dan Mourinho merupakan pemimpin sekaligus mentor, coach, dan inspirator bagi pemain-pemain di lapangan sepakbola (dan mereka bukan fasilitator pemain!), dalam pembelajaran mengapa justru guru selalu diharuskan menjadi fasilitator dan motivator semata? Aneh! Tidak mengherankan, guru-guru bahasa Indonesia – seperti guru-guru mata pelajaran lainnya – lebih menyerupai tukang-tukang tanpa jiwa yang membentuk manusia, dan tentu hal ini sangat berbahaya.

Selanjutnya, ketiga, lingkungan dan suasana pembelajaran, pengajaran, dan pemelajaran bahasa dan sastra Indonesia selalu kurang menguntungkan. Dalam skala mikro, misalnya, lingkungan dan suasana kebahasaan di sekolah sering tidak mendukung kelancaran dan kecemerlangan kemampuan berbahasa dan bersastra Indonesia. Misalnya, guru bahasa Indonesia mati-matian berusaha menggunakan bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya, tetapi guru-guru mata pelajaran lainnya justru menggunakan bahasa Indonesia centang-perenang atau abai memberi kontribusi bagi pembelajaran bahasa Indonesia.

Dalam skala makro, lingkungan bahasa dan sastra di ruang publik kurang kondusif bagi pembentukan kemampuan berbahasa dan bersastra Indonesia. Ruang publik Indonesia selalu dipenuhi dengan bahasa-bahasa tidak sehat atau malah dipenuhi sampah verbal yang tidak menguntungkan bagi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Begitu juga program dan kegiatan pelindungan, pembinaan, dan pengembangan profesi guru atau peningkatan mutu pembelajaran (yang diselenggarakan oleh birokrasi-administrasi pendidikan) sering menganggu tugas-tugas profesional guru sehingga mengganggu kelancaran pembelajaran, pengajaran, dan atau pemelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Dampaknya, keefektifan pembelajaran, pengajaran, dan pemelajaran bahasa dan sastra Indonesia menjadi terganggu. Sampai sekarang “keefektifan” pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menjadi salah satu batu sandung ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Bersambung…



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.