BEKAL LANJUT PENGAPRESIASI SASTRA (17) –

oleh -84 views


Djoko Saryono *

Yang dimaksud dengan bekal lanjut pengapresiasi sastra ialah bekal tambahan atau berikutnya yang seyogianya dimiliki oleh pengapresiasi sastra agar dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra secara lebih bermakna, meluas, mendalam, kaya, dan tajam. Bekal lanjut ini tidak harus dimiliki, tetapi sebaiknya atau seyogianya dimiliki. Jika tidak dimiliki, seorang pengapresiasi sastra tetap dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra. Jika dimiliki, seorang pengapresiasi sastra bukan hanya dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra, melainkan juga meluaskan dan mendalamkan perolehan kegiatan apresiasi sastra. Dengan kata lain, kegiatan apresiasi sastranya menjadi luas dan dalam karena yang diperoleh lebih banyak dan beraneka ragam serta kaya, misalnya pengalaman, pengetahuan, kesadaran, dan hiburan sekaligus.

Terdapat bermacam-macam bekal lanjut yang bisa dimiliki oleh pengapresiasi sastra. Bekal-bekal lanjut yang seyogianya dimiliki oleh pengapresiasi sastra sebagai berikut. Pertama, pengetahuan ihwal lambang-lambang terutama lambang-lambang bahasa, lambang-lambang sastra, dan lambang-lambang budaya. Meskipun dalam beberapa hal bisa menggunakan lambang bukan bahasa (misalnya, beberapa judul cerpen Danarto dan puisi Sutardji), karya sastra pada dasarnya terpapar dalam bahasa sehingga bagaimanapun lambang-lambang bahasa perlu dikuasai oleh pengapresiasi. Hal ini meningkatkan dan mencermatkan serta menajamkan penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan pengapresiasi sastra dalam melakukan kegiatan apresiasi sastra. Demikian juga lambang-lambang sastra dan budaya.

Sebagaimana diketahui, karya sastra menyodorkan kemungkinan-kemungkinan khas yang terwadahi atau terwahanai dalam lambang-lambang khas pula yang kemudian disebut lambang sastra sehingga ada baiknya lambang-lambang sastra ini dikuasai oleh seorang pengapresiasi sastra. Penguasaan atas lambang-lambang sastra ini akan meningkatkan ketajaman, kecermatan, kedalaman, keluasan, malahan kekayaan kegiatan apresiasi sastra beserta hasil-hasilnya. Selain itu, karya sastra pada dasarnya terikat konteks budaya sehingga di dalamnya selalu termuat lambang-lambang budaya.

Seorang pengapresiasi sastra ada baiknya juga mengetahui lambang-lambang budaya yang terdapat dalam karya sastra. Pengetahuan lambang-lambang budaya ini bisa meningkatkan dan mengembangkan mutu dan cakrawala penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan karya sastra yang diapresiasi. Misalnya, jika Maulana Ikram (misalnya) mengetahui lambang bahasa, sastra, dan budaya dalam karya sastra Kakawin Arjunawiwaha (Empu Kanwa) atau Salju (Subagio Sastrowardoyo), niscaya cakrawala dan mutu penjiwaan, penghayatan, dan penikmatannya atas dua karya sastra tersebut jauh lebih meningkat dan berkembang karena tangkapanya dan cerapannya atas sinyal-sinyal sastrawi yang terdapat dalam dua karya tersebut jelas lebih baik.

Kedua, pengetahuan tentang manusia dan kemanusiaan dengan segala seginya. Pengetahuan tentang siapakah manusia, bagaimanakah hakikat hidup manusia, apakah makna kebahagiaan, kesengsaraan, kematian, dan hidup sesudah mati bagi manusia, bagaimanakah manusia hidup di dunia bersama-sama dengan makhluk lain, bagaimanakah manusia harus bersikap terhadap dunia dan lingkungannya, dan sejenisnya merupakan pengetahuan tentang manusia dan kemanusiaan yang perlu diketahui oleh manusia. Pengetahuan ini bisa diperoleh manusia melalui agama, filsafat, etika, psikologi, antropologi, dan sejarah.

Karena itu, alangkah baiknya jika seorang pengapresiasi sastra menyukai dan kalau bisa membaca bacaan-bacaan agama, filsafat, etika, psikologi, antropologi, dan sejarah sebab dengan demikian dia akan memperoleh pengetahuan tentang manusia dan kemanusiaan demikian banyak dan beraneka ragam. Selanjutnya hal ini akan memperkaya, memperluas, dan memperdalam hasil-hasil kegiatan apresiasi sastranya. Misalnya, jika Imam Wicaksana mengetahui hakikat menjadi manusia, hidup manusia di dunia, makna kematian, kesengsaraan, dan kebahagiaan menurut konsep eksistensialisme atau filsafat Barat dan menurut Ki Ageng Suryomentaram atau filsafat Jawa, niscaya dia akan lebih kaya, luas, dan dalam penjiwaan, penghayatan, dan penikmatannya atas novel Kering dan Ziarah (Iwan Simatupang) dan cerpen panjang (long short story) Sri Sumarah (Umar Kayam) yang diapresiasinya.

Ketiga, pengetahuan tentang masyarakat dan budaya dengan segala pelik-peliknya. Pengetahuan ini antara lain bersangkutan dengan pandangan dunia, pandangan hidup, cara berpikir, sikap hidup, adat-istiadat, tradisi-tradisi, ritus-ritus, perilaku sosial, stratifikasi sosial, etos sosial, hukum dan atau norma sosial dan perubahan sosial. Keadaan dan situasi sosial (misalnya anomi sosial, kesenjangan sosial, dan persoalan sosial), perkembangan masyarakat dan budaya (misalnya, kontinuitas dan diskontinuitas perkembangan, arah dan orientasi perkembangan, dan konflik dan akulturasi dalam perkembangan), dan transformasi masyarakat dan budaya (misalnya, arah transformasi, tahapan transformasi, kualitas transformasi, dan masalah-masalah transformasi) termasuk pengetahuan tentang masyarakat dan budaya juga.

Alangkah baiknya kalau seorang pengapresiasi sastra menguasai pengetahuan ini. Hasil kegiatan apresiasi sastranya niscaya akan kaya, luas, dan dalam. Dia tidak hanya memperoleh literary enjoyment, tetapi lebih daripada itu: dia mungkin mendapat pencerahan, kesadaran-kesadaran baru, dan bahan-bahan renungan yang bagus tentang berbagai hal yang bersangkutan dengan hidupnya. Misalnya, jika Aruming Ramadani mengetahui situasi sosial dan politis pada zaman penjajahan Belanda di Jawa, pandangan dunia dan cara berpikir penjajah Belanda atas Hindia Belanda, dan keadaan masyarakat pada zaman penjajahan Belanda, niscaya perolehannya atau hasil kegiatan apresiasinya atas roman Bumi Manusia (Pramudya Ananta Toer) lebih bermakna, kaya, luas, dan dalam. Dia tidak hanya memperoleh hiburan-hiburan yang bisa jadi terdapat dalam roman tersebut, tetapi juga kesadaran-kesadaran akan hakikat penjajahan dan dampak negatif penjajahan baik di bidang sosial ekonomi maupun mentalitas.

Keempat, pengetahuan tentang sastra yang mencakupi karya sastra, teori sastra, sejarah sastra, dan kritikan sastra. Pengetahuan tentang karya sastra di sini bisa berupa jenis-jenis karya sastra (puisi, prosa, dan drama), judul-judul karya sastra, bentuk dan isi karya sastra, sastrawan dan kehidupannya, dan hubungan karya sastra dengan pengarang dan keadaan sosial. Pengetahuan tentang teori sastra bisa berupa aliran-aliran sastra (romantisme, realisme, naturalisme, absurdisme, dan sebagainya), pertentangan antara mimesis dan kreasi, hakikat sastra menurut berbagai pemikiran dan pandangan (pandangan Plato, Aristoteles, Iqbal, Kristeva, dsb.), paham-paham teori sastra (strukturalisme, formalisme, feminisme, sosiologi sastra, psikologi sastra, semiotika, pascakolonialisme, geokritik sastra, ekokritik sastra, dan sebagainya), dan cara kerja paham-paham teori sastra.

Pengetahuan tentang sejarah sastra bisa berupa pengetahuan tentang aliran dan karya sastra seperti apa yang menonjol dan kuat dalam berbagai kurun waktu, bagaimana latar belakang sastrawan-sastrawan, bagaimanakah kaitan peristiwa-peristiwa sosial-politis-budaya dengan sastra seperti zaman tahun 1965-an dengan Manikebu dan Lekra, dan bagaimana hubungan antara suatu karya sastra dan karya sastra lain. Pengetahuan tentang kritikan sastra dapat berupa karya-karya sastra apa saja yang telah dikritik oleh pengritik, bagaimana kritik berbagai pengritik terhadap suatu karya sastra, bagaimana kecenderungan-kecenderungan kritikan para pengritik, dan bagaimana wujud-wujud kritikan karya sastra yang ada.

Berbagai-bagai pengetahuan tentang sastra ini memang tidak harus dikuasai oleh pengapresiasi sastra. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika seorang pengapresiasi sastra ingin menguasainya. Penguasaan atas pengetahuan tentang sastra ini malah menguntungkan pengapresiasi sastra. Misalnya, jika kita mengetahui latar belakang Danarto yang menyukai bacaan-bacaan mistik kejawen dan berteman dengan pelukis penganut mistik kejawen, maka pengetahuan ini bisa dimanfaatkan untuk menghayati dan menikmati cerpen-cerpen Danarto seperti Adam Ma’rifat, Godlob, dan Lahirnya Sebuah Kota Suci.

Kelima, pengetahuan linguistik dan stilistik. Kedua pengetahuan ini bersangkutan dengan bunyi-bunyi bahasa, kata-kata, kalimat-kalimat, wacana-wacana, dan gaya-gaya. Pengetahuan tentang hal-hal ini bermanfaat sekali dalam apresiasi sastra karena bagaimanapun karya sastra terpapar dalam bahasa yang mengandung aspek linguistis dan stilistis. Jika seorang pengapresiasi sastra memiliki pengetahuan ini, maka niscaya dia lebih mampu melakukan penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan karya sastra ketika melakukan kegiatan apresiasi sastra.

Misalnya, penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan kemerduan bunyi dalam puisi (baik karena ikonisitas maupun asonansi) sangat ditunjang oleh pengetahuan linguistik khususnya bunyi-bunyi bahasa. Kalau Laila Kinanti, sebagai misal, memiliki pengetahuan linguistik dan stilistik yang baik atau sangat baik, dia niscaya akan mampu menangkap dan menikmati kehebatan, keelokan, dan kebagusan ikonisitas puisi-puisi Chairil Anwar dan W. S. Rendra. Sebaliknya, jika pengetahuan linguistik dan stilistiknya terbatas atau pas-pasan, Laila Kinanti pasti tidak dapat menikmati keluarbiasaan ikonisitas puisi-puisi Chairil dan Rendra.

Meskipun tidak wajib atau harus dimiliki atau dikuasai, kelima bekal lanjut tersebut seyogianya dikenali atau diketahui. Tidak perlu semuanya. Mengenali serba sedikit, tidak mendalam, salah satu atau beberapa di antara kelima bekal lanjut tersebut sudah baik karena sudah bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan, menjaga, dan mengembangkan mutu dan cakrawala apresiasi sastra. Untuk mengenali serba sedikit itu tidak perlu pula belajar secara khusus. Kalau pengapresiasi sastra pernah mengenyam pendidikan terutama persekolahan, sekalipun tingkat dasar, sebenarnya dia sudah mengenali kelima bekal lanjut tersebut walaupun mungkin secara tidak sadar atau bawah sadar. Mengapa demikian? Sebabnya, informasi-informasi mengenai kelima bekal lanjut tersebut secara tersirat terdapat dalam mata-mata pelajaran di sekolah. Jadi, tidak perlu belajar antropologi, filsafat, linguistik, dan lain-lain secara khusus!

Bersambung 18


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.