BERJALAN JAUH KE SELAMANYA –

oleh -139 views



(foto dari kapanlagidotcom)

Kurt Vonnegut
Penerjemah: Rambuana *

Mereka telah tumbuh sebagai tetangga depan rumah satu sama lain, di daerah pinggiran kota, dekat dengan tanah-tanah lapang dan hutan dan kebun-kebun buah, dengan pemandangan indah dari menara lonceng milik sekolah bagi anak-anak tunanetra.

Sekarang mereka berumur duapuluh tahun, dan tak bertemu satu sama lain selama hampir setahun. Mereka selalu bercanda, selalu hangat dan nyaman di antara mereka, tetapi tak pernah ada pembicaraan tentang cinta.

Si anak lelaki bernama Newt. Si anak perempuan bernama Catharine. Pada satu awal sore, Newt mengetuk pintu depan Catharine.

Catharine menghampiri pintu. Ia membawa majalah tebal dan mengkilat yang sedang dibacanya. Majalah itu sepenuhnya dikhususkan bagi pengantin wanita. “Newt!” katanya. Ia terkejut melihat dia.

“Kamu mau ikut aku jalan-jalan?” kata Newt. Dia seorang pemalu, bahkan dengan Catharine. Dia menutupinya dengan berbicara ringkas, seolah-olah apa yang jadi perhatian sebenarnya sangatlah jauh–seakan-akan dia seorang agen rahasia yang berhenti sejenak dalam misi di antara tujuan-tujuan yang indah, jauh dan mengancam. Cara berbicara seperti itu telah menjadi gaya bicara Newt, bahkan dalam masalah-masalah yang sangat menggelisahkannya.

“Jalan-jalan?” tanya Catharine.

“Selangkah demi selangkah,” kata Newt, “melalui jalan setapak, melewati jembatan—-”

“Aku tak tahu kamu ada di kota.”

“Baru saja sampai.”

“Masih di kesatuan, kan.”

“Tujuh bulan lagi,” kata Newt. Dia adalah prajurit satu di batalion artileri. Seragamnya lusuh. Sepatunya kumal. Dia perlu bercukur. Dia mengulurkan tangannya meraih majalah. “Coba kulihat buku cantik ini,” katanya.

Catharine memberikan padanya, “Aku akan menikah, Newt,” katanya.

“Aku tahu,” kata Newt. “Ayo kita jalan-jalan.”

“Aku benar-benar sedang sibuk, Newt,” kata Catharine. “Pernikahannya cuma tinggal seminggu lagi.”

“Kalau kita pergi jalan-jalan, itu akan membuatmu berbunga-bunga. Itu akan membuatmu menjadi pengantin wanita yang berbunga-bunga.” Dia membalikkan halaman-halaman majalah. “Seperti dia–seperti dia–seperti dia,” katanya, menunjukkan pada Catharine para pengantin wanita yang berbunga-bunga.

“Itu akan menjadi hadiahku untuk Henry Stewart Chasens,” katanya, “dengan mengajakmu jalan-jalan, aku akan memberinya pengantin wanita yang berbunga-bunga.”

“Kamu tahu namanya?”

“Ibu menyuratiku,” katanya. “Orang Pittsburgh?”

“Iya,” kata Catharine. “Kamu bakal menyukainya.”

“Mungkin.”

“Bisa—bisa kamu datang ke pesta pernikahan?”

“Kalau itu aku ragu.”

“Cutimu tak cukup panjang?”

“Cuti?” Dia melihat-lihat dua halaman iklan sendok-garpu dari perak. “Aku tidak sedang cuti.” katanya.

“Aku apa yang mereka bilang A.W.O.L (Absent Without Leave. penj).”

“Oh, Newt! Kamu tidak–”

“Tentu saja iya.” katanya, masih melihat-lihat majalah.

“Kenapa, Newt?”

“Aku harus mencari merek produk buat sendok makan perakmu,” katanya. Dia membaca merek-merek peralatan makan perak dari majalah. “Albermale? Heather?” katanya. “Legend? Rambler Rose?” dia menoleh, tersenyum. “Rencananya aku akan memberimu dan suamimu sendok.”

“Newt, Newt–katakan sebenarnya padaku,” kata Catharine.

“Aku mau jalan-jalan,” kata Newt.

Catharine meremas-remas tangannya sendiri dengan cara sedih seorang saudara perempuan.

“Oh, Newt, kamu membodohiku soal kamu jadi A.W.O.L.”

“Newt menirukan bunyi sirine polisi dengan pelan, ia mengangkat alisnya.

“Dari mana?”

“Fort Bragg.”

“Carolina utara?”

“Iya,” katanya. “Dekat Fayyeteville—tempat Scarlet O’hara sekolah.”

“Bagaimana kamu bisa sampai ke sini, Newt?”

Dia mengangkat jempolnya. Melucu dengan tingkah seorang pembonceng di jalan. “Dua hari,” katanya.

“Apa ibumu tahu?”

“Aku tak datang untuk ketemu ibu,” katanya pada Catharine.

“Siapa yang mau kamu temui?”

“Kamu.”

“Kenapa aku?”

“Karena aku cinta kamu,” katanya. “Sekarang bisa kita jalan-jalan?” katanya. “Selangkah demi selangkah, melalui jalan setapak, melewati jembatan—”
***

Mereka sekarang berjalan-jalan. Di pinggir hutan, di jalan tanah yang dipenuhi daun-daun kecokelatan.

Catharine benar-benar marah dan bingung, parau menahan tangis. “Newt,” katanya. “Ini benar-benar gila.”

“Kok bisa?”

“Benar-benar waktu yang gila untuk bilang kamu cinta padaku,” katanya. “Kamu tak pernah bicara seperti itu sebelumnya.” Ia berhenti berjalan.

“Ayo kita terus jalan,” kata Newt.

“Tidak,” katanya. “Sudah terlalu jauh. Jangan lebih jauh lagi,” katanya. “Aku seharusnya tak ikut jalan-jalan denganmu sama sekali.”

“Kamu ikut, kan.”

“Agar kamu keluar dari rumah,” katanya. “Kalau seseorang kebetulan lewat, dan mendengar kamu bicara seperti itu, seminggu sebelum pernikahan—-”

“Apa yang akan mereka pikirkan?” kata Newt.

“Mereka akan pikir kamu sudah gila,” katanya.

“Kenapa?”

Catharine menarik napas dalam-dalam, ia mulai menyusun pembicaraan, “Katakanlah aku benar-benar tersanjung dengan hal gila yang kamu lakukan,” katanya. “Aku tak percaya kamu benar-benar A.W.O.L., tapi, mungkin kamu begitu. Aku tak percaya kamu benar-benar cinta padaku, tapi mungkin kamu iya, tapi—”

“Aku sungguh-sungguh.”

“Kalau begitu, aku sungguh tersanjung,” kata Catharine. “Aku sungguh menyukaimu sebagai teman, Newt, sangat-sangat suka—tapi ini sudah terlambat.” Ia selangkah menjauh darinya. “Kamu bahkan belum pernah menciumku,” katanya, dan ia menutupi wajah dengan kedua tangannya. “Aku tak bermaksud kamu harus melakukannya sekarang. Maksudku hanya semua ini benar-benar tak terduga. Aku belum punya ide terjauh bagimana untuk menanggapinya.”

“Berjalan saja lagi,” kata Newt. “Senang-senang sajalah.”

Mereka mulai berjalan lagi.

“Menurutmu bagaimana reaksiku seharusnya?”

“Bagaimana aku tahu apa yang seharusnya,” kata Newt. “Aku tak pernah melakukan ini sebelumnya.”

“Menurutmu aku harus merobohkan diri ke tanganmu?”

“Mungkin.”

“Maaf harus mengecewakanmu.”

“Aku tidak kecewa,” kata Newt. “Aku tak mengharapkannya. Ini sudah sangat menyenangkan, hanya jalan-jalan.”

Catharine berhenti lagi. “Kamu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?” katanya.

“Tidak.”

“Kita salaman,” katanya. “Kita salaman dan berpisah sebagai teman,” katanya lagi. “Itu yang akan terjadi selanjutnya.”

Newt mengangguk. “Baiklah,” katanya. “Ingatlah aku. Ingatlah aku dari waktu ke waktu. Ingatlah bagaimana aku begitu cinta padamu.”

Tak diduga, Catharine meluapkan tangis. Ia membalikkan badannya dari Newt, dan memandangi deretan pilar-pilar yang tak terhitung di pinggir hutan.

“Apa itu maksudnya?” tanya Newt.

“Kemarahan!” kata Catharine. Ia mengepalkan tangannya. “Kamu tak punya hak untuk—”

“Aku harus tahu,” kata Newt.

“Kalau aku cinta padamu,” kata Catharine, “aku akan membiarkanmu tahu sebelum saat ini.”

“Kamu akan memberitahu?” kata Newt.

“Ya,” katanya. Ia menghadap padanya, menatapnya, wajahnya cukup merah. “Kau akan tahu,” katanya.

“Bagaimana?”

“Kau akan bisa melihatnya,” katanya. “Perempuan tak begitu pintar menyembunyikan itu.”

Newt memandang wajah Catharine dari dekat sekarang. Untuk keterkejutannya yang melumpuhkan, Catharine menyadari bahwa apa yang baru saja dikatakannya itu benar, bahwa perempuan tak bisa menyembunyikan cinta.

Newt melihat cinta sekarang. Dan dia melakukan apa yang harus dilakukan. Ia menciumnya.
***

“Kamu susah sekali untuk paham!” kata Catharine, setelah Newt melepaskannya.

“Aku begitu?” kata Newt.

“Kamu harusnya tak melakukan itu.”

“Kamu tak menyukainya?”

“Apa yang kamu harapkan?” kata Catharine—“hasrat liar yang terabaikan?”

“Aku sudah katakan padamu,” kata Newt, “aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

“Kita bilang selamat tinggal.”

Newt sedikit mengerutkan kening. “Baiklah,” katanya.

Catharine membuat pembicaraan lain. “Aku tak menyesal kita ciuman,” katanya. “Itu manis sekali. Kita telah begitu dekat. Aku akan selalu mengingatmu, Newt, dan semoga berhasil.”

“Kamu juga.”

“Terima kasih, Newt.”

“Tiga puluh hari.”

“Apa?”

“Tiga puluh hari dalam tahanan,” kata Newt—“itu harga dari sebuah ciuman yang harus kubayar.”

“A—Aku minta maaf,” kata Catharine, “tapi aku tak memintamu melakukan A.W.O.L.”

“Aku tahu.”

“Kamu tentu tak akan mendapat penghargaan kepahlawanan untuk melakukan sesuatu setolol itu.”

“Pastinya menyenangkan jadi pahlawan,” kata Newt, “apa Henry Stewart Chasens seorang pahlawan?”

“Bisa saja,” kata Catharine,” jika dia punya kesempatan.” Ia tampak tak nyaman saat mereka mulai berjalan lagi. Salam perpisahan itu telah terlupakan.

“Kamu cinta padanya?”

“Tentu saja aku cinta padanya!” kata Catharine gusar, “Aku tak akan menikah dengannya kalau aku tak cinta padanya.”

“Apa baiknya dia?”

“Yang benar saja!” ia menangis. Berhenti lagi. “Apa kamu sadar betapa menyinggungnya kamu? Banyak, banyak, banyak sekali hal yang baik dari Henry! Iya,” katanya, “dan banyak, banyak, banyak hal yang mungkin jelek juga. Tapi itu sama sekali bukan urusanmu. Aku cinta Henry, dan aku tak perlu membicarakan tabiatnya denganmu.”

“Maaf,” kata Newt.

“Yang benar saja!”

Newt menciumnya lagi. Dia menciumnya karena Catharine ingin ia menciumnya.
***

Mereka sekarang berada di kebun buah yang luas.

“Bagaimana kita bisa begitu jauh dari rumah, Newt?”

“Selangkah demi selangkah, melalui jalan setapak, melewati jembatan.”

“Mereka terus bertambah—langkah-langkah itu.”

Lonceng berdentang dari menara sekolah bagi anak-anak tunanetra dekat dari situ.

“Sekolah untuk orang-orang buta,” kata Newt.

“Sekolah untuk orang-orang buta,” kata Catharine. Ia menggeleng-gelengkan kepala, dengan tampang yang mengantuk. “Aku harus pulang sekarang.”

“Katakan selamat tinggal,” kata Newt.

“Setiap kali aku mengatakannya,” kata Catharine, “tampaknya aku selalu mendapat ciuman.”

Newt duduk di atas rumputan yang dipotong pendek di bawah pohon apel. “Duduk sini,” katanya.

“Tidak.”

“Aku tak akan menyentuhmu.”

“Aku tak percaya padamu.”

Catharine duduk di bawah pohon yang lain berjarak dua puluh kaki darinya. Ia menutup matanya.

“Mimpikanlah Henry Stewart Chasens.”

“Apa?”

“Mimpikanlah calon suamimu yang hebat itu.”

“Baiklah. Akan kulakukan,” kata Catharine. Ia menutup matanya lebih ketat, mencoba menangkap selintas calon suaminya.

Newt menguap.

Beberapa ekor lebah berdengung di atas pohon. Catharine nyaris saja ketiduran. Saat ia membuka matanya, ia melihat Newt benar-benar tertidur.

Dia mulai mengorok dengan lembut.

Ia membiarkan Newt tertidur selama satu jam, dan selama dia tertidur, Catharine mengaguminya dengan sepenuh hati.

Bayang-bayang dari pohon apel tumbuh ke arah timur. Lonceng di atas menara sekolah untuk tunanetra berdentang lagi.

“Chick-a-dee-dee-dee,” sayup bunyi chickadee.

Dari kejauhan, bunyi starter mobil meringkik, dan gagal. Meringkik, dan gagal. Tetap mogok.

Catharine keluar dari balik pohonnya, berlutut di depan Newt.

“Newt?”

“H’m?” katanya. Newt membuka matanya.

“Terlambat,” kata Catharine.

“Halo, Catharine.”

“Halo, Newt.”

“Aku cinta padamu.”

“Aku tahu.”

“Terlambat,” kata Newt.

“Terlambat,” kata Catharine.

Newt mengerang, meregangkan badannya. “Jalan-jalan yang menyenangkan,” katanya.

“Kupikir begitu.”

“Kita berpisah di sini?”

“Kamu mau ke mana?

“Mencari boncengan ke kota, menyerahkan diri.”

“Semoga berhasil,” kata Catharine.

“Kamu juga,” kata Newt. “Menikahlah denganku, Catharine?”

“Tidak.”

Newt tersenyum, menatapnya lekat-lekat beberapa saat, lalu berjalan menjauh dengan cepat.

Catharine mengamatinya menyusut semakin kecil dari sudut pandang bayang-bayang dan pepohonan, mengetahui bahwa jika dia berbalik sekarang, jika dia memanggilnya, ia akan berlari menujunya. Ia tak akan punya pilihan.

Newt benar-benar berhenti. Benar-benar berbalik. Benar-benar memanggil. “Catharine,” panggilnya.

Ia berlari menujunya. Merangkulkan tangan kepadanya. Ia tak bisa bicara.

(1960)


*) Rambuana, pedagang kaki lima yang gemar membaca, senang menulis, dan suka menerjemahkan karya-karya sastra, tinggal di Tangerang, Banten.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.