BERMULA DARI PRIANGAN SI JELITA –

oleh -132 views


Ramadhan KH, Priangan Si Jelita


Raudal Tanjung Banua

Sebagaimana Jarot alias Abdullah Sattar, santri tengil asal Alas Abang, yang tergila-gila pada buku tipis puisi Ramadhan KH, Priangan Si Jelita, saya juga sangat menyukai buku tersebut, dan kebetulan kami sama-sama temukan di Perpus SMP (atau sekolah Jawa, versi orang Alas Abang). Bedanya, saya tidak sampai menamainya pada siapa pun seperti Jarot menamai dan menyapa kekasihnya, Istiqomah, dengan “Priangan Si Jelita”-ku. Namun saya menemukan “buku pendamping” yang juga tak tebal, yakni telaah Si Jelita oleh drs. Jiwa Atmaja, berasal dari skripsi sarjana mudanya, membuat saya ikut senang membaca kritik atau telaah sastra kemudian.

Jarot adalah tokoh dalam novel Hubbu karya Mashuri –entah kenapa saya rasa sedikit banyak merepresentasikan penulisnya– tercatat sebagai pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2006. Sempat disebut-sebut sebagai contoh baik novel polifonik, karena mewadahi suara-suara dan aneka persfektif sekaligus, selain dari tokoh-tokohnya, juga naratornya, atau entah dalam pengertian apalagi terkait makna polifonik yang belum saya pahami.

Bagaimana Jarot di Alas Abang, sebuah desa santri di pesisir utara Jawa Timur bisa mendapat bacaan sama dengan seorang remaja Lansano, kampung pesisir di pantai barat Sumatera, yang ratusan km jaraknya? Mungkin hal lumrah karena pada masa buku itu terbit atau menyebar (terbit pertama kali tahun 1956, dan cetakan ketiga yang kemungkinan kami baca terbit tahun 1975), kami sama-sama duduk di bangku tingkat yang sama, sekolah menengah pertama, sementara tahun-tahun itu, seburuk-buruknya sistem pendidikan Orba, mereka masihlah membeli buku-buku sastra untuk disebarkan dengan cap “Milik Negara”.

Kesamaan ini memang berdasarkan usia, sehingga lumrah pula berbagai dolanan dan benda-benda memorial tak berbeda di satu tempat dengan tempat lain sekalipun berjauhan. Bagaimana misalnya, gambar umbul dan komik-komik atau bungkus rokok menyebar luas menjadi dolanan semerata negeri. Saya baru saja bergabung dengan sebuah grup Nostalgia di facebook dengan ribuan anggota super aktif. Apa diupload anggota di ujung pulau satu, direspon takjub dan haru oleh anggota di ujung pelosok lain karena mereka juga mengalami persis postingan itu. Mereka punya dunia yang sama, dulu. Pun sekarang, misalnya lewat keserentakan fitur-fitur gadget, membuat anak di mana saja mengalami dunia yang sama.

Tapi agak mencengangkan, bahwa dalam persentuhan dengan sastra, yang pastilah tak seramai dunia umum nostalgia atau semeriah alur fitur, saya dan Jarot, atau kita untuk menyatakan sedikit yang lain, berbagi bacaan yang sama. Ini layak diapresiasi, ditujukan untuk semua hal yang mendukung “pertemuan” itu (saya misalnya selalu akan mengingat Pak Ben, si guru olahraga yang nyambi kuncen pustaka), termasuk apresiasi bagi diri sendiri. Apalagi jika diingat buku Priangan Si Jelita atau sejumlah buku sastra lain, bukan buku wajib kurikulum seperti buku Ini Budi dan Arman dan Ima saat di SD. Meski dibeli dan disebar oleh Negara, tapi mereka nyaris digeletakkan begitu saja di rak berdebu atau pustaka terkunci.

Beruntunglah kita yang bisa menyusup ke peti harta karun bernama pustaka terkunci itu, dan mendapatkan kemilau dan permata kata-kata sebagaimana saya dapatkan juga di Balada Orang-Orang Tercinta, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Orang-Orang Trans, Secercah Kisah Anak Tanah Air, Kubur Terhormat bagi Pelaut atau Sebuah Rumah Nun di Sana, dan Jarot Sattar pasti juga punya temuan permata yang lain.

Boleh jadi yang kami baca adalah Priangan Si Jelita cetakan ketiga, 1975, sebab cetakan kedua tahun 1958 kemungkinan masih ejaan lama. Cetakan ketiga itu menandai buku puisi tersebut diambil-alih penerbitannya oleh PT Dunia Pustaka Jaya, terakhir saya punya cetakan kelima 2001, dan sekarang entah sudah cetakan ke berapa.

Priangan Si Jelita mendapat Hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) sebagai kumpulan sajak terbaik 1957-1958, hadiah yang juga pernah diterima antara lain oleh Mochtar Lubis, Pram dan Toha Mochtar untuk kategori dan tahun berbeda.
Ada dua hal setidaknya dapat dikomentari dari buku ini. Pertama, dari segi isi, inilah puisi bertema alam yang sangat indah dan menyentuh, dengan kesederhanaan dan kesegaran bahasa ungkap. Sebagaimana judulnya, ia menjelajah tataran Priangan dengan alamnya yang jelita. Kejelitaan itu padan dengan pilihan kata, suasana yang terbangun dan cara mengungkap perasaan, ibarat mendengar tembang Cianjuran. Kadang terasa ia seperti bergumam yang tidak dapat langsung saya artikan secara leksikal seperti “seruling di pasir ipis, jamrut di pucuk-pucuk, gadis dendang di matahari, belati di batu laut, mawar merah disobek di tujuh arah, perawan sendirian disamun di tujuh jalan, sumur segala derita, bersamaan semua berpelukan, sumur segala sayatan penampung tangis bertukaran, dst” tapi dengan irama dan suasana yang kuat-akrab, saya anggap paham saja, ‘eman-eman’ hilang keasyikan.

Tapi di sisi lain, ia bisa sangat lugas dan terbuka, tanpa kehilangan kesegarannya, seperti “Pacar! Coklat matamu subur, coklat darah tanah Cianjur; penyair kayu pertama di tumpukan pembakaran; Dara! Takut hanya buat makhluk pengecut; Siapa cinta anak, jangan jual tanah sejengkal, kijang minta pengurbanan tanda kejantanan dst”.

Meski selintas berbau mooi indie, sesungguhnya puisi di sini amat tragik, keindahan lembah, gunung dan bukit-bukit, berjalinan dengan sakit-derita orang Priangan, menyusup di bawah permukaan, tertanam bak umbian kentang yang mesti digali untuk tahu gunduk kedukaan. Artinya Ramadhan KH tak hanya memotret lanskap alam, juga pergulatan manusia Sunda yang bermukim di atasnya. Baik pergulatan kolegial “Dara sudah lari bersembunyi sejak senja, kota ditikam menyendiri, tengok dataran tanah Priangan, sayang kalau gadis-gadis mesti jadi perawan tua, dst,” maupun secara personal, “mau ke mana Nak, singgah cucurkan air mata, membalik tanah seperti neteskan air hujan di mata kedua belah, aku tutup pintu dan jendela untuk tidak tahu lagi derita, dsb.”

Alhasil dengan memasukkan unsur pergulatan dan derita manusia di atas alam Priangan yang jelita, ironi dan kepedihan mengiris, pula seruling dan kecapi menambah sangsai. Apalagi kalau kita baca sekarang di mana industri dan urbanisasi gencar menggasak tlatar Priangan. Tak heran, Acep Iwan Saidi, misalnya, meminjam dan membelokkannya jadi Priangan Si Derita.

Kedua, ini buku puisi paling tipis yang pernah terbit, 40 halaman sadja, itu pun sudah dengan pengantar “panjang” Ajip Rosidi, 12 halaman. Barangkali ini jadi patokan DKJ mensyaratkan sayembara manuskrip puisi minimal 40 hlm. Puisinya hanya 3 judul sahaja– Tanah Kelahiran, Dendang Sayang, Pembakaran– masing-masing dengan hanya 7 sub-penomeran, dan pendek-pendek pula. Total jendral ada 37 sajak.

Saya berpikir jangan-jangan karena tipis buku ini jadi mengiris! Meski ini ungkapan gotak-gatuk tapi mungkin saja jika diasumsikan pilihan sajaknya lebih selektif, baik saat hendak diterbitkan maupun saat dituliskan. Tak mudah menerbitkan buku kala itu, sehingga sajak yang diajak bergabung mesti terpilih betul. Dan tak semua hal mesti ditulis jadi puisi, seperti dalam seloroh,”tiap hari kok nulis puisiiii…” atau,”kesandung batu aja ditulis!”

Ah, abaikan! Silahkan ajak anak rohani rame-rame gabung di buku sajak, monggo apa-apa jadiin sajak…

Yang jelas, dan alhasil memang buku puisi tempo doeloe umumnya tipis-tipis. Selain Priangan yang tertipis, konon Simponi Subagio, bisa jadi paling tipis. Dalam catatan Zen Hae dalam buku esei terbarunya, Simponi pernah terbit di Yogya, 26 hlm, tapi saya punya Buku Harian, 64 hlm dan Simponi Dua, agak tebal, 103.

Buku puisi lain juga rata-rata tipis, di antaranya, Puspa Mega – Sanoesi Pane (45 hlm, 34 sajak), Buah Rindu – Amir Hamzah (54 hlm, 28 sajak) dan Tebaran Mega – STA (46 hlm, 38 sajak). Sayang saya tak punya buku awal Chairil, Kerikil-Kerikil Tajam, Deru Campur Debu dan Yang Terempas dan Yang Putus, sehingga tak bisa membandingkan. Punya saya versi Pamusuk, Aku Binatang Jalang, lebih tebal, karena memuat versi asli dan versi revisi. Tapi buku awal Chairil pasti amat tipis dengan hanya 72 puisi asli + 2 sajak saduran.

Bandingan periode selanjutnya bisa dilihat Blues untuk Bonnie – Rendra (54 hlm, 13 puisi), Romance Perjalanan I – Kirdjomuljo (42 hlm, 19 puisi), Buku Puisi – Hartojo Andangdjaja (62 hlm, 36 puisi), Bulan Tertusuk Lalang – D. Zawawi Imron (72 hlm, 57 sajak pendek).

Begitu pula buku puisi yang terbit tahun 80-90an seperti Abad yang Berlari – Afrizal Malna, Tamparlah Mukaku – Acep Zamzam Noor, Kita Bersaudara – Tan Lioe Ie, saut kecil bicara dengan tuhan – Saut Situmorang, Pacar Kecilku – Joko Pinurbo, Nyanyian Alamanda – Ulfatin Ch, atau Sangkar Daging – Gus Tf. Ini belum termasuk antologi puisi tipis-tipis terbitan komunitas yang terutama juga marak dalam periode tersebut, dengan tampilan sederhana, jilid stepless, print/kopian/stensilan.

Buku puisi yang terbit tebal biasanya sajak kompilasi, selected poems, seperti sajak lengkap Sitor, GM atau Otobigrafi Saut, selain ada edisi 100 sajak pilihan ala Pamusuk. Atau buku puisi setebal kamus, Kerygma & Matyria – Remy dan Tripitikata – Sitok. Selebihnya, di luar alasan tersebut, kenapa buku puisi sekarang cenderung tebal-tebal? Ya, rata-rata di atas 100 hlm. Soal produktifitas? Aksesibilitas? Entahlah.

Tapi tetap ada yang terbit tipis seperti Misa Arwah – Dea Anugrah, Kartu Pos dari Banda – Zulkifli Songyanan, Badrul Mustofa 3 x – Heru JP, Baromban – Iyut Fitra atau Cinta tak Pernah Fanatik – Parlan Tjak, rata-rata di atas sedikit 50 atau di bawah 100 hlm.

Saya sendiri punya dua buku puisi yang relatif tebal, Gugusan Mata Ibu (xii + 116) dan Api Bawah Tanah (xvi + 160). Saya punya alasan, selain untuk mewadahi sajak-sajak masa produktif yang jumlahnya cukup banyak, juga dengan pertimbangan: nerbitin buku puisi itu punya kesukaran sendiri, baik yang datang dari luar maupun dalam diri. Alhasil, meski punya akses dan kemudahan penerbitan, sampai lebih 20 tahun menyair, baru dua itu saja buku puisi saya.

Tak mudah bikin buku puisi, apalagi yang berhasrat abadi, dan bikin banyak orang merindu, bahkan untuk sebuah buku tipis, setipis “seruling di pasir ipis, merdu…” — yang sampai kini kurindui itu!

15 Agustus 2021



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.