BIARLAH RAHASIA TETAP MENJADI RAHASIA | Obrolan Santai

oleh -67 views

BIARLAH RAHASIA TETAP MENJADI RAHASIA/Hakimi Sarlan Rasyid

Apa jadinya jika rahasia dibuka? Tentu saja bukan lagi rahasia. Hilang keindahannya. Bahkan rahasia yang dibuka salah-salah bisa mendatangkan malapetaka.

Berikut ini ada 3 puisi. Ada TENANGLAH SERUPA ILIR ANGIN/Ifa Arifin Faqih, ada RINDU YANG TERABAIKAN/Lilik Puji Astutik, dan ada RINTIK HUJAN/Suyatmi.

Meskipun jenis rahasianya berbeda dan beda alasan pula untuk menyembunyikannya, tetap ada persamaannya. Ada perasaan rindu yang begitu dalam. Di relung hati yang mana mereka menyimpannya hanya mereka yang tahu.

Kerahasiaan itulah yang tampaknya menjadi daya tarik sebuah gubahan puisi dalam hati pembacanya.

Coba simak kata Ifa Arifin Faqih :

“Biarkan malam memeluk kelam

Seperti rasa yang kian lebam

Biarkan angin membawa kisah

Tentang cerita yang kian terpisah”

atau yang ditulis oleh Lilik Puji Astutik :

“Senja kian pudar malam pun tiba

Saat rindu kian menyiksa

Mencoba merangkai aksara menjadi kata

Walau sakit tetap saja tersimpan rindu dalam dada”

dan yang ditulis oleh Suyatmi :

“Menanti dalam kerinduan yang menggigit

Sungguh perih melilit menjerit

Sulit meronta dari kenangan yang menghimpit”

Semuanya terlihat menyimpam misteri, menyimpan rahasia. Dan sekali lagi karena misteri ini maka puisi mereka terasa indah.

Demikian kata pengantar untuk menghadirkan 3 puisi berikut ini.

Selamat membaca.

202009231205 Kotabaru Karawang

TENANGLAH SERUPA ILIR ANGIN/Ifa Arifin Faqih

Bersabarlah hati

Jangan menangis lagi

Tenanglah jiwa

Jangan ada air mata

Tenggelamkan gundah

Raih cahaya cerah

Larungkan gelisah

Pergilah nelangsa

Redalah kecewa

Redam dalam dada

Biarkan malam memeluk kelam

Seperti rasa yang kian lebam

Biarkan angin membawa kisah

Tentang cerita yang kian terpisah

Probolinggo, 16 September 2020

RINDU YANG TERABAIKAN/Lilik Puji Astutik

Tak bisa aku ungkapkan meski dengan berjuta kata

Saat rindu datang menyelinap mulai menggoda

Mengapa kehadiranmu tak pernah sempurna

Selalu dan selalu hanya samar siluet ketika senja

Rindu merona pada jingga

Sakit menyusup diantara penantian yang lama

Tak terhitung purnama terlewati tanpa sapa

Sendiri tersiksa memahami makna

Rindu yang terabaikan kian membuat kusam jiwa raga

Entah apa yang membuat rasa tak mau berpaling darinya

Senja kian pudar malam pun tiba

Saat rindu kian menyiksa

Mencoba merangkai aksara menjadi kata

Walau sakit tetap saja tersimpan rindu dalam dada

Krian 18 September 2020

RINTIK HUJAN/Suyatmi

Hujan rintik menitik hati

Tetesannya menggugah rasa sepi

Sadar akan penantian yang tak pasti

Menggeliat terbangun dari mimpi

Menanti dalam kerinduan yang menggigit

Sungguh perih melilit menjerit

Sulit meronta dari kenangan yang menghimpit

Rintik hujan tak kunjung berhenti

Titik demi titik membasahi hati

Sejuk dingin bercampur cinta sejati

Titik-titik hujan menyuburkan rindu

Tumbuh lebat dalam kalbu

Jiwa tak lagi kering dan sendu

Sadar akan mengikis kenangan kelabu

Yogya, 12092020 12.21 127

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.