BIBIS & SERANGAN UMUM 1 MARET –

oleh -163 views


Raudal Tanjung Banua *

Di Jawa tentu banyak desa atau kampung bernama Bibis, sebab wilayah babat alas biasa ditandai dengan nama pohon seperti pelem, jati, pring atau nongko. Begitu pula bibis, berasal dari pohon bernama sama. Jadi kampung Bibis lumrah di mana-mana.

Tapi kampung Bibis yang saya ceritakan ini agak istimewa. Terletak di Kelurahan Bangunjiwo, Bantul, atau sekitar 4 km dari tempat saya tinggal di Lemahdadi.

Tersebutlah Ki Trunomenggolo, prajurit Untung Suropati yang terpaksa playon (melarikan diri) ke Mataram setelah Untung tewas diserang VOC di Pasuruan (1706).

Di Mataram Trunomenggolo dan pengikutnya babat alas di hutan yang banyak pohon bibisnya. Maka jadilah itu kampung Bibis. Kelak pada awal Perang Jawa (1825-1830), pemimpinnya, Pangeran Diponegoro, bermarkas tak jauh dari Bibis, yakni di Gua Selarong (3 km ke utara).

Kampung Bibis kian berkembang, dan anak-cucu turunan Trunomenggolo dijadikan jujugan warga. Salah seorangnya bernama Wesomenggolo yang kemudian membangun rumah joglo dengan lebih besar.

Turunan Wesomenggolo, Hardjowiyadi, kemudian diangkat sebagai lurah. Saat Bibis digabungkan dengan kampung-kampung sekitar dan diberi nama Bangunjiwo, Hardjowiyadi menjabat sebagai lurah dongkol (lurah tua) sampai ia seda (meninggal).

Kampung Bibis dan lurahnya, Hardjowiyadi, tercatat ambil bagian dalam masa perjuangan, tepatnya ketika terjadi Agresi Militer Belanda atas Ibukota Yogyakarta (1948).

Alkisah, markas Letkol Soeharto, komandan Brigade X/ Wherkreis III di Segoroyoso, Plered, terancam diserang Belanda. Kemungkinan ada pihak yang membocorkan karena patroli tentara Belanda bolak-balik di sana.

Maka dicarilah tempat yang lebih aman. Pilihannya Bibis, dan rumah pak lurah dipilih sebagai markas. Selain dianggap aman, Bibis juga strategis karena terletak di jalur alternatif Kota Yogya-Kota Bantul, di samping terhubung dengan jalur Wates (Kulonprogo) via Brosot atau Sedayu, dan juga Gunungkidul arah ke Kretek-Bambanglipuro.

Berbagai serangan pada tentara pendudukan dirancang dari sini. Dan yang paling fenomenal (karena membuka mata dunia bahwa Republik Indonesia masih ada dan angkatan perangnya eksis) adalah Serangan Umum 1 Maret 1949.

Peristiwa heroik yang dikenal juga dengan sebutan Enam Jam di Yogya itu, dimatangkan di rumah Bibis. Kebetulan Soeharto didaulat sebagai pelaksana lapangan. Sebelumnya, Serangan Umum 1 Maret sudah dirancang dan disepakati di beberapa tempat oleh sejumlah pihak seperti Jendral Sudirman dan Sri Sultan HB IX.

Itulah sebabnya, prasasti di lokasi ini hanya menyebut “Brigade X pimpinan Letkol Soeharto bersama rakyat berjuang mempertahankan kemerdekaan” dan satu lagi tempat “persiapan dan perintah perebutan Yogya 1 Maret 1949 pada tanggal 18 Februari 1949.”
***

Cerita yang saya tulis ini saya dapatkan petang tadi dari Mbah Sumirah (67 tahun), anak pak lurah Hardjowiyadi. Selain ayahnya yang menjabat lurah, ibunya dulu termasuk perempuan yang aktif membantu menyiapkan kebutuhan makan para pejuang.

Waktu itu ibunya seorang pedagang bakul di Pasar Ngasem. Hasil kebun sekitar Bibis ia beli dan jual kembali di Ngasem dan dibawa dengan cara dipanggul oleh 3-5 orang upahan melewati kampung Sembungan, Jogonalan, Dipadukan, Madukismo dan terus ke Ngasem. Pulangnya, ia bawa barang-barang lain yang dibutuhkan warga seperti gula, garam atau minyak. Kadang ibunya juga membawa informasi tentang situasi kota dan jalanan yang sudah mulai dipenuhi pos Belanda.

Bekas rumah perjuangan itu kini jadi monumen bersejarah yang tak banyak lagi dikunjungi, terutama sejak Monumen Jogja Kembali (Monjali) berdiri. Orang merasa sudah terwakili dengan berkunjung ke Monjali untuk mengingat zaman Revolusi. Padahal pada zaman Soeharto berkuasa, di kompleks rumah Bibis ini juga dibangun pandopo, museum, tugu dan relief, termasuk pemugaran rumah induk.

Di depan museum yang berdebu berdiri patung Wisomenggolo, pendiri rumah. Museum dengan dinding kaca hanya berisi seperangkat meja kursi dengan gelas piring di atasnya melambangkan orang sedang rapat, dan sebuah sepeda ontel milik pak lurah.

Di dalam rumah induk benda-benda tinggalan malah lebih lengkap seperti mesin tik yang digunakan Soeharto di atas meja kerja, jam dinding antik foto-foto pejuang di dinding (termasuk foto Jendral Sudirman), lukisan lurah dan istrinya dan foto “resmi” Soeharto saat jadi presiden, tidak diturunkan. Selebihnya peralatan dan perabotan Mbah Sumirah sendiri yang memang tinggal di rumah itu. Beberapa sangkar burung tergantung rendah dari tiang plafon. Suara burung-burung itu bernyanyian, bersahutan, seolah berlomba menghidupkan suasana rumah yang sunyi-sepi.

Di halaman, total jendral ada tiga prastasi pada tugu yakni tentang Brigade X pimpinan Letkol Soeharto bersama rakyat berjuang mempertahankan kemerdekaan, kemudian tentang persiapan dan perintah perebutan Yogya seperti tadi disebutkan, dan selanjutnya tugu penanda pemugaran lokasi oleh Yayasan Yogya Kembali tanggal 1 Maret 1998.

Boleh jadi ini kiprah terakhir yayasan ini di Bibis, sebab sejak Reformasi tak pernah ada lagi kegiatan di sini. Biasanya ada anjangsana, tirakatan dan acara kesenian.

Mbah Sumirah membongkar berkas-berkas yang dimilikinya, mulai daftar inventaris, surat kuasa penempatan rumah, sampai nota pembayaran listrik dan kwitansi pajak bumi dan bangunan. Termasuk satu buku yang sudah lusuh terbitan Pemda Yogya tentang tempat bersejarah pada masa Revolusi. Dan rumah Bibis termasuk di dalamnya.

Bersama saya kebetulan berkunjung pula Mas Suroso, seorang pensiunan dari Srandakan tapi kini tinggal di Turi, Sleman. Ia lebih banyak bertanya dalam bahasa Jawa, dan tampak punya minat besar pada sejarah revolusi di Yogya. Saya sendiri lebih banyak melihat dua bocah laki-laki saya berlarian di halaman yang luas, di bawah kerimbunan sebatang asam dan sepasang sawo.

“Pohon sawo tua seperti ini perlambang siempunya rumah adalah mantan pengikut Diponegoro, sebab setelah sang pangeran ditangkap dengan licik di Magelang, tentara dan pengikutnya diminta kembali ke masyarakat, membaur, dan sebagai tanda mereka orang Diponegoro, ialah pohon sawo,” cerita Mas Suroso.

Ia kemudian mengeluh tentang orang-orang yang melupakan sejarah. Sekontroversi apa pun Serangan Umum 1 Maret itu, toh peran Soeharto dan partisipasi rakyat Bibis tak mungkin dicoret, katanya. Tinggal mengungkap dan mendudukkannya pada posisi yang tepat.

Saya manggut-manggut. Lalu memutuskan lebih dulu pamit mendahului Mas Suroso yang saya lihat seperti orang terpukul. Sekali lagi ia mengajak berbincang Mbah Sumirah. Saya pun pamit pada perempuan ramah dan tabah itu. Matanya saya lihat sedikit berkaca.

“Kapan-kapan saya ke sini lagi, Mbah,” kata saya.

Dalam hati saya merasa beruntung tinggal di daerah basis pejuang. Selain Bibis dan Gua Selarong yang terletak dekat saya tinggal, ada pula Monumen Watulangkah, bekas markas Sub Wherkhreise III, Letkol Soehoed, yang lebih dekat lagi dari penutu rumah saya. Meski saya tahu, semua itu kini tak banyak ditetirahi.

Kerap dalam waktu-waktu tertentu saya menyusuri jalanan kecil di bukit-bukit kapur tempat saya tinggal, sambil membayangkan suasana masa revolusi dan perang gerilya, menghikmati sejarah.

Bagaimanapun sejarah adalah sejarah, dengan berbagai versi, variasi atau kontroversinya. Dan menghikmatinya tak mungkin tertolak kata hati.
***


*) Raudal Tanjung Banua, sastrawan kelahiran Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat juga Harian Haluan, Padang. Kemudian merantau ke Denpasar, Bali, bergabung Sanggar Minum Kopi, serta intens belajar kepada penyair Umbu Landu Paranggi. Lalu ke Yogyakarta; menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia. Mendirikan Komunitas Rumah Lebah, dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia (Sebuah Lembaga Budaya yang Menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esei, dipublikasikan di pelbagai media massa pun antologi. Buku-bukunya: Pulau Cinta di Peta Buta (2003), Ziarah bagi yang Hidup (2004), Parang Tak Berulu (2005), Gugusan Mata Ibu (2005), Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (2018), dll. Penghargaan yang diterimanya: Sih Award dari Jurnal Puisi, dan Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.