Catatan Bersama Remy Sylado

oleh -247 views

Tiba-tiba Remy Sylado Menghilang….

Siang hari, bulan mendekat ke akhir tahun 2019. Budayawan serba bisa Remy Sylado berbaring di tempat tidur di ruang tamu rumahnya di Darmaga, Bogor, Jawa Barat.

Di depannya, kami, saya dan beberapa sobat mantan penyiar Radio Arief Rachman Hakim (ARH), ditambah dua beberapa wartawan kebudayaan, mengerumumninya.

Ada yang duduk dan ada yang berdiri. Hari itu kami mem-bezoek Sang maestro yang baru menjalani proses penyembuhan dari penyakit yang menyerangnya.

Para penjengguknya boleh dibilang semuanya “fans” dan pengagum Remy.

Oleh sebab itu, selain menanyakan perkembangan penyakitnya, dan memberikan dukungan agar cepat sembuh.

Para sobat yang baru pertama kali mengunjungi dan bertemu langsung Remy Sylado di rumahnya itu, tak menyia-nyiakan minta befoto dengan Remy dan beberapa bagian rumah Remy, terutama kamar kerjanya.

Bahkan ada duduk di tempat duduk ruang kerja Remy dan minta di foto di sana.

“Saya harus foto di sini, karena inilah tempat penulis hebat berkarya,” kata salah seorang wartawan kebudayaan yang ikut dengan riang gembira.

Remy tersenyum-senyum menyaksikan “kelakuan” kawan-kawan dari tempat perbaringannya.

Hari itu kami sempat makan siang di rumah manusia langka ini dengan lauk yang sebagian dibawa oleh kawan-kawan yang datang karena memang sudah merencanakan makan di sana.

Kami makan sengaja memakai piring plastik agar sekali pakai buang. Kami faham Remy tak memiliki pembantu rumah tangga sehingga tidak boleh merepotkan tuan rumah, untuk urusan mencuci piring segala.

Kepada kami Remy menceritakan, kondisinya sudah membaik, tetapi kalau berjalan masih sering pusing dan rada goyah, sehingga perlu banyak berlatih.

Mendapat kunjungan dari para sahabatnya Remy nampak sumeringah. Wajahnya kelihatan berseri dan matanya mulai bersinar pertanda muncul gairah kesehatan.

Sebelum kami pulang, saya sempat bilang kepadanya, “Jangan lupa makan biar banyak, Bung Remy!” Dia cuma menangguk tersenyum saja.

“Kalau mau makan apa-apa bilang aja ke saya, nanti saya usahakan kirim,” tandas saya lagi, supaya dia faham saya tidak basa-basi.

Tunggu punya tunggu, Remy tidak juga mengabarkan mau makan makanan tertentu. Maka sebaliknya sekitar sebulan setelah kedatangan kami itu, saya bersama rombongan mantan wartawan Radio ARH dan Bengkel Belia Teater ARH, justru datang lagi ke Bogor.

Kali ini kami mengajak Bung Remy makan bersama. Waktu itu ada Arthur John Horoni, sahabat Remy. Ada juga Moenir, ketua Bengkel Belia ARH.

Ada pula Untung mantan operator dan penyiar ARH, dan ada Umar Siregar, anggota Bengkel Belia.

Hari itu kami memilih makan Botani Squere, di tengah kota Bogor, tidak jauh dari terminal bis lama Baranangsiang.

Kalau dari tol Jagorawi keluar di pintu Bogor lantas ke arah kanan beberapa menit sudah sampai di Botani Square. Kami memilih makan di sebuah restoran Jepang yang menunya pilih dan ambil sendiri.

Letaknya di pojokan di lantai 3. Remy ikut mengantri untuk memilih menu. Pada acara itu Remy tampil sangat santai.

Dia cuma memakai celana pendek dan sandal jepit. Seperti biasa selama makan siang bersama Remy bercerita banyak hal, termasuk berbagai humor yang membuat kami terpingkal-pingkal.

Selain pengetahuan kebudayaan yang begitu luas, rupanya stok cerita humor Remy, baik yang fiktif maupun yang “true story” sedemikian banyak.

Bersama kami, lantas sesudah makan, dia ikut berjalan-jalan di Botani. Beberapa kali Remy jalan paling depan atau malah paking belakang, karena sering melihat-lihat barang atau suasana.

Nah, manakala keluar restoran dan menuju pulang, tapi masih di Botani Squere, kami sempat kelimpungan. Remy Sylado tiba-tiba hilang. Di depan belakang tak kelihatan.

Karuannya saja kami kecut dan khawatir. Soalnya, Remy belum seratus persen pulih benar. Untuk mencarinya kami sepakat untuk menyebar dan masing-masing ikut mencari. Setiap lantai sudah kami telusuri.

Namun lebih dari 45 menit belum ketemu juga.

Waduh, bagaimana ini?

Kalau terjadi sesuatu pada dirinya bagaimana “pertanggung jawaban” kami, terutama saya pribadi, lantaran sayalah inisiator makan bareng dari saya.

Nah, ketika kami sudah berkumpul bareng lagi suatu sudut di Botani itu, dan sudah sekitar satu menunggundan nyaris putus asa, tiba-tiba dengan santai Remy muncul. Kami semua lega.

“Darimana Bung Remy?” tanya kami berbarengan seperti ada konduktor yang mengatur. “Ini beli sweeter,” katanya seraya menunjuk sweter merah yang dikenakannya.

Dia mencerita dirinya merasa badannya agak kedinginan, sehingga memerlukan membeli sweter lengan panjang di toko yang berada di tengah dalam.

Walah… “Lain kali Bung Remy perlu apa-apa, tinggal ngomong aja ke kami, biar kami yang nanti mencarikannya.,” ujarnya saya.

Tuh, Bung Untung dan Umar siap blusukan nyariin sampai dapat!” tambah tambah saya.

Remy cuma tertawa kecil.

Kami pun berjalan bersama lama menuju basemen tempat parkir mobil. Tetapi sebelum sampai sana, dia melihat ada dua mahasiswi yang sedang duduk di bangku yang ada di seputar mall.

Remy minta kami berfoto bersama kedua mahasiswi itu. “Kamu kenal gak ini siapa?” tanya saya kepada kedua mahasiswi itu sambil menunjuk ke Remy. Keduanya yang kami datangi tiba-tiba , cuma melonggo.

Mereka menantap Remy sebentar, tapi tidak mengeluarkan sepatah katapun sampai kami sudah berfoto bersama mereka dan meninggalkannya.

Kami benar-benar berpisah dengan Remy di basement. Kami kembali ke Jakarta dan Remy balik ke rumahnya di Darmaga.

Sebelum berpisah kembali saya ingatkan, kalau mau makan apa saja jangan sungkan ngomong ke saya. Nanti saya sedapat mungkin bakal saya carikan.

Saya tahu Remy gembul makanan enak. Apalagi menurut orang Sunda, ketika orng mulai membaik setelah sakit, mengalami “mamayu,” yang artinya justeru baru mulai mau makan banyak sesudad sembuh sakit….

 

***

Hutang yang Belum Saya Bayar….

Sekitar dua bulan kemudian, masih terhitung awal tahun 2020, saya datang kembali ke rumah Remy.

Kali ini bersama beberapa rekan Radio ARH dan  bersama beberapa wartawan kebudayaan.

Beberapa hari sebelum berangkat, saya kembali menanyakan Remy nanti mau dibawakan makan apa. Kali ini dia langsung menjawab, kalau boleh dibawakan suatu makanan Menado.

Dia menyebut namanya dan saya catat di HP. (Tapi sekarang saya lupa namanya).

“Ya, sudah gampang itu, nanti pasti saya bawaiin,”  kata saya “sok “ yakin. Saya pun “survei” dimana rumah makan yang menjual makanan Menado yang disebut Remy dapat saya beli.

Rupanya saya salah sangka. Saya pikir, makanan itu mudah diperoleh. Nyatanya, sulitnya juga mencarinya. Mungkin, karena sulit memperolehnya Remy sampai mau meminta ke saya.

Sudah banyak rumah makan Menado di Jakarta yang saya hubungi, semua menjawab: tak menjual makanan yang diinginkan Remy itu.

Saya kecut juga. Sudah janji, masak tidak dapat, padahal sebelumnya saya “sok” tahu mengatakan “gampanglah itu.”

Maka, saya pun lantas menelusuri satu per satu hampir semua rumah makan Menado di Jakarta.

Beruntung saya, sebuah rumah makan Menado terkenal, Beutika, yang terletak di ujung jalan Hangleukir, Kebayoran Baru, tepat di depan kampus Moestopo, menjual makanan yang dipesan Remy. Plong hati.

Saya langsung pesan untuk hari itu. Dan, saya bawa ke rumah Remy di Bogor. Dan betul juga, manakala saya sampai di rumahnya, rupanya Remy sudah menanti makanan itu.

“Kau bawa makanan pesanan saya?” tanya Remy begitu saya tiba di rumahnya. “Ya dong, Bung ,” jawab saya seraya menyerahkan plastik yang berisi boks makanan yang diinginkan Remy.

Saya terbiasa memanggil “Bung,” kepada sebagian besar orang karena tradisi di Radio ARH yang mengajarkan demokrasi kepada kami, termasuk dalam memanggil orang lain, bahkan untuk yang lebih tua atau mereka yang memikiki jabatan dan kekayaan tinggi.

Saya sendiri pun sering dipanggil oleh kawan-kawan dengan istilah “Bung.” Tanpa basa-basi Remy membuka makanan itu dan langsung melahapnya seketika.

Kami tertawa-tawa melihatnya. Senang rasanya melihat manusia yang langka itu dapat makan lahap lagi.

Lantaran hubungan kami dengan Remy sudah dekat, Remy jarang berbasa-basi lagi dengan kami. Kendati setelah masuk usia senja, kami melihat lagenda hidup ini sudah jauh lebih kalem.

Meskipun hubungan pribadi saya dengan Remy sudah berjalan panjang, tetapi sebenarnya, intensitas hubungan saya dengannya boleh jadi tidak se-intens hubungan Remy dengan beberapa sobat lain yang dulu pernah day by day bersama Remy.

Saat nama Remy sudah “menjulang,” saya masih SMP dan SMA. Waktu Remy berkibar dengan majalah Aktuil-nya, saya malah masih menjadi pengemar dan pengagumnya yang belum pernah berjumpa dengan Remy. Saya juga masa baru mulai menulis untuk pers.

Belakangan saya lebih dahulu bertemu dengan Robani Bawi, orang majalah Aktuil yang sangat rendah hati dan bijak, yakni tatkala saya dan Robani bersama berada di Kartini Group.

Robani salah satu orang yang sangat dengan Remy dalam urusan pers. Saya baru “bersentuhan” dengan Remy Sylado ketika saya menjadi “anak bawang” di Radio ARH.

Kala itu Radio ARH terkenal dengan ulasan-ulasan musik dan kebudayaannya. Nama Arthur John Horoni, Zainal Suryokusumo (Bung Daktur) dan Akbar alias Fahri Muhamad zaman itu beken di kalangan musikus.

Radio ARH sepenuhnya mendukung pemusik yang tidak sekedar jadi peraga tetapi juga sosok yang original dan pemikir.

Radio ARH-lah yang pertama menampilkan para pemusik hebat seperti Gombloh, Embiet G Ade, Mugi Darusman (almarhum), Leo Kristi, dan Franki Sahilatua dalam satu panggung di JCC.

Waktu itu, penyanyi Vina Panduwinata saja baru pulang dari Jerman dan sama sekali belum dikenal. Tapi, ARH sudah melihat bakatnya yang besar dan kemungkinan berkembang.

Karena itu ARH berani menampilkannya, untuk tampil sebagai penyanyi, meski baru sebagai artis tamu pelengkap. Belakangan Vina menjadi penyanyi terkenal.

Pemusik-pemusik otentik sering diskusi dan diwawancarai Radio ARH, termasuk tentu saja Remy Sylado. Dari sana sedikit demi sedikit saya mulai berinteraksi dengan Remy. Itu pun masih dalam skala yang terbatas. 

Waktu Radio ARH menyelenggarakan lomba penulisan puisi pada tahun 1977, dan karya -karya pilihan di lomba itu dibukukan dalam antologi “Puisi Tempe” serta dijadikan bahan puisi untuk Lomba banyak puisi ARH, Remy salah satu jurinya.

Kebetulan, puisi saya nangkring di nomer 4, di bawah Machwardi Muchthar, Eka Budianta dan Heryus Saputra.

Sementara nama-nama beken sekarang, seperti Emha Ainun Nadjib dan lain-lainnya, tidak dapat nomer. Kemudian empat karya puisi ini dimuat di majalah Horizon, karena salah satu Dewan Juri puisinya Mochtar Lubis.

Dan Mochtar Lubis, wartawan yang juga saya kagumi, melihat semangat anak muda yang berbeda dalam puisi-puisi karya kami dibandingkan para penyair muda saat itu, membuka jalan buat kami untuk “berkembang” dengan membuat karya kami di majalah Horizon yang saat itu masih sangat prestisius.

Sampai saat itu intensitas hubungan personal saya dengan Remy belum terlalu dalam. Kebetulan di Radio ARH, para seniman yang memiliki karakter kuat, dan rendah hati, senantiasa kami pandang sebagai “sekutu” kami, dan kami selalu menyebut mereka sebagai “saudara kita.”

Itulah sebabnya, ketika pemusik Franki sakit dan diopname di Singapura, saya mau menyempatkan diri membezoek-nya.

Waktu itu bersama Sobat Ilham Bintang yang infotainmen Cek & Recek-nya waktu itu lebih “ditakuti” politikus dibanding majalah berita atau media yang serius.

Dari “lingkaran saudara kita” itulah Remy yang juga termasuk “saudara kita” lebih dalam berinteraksi dengan para pengelola dan pendukung Radio ARH, termasuk dengan saya. Darisana pulalah kemudian, saya mulai lebih sering berhubungan dengan Remy Sylado.

Sewaktu Remy masih tinggal di Bandung dan datang ke Jakarta, hampir selalu kami bersua. Begitu pula waktu Remy tinggal di rumahnya di Cipinang, beberapa kali kami bertamu kepadanya.

Terakhir ketika Remy tinggal sekitar lima tahun di rumahnya di Bogor, kami juga sering mengunjunginya. Selama ini Remy memang memikiki tiga rumah: di Bandung, Jakarta dan Bogor.

Tentu selain di rumahnya kami juga berinteraksi dalam banyak acara atau peristiwa. Dalam tiga tahun terakhir saya selalu meminta Remy menjadi salah satu Dewan Juri dari lomba-loba penulisan film, termasuk kritik film.

Di lomba-lomba ini ada nama-nama wartawan film Yan Widjaya, Ilham Bintang, Bre Redana, Masmimar Manggiang (almarhum), Benny Benke, Shandy Gasaly dan para sineas seperti Norman Hakim, Lola Amaria. John de Rantau dan lainnya.

Selama tiga tahun itu kami selalu menjadi juri dengan bertukar-tukar posisi saja. Dari lomba ini terkuak betapa begitu banyak penulis “kritik film” atau bahkan “repotase film” bukan saja tidak faham bahasa film, tetapi bahasa Indonesianya sendiri saja buruk nian.

Oleh sebab itu ketika pada tahun ketiga (pada saat penjurian mau dimulai) ada wartawan yang bertanya bagaimana menurut Remy kualitas peserta kritik film, dengan tanpa tendeng aling-aling Remy menandaskan,”Saya tidak dapat pelajaran apapun dari tulisan kritik film para peserta!”

Pernyataan Remy ini kemudian dikutip banyak media. Begitulah Remy. Dia seorang yang selalu bicara jujur, apa adanya.

Kenyataannya memang pada dua tahun pertama kualitas tulisan peserta lomba begitu amburadul. Baik subtansi maupun penggunaan bahasa-nya kacau balau.

Tak heran Bre Redana sampai mengatakan,” Kalau dilihat dari aspek bahasa-nya saja, cuma beberapa peserta yang layak dinilai!”

Pada tahun ketiga dari lomba itu sesungguhnya ada sedikit perkembangan, mutu tulisan membaik, walau masih jauh dari memadai.

Saya sebagai ketua panitia pelaksana sama sekali tak ada keberatan apapun terhadap penjelasan Remy. Selain statement-nya benar, saya pun mahfum seorang Remy tak mungkin berbasa-basi, termasuk kepada orang dekatnya sekaligus.

Maka saya tidak heran, sewaktu melihat saya memakai baju bermotif berita koran, Remy bertanya,”Dari mana kau dapat baju itu?”

Sebagai orang yang lebih muda kepada “saudara kita,” saya menempati diri sebagai orang yang siap untuk setiap saat memberikan yang terbaik, biarpun jika terdapat perbedaan.

“Kalau Bung Remy mau yang seperti ini, akan cariin,” ujar saya balik bertanya. “Bolehlah,” jawabnya. Saya membeli baju itu di FX di Senayan.

Waktu saya beli baju itu beberapa bulan sebelumnya, kepada penjaga tokonya saya tanya, kalau saya mau membeli lagi baju seperti ini apakah masih ada dan mudah mendapatnya?

Si penjaga toko dengan menyakinkan menjawab, banyak! Makanya saya berani menawarkan kepada Remy. 

Tetapi ketika saya datang lagi ke toko itu, baju yang sejenis sudah habis. Katanya, akan datang lagi, dan nanti saya akan dikabarin. Tapi tunggu punya tunggu, tak ada kabarnya.

Beberapa kali langsung tokonya saya datangi lagi, buat. menanyakan baju itu, tapi selalu barangnya belum datang juga.

Terakhir, waktu saya datang ke sana, menurut penjaga tokonya, baju tersebut sudah ditarik semua dan tidak ada stock lagi. Waduh, itu berarti saya tidak memenuhi janji saya kepada Remy dan menjadi hutang saya kepada seniman besar itu.

***

Semoga Bukan Tulisan Terakhir

Saya dan beberapa sobat masih terus sering datang ke rumah Remy di Bogor pada permulaan merebaknya covid-19, tapi belum diumumkan PSBB. 

Remy sendiri kondisinya saat itu masih belum fit benar. Apalagi matanya juga ada masalah katarak, sehingga memerlukan operasi ringan.

Namun secara umum kesehatan Remy waktu itu masih relatif stabil. Dia masih dapat bicara dengan jelas. Masih dapat bercanda-canda.

Pikirannya masih amat jernih. Walaupun sudah lebih banyak duduk atau tiduran.

Makanya kami masih dapat berdiskusi panjang lebar dan ngalor-ngidur, bermacam-macam topik. Sampailah dalam pertemuan itu muncul gagasan untuk membuat buku kumpulan puisi khusus corona.

Langsung lahir berbagai usulan. Semua sepakat penulisnya penyair dari seluruh Indonesia. Tiap penyair memuat dua puisi.

Namun dari diskusi itu menggerucut lagi: para penulisnya haruslah wartawan dan penyair. Ditambah harus sudah pernah menerbitkan minimal satu kumpulan puisi pribadi.

Diskusi terus berkembang lagi: supaya bukunya enggak ketebalan. Maka penulisnya, harus dibatasi. Sampailah pada angka 100 penulis wartawan sastrawan.

Akhirnya disepakati menjadi 99 penyair wartawan sastrawan. Dari jumlah itu ada dua penulis tamu. Sepakat semua.

Persoalannya: bagaimana kalau jumlah yang mengirim lebih dari 100 wartawan penyair? Nah, siapa yang harus menyeleksi?

Dengan cepat kami sepakat, Remy-lah yang paling layak dan pantas menjadi kurator. Artinya, Remy Syladolah yang menentukan siapa wartawan penyair dan puisi mana yang layak dimuat.

Beruntung Remy berkenan. Resmi didaulatlah beliau jadi kuratornya. Dengan begitu kami terbebas dari beban untuk memilih puisi dan penyair yang layak dimuat di buku.

Ada tiga alasan utama kami berat kalau harus memikul amanat seperti itu.

Pertama, dalam dunia sastra, pasti para penyair bakal “rewel” minta alasan kenapa puisi orang dapat terpilih tetapi puisi karyanya tidak (walaupun memang karya puisinya mungkin memang “tidak layak.”).

Apalagi mereka juga para wartawan. Bisa ribut berkepanjangan. Juri bisa dimaki-maki dan langsung menyebarkan hoax.

Pengalaman saya sebagai juri dunia sastra, belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saja, penyair yang “kalah” sering berkoar-koar tidak proposional.

Kedua, mungkin banyak dari wartawan sastrawan yang ikut yang memang darah dagingnya sudah penyair, sehingga muncul persoalan otoritas untuk menyeleksi karya mereka.

Ketiga, urusan independensi. Karena karya kami, termasuk yang ikut dalam seleksi, menjadi tidak fair kaau kami harus menyeleksi karya kami sendiri.

Padahal kami sepakat, kalau karya kami tak lolos dari kurasi oleh Remy, kami harus bersedia menerimanya.

Nah, di tangan Remy semua persoalan itu selesai. Remy punya otoritas yang besar untuk menduduki posisi kurator.

Pengalaman, prestasi dan nama besarnya tidak bakal menimbulkan kegaduhan. Siapa yang menyangsikan reputasi Remy? Siapa yang berani melawan Remy? Apapun keputusan Remy pastilah “diakui.”

Apalagi Remy berbesar hati sebagai kurator bersedia karyanya sendiri tidak ikut dimuat.

Untuk memberikan bagaimana konstribusi para wartawan dalam dunia tulis menulis khususnya dalam khazanah sastra, serta bagaimana kaitannya karya-karya penulis di buku ini, kami memutuskan juga harus ada epilog dan prolog.

Untuk epilog enggak ada yang lebih tepat daripada Remy Sylado sendiri yang menulisnya. Dialah yang paling tahu karya-karya yang terpilih dan bagaimana proses sampai karya itu terpilih. Lagi-lagi Remy menyetujuinya.

Siapa yang lantas menukis epilog-nya?

Remy usul: Prof. Abdul Hadi W.M. Tanpa banyak diskusi lagi semua yang hadir setuju Abdul Hadi W.M didampuk menjadi penulis epilog.

Setelah dihubungi, alhamdullilah, di tengah kesibukannya, beliau juga bersedia. Semula untuk mengurangi biaya dan untuk efisien, buku bakal dicetak hitam putih saja. Langsung Remy keberatan.

”Buku puisi kalau sekarang dicetak hitam putih, sama aja dengan puisi pada tahun 20-an atau 30-an!” kata Remy. Kami tertawa. Artinya buku harus full color. Berwarna.

Lalu bagaimana dengan biaya yang relatif mahal? Siapa yang mau menanganinya? Dengan santai telunjuk Remy mengarah ke saya.

Waduh. Itu bertanda saya tidak boleh menolak. Apalagi semuanya mendukung. Walhasil jadilah saya semacam koordinator penerbitan yang lebih berperan sebagai penanggung jawab penerbitan.

Hari itu juga kami membentuk panitia dan membagi tugas. Karena buku berwarna diputuskan: seorang hanya satu karyanya yang dimuat.

Pemilihannya diserahkan kepada Remy. Lantaran sudah mulai masuk pandemi covid-19, selanjutnya kami melakukan rapat-rapat melalui zoom, dan kalau kemudian kebetulan orangnya yang dapat ikut rapat tak banyak, kami sering juga memakai whats app call group saja.

Satu hal yang kami kurang menyimak, seharusnya Bung Remy sudah harus operasi katarak, tetapi dia terus menundanya.

Akibatnya pandangannya matanya tidak lagi 100 persen terang benderang. Mulai ada sedikit kabut.

Untuk menyeleksi puisi, karya-karya peserta hurufnya harus diperbesar di latop atau komputer sehingga Remy dapat membacanya dengan jelas.

Tugas itu sebenarnya berat bagi Remy yang tengah mengalami persoalan mata, tapi didikasinya tinggi. Dengan rasa tanggung jawa dia dapat melaksanakan kewajibannha dengan baik tepat waktu.

Persoalan muncul belakangan, saat Remy menulis bagian epilog. Dia sudah mulai menulisnya, tetapi kemudian dia merasa tubuhnya sudah tidak nyaman lagi.

Selain persoalan katarak mata yang semakin memerlukan penanganan segera, tubuhnya juga sudah terasa tidak enak atau malah sakit lagi.

Dia pun berhenti melanjutkan menulis prolog. Semula kami mengira tak berapa kemudian Remy bakal pulih lagi dan dapat segera melanjutkan tulisan prolog itu. Namun sudah sampai dua bulan, tetap tak ada kelanjutannya.

Akibatnya, jadwal penerbitan buku juga molor. Untuk menyakinkan Remy melanjutkan sedikit lagi saya tulisannya, kami coba memakai strategi pendekatan dari orang-orang dekatnya membujuk Remy agar bersedia melanjutkan tulisannya itu.

Namun apa boleh dikatakan, berbagai bujuk rayu dan saran dari orang dekatnya tak memberikan hasil sama sekali. Tulisan masih berhenti sampai disitu.

Kami pernah mengutus secara khusus sobat Sihar, mantan wartawan Sinar Harapan yang juga penyair. Walaupun dia orang Batak dan suaranya selalu keras, tetapi dia termasuk orang yang luwes, terutama menghadapi Remy Sylado yang dia kagumi.

Sihar memang fans berat Remy. Meluncurlah Sihar ke Bogor dan berjumpa Remy di rumah Remy di Bogor. Dari pagi sampai senja Sihar di sana.

Ujungnya Sihar akhirnya menyerah. ”Tetap tidak bisa, Mas Wina,” kata Sihar memberitahu ke saya lewat telepon.

Semua karya sudah terkumpul. Disain cover dan buku sudah jadi. Tinggal menunggu kelanjutan prolog dari Remy saya.

Kalau pun Remy mau menulis tambahan cuma dua tiga alenea saja, bagi kami cukup sudah. Tapi itu pun kami tak dapat memaksanya.

Sementara tak ada satu pun dari kami yang berani melanjutkannya. Semuanya takut “kualat.” Kalau pun ada yang berani, pasti tak akan diizinkan oleh panitia.

Sedikit demi sedikit kami baru faham kenapa Remy belum melanjutkan tulisannya. Rupanya kami kurang peka terhadap perkembangan kesehatan Remy.

Pertama, katarak matanya waktu itu sudah mengganggu, sehingga kala itu matanya sudah rada sulit menulis di mesin tik.

Kedua, rupanya Remy sudah mulai menderita sakit lagi. Tapi Remy bukanlah orang yang mudah mengeluh atau berkeluh kesah. Dia mencoba tegar dan menghadapi persoalan tubuhnya sedapat mungkin sendiri.

Dalam keadaan seperti ini, kami tidak mungkin memaksanya meneruskan tulisan prolognya lagi. Sedangkan untuk menunggu juga belum ada kepastian kapan dapat dirampungkan.

Dan jadwal terbit pun sulit untuk ditunda-tunda lagi karena bisa saja dapat menembus tahun 2020 belum juga selesai.

Apa akal?

Keputusannya seperti sesuatu yang sangat dramatik dan mengharukan. Setelah melalui rembukan panitia, kami sepakat: tulisan Bung Remy sementara sudah cukup seperti apa adanya dulu.

Tak perlu ditambahkan apa-apa lagi oleh siapapun. Dimuat di buku seperti aslinya. Tapi untuk memberikan penjelasan kepada pembaca kenapa hal itu terjadi, kami memutuskan untuk menulis foot note atau catatan kaki di bawah tulisan tersebut.

Pada foot note itu kami menjelaskan karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan, maka prolog dari Remy pada edisi pertama hanya baru sampai bagian itu saja.

Sebelum kami benar-benar menjalankankan keputusan kami, tentu adabnya kami perlu meminta izin atau persetujuan dari Remy sendiri.

Rupanya Remy yang badan tambah sakit, menyadari kondisi kesehatan tubuhnya waktu itu sedang melemah dan karena itu dia lantas menyentujui dan mempersilakan kami menempuh keputusan kami.

Epilog tulisan Remy dicetak dibiarkan mengantung tapi diberikan catatan kaki. Kebetulan saya ditugaskan membuat catatan kaki atau foot note itu.

Setelah buku terbit, baik dalam bentuk cetakan maupun e-book, kami mendapat kabar kesehatan Remy bertambah buruk. Bahkan dia sempat tidak sadar beberapa saaat.

Untung keburu ada kekuarganya yang menenggok dan dapat dibawa ke rumah sakit, tetapi diperbolehkan pulang pulang kembali.

Setelah itu Remy dipindahkan ke rumahnya di Cipinang. Dia dua kali dibawa ke rumah sakit di daerah Jatinegara, namun dua kali pula dokter masih memperbolehkannya kembali ke rumah.

Dari dua kali dibawa ke rumah sakit, saya mendapat kabar, salah satunya waktu diopname harus harus dioperasi karena usus di pencernaanya banyak “benda-benda kotor”  yang menyulitkan Remy buang air besar.

Sejak itu Remy dirawat dan istirahat di rumahnya di Jatinegara. Namun lantaran pandemi covid-19, selama di sana terus terang saja, saya dan beberapa kawan dekatnya, belum pernah mem-bezoeknya lagi.

Kini Remy sudah kembali lagi ke rumahnya di daerah Cipinang. Kabarnya kesehatannya mulai membaik, walaupun belum stabil dan belum pulih seperti sedia kala.

Pandemi Covid-19 menghalangi saya dan beberapa sobat dekatnya menjengguk baik di rumah sakit maupun di rumahnya.

Dokter kami memang menyarankan kami tidak mem-bezoek orang sakit dulu selama pandemi covid-19 ini. Tapi dari kejauhan kami selaku mendoakan Remy Sylado, sang maestro, segera sembuh kembali.

Kami berharap tulisan epilog-nya dalam buku antokogi puisi 99 Wartawan Sastrawan bukanlah karyanya yang terakhir…..Kami sangat berharap dari tangannya masih lahir berpuluh-puluh pukuh karya lagi. Amin

***

Aku kau generasi masa depan yang bukan cuma melihat matahari tapi juga mengambil matahari dan membawa pulang ke rumah.

Itu karya puisi berjudul “Catatan” karya seniman besar Remy Sylado pada tahun 1971, atau manakala dia masih berusia 26 tahun.

Dari puisi itu kita dapat menangkap, Remy seorang seniman yang lugas, terus terang, tapi punya visi jauh dan kuat.

Berbeda dengan banyak penyair yang menempatkan puisi sebagai sesuatu yang “sakral,” Remy Sylado menilai puisi cuma “alat ekspresi” yang dipakai untuk meningkatkan kemanusiaaan manusia.

Maka puisi dapat “diletakan” dimana saja sesuai kebutuhan dan tujuan penyair.  Boleh diletakan di atas kepala sebagai mahkota, tetapi juga tidak dilarang diletakan di bawah telapak kaki.

Remy Sylado seorang budayawan yang serba ahli, mulai dari konsepsi sampai detail teknikal dalam berkebudayaan dan berkesenian. 

Pria kelahiran sebulan sebelum Indonesia merdeka, 12 Juli 1945 di Makasar, ini benar-benar seorang maestro sejati. Dia seniman luar biasa.

Dalam Kebudayaan Indonesia, ditilik dari aspek apapun, kehebatan karya-karyanya, ruang lingkup penguasaan bidang kesenian, kemanpuan berbahasa asing, sampai jejaknya dalam sejarah kebudayaaan Indonesia. Remy dapat kita tempatkan sebagai “legenda hidup.”

Hasil penelisikan saya tak ada satupun seniman yang memiliki karakteristik dan kemanpuan sehebat Remy Sylado.

Mau ditinjau dari sudut apa saja, tentang Remy pasti menghasilkan kesimpulan dia budayawan besar. Dalam kesusastraan, dia menghasilkan karya puisi, cerpen dan novel yang begitu banyak dan berkelas. Juga mengandung “pembaharuan.”

Remy bukan seorang yang cuma meniru. Bukan seorang epigon. Dia seorang pembaharu. Ada saja yang diperbaharui dalam sastra. Puisi membling cuma salah satu dari pembaharuannya.

Menghidupkan kosa kata bahasa Indonwsia yang sudah jarang dipakai tapi memiliki arti kuat, menjadi kelebihan lain dari Remy.

Belum lagi tema-tema yang jarang atau tidak disentuh sastrawan lainnya juga manandai kelebihan Remy.

Dalam menulis karya, seringkali alur dan peristiwa sudah ada di kepalanya. Dia dapat menulis beberapa cerita sekaligus dalam hari yang sama tanpa tertukar tokoh, jalan cerita, latar belakang dan karakter-nya masing-masing.

Remy tentu sering menulis cerita bersambung di berbagai harian, baik koran nasional maupun daerah. Seringkali lantaran karyanya menarik, walaupun belum selesai, redaksi sudah memintanya untuk dimuat.

“Waktu naskahnya sudah habis sedangkan ceritanya masih bersambung, saya punya pengalaman sampai menunggu dia menulis naskah cerita bersambung darinya untuk besoknya,” kata wartawan budaya Suara Merdeka, Jateng, Benny Benke, mengenang pengalamannya dulu.

Remy juga menghasilkan naskah-naskah teater sekaligus terlibat dalam arena teater. Akting Remy pun dapat dinikmati di layar lebar.

Di bidang musik tidak perlu lagi ditanya. Dialah “ensiklopedia musik berjalan.” Remy memiliki pengetahuan akar dan sejarah musik dari tradisional sampai klasik. Nasional maupun internasional.

Makanya dia faham benar mana-mana saja lagu yang diakui sebagai ciptaaan orang Indonesia namun sebenarnya hasil ciplakan alias hasil pencurian. 

Dan lantawan zaman kiwari lebih telak pembuktiannya, Remy dapat langsung menunjukan lagu dan contohnya yang dijiplak. Contoh yang masih hangat, ketika dalam bagian akhir film “Bumi Manusia” yang disutradarai Hanum dilantunkan lagu “Ibu Petiwi,” semua kritikus film faham lagu itu 100% lagu bajakan.

Remy sudah lebih dahulu memberitahukannya. Di bidang musik selain menjadi pemateri dan pengulas musik yang hampir tiada bandingnya, dia juga mengeluarkan beberapa album musik (masih dalam bentu kaset).

Tentu musiknya berbeda dengan musik kebanyakan. Lirik lagu-lagunya sangat khas, agak membeling, nyeleneh dan sebagian menohok.

Judulnya saja sudah lain. Misalnya, “Pacarnya Mati Disengat Tawon,” “Istriku Dibawa Lari Monyet,” “Ayah Arab Ibu Tiongkhoa Dia Batak,” untuk menyebut beberapa contoh judul-judul lagunya.

Kemampuan berbahasa jangan ditanya lagi. Sebut saja bahasa Ibrani dan Yunani. Atau bahasa Arab dan bahasa China (Mandarin).

Jangan lagi bahasa-bahasa internasional yang umum, seperti bahasa Ingris, Perancis, Spanyol, Jerman dan Belanda.

Remy bukan hanya fasih berbicara bahasa-bahasa tersebut lengkap dengan aksen-aksen-nya sekaligus, tapi Remy juga dapat menulisnya dengan baik.

Tak hanya itu , akar kata atau kalimat-kalimat bahasa asing itu dikuasai dengan mahir. Misal Remy pernah menerangkan kepada saya bagaimana dalam bahasa Arab kalimat “seru sekalian alam “ terbentuknya.

Ini tak mengherankan, sebab dia sudah katan Al Quran ketika usia 14 tahun. Remy dapat menulis indah dalam bahasa Arab.

Juga dalam bahasa Mandarin. Hebatnya lagi dia sama menguasainya menulis dari kiri kenan maupun dari kanan ke kiri.

Untuk bahasa daerah, mungkin Remy salah satu orang Indonesia yang paling dapat dan menguasai berbahasa daerah terbanyak lengkap dengan aksennya.

Dia dapat, faham dan mengetahui seluk beluk bahasa daerah: mulai dari Jawab Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Solo, Jogya, Menado, Makasar, Ambon dan sebagainya.

Remy dapat berbicara dengan orang Indoensia dari daerah mana saja dengan logat khas dari daerah itu. Luar biasa.

Penguasaan sejarah sosial kebudayaan Indonesia bukan alang kepalang lagi. Satu persatu aspek-aspek budaya dari berbagai suku di Indonesia dapat diterangkan dengan luar kepala.

Dia sendiri kalau menulis sebuah buku yang memerlukan penelitian, tak segan-segan melakukan riset. Lantaran kemampuan berbahasanya luar biasa dia sering memperoleh informasi baru yang akurat.

Walhasil tulisannya menjadi kaya data dan berdasarkan fakta yang tepat. Apalagi yang kurang dari Remy Sylado?

 

***

 

Menanti Doktor Kehormatan dan Bintang Jasa

  Ini salah satu puisi karya Remy Sylado yang yang menunjukan betapa hebatnya Remy mengolah imajinasi:

Kesetiakawanan Asia-Afrika

Mei Hwa perawan 16 tahun
Farouk perjaka 16 tahun
Mei Hwa masuk kamar jam 24.00
Farouk masuk kamar jam 24.00.
Mei Hwa bukan blouse
Farouk buka hemd
Mei Hwa buka rok
Farouk buka celana
Mei Hwa bhka BH
Farouk buka singlet
Mei Hwa buka celana dalam
Farouk buka celana dalam
Mei Hwa telanjang bulat
Farouk telanjang bulat
Mei Hwa pakai daster
Farouk pakai kamerjas
Mei Hwa naik ranjang
Farouk naik ranjang
Lantas mereka tidurlah
Mei Hwa di Taipeh
Farouk di Kairo

 

Remy Sylado terlahir di Makasar,Makassar, 12 Juli 1945.  Berarti tahun 2020 ini sudah mencapai usia 75 tahun.

Nama sangat lengkapnya Jubah Anak Perang Imanuel Panda Abdiel Tambayong. Nama resminya Jopiie Tambayong.

Dari marganya Tambahong orang sudah faham dari mana suku aslinya. Selain nama Remy Sylado, dia masih punya banyak nama samaran atau alias lainnya.

Nama panggilannya publik-nya yang sudah sangat populer di masyarakat memang Remy Sylado. Nama itu diambil dari gabungan nada musik 23761. 

Kenapa dia memakai nama itu, banyak versi. Ada media yang mengutip keterangan Remy, katanya, itulah untuk pertama kalinya dia mencium wanita.

Tapi ada beberapa versi lainnya. Remy sendiri kalau sekarang ditanya soal ini, cuma senyam senyum tak banyak bicara.

Nama samarannya, antara lain, Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Dan Jubal Anak Perang Imanuel. Formalnya Remy beragama Kristen Katolik.

Dia pernah masuk sekolah seminari. Kendari begitu Remy fasih, bicara dan menulis bahasa Arab, termasuk memiliki kemampuan membaca Al Quran.

Tak ketinggalan Remy pun dapat membaca tulisan Arab Gundul. Hebatnya lagi, dan ini tak banyak yang faham sampai kini, Remy telah khatam Al Qur’an di usia 14 tahun.

Sampai kiwari dia masih hafal Al Quran, termasuk letak-latak dan nomer suratnya! Sejak belajar tulis menulis bahasa Arab, Remy hatinya telah terpincut dengan keindahan dan seluk beluk kaligrafi.

Dia terpesona dengan varian keindahan di kaligrafi. Tentu sebagai orang yang menguasai bahasa Arab, dia dapat menguraikan dimana letak keindahan karya-karya kaligrafi sekaligus makna dan mengapa bentuk-bentuk karya seperti itu. Kemampuannya berbahasa Arab melahirkan kehebatan lain pada dirinya.

Remy mahir menulis indah, tak hanya dari kanan ke kiri, tapi juga dari kiri ke kanan.

Tak berlebih banyak yang menjuluki Remy sebagai seorang munsyi

Menurut kamus bahasa Indonesia, munsyi mempunyai tiga makna: Guru bahasa;Ahli bahasa dan Punjangga. Remy memenuhi ketiga kriteria itu.

Remy bukan saja tokoh dan guru besar munsyi tetapi juga “Raja Besar Munsyi!” Remy Sylado memulai karier sebagai koresponden Tempo di Semarang.

Selepas dari majalah Tempo, karier kepenulisannya meleset. Dia antara lain pernah menjadi redaktur pelaksana majalah Aktual dan beberapa majalah lainnya.

Remy juga kolumnis di hampi semua media terkenal di Indonesia. Sewaktu saya menjadi anggota Dewan Pers, tanpa ragu saya memberikan kepada Remy predikat wartawan utama bersamaan dengan gelombang penerima wartawan utama seperti Jacob Oetama, Fikri Jufri, Sabam Sigaian dan lainnya tanpa harus melalui ujian formal lagi.

Sesuai aturan Dewan Pers, status wartawan utama dapat diberikan tanpa ujian kepada mereka yang sudah berusia 50 tahun, sudah berkarier di dunia jurnalistik minimal 20 tahun, dan reputasinya diakui baik secara nasional dan atau internasional.

Remy memenuhi semua persyaratan itu. Ketika namanya diajukan ke sidang pleno Dewan Pers saat itu untuk mempersoleh persetujuan, tak ada satu pun anggota Dewan Pers yang menolak.

Telah ratusan buku yang ditulisnya. Saya pernah bertanya kepada Remy, apalah dia punya catatan buku-buku apa saja yang pernah ditulis, dia menjawab, ada.

Beberapa saat sebelum dia, sakit saya sudah minta daftar itu, tapi sampai sekarang belum dapat. Namun satu hal yang jelas, buku yang ditulisnya sudah berbilang ratusan. 

 

Remy menulis buku sastra, buku kajian, sampai buku teksbook kebudayaan dan kamus. Contoh-contoh buku karyanya yang populer, di antaranya; Matahari, Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Ca-Bau-Ka.

Kerudung Merah Kirmizi,  Kembang Jepun, Parijs van Java, Menunggu Matahari, Melbourne, Sam Po Kong. Puisi Mbeling, Rumahku di Atas Bukit, Dramaturgi,  9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing, Drama Musikaalisasi Tarragon “Born To Win”, Diponegoro.

9 Oktober 1740, 123 Ayat tentang Seni , Drama Sejarah 1832 (Kisah Diponegoro di Pembuangan Manado) Nyanyi  Bawang Merah, Bawang Putih, Bawang Bombay, Kamus Isme-isme, dan Perempuan itu Bernama Arjuna.

Novel Matahari yang merupakan kisah nyata wanita Indonesia yang terlibat spionase di perang pertama Eropa dan dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas, dibuatnya berdasarkan riset sampai ke ngeri kincir angin.

Tapi buku ini tentu bukan satu-satunya buku yang dia buat dengan lebih dahulu melakukan riset.

Sebagai budayawan luar biasa, sudah banyak penghargaan yang diterimanya. Beberapa yang sempat saya catat:  Khatulistiwa Literary Award, Yayasan Penghargaan Indonesia Untuk Bidang Pelestarian Musik Etnik, Penghargaan Pemecah Rekor Karya Puisi Paling Tebal Dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Piagam Apresiasi PAPRI Wakil Presiden, untuk Kritik Musik, Braga Award dari Gubernur Jawa barat, untuk Bidang Teater.

Dia juga seorang guru dan pembimbing. Tercatat Remy pernah menjadi dosen sinematografi, ratusan pelatihan musik, teater, film dan kebudayaan

Melihat rekam jejaknya yang sedemikian hebat , saya tegas berpendapat sudah wajar saatnya ada perguruan tinggi yang memberikan gelar doktor kehormatan kepada Remy.

Tak ada satupun alasan prinsipil yang menghalangi Remy untuk menerima gelar doktor kehormatan itu. Para pejabat di bidang akademis sudah sewajarnya membuka mata mereka memikirkan kemungkinan pemberitaan gelar kehormatan doktor ini.

Selain itu, saya juga tegas berpendapat, sudah teramat sangat layak Remy Sylado memperoleh tanda-tanda gelar kehormatan dari negara.

Tingkatan atau urutan gelar kehormatan apa yang patut diberikan kepada Remy, para pengambil keputusan tentu memahami hal ini.

Kita harus membiasakan memberikan tanda-tanda jasa kepada orang yang masih hidup dan yang memang kayak memperolehnya seperti seorang Remy Sylado.

Sampai kini, kendati sudah agak membaik, Remy masih berbaring lemah di tempat tidur di rumahnya.

Pandemi covid-19 membuat saya pribadi dan beberapa kawan dekatnya, belum dapat membezoek lagenda hidup ini. Kami mendoakan agar Bung Remy cepat sembuh…

***

    

WINA ARMADA SUKARDI, Wartawan senior, kritikus film, penyair, anggota Dewan Pers dua priode dan advokad.

sumber: koranprioritas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.