Di Gerbong Kereta Jakarta-Yogya –

oleh -89 views


bersama Saut Situmorang

Muhammad Yasir

Lima tahun yang lalu seingatku
Sebelum kau membaptisku sebagai
Penyair di bar setelah berkisah Ibu;
Cinta, ketulusan, dan kematiannya…

Dan seperti hari ini aku menulis puisi
Dan akan selalu untuk yang patut
Dikenangkan dalam perjalanan hidup
Seperti sebotol bintang di atas meja
Ketika klasik rock menjadi keheningan
Ketika kita tak bicara apa-apa lagi
Ketika empat pasang mata kita
Berkaca-kaca dan aspal jalanan
Beruap ketika gerimis dan angin
Berhembus, melarikan kenangan
Dan klasik rock menjadi keheningan

Lima tahun yang lalu seingatku
Setelah kau membaptisku sebagai
Penyair di bar setelah sama-sama
Kita menelan kisah Ibu dan segalanya
Setelah malam benar-benar malam
Dan bulan tenggelam dalam puisi
Dan aku memiliki kenangan ini:

Di gerbong kereta Jakarta-Yogya
Tak ada suara di Kalibata sebagai
Kata-kata perpisahan dan kekalahan
Tetapi akan selalu ada arak api dan puisi
Yang senantiasa membakar Jakarta
Yang bukan tujuan hidup kita

Tak perlu ada kata-kata perpisahan
Tak perlu ada kata-kata kekalahan
Walau pengadilan Jakarta Timur
Merampas kebebasanmu sebagai seorang
Penyair revolusioner, keyakinanku!

Keyakinanku, nampaknya, kebebasan
Bukanlah milik kita waktu itu
Kerna mereka telah dibayar untuk
Membuat peti mati kata-kata dan
Bahasa puisi: “Indonesia adalah mimpi
Di mana aku tak perlu bermimpi seperti itu lagi!”

“Indonesia adalah mimpi, di mana aku
Tak perlu bermimpi seperti itu lagi!”

Dan katakan memang tak ada ruang
Untukmu atau kita di negeri ini?
Dan katakan Indonesia tak memiliki
Penghormatan tertinggi pada kuasa kata
Dalam kata-kata yang membentuk
Sejarah kebangkitan dan peradabannya?!
Dan katakan untuk apa kau kembali
Datang ke Indonesia jika akhirnya
Seekor hakim saja berani mengejek
Sikap politik revolusioner dan cintamu?!

O, kau seorang yang tulus!
Kau seni yang hidup abad 21!
Ketika banyak di antara penyair
Kehilangan martabat sebagai penyair
Ketika banyak di antara penyair
Kehilangan keberanian di hadapan kapital
Ketika banyak di antara penyair
Kehilangan kata-kata untuk menindas penindasnya!

O, kau seorang yang tulus!
Kau Batak dan bukan Indonesia!
Dan aku tak perlu berteriak bangkit
Dalam puisi ini kerna puisi-puisimu
Ialah kebangkitan yang dilupakan
Perpustakaan dan intelektual!

Di gerbong kereta Jakarta-Yogya
Tak ada suara di Kalibata sebagai
Kata-kata perpisahan dan kekalahan
Tetapi akan selalu ada arak api dan puisi
Yang senantiasa membakar Jakarta
Yang bukan tujuan hidup kita

Tak perlu ada kata-kata perpisahan
Tak perlu ada kata-kata kekalahan
Walau pengadilan Jakarta Timur
Merampas kebebasanmu sebagai seorang
Penyair revolusioner, keyakinanku!

Meski hari-hari takkan mengenangkan kita
Keyakinanku, akan datang suatu waktu
Di mana hari-hari dalam tahun-tahun
Akan menangisimu kerna kesedihan
Ialah kenyataan dan mutlak!

Dan mari kita lepaskan Indonesia
Dari setiap langkah kaki di jalan pedang
Sebab Indonesia adalah mimpi
Di mana kita tak perlu bermimpi seperti ini lagi!

Di gerbong kereta Jakarta-Yogya
Semua penumpang berteriak
Lokomotif menabrak damp truck!
Di atas rel kereta tak ada lagi Jakarta!
Kekalahan ialah kesedihan yang nyata
Dan mutlak!
Tetapi, nampaknya, hakim pengadilan
Jakarta Timur ialah seorang bodoh!
Dia lupa, kau seorang penyair!
Dan penyair takkan kalah
Sekali pun mereka telah membedilnya
Dengan undang-undang dan ketukkan palu!

Di gerbong kereta Jakarta-Yogya
Lima tahun yang lalu seingatku
Aku takkan kehilangan sensasi untuk itu.


Sampit, Januari 2021



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.