Di Surabaya, Bertetangga Dengan Maut –

oleh -222 views



Muhammad Yasir

Kota Surabaya begitu indah dan mempesona ketika pagi hari! Dari celah-celah dinding pembatas antara rel kereta dan kanal yang kukuh, sinar matahari keperakan membuat celah-celah itu bersinar. Dan tampaklah rumah-rumah modern dan bangunan kumuh hidup saling mendakwa: modern membawa kerusakan, kumuh terlalu mengganggu pemandangan! William, seorang pengacara muda yang gagah dan klimis, yang baru saja diambil sumpah-jabatannya mengatakan bahwa tidak ada keputusan akhir yang menguatkan dari hakim tentang dakwaan itu. Keduanya sama-sama membayar pajak kepada administrator pajak setempat dengan nilai yang sama. Jadi, pesan hakim, hiduplah dengan rukun, damai, dan saling bergotong-royong. Begitulah, hari-hari pun berjalan dengan khidmat dan bisu.

Di Kota Surabaya bagian Barat, hiduplah keluarga sederhana di sebuah rumah yang sederhana pula. Lima kaki dari rumah itu, sebuah rumah sakit yang selalu sibuk tiga tahun ini. Setiap hari, termasuk hari Minggu, orang-orang berbondong-bondong datang ke sana, kemudian sehari berikutnya orang-orang yang lain berbondong-bondong pula menjunjung peti mati. Dan begitu seterusnya, sehingga beberapa petugas rumah sakit menyerah dan mengundurkan diri karena keilmuan mereka tidak terpakai sama sekali, selain untuk mengantar jenazah ke pemakaman dan mendoakan mereka yang mati agar diterima di sisi Tuhan.

Tomo Wiroto adalah kepala keluarga di keluarga sederhana itu. Rupa dan perawakannya sungguh tidak menarik untuk dijelaskan. Setahun yang lalu, kepala rumah sakit itu menyuruhnya untuk bekerja sebagai penjaga malam, sebab penjaga malam sebelumnya sebulan yang lalu bunuh diri, karena nyaris setiap hari para petugas bank datang menagih hutang ke rumahnya. Istrinya menemukan mayatnya tergantung pada seutas tali yang terikat di tiang plafon rumahnya. Tomo Wiroto yang telah kehilangan pekerjaannya sebagai salah seorang pegawai Pos, tidak banyak berpikir, dia menerima pekerjaan itu dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh.

Pada suatu waktu, terjadi perdebatan antara Tomo Wiroto dan istrinya. Perdebatan itu berawal ketika Tomo Wiroto tidak mengindahkan keinginan istrinya. Istrinya yang juga sukar dijelaskan rupa dan perawakannya itu, menginginkan agar anak lelaki mereka yang terserang demam dan batuk dibawa ke rumah sakit. Akan tetapi, Tomo Wiroto menolak dengan alasan bahwa rumah sakit sedang ngeri-ngerinya. Dan bahwa dia telah menyaksikan mayat-mayat seperti gerbong kereta yang berbaris memanjang, tidak sabar menunggu lokomotif membawa mereka ke tujuan.

“Aku sama sekali tidak mengerti, sungguh, apa yang sesungguhnya membuatmu ketakutan seperti sekarang ini. Anak kita tidak akan selamat hanya dengan mengkonsumsi obat-obatan warung. Aku khawatir kalau-kalau dia… oh! Ikutilah perasaanku. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan menimpa kita!”

“Kuberitahu engkau sesuatu. Semalam, ketika aku berjaga, aku menyaksikan para petugas rumah sakit tergelepar di halaman rumah sakit. Mereka kecapaian. Engkau harus tahu, puluhan orang dalam sehari yang harus mereka makamkan! Setelah itu mereka harus membuat laporan bahwa total angka kematian kian meningkat. Aku tidak ingin anak kita akan mempersulit mereka. Biarkan dia di rumah ini. Dan, yakinlah, Tuhan bersama kita.”

“Tuhan selalu bersama manusia! Takdir yang dia berikan, memang tidak bisa kita gugat. Tetapi, setidaknya, kita telah membuat perjalanan yang baik untuk anak kita. Bukan pasrah seperti ini! Para petugas rumah sakit itu telah bersumpah setia pada pekerjaan dan jabatan mereka. Mereka melakukan itu sebagai suatu kemuliaan. Perkara lelah, semua orang di dunia ini, kupikir sudah lelah. Untuk apa berlarut lebih jauh?!”

“Aku khawatir, justru kita yang membawa anak kita kepada… janganlah terlalu keras kepala!”

“Maksudmu biarkan saja?!”

“Ya! Biarkan ini menjadi rahasia kita.”

“Tidak berperasaan!”

“Seperti negara, barangkali.”

Perdebatan Tomo Wiroto dan istrinya ini menunjukan bahwa hari-hari yang berjalan dengan khidmat dan bisu di Kota Surabaya tidak terdapat kemerdekaan di dalamnya. Sebagai kepala keluarga, Tomo Wiroto adalah hakim agung dalam keluarga itu. Sementara istrinya adalah terdakwa yang berusaha mewujudkan keadilan untuk anak lelakinya, tetapi kalah. Dia kalah karena bukan bagian dari pengadilan. Dia adalah seorang terdakwa! Lambat laun akan menjadi tersangka! Dan dia akan kalah! Dan Wiratman, seorang pensiunan tentara yang sejak lama bertetangga dengan Tomo Wiroto memilih menjadi saksi bisu perdebatan itu! Baginya, itu pertunjukan yang menarik untuk didengarkan, hitung-hitung menghibur jiwanya pada usia senja.

Hari Minggu keempat pada bulan Juni. Telah terjadi kemeriahan di bangsal rumah sakit tempat Tomo Wiroto bekerja. Kemeriahan itu semacam pesta kembang api yang meletup-letup dan indah di langit malam hari. Orang yang memulai kemerihan itu adalah Ivan Digula, seorang lelaki tua dari Boven Digoel, mantan pegawai administrator pajak di Kota Surabaya, yang tidak tahan lagi melihat dirinya terkulai di bangsal rumah sakit tanpa seorang keluarga pun menemaninya. Sudah delapan hari Ivan Digula berada di sana. Selama delapan hari itu pula dia kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia. Hidungnya diberi alat bantu pernapasan. Dan dia hanya bisa memandangi siang dan malam silih berganti; harap-harap anak-anaknya datang membawa karangan anyelir atau mawar sebagai tanda kasih sayang. Tetapi tidak. Tidak seorang pun datang karena takut dan cemas!

Ivan Digula bangkit dari kasur dan melepas alat bantu pernapasan di hidungnya setelah seorang perawat keluar dari bangsal itu. Di bangsal itu ada sepuluh orang sebaya dengannya. Para lelaki tua! Ivan Digula kemudian berjalan ke jendela rumah sakit dan melihat ke luar. Matanya yang renta, payah melompat dari satu objek ke objek lainnya. Lihatlah roman wajahnya! Betapa rindu dia dengan kehidupan sebelumnya.

“Kita di sini,” kata Ivan Digula agak nyaring dan sinis, “seperti sekumpulan tahanan yang akan menunggu waktu hukuman mati kita digelar tanpa pengadilan. Hanya karena usia senja yang membuat kita rentan terserang penyakit, seorang dokter di sebuah apotek berani-beraninya menghakimi kita dan kemudian mengeluarkan surat rujukan agar kita segera di rawat di rumah sakit sialan ini! Tidakkah engkau sekalian di sini merasakan hal yang sama?!”

Seseorang lelaki tua, sedikit lebih tampan dari Ivan Digula, berkata, “Tidaklah tempat aman bagiku selain di sini. Di rumah, anak-anakku enggan merawatku. Kehidupan modern telah membuat mereka menjadi kuda pacuan, yang sebenarnya mereka lupa di balik itu semua ada meja judi yang selalu ramai dengan rupiah. Tuan, di sini aku bisa merasakan bagaimana jalan kematianku. Aku telah mengaturnya selama sembilan hari di dalam bangsal ini. Jika tuan memaksa agar kita satu pemahaman, maaf, bagiku itu pemaksaan. Dan, kita tahu, apa pun bentuknya pemaksaan adalah kejahatan yang senantiasa dibiarkan hidup berdampingan dengan kita.”

“Dengarlah suara ini, engkau sekalian!” Kata Ivan Digula sembari memukul-mukul tabung oksigen dengan sendok makan. “Coba, coba ikuti aku!” Para lelaki tua itupun mengikuti. Kini, bangsal itu dipenuhi suara tabung oksigen yang dipukul dengan sendok makan.

Semenit kemudian, Ivan Digula berkata, “Tidak kita semua, para lelaki tua ini, yang ada di dalam bangsal ini masih memiliki gairah untuk hidup lebih lama lagi? Ketika engka sekalian mengikuti perkataanku, samalah kita. Aku memiliki rencana jitu yang kupikirkan lima hari belakangan ini. Kita harus bebas dari bangsal rumah sakit yang menyedihkan ini! Aku akan beritahukan kepada kalian nanti malam.”

Seorang perawat muda yang terlambat datang yang ingin memastikan apa yang telah terjadi di bangsal rumah sakit itu, tidak menemukan apa pun selain sekumpulan para lelaki tua yang tertidur! Setelah memastika tidak terjadi apa-apa, perawat muda itu keluar dari bangsal itu dan melanjutkan pekerjaannya memandikan jenazah-jenazah yang tiga hari lalu mengantre.

Tidak siang, tidak malam Kota Surabaya selalu indah dan mempesona! Lampu-lampu jalan terang-benderang. Kerlap-kerlip lampu hotel berbintang dan tempat hiburan yang sepi, tampak dari kejauhan. Tomo Wiroto bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Anak lelakinya, sehari yang lalu telah pulih. Kini, dia bisa bekerja dengan tenang. Sementara Ivan Digula mulai menjelaskan rencananya kepada para lelaki tua di bangsal rumah sakit itu.

“Aku telah membayar salah seorang petugas rumah sakit ini untuk menyediakan sepuluh pasang pakaian dokter yang akan kita pakai. Anggap saja, kalian berhutang kepadaku dan harus kalian bayar ketika keluar dari rumah sakit sialan ini. Sekarang pakailah! Dan ingat yang kukatakan tadi, kita keluar satu per satu agar tidak dicurigai!”

Di dalam pos jaga rumah sakit itu, Tomo Wiroto tampak asyik menonton televisi sehingga dia lupa dengan pekerjaannya sebagai penjaga malam. Alhasil, pukul 23.00 malam, satu per satu para lelaki tua itu keluar dengan santainya. Dan tidak jauh dari rumah sakit itu, sebuah mobil mini bus yang telah disiapkan Ivan Digul terpakir dengan santai pula!

Keesokan hari, para petugas rumah sakit, termasuk kepala rumah sakit heboh atas hilangnya sepuluh orang pasien mereka yang terpapar virus aneh dan mematikan. Tidak berselang lama, para polisi dan wartawan pun mendatangi rumah sakit itu. Kecanggihan abad 21 ini dengan cepat membuat kehebohan itu menyebar ke seantero kota hingga ke telinga Nyonya Gubernur. Dan, terang sudah, semua orang menyoroti Tomo Wiroto yang berjaga semalam. Kepala rumah sakit dan kepolisian memanggil Tomo Wiroto untuk menghadap. Setibanya di depan pintu ruangan kepala rumah sakit, sepasang lutut Tomo Wiroto bergetar. Bagaimana pun, ini kali pertama dia berurusan dengan penghakiman.

“Silakan duduk, Tomo Wiroto!” Kepala rumah sakit mempersilakan Tomo Wiroto.

“Aku, Tuan.”

“Di mana engaku semalam, Tomo Wiroto?” Tanya kepala rumah sakit.

“Berjaga, Tuan. Seperti biasa.”

“Kau melihat sepuluh orang pasien rumah sakit ini kabur semalam, sekira pukul 23.00?!”

“Tidak, Tuan. Aku tidak melihat mereka.”

“Engkau tahu, Tomo Wiroto, aku mempekerjakanmu untuk berjaga malam di sini karena engkau layak mendapat pekerjaan itu. Jadi, beginikah balasanmu? Sekarang citra rumah sakit dan posisiku terancam. Aku tidak menduga, begini rupanya engkau membalas kebaikanku!”

“Tidak, Tuan. Orang sepertiku tidaklah memiliki kemampuan membalas kebaikan dari Tuan…”

“Lalu mengapa engkau tidak mengatakan yang sebenarnya?!”

“Begini,Tuan… e…”

“Bagaimana Tomo Wiroto? Tidak usah takut. Bukan demikian Pak Kepala?”

“Benar.”

“Semalam,” kata Tomo Wiroto, “para dokter bedah di rumah sakit ini, tidak jelas rupa dan umur mereka, menanggalkan beberapa surat di pos jaga. Salah seorang dokter bernama Ivan Digula bahwa para dokter bedah akan berangkat ke rumah sakit di Jakarta. Di sana, katanya, membutuhkan banyak tenaga dokter bedah. Kemudian dia meninggalkan amplop berisi uang yang banyak. Ketika hendak kukembalikan, Dokter Ivan Digula berkata: “Di masa sekarang ini jangan gengsi dengan kemiskinan yang engkau terima. Harga dirimu adalah harga dirimu. Dia tidak dapat dibeli. Perkara isi amplop itu, bukankah naif kalau engkau tidak membutuhkannya. Gunakanlah sebaik mungkin, karena kota ini tidak akan menjamin keselamatanmu dan keluargamu. Ketika orang-orang seperti kalian ini mati, akan lahir orang-orang miskin lainnya!” Demikian, Tuan. Aku menerima amplop itu dan mereka pergi dengan sebuah mini bus. Selebihnya, tidaklah orang sepertiku memiliki pengetahuan terhadap profesi seorang dokter.”

“Demi Tuhan, Ivan Digula! Dia memang! Lelaki tua sialan!” Maki kepala rumah sakit itu dengan berangnya. Kemudian melanjutkan, “Pak Kepala? Bawa saja orang ini dan selanjutnya kita tangkap sepuluh orang lelaki tua itu! Mereka mengancam citra dan posisiku sebagai kepala rumah sakit. Berapa pun akanku bayar!”

Setelah menerima amplop dari kepala rumah sakit, kepala kepolisian itu akhirnya meninggalkan rumah sakit itu dan Tomo Wiroto ikut bersama mereka sebagai saksi kunci. Walau pun sempat melakukan penolakan, Tomo Wiroto tidaklah memiliki kuasa sebagaimana dia berdebat dengan istrinya ketika berhadapan dengan borgol dan sirene mobil patroli. Tidak disangka-sangkanya, kepala rumah sakit tega melakukan hal itu kepadanya. Akan tetapi, sekali lagi, dia tidak memiliki kuasa sebagaimana dia membuat istrinya kalah. Kini, dia kalah. Penjara di hadapan matanya. Pikirannya kacau. Ke mana-mana. Tidak jelas. Oh! Penjara bagi orang-orang miskin lebih kejam daripada isi pidato seorang presiden yang membiarkan rakyatnya sekarat di rumah masing-masing.

Sementara Tomo Wiroto dibawa, Ivan Digula berjalan dengan santainya di rumah sakit itu menuju ruangan kepala rumah sakit. Ketika pintu berdecit, kepala rumah sakit menyambut kedatangan Ivan Digula tanpa sepatah kata pun. Semenit kemudian, Ivan Digula mengeluarkan amplop dari saku di balik mantel kulit buatan Jerman-nya itu. Lihatlah! Kepala rumah sakit itu semringah dengan manisnya.

Mengetahui bahwa Tomo Wiroto dituduh sebagai dalang atas hilangnya sepuluh orang pasien sebuah rumah sakit di Kota Surabaya, istrinya terperanjat ke kursi, tak sadarkan diri. Tidak butuh waktu lama pula, berita itu menyebar ke telinga para sanak-famili dan tetangga. Tomo Wiroto jadi bahan pembicaraan dan tidak segan-segan mulut sanak-famili dan tetangganya menghardik istrinya dengan kata-kata menyengit hati. Tidak kuasa mendengar itu, Galuh Drupa dan anak lelakinya menghapiri suaminya di kantor polisi dan mengungkapkan kekecewaannya; kekecewaan bahwa Tomo Wiroto menjual kejujurannya hanya untuk uang, padahal tidak ada dia tidak menuntut kehidupan yang mewah. Sebelum melangkah pulang, tanpa sadar, tangannya yang lembut dan penuh kasih sayang itu menempeleng wajah suaminya. Kemudian berlalu pergi dengan isak tangis tidak terbendung.

Hakim agung memutuskan Tomo Wiroto bersalah karena tindakannya melakukan pembiaran kejahatan dan pencorengan citra dan nama baik sebuah rumah sakit serta mengganggu posisi jabatan kepala rumah sakit sehingga menyebabkan trauma. Oleh karena itu, Tomo Wiroto dihukum sepuluh tahun penjara dengan percobaan delapan tahun. Seminggu kemudian, hari Senin yang cerah membuat bunga-bunga di halaman rumah sakit itu bermekaraan, Galuh Drupa tampak berjalan menuju barisan petugas rumah sakit menggelar apel pagi. Di tangan kanan Galuh Drupa, sebuah revolver siap pakai yang dia pinjam dari Wiratman, pensiunan tentara, haus darah karena terlalu lama disimpan. Sontak, para petugas dan kepala rumah sakit yang ada di halaman rumah sakit itu terkejut dan segera membubarkan diri.

“Engkau…” kata Galuh Drupa, “mempekerjakan suamiku di sini hanya untuk engkau tumbalkan! Aku tidak sebodoh yang engkau bayangkan. Suamiku tidaklah mungkin lalai dalam pekerjaannya. Dan, kini, engkau tahu?! Dia dihukum selama sepuluh tahun penjara! Itu artinya, lebih baik kita sama-sama merasakan bagaimana hidup tanpa orang yang engkau cintai dan bayang-bayang maut seperti sekarang!”

Tanpa omong lagi. Galuh Drupadi mengarahkan moncong revolver itu ke arah kepala rumah sakit dan “Dor! Dor!” Dua lubang yang pantas untuk membayar kelicikan dan kejahatannya. Tidak lama kemudian, Galuh Drupa mengarahkan moncong revolver itu ke dahinya. Dan, “Dor!” Wiratman seorang pembunuh ulung. Dia berhasil mengajarkan Galuh Drupa membunuh selama seminggu!

Surabaya, 2021.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.