Dihilangkannya Orang-orang Sekaroh –

oleh -122 views


Hasan Gauk

Hari itu hujan mengguyur kampung Sekaroh, tak ada seorang pun yang duduk di beranda seperti hari-hari sebelumnya, barangkali mereka sudah bosan melihat hujan, atau setidaknya telah jenuh oleh hawa dingin yang menggerogoti daging tipisnya. Apa jua yang harus dilihat di malam gelap tanpa penerangan, hujan? Tentu masyarakat yang hidup di pinggiran hutan Sekaroh, tidak pernah menjadikan hujan itu wahana hiburan, atau sekadar menikmati rintik-rintiknya sebagai kejadian yang ditunggu-tunggu. Justru, tak sedikit masyarakat yang membenci fenomena langit tersebut.

Marsini salah satunya, ia dari sekian pemburu babi hutan yang masih bertahan di Sekaroh. Jika hujan turun, ia masuk hutan berhari-hari lamanya, mencari jejak-jejak babi yang sudah jarang ditemukan, tentu binatang hama itu jarang keluar, jika hujan terus mengguyur sepanjang hari. Marsini biasanya ditemani Ayep adik tirinya dan Bikan anaknya, tidak lupa ditemani Pelor, Mirah, dan Menjangan anjingnya yang telah dilatih sedari kecil sebagai pemburu handal. Setiap berburu, tiga anjingnya selalu menjadi teman setia. Dan hampir sembilan hari menyusuri hutan belantara, hari-hari tersial bagi ketiga pemburu itu, tidak seekor pun babi hutan mereka dapati.

Hutan Sekaroh adalah hutan adat. Tak ada satu pun orang boleh menebang pohon dengan dalih apapun. Jika dilanggar, maka hari itu juga si pelaku penebangan akan tewas seketika, entah oleh sebab apa, dari ujung kaki sampai sekujur tubuh biasanya membiru lebam, lalu terlihat seperti orang gila mengoceh sendiri tanpa diketahui penyebab penyakitnya, dan kematian menantinya. Yang jelas, masyarakat masih mempercayai dengan sebutan tuah; percaya tatanan kehidupan adat, jika pemangku mengatakan tidak boleh, maka tiada satu orang pun berani membantah bahkan menyanggah, karena itu satu petuah yang wajib ditaati. Jika ada diantara mereka tak percaya atau mencoba melanggarnya, maka segala bentuk keburukan akan menjemputnya.

Amaq Anom, pemangku desa yang sangat disegani dan dihormati di kalangan masyarakat setempat, bukan lantaran usianya sudah hampir seabad atau karena ilmu Ramal, Senteguh, Senjerit, Seranggas, dan Ilmu Jaye Sempurne yang ia miliki. Namun sebab kejujuran serta kerendahan hatinya, dan bebuah pemikirannya bisa diterima semua kalangan, juga petuah-petuahnya senantiasa mengajak masyarakat tetap menjaga hutan secara bijak bestari.

Ia selalu berpesan; “Jika satu pohon ditebang, berarti kita sudah menghilangkan sepuluh nyawa seseorang, tapi jika satu pohon kita tanam, seribu orang akan terselamatkan.” Begitulah petuah-petuah yang selalu saja dilontarkan Amaq Anom selaku pemangku Adat yang dicintai warganya.

Seiring berjalannya waktu, syarat-syarat alam dilangkahi, satu-persatu mulai menggerogoti pohon-pohon besar yang tumbuh subur di hutan Adat, ada yang merambah menjadi penebang liar, makelar tanah dan pemburu liar dengan sembarangan menembaki apa saja yang melintas di hadapan mereka, tidak perduli hewan atau binatang kramat yang sengaja dilindungi, baik oleh masyarakat Adat maupun pemerintah. Segala jenis satwa penghuni hutan Sekaroh dihabisi. Semua perihal buruk dilakukan, setelah wafatnya Amaq Anom selaku pemangku Adat hutan Sekaroh, tak ada lagi yang disegani oleh orang-orang yang memiliki kerakusan, ketamakan duniawi.
***

Tepat dihari kesepuluh, nasib baik sepertinya bakal menghampiri mereka. Pelor dan Menjangan gerasak-gerusuk memperlihatkan tingkah yang tak biasa, sepertinya ada babi yang mereka endus baunya. Ayep dan Bikan lalu mengikuti kedua anjingnya, yang berlari mendekati pohon Mahoni. Sementara Mirah berada di tempat lain bersama tuannya menyusuri pinggiran hutan. Dari jarak cukup dekat, Ayep dan Bikan melihat segerombolan penebang kayu di sana, ia dengan sangat berhati-hati melihat satu-persatu wajah di antara mereka. Jelas di sana tertangkap oleh kedua matanya di balik semak belukar, wajah yang sangat ia kenali, Pak Sumenep.

Pak Sum nama panggilan akrabnya, seorang Kepala Desa yang sangat disegani masyarakat di kampungnya, bukan lantaran kebijakan atau cara menjalankan amanat yang diembannya sebagai pemangku Desa, melainkan sebab kebengisan dan keangkuhannya. Ia tak segan-segan memukul ataupun memaki siapa saja yang mencoba menegur atas kebijakan-kebijakannya, atau yang sekedar menanyakan suatu hal kepemimpinannya. Jikalau merasa tersindir, maka si penanya akan mendapat cacian bahkan pukulan. Pak Sum, adalah sosok Kepala Desa yang anti terhadap kritik.
***

“Aku masuki hutan dengan harapan beberapa babi bisa dibawa pulang.” Tapi setelah mereka melihat kejadian hari itu, Marsini, Ayep, dan Bikan, seolah getir setiap kali akan memasuki hutan Sekaroh, mereka takut kalau-kalau hal serupa akan mereka lihat lagi.

Semenjak kejadian itu, Marsini, Ayep, dan Bikan anaknya, tidak melakukan perburuan babi dalam jangka waktu cukup lama. “Mereka masih dibayang-bayangi suara raungan anak-anak manusia yang memuncratkan darah dari kepala yang terpisah dari tubuhnya.”
***

Semenjak pembabatan hutan yang dimulai sejak tahun 2001, hanya merekalah yang sampai kini tetap bertahan menggantungkan nasib dengan berburu. Sedang warga lainnya lebih memilih menjadi perantau, baik ke kota maupun ke luar negeri.

Marsini dan Ayep juga berberapa kali diajak oleh sebagian warga yang sudah keluar-masuk Malaysia untuk bekerja di sana. Tapi lagi-lagi, usaha mereka tetap tak menuai hasil, tetaplah bertahan dengan pendiriannya, jawaban yang selalu dilontarkan masih sama, hingga membuat orang yang mengajakknya tidak bisa berkata-kata lagi.

“Kalau semua laki-laki di kampung ini meninggalkan rumah, lantas siapa lagi yang bakal menjaga tanaman dari serangan hama? Tentu sebagian warga di kampung ini juga membutuhkan pertolongan dari kekejaman babi hutan yang kerap kali merusak tanaman-tanaman warga, hasil panen juga kan tergantung dari seberapa banyak babi yang tidak merusak dan memakan tetumbuhan yang ada di ladang, bukan?”

Satu persatu masyarakat Sekaroh meninggalkan kampung halamannya, setelah mereka berhasil mengumpulkan sejumlah ringgit di perantauan. Bahkan, tak jarang ada yang memberikan secara percuma gubuk-gubuk hunian mereka pada warga lainnya. Mereka lebih memilih membeli tanah di luar kampung dan membangun rumah baru di sana, begitu seterusnya. Barangkali sudah bosan hidup di pinggiran hutan, yang air bersihnya sangat sulit didapatkan, jalan-jalannya berlumpur setiap kali hujan melanda, juga gelap gulita saat matahari mulai condong ke barat, dan tentu karena akses informasi sangat sulit diperoleh, apa lagi jarak tempuh anak-anak mereka yang bersekolah, dan bagi mereka yang sesekali ingin berangkat ke kota.

Jikalau tetap memilih bertahan di sana, maka segala akses informasi sulit didapat. Di tempat ini juga, dulu pernah ada sekolah yang didirikan hasil iuran warga setempat, tapi tak bertahan lama. Tidak sampai dua tahun sekolah berdiri, para guru sukarelawan yang mengajar tidak tahan menempuh perjalanan menuju kampung Sekaroh, karena jalur jalannya sangat memprihatinkan.

Pernah beberapa dari warga menuntut perbaikan jalan kepada Pak Sum selaku Kepala Desa, juga pada pihak Kecamatan, hingga Kabupaten, dan Provensi, tetapi sampai akhir priode keduanya, jalan itu masih seperti semula. Pak Sum tidak pernah benar-benar ingin memperbaikinya. Saat-saat mendekati Pilkada, para calon dari berbagai macam partai bergonta-ganti datang menabur janji, namun setelah mereka terpilih, dari beberapa di antara mereka yang sering bolak-balik ke kampung Sekaroh, menjadi Dewan Perwakilan Rakyat, Bupati hingga Gubenur, tak satupun di antara mereka yang datang memenuhi biji-biji yang kadung sudah tertanam, alih-alih mengirim bantuan, berkabar pun mereka enggan.
***

Tiga bulan berlalu, Marsini, Ayep, dan Bikan, sudah mempersiapkan pebekalan. Kali ini mereka harus mendapatkan banyak buruan. Jika tidak, hutang selama tidak melakukan perburuan kian menumpuk. Perasaan was-was mereka kini, sedikit demi sedikit berangsur hilang, toh kalau tidak berburu, hutang kepada Wanto tidak kan bisa tertutupi, belum lagi disertai bunga-bunganya.

“Kali ini, akan kutantang seribu babi dengan lengan terbuka. Pantang kita pulang sebelum mendapatkan banyak buruan,” ucap Bikan dengan penuh percaya diri.

Ayep yang mendengar semangat yang berapi-api lalu menepuk pundak keponakannya ikut memberi semangat. “Dulu, paman semasih seusiamu lebih bersemangat darimu, kalau tidak percaya, bisa kau tanyakan kepada Ayahmu. Tapi paman mengakui, dulu paman lebih tua saat itu, ketimbang usia kau sekarang ini.” Bikan yang mendengar ucapan pamannya, kini lebih memantapkan semangat. “Jadi, aku tidak akan keluar dari hutan, sebelum meringkus puluhan babi, paman.”

“Jangan berucap sembrono kau Nak, sebab dalam kepercayaan kita, bukan parang, tombak atau senjata tajam lain yang membuat kita terluka, ataupun merasa takut. Tetapi yang paling dihindari adalah ucapan yang terlalu jumawa. Apa kau ingat Amirun? Dia tewas bukan lantaran parang yang menyabet di lehernya. Ia terkenal memiliki ilmu kanuragan dan ilmu kebal, tapi asal kau tahu, ia tewas atas ucapannya sendiri, -yang tidak bisa tersentuh senjata tajam”, ujar sang Ayah menasehati.

“Aku ingat sekali waktu Irun tewas seketika, akibat ucapannya, Yah.” “Ya, di hutan Sekaroh; tidak ada yang terkuat Nak, dan yang akan bertahan hidup di sana adalah mereka yang selalu rendah hati, dan menjaga ucapannya dari kesombongan-kesombongannya, juga kebaikan hati yang turut merawat segala yang ada di hutan ini. Jadi anakku, hutan ini milik semua makhluk yang hidup di muka bumi ini. Jadi, jangan sekali-kali sembarang kau menggunakan parangmu untuk memotong ranting sekalipun, paham kau!” Sambung sang Ayah menekan tegurannya.
***

Pagi menyambut, warna tanah masih terlihat gelap, cuaca dingin menusuk tulang, embun masih bergelantungan menari-nari di dedaunan. Belakas, panah, tombak dan sejumlah tali ikat, -tak boleh ada yang tertinggal. Tak lupa botol-botol tuak, ikan teri kering dan emping nasi, serta ubi untuk bekal perjalanan. Seperti biasa, Bikan mengingat nasihat ibunya yang selalu sibuk mempersiapkan bekal sebelum berangkat menuju hutan. Ibunya juga sering berpesan “Ingat Nak, setelah terkena kulit atau darah babi, segeralah kau bersuci, karena di ajaran agama kita mengharamkan juga bersipat nakjis mukallazah. Apa kau masih ingat doa bersuci?” Bayangan tersebut segera ia lupakan, ia tak mau terlarut-larut di dalam kesedihan. Toh, ibunya kini sudah bahagia di surga.

Pagi menjelang siang sebelum memasuki hutan, Marsini melakukan ritual puji agar segala urusan diperlancar. Kemenyan ditaburi pada arang yang sudah kemerahan, juga dipersiapkan keminang, tempat daun sirih, kapur, gambir dan tak lupa buah pinangnya. Dipersiapkan juga benang putih sebagai bebet dalam ritual ini, setelah mantra-mantra selesai dibacakan, Ayep mulai menaburkan beras di jalan utama menuju hutan. Namun ia lupa satu persyaratan, “ayam.”

Ritual semacam itu, masih dipercayai di kalangan masyarakat Sekaroh. Tanpa ritual, mereka menyakini akan terkena bala sewaktu-waktu ketika akan memasuki hutan. Ia ingat persis pesan Amaq Anom “Sebelum kita memasuki hutan, kita wajib berucap salam, meminta kepada sang hyang Maha Kuasa dengan melakukan ritual-ritual puji, karena kita sebagai manusia tak hidup sendiri, banyak makhluk ciptaan Tuan yang tak terlihat secara kasat mata, maka lewat ritual itu, kita melakukan doa-doa agar mendapati kemudahan, pertolongan, dan terhindar dari malapetaka di hutan ini, juga segala niat kita diperlancar, dipermudah segala urusannya.” Baginya, Amaq Anom bukan sekedar pemangku Adat, tetapi jauh dari itu, ia guru sekaligus Ayah bagi warga masyarakat di Sekaroh.
***

Sudah setengah hari mereka menelusuri hutan. Pelor, Mirah, dan Menjangan mulai mengendus-endus, sepertinya ini hari keberuntungan bagi mereka. Tidak seperti beberapa bulan lalu, mereka pulang dengan tangan hampa, kesialan, dan hanya rasa lelah dibawanya pulang. Setelah ditelisik, ternyata Ayep tak melakukan ritual seperti yang sudah dimintakan kakaknya, setelah kepulangannya dari berburu waktu itu, Ayep mengakui kesalahan yang dilakukannya, walau saat itu, rasa lelah masih bergelantungan diraut wajah mereka.

“Maaf kak, kesialan ini semua diakibatkan atas kesalahanku.”
“Maksud kau, Yep?”
“Aku telah lalai dan abai terhadap ritual puji sebelum kita memasuki hutan kemarin, aku tidak melaksanakan ritual seperti yang kau perintahkan itu.”
“Apa! Bukannya aku sudah menyuruh kau melakukannya waktu itu?”
“Sekali lagi maafkan aku kak, aku yang salah.”
“Acong kau, ini sungguh keterlaluan, kau ini goblok atau bagaimana, hah. Itu hal wajib yang harus kita laksanakan sebelum memasuki hutan, lupa kau?!”
“Sekali lagi maafkan aku, kak, aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.”
“Bajingan, pantas saja kita sampai berpuluh-puluh hari menyusuri hutan dan tak satupun buruan kita dapatkan, ternyata kau mengabaikan ritual peninggalan nenek moyang kita. Kelewatan kau ini, untung saja nyawa kau tidak ikut tertinggal di sana, mulai besok, biar aku saja yang akan melakuakan ritual puji!”
***

Bikan hanya sebagai pendengar kedua orang tua yang sedang beradu mulut, rasa lelah dan kekecewaannya masih lebih terasa dibanding harus mendengar Ayah dan Pamannya beradu. Ia lantas meninggalkan kedua orang tua yang masih berjibaku di ruangan tengah. Sepertinya, Ayah Bikan sangat marah ketika tahu, apa yang dilakukan adiknya bisa membahayakan nyawa mereka. Bikan lalu menuju ke kamarnya dan tertidur pulas berbantal kelelahan, yang terdengar dari suara dengkurnya.
***

Di balik pohon Mahoni, Pelor dan Menjangan terlihat mencium sesuatu, ia berlari sembari diikuti tuannya dari belakang. Ia melihat segerombolan babi di balik semak-semak. Marsini lantas memerintah anjing-anjingnya segera mengejar sambil berlari menyusul. Sementara Ayep dan Bikan berlarian menyilang, kelewang dan tombak sudah siap membidik tubuh-tubuh babi hutan tersebut. Plaaaaaaak, tak ayal tiga babi hutan tewas di ujung tombaknya. Ayep dan Bikan berlumuran darah, sepertinya mereka terlalu bergairah menusukkan tombaknya ke tubuh hewan buruan, sehingga wajah mereka tampak perciakan-percikan darah ikut menempel.

Mereka melanjutkan perburuan. “Kali ini kita akan pulang membawa hasil, paman,” Bikan menyakinkan pamannya. Mereka berjalan membuntuti anjing-anjingnya, tetapi lelangkah mereka terhenti di bawah pohon Lian. Pohon kramat yang sudah berumur sekian abad. Setelah didekati, dua kepala manusia berserakan di sana. Marsini, Ayep dan Bikan tak kepalang kaget. “Siapakah yang tega melakukan perbuatan iblis semacam ini?”

“Ini pasti Boro, kak,” ucap Ayep menyakinkan.
“Hus, jangan sembarang ngomong kau!”

Bikan juga tak ayal, ketakutannya sangat tampak, terlihat dari baju Ayahnya yang tak dilepaskannya sedari tadi.

“Sudah Nak, sudah! Ayo kita cari sebagian tubuh mayat-mayat itu bersama pamanmu, kau ini laki-laki, dan kita orang Sasak. Jadi jangan jadi pengecut, melihat hal semacam ini,” Ayahnya menasehati.

Marsini lalu memungut kepala-kepala yang berserakan itu. Ayep dan Bikan sibuk menyibak semak-semak lalu lalang mencari tubuh-tubuh kedua kepala itu ditemani anjingnya. Selang beberapa menit, tubuh dari kedua kepala tersebut terlihat tergeletak di bawah semak belukar, yang sepertinya sengaja ditutupi. Namun siapa yang mampu menandingi pencimuan Pelor, Mirah dan Menjangan?

Marsini adalah saksi kunci atas pembunuhan yang dilakukan Pak Sum waktu itu, dalam hati ia juga menyakini, bahwa; pembunuhan ini juga ada kaitannya dengan Kades tersebut, dikarena kedua mayat ini salah satu warga yang selalu mengkritisi kebijakan serta perbuatan Pak Sum yang selalu menjual tanah-tanah di Sekaroh. Marsini bahkan sangat mengenali kedua mayat itu, adalah Muksin dan Muksan yang kini kepalanya sedang ditenteng di tangannya.
***

Di balik pohon, sekitar pelemparan batu anak berusia dua tahun, Pak Sumenep beserta sejumlah warga memergoki ketiga laki-laki itu dengan dua kepala dan tubuh di masing-masing tangannya. Tak ayal, ketiga laki-laki itu langsung jadi bulan-bulanan warga, sebagian warga berpendapat “bagaimana jika ketiga laki-laki ini dibakar? Ini adalah perbutan seorang kafir,” teriak warga lainnya, “mereka pantas dibakar hidup-hidup,” sebagian warga juga berkata; “mereka inilah keluarga pemakan babi, jadi darah mereka sudah halal untuk kita tumpahkan.”

Emosi yang meluap-luap akhirnya menutupi sisi kemanusiaan mereka. Ketiga pemburu itu akhirnya terpanggang di bara api yang menyala-nyala. Sementara Pak Sumenep melukiskan senyuman terbaiknya di langit-langit sore itu.

7 Juni 2019



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.