Dimensi Madura; Budaya, Cinta, dan Perempuan –

oleh -110 views



Muhlis Al-Firmany *
Radar Madura, 27 Des 2020

Di sampul belakang buku, penulis bernama Lukman Hakim AG, lahir di Sumenep, 15 Agustus 1987. Masih aktif sebagai wartawan Jawa Pos Radar Madura. Di penghujung tahun 2020 ini, ia menerbitkan dua buku sekaligus: antologi puisi berbahasa Madura. Tematik dan isi berbeda.

Buku pertama berjudul Sagara Aeng Mata Ojan berisi 57 judul puisi (cetakan pertama 2008, cetak ulang 2020). Buku kedua Tang Bine Majembar Ate terdiri 34 judul puisi (terbit November 2020). Saya meresensinya bersamaan, karena buku ini (seolah-olah) terbit bersamaan, dan dihaturkan kepada pembaca dalam waktu bersamaan pula.

Kurun beberapa tahun ini, Madura sedikit bernapas lega, beberapa penulis dan media sama-sama memiliki perhatian lebih terhadap ranah budaya (wabilkhusus kebahasaan). Di antara wadah media massa dengan kolom sastra mingguannya: carpan, sanja’ (cerpen, puisi) adalah Jawa Pos Radar Madura.

Lukman mampu mengikat kebudayaan dengan kemampuannya menuangkan ide gagasan terhadap bahasa ibunya. Menarik atau tidak, dimengerti atau tidak, berdampak atau tidak, ia telah memilih jalan keluar dari cangkang hegemoni kesusastraan nasional, terlepas dari latar belakang kepentingan apa pun: ia telah menyelamatkan bahasa Madura.

Karakter Dinamis ’Sagara Aeng Mata Ojan’

Bahasa Madura mempunyai ciri khas, baik dalam bidang filologi, morfologi, dan sintaksisnya. Dua buku Lukman Hakim memiliki corak berbeda. Stereotip ’Madura keras’ dihindari. Tak ada judul celurit, carok, karapan sapi, sandur, maupun identitas lain yang melekat pada Madura umumnya.

Dirinya tampil sebagai generasi modern. Manusia Madura berpendidikan: alajar ka polo elmo/ ……/ asango topa’ seret-topa’ lobar, ajuko’ orabba alor/ atapa manyengset tabu’/ nyelle’ barang se maso’, mabucor ban/ makellemma parao se daddi lantaran/ tangga’ palabbuwan gi’ ce’ jauna/ ta’ sakera daddi engganna atabun nyaba/ tarowan tonggal dhalem ngebas aral/ …… (halaman 66).

Lukman sadar betul bahwa kebudayaan tidak akan bisa utuh selamanya. Nilai-nilai di dalamnya akan mengalami perubahan. Ruang waktu terbuka sebegitu luas. Permanensi (keajekan) yang menekankan pada akal budi, nalar, dan karya-karya besar pemikir masa lalu, sebagian masanya sudah dianggap kurang tepat oleh anak zaman. Ada jarak. Bahkan hilang.

Penulis membuat alternatif, siklus Madura tempo dulu yang disertai kesederhanaan bukan kekerasan orang-orang di dalamnya, ia suguhkan, meski dengan bunyi berbeda: diksi lembut dan narasi sosial dibangun, dibawalah pembaca pada panorama puisi-puisi; Ngellone Bulan Kaalangan, Gendhing Madura, Ngeka’ Sangger, Bako, Nyabba e Bengko, Romusha, Ojan Abu 1936.

Tahun 2008 buku ini pernah terbit. Sedikit banyak gubahan dilakukan untuk penyempurnaan judul maupun isi; pengantar penulis di halaman depan. Reinkarnasi karya atau sebagai perbendaharaan literasi demi lidah generasi? 12 tahun puisi berbahasa Madura ini terbit ulang, apakah 12 tahun lagi puisi ini akan tebit kembali?

’Tang Bine Majembar Ate’: Narasi Cinta dan Perempuan

’Perempuan’ di mata penulis sudah tak lagi dipandang sebagai bentuk tubuh ’pasif’. Berputar pada sumur, kasur, dapur: tang bine majembar ate/ …../ odhi’ apolong padhana pereng/ sossa ja’ pakaedhing ka oreng/ areng-sareng anyo’on papareng/ padhana roma ata’ genteng/ ….. (halaman 22). Jika digubah ke dalam bahasa Indonesia: istriku melapangkan hati/ …../ hidup bersama serupa rumpun bambu/ susah di badan jangan sampai terdengar ke telinga orang/ berdoalah bersama/ padankan rumah dengan atapnya/ ….. .

Poetika cinta larut di sebagian subjudul. Alasan ini yang dimungkinkan mempercepat lahirnya buku Tang Bine Majembar Ate. Tertanggal mulai 6 sampai 21 November 2020 ditulis. Hanya 16 hari puisi selesai. Akhir November buku terbit. Singkat dan cepat. Satu hari penulis bisa mencipta 6 hingga 7 puisi: antara produktivitas dan kesan buru-buru?

Jalur kereta, ada ekspres. Roda empat, ada tol. Pembangunan infrastruktur telah membuat layanan para pengguna jalan lebih cepat dan mudah. Tidak hanya dengan sastra (puisi), kecuali ’cinta’.

Bagi Jalaluddin Rumi, cinta tak ubahnya seperti ’misteri’. Cinta adalah samudera yang tak terukur kedalamannya. Sayako, putri kaisar Jepang rela menanggalkan gelar kebangsawanannya untuk menikahi laki-laki dari kaum jelata. Hitler, selang dua menit kematian istrinya yang bunuh diri, ia kemudian menyusulnya dengan cara yang sama. Shah Jahan menganugerahkan Taj Mahal kepada Mumtaz. Lukman menghadiahi buku Tang Bine Majembar Ate kepada sang istri dalam enam belas hari. Ah, jadi iri rasanya. Tapi sudahlah.

Selamat membaca.

Bangkalan, Desember 2020

*) Muhlis Al-Firmany, Pegiat budaya. Tinggal di pedalaman Bangkalan.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.