DUA HATI YANG MENGHITUNG RINDU | Obrolan Santai

oleh -97 views


DUA HATI YANG MENGHITUNG RINDU

 

Keluasan pikiran dan ketajaman rasa seseorang ketika membaca sebuah puisi adalah hal utama penyebab munculnya empati yang muaranya adalah kesan terhadap puisi tersebut.

 

Selain itu suasana kejiwaan yang sedang dialami juga sangat menentukan sehingga -meskipun tidak pasti- ketinggian pikiran dan kedalaman rasa dan itu tampak pada komentar yang muncul atas puisi tersebut.

 

Berikut ini adalah 3 puisi dalam Menghitung Rindu yang komentarnya mendorongku untuk mengunggah lagi puisi-puisi itu.

 

Puisi-puisi ini dikomentari oleh dua orang wanita. Yang seorang Siti Sundari, dan seorang lagi Sopeana Iry.

 

Tentang MASIH BUKAN BATAS Siti Sundari berkomentar :

“aku suka ini”. Komentar yang hanya terdiri atas 3 kata ini menggambarkan kekentalan rasa. Jika kekentalan ini dicairkan komentar ini mungkin bisa menjadi puisi lagi dan bukan hanya satu.

 

Puisi ini berisi kesan romantis. Kata romantis yang didalamnya ada kandungan cinta dengan rindunya tentu saja tidak bisa disempitkan hanya dalam kisaran asmara. Bisa jauh,jauh dari itu bahkan bisa saja romantis dalam puisi ini memiliki nilai religi yang dalam.

 

 

MASIH BUKAN BATAS

 

dengan bernafas tinggalkan cinta di belakang

dan karena kau hanya untukku

peluklah aku

 

Kotabaru_Karawang_151220160434

Dan tentang HANYA KAU DAN AKU Siti Sundari berkomentar : “Ini gila indahnya, sangat dalam.”

 

“Gila” kata yang dipilih oleh Siti Sundari. Adakah kata yang lebih gila daripada gila. Tidak ada. Ini adalah puncak rasa.

 

Kesan orang perorang terhadap sebuah puisi sangat tidak mungkin bisa sama. Namun pada puncak rasa akan sama.

 

Hebat

, luar biasa, indah, dll. Kata-kata yang muncul, meski didasari oleh puncak rasa yang sama, keluarnya berbeda, Yang menentukannya adalah lonjakan emosi.

 

Harap diingat bahwa kata emosi tidak boleh disempitkan menjadi kata yang berarti marah.

 

231 HANYA KAU DAN AKU

 

masih ada waktu untuk merenda luka-luka

meski lembayung di barat terlihat

selalu ada waktu untuk mengetuk pintu

selalu ada waktu untuk mendekap

 

karena waktu adalah milikmu

dan karena aku adalah bayanganmu

 

201609202015_Kotabaru_Karawang

 

Sopeana Iry… sosok wanita yang unik. Hari ini mungkin dia sedang bersampan di riak sungai, dan kesempatan lainnya dia sedang di puncak gunung atau di laut. Di laut bukan memancing, tapi menjadi nakhoda.

 

Dua wanita ini sama, menyukai puisi. Tapi apa yang mendasari kesamaannya kita tidak tahu. Kita tinggalkan itu. Itu bukan wilayah kita.

 

Sopeana Iry sebenarnya tidak berkomentar atas puisi ini tapi ia menyalin sebagian dari puisi itu dan ditampilkan pada foto-foto lembaran pengembaraannya

 

 

JIKA WAKTUNYA TELAH TIBA

…………………………………………..

sungai akan tetap mengalir

sampai ke muara di hilir

akan gugur sendiri kelopak bunga

jika waktunya telah tiba

……………………………………………..

1981

201805111950_Kotabaru_Karawang

Hakimi Sarlan Rasyid





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.