Ilmu Terawangan –

oleh -40 views


Jadid Al Farisy *

Ketika ada seorang teman memintaku untuk melihat warung kopinya, aku langsung mengiyakan saja. Mungkin ia ingin sekedar menjamuku mengingat kami adalah teman semasa kecil dulu yang sudah lama tidak pernah bertemu. Kami bertemu secara tidak sengaja ketika sedang antre di pom kota kecamatan tempo hari.

Tepat pukul setengah sepuluh pagi, kupacu motor bututku dengan perasaan senang karena kami memang sudah sangat lama tidak pernah bersua. Menurut cerita temanku itu warungnya baru dibuka jam sepuluh, jadi cukuplah waktu setengah jam untuk sampai di lokasi yang sebenarnya tidak terlalu jauh, bahkan sebenarnya bisa kutempuh hanya seperempat jam saja.

Warung milik si Subhan, nama temanku itu, berada di area perbatasan kecamatan. Berdiri di bawah pohon randu yang rindang, sekilas warung itu cukup terlihat tidak biasa. Ya, bisa dikatakan agak surem yang mendekati serem. Itu mungkin karena temanku tidak hobi memangka rumput dan ilalang yang menurutku sudah terlalu rimbun di sekeliling warung. Cat dinding warungnya juga sudah banyak yang mengelupas.

Tidak sulit aku menemukan warung Subhan. Lokasinya terletak di jalanan yang biasa aku lewati ketika setor besi bekas ke pengepul. Namun karena tidak tahu kalau pemilik warung itu temanku sendiri, jadi sangat jarang mampir. Pernah sekali mampir ngopi itu pun yang menjaga seorang perempuan, mungkin istri si Subhan.

Seperti perkiraanku, tidak sampai setengah jam aku sudah sampai di lokasi. Sepertinya Subhan sudah menungguku dari tadi. Terlihat dari kopinya yang tinggal separuh cangkir dan beberapa puntung rokok berserak di bawah cikrak depan warung.

“Wah, pak Ustadz sudah datang,” Subhan menyapaku lebih dulu sambil beranjak dari kursinya. Kulihat ia tersenyum lebar seperti seorang anak pesantren yang disambang orang tuanya.

“Ah, ustadz apa, Sub?” Aku mengelak sambil menuntun motor ulungku ke samping warung untuk kuparkir. Kami berdua pun bersalaman dan kemudian ia mengajakku masuk ke dalam warungnya.

“Sudah lama menunggu, Ya?” tanyaku sekadar basa-basi.
“Ya, begitulah Ustadz…” jawabnya sambil senyum-senyum.
“Sekali lagi panggil aku ustadz, aku pamit pulang lho, Sub.” Setengah bercanda aku mengancam. Entah mengapa panggilan ustadz padaku dari orang kebanyakan begitu tidak nyaman di telingaku. Aku lebih suka dipanggil sebagai tukang rosok pengumpul besi-besi bekas daripada ustadz. Ya, memang aneh, tapi itulah kenyataannya.

“Jangan marah dong, Tadz, eh Kang Mad,” canda Subhan lagi. Kami berdua pun larut dalam tawa keakraban.

Sejurus kemudian, istri Subhan mengantar secangkir kopi, sepiring ubi goreng dan beberapa jajanan pasar lainnya.

“Aku ndak ngerti kalau sampeyan ini ternyata masih temannya Kang Subhan. Kalau tidak salah pernah ya sekali atau berapa kali ngopi di sini?” Istri Subhan membuka perbincangan dan menyodorkan suguhannya di depan mejaku.

“Sekali kok, Mbak yu,” jawabku singkat sambil mengambil satu kerat ubi goreng.
“Bagaimana, Mad, menurut penglihatanmu tentang warungku ini?” Subhan bertanya dengan nada serius.
“Ya baik-baik saja,” Aku menjawab sekenannya saja sambil menuang kopi panas di atas lepek.

“Emm…nah, trus kira-kira apa benar, Mad, jika warungku ini memang ada yang menutupi?” Subhan mengejarku dengan pertanyaan.

“Menutupi? Maksudnya?” Aku masih belum nyambung dengan apa yang dimaksud Subhan. Kusempatkan menyeruput kopi di atas lepek.

“Iya, Mad, kemarin ada orang tua yang datang kesini. Menurut penglihatannya, Katanya warungku ini sepi karena memang sedang tertutupi oleh aura negatif. Orang itu juga mengatakan, jika ingin kembali laris maka aku harus menemuinya. Ia lalu memberiku alamat tempat tinggalnya.”

Aku menatap Subhan sesaat. Ia dan istrinya menampakkan wajah yang murung.

“Iya Kang Mad, sepeninggal orang tua yang kalau tidak salah bernama Mbah Genuk itu, warung kami jadi sepi seperti ini. Kami berdua jadi kefikiran. Kalau begini terus, trus kita nanti makan apa.” Istri Subhan nampak berkaca-kaca.

Aku jadi teringat kata-kata Subhan tempo hari ketika bertemu di Pom. Ia memang memintaku datang untuk melihat warungnya. Kukira hanya berbasa-basi saja sekedar menawariku berkunjung ke warungnya. Ternyata maksud melihat yang diutarakan Subhan adalah semacam menerawang.

“Sebenarnya kami berencana ke rumah Mbah Genuk untuk meminta pertolongannya. Tapi kami kok ragu-ragu. Istri saya kok katanya takut. Jadi ya kuurungkan saja niatku. Ndilalah kok ketemu sampeyan di pom. Aku jadi ingat kalau sampean ini kan lulusan Pesantren, pasti bisa nyuwuk warung kami yang bermasalah ini.”

Mendengar keterangan Subhan, sebenarnya aku ingin tertawa namun masih bisa kutahan karena menghargai perasaan mereka. Aku juga tidak akan menyangkal cerita mereka berdua. Fikiran mereka sudah sangat kalut sehingga sulit jika diajak berfikiran jernih. Daripada berpanjang kata, aku lebih memilih memutar otak bagaimana mencarikan jalan keluar permasalahan temanku itu. Aku juga bisa mafhum jika sudah menyangkut urusan perut, orang kecil seperti si Subhan dan istrinya, juga aku, memang sangat rawan.

Aku beranjak dari tempatku duduk kemudian berjalan berkeliling melihat-lihat kondisi di dalam warung sampai kebagian sudut-sudut. Kuamati dengan jeli. Sesekali aku manggut-manggut dan berkomat-kamit agar tampak menyakinkan. Kulihat Subhan dan istrinya nampak lebih cerah wajahnya. Harapan mereka benar-benar ditaruh di pundakku. Setelah beberapa saat, aku memberinya isyarat dengan anggukan pada Subhan. Seolah sudah mengerti, ia langsung mendekat.

“Begini, Sub,” kataku singkat.
“Iya, Mad, bagaimana hasilnya?” Subhan sudah tidak sabar mendengar hasil yang menurutnya sebuah penerawangan.

“Insyaallah warungmu sudah tidak ada masalah. Jadi…”
“Jadi sudah dibuang ta Kang Mad aura negatifnya?” Istri Subhan memotong keteranganku. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Kalau saya lihat,” Aku melanjutkan sembari menyeruput kopi yang tidak panas lagi. “Warungmu ini perlu direnovasi kembali. Catnya diperbarui. Kursi-kursi yang sudah mulai reyot kamu ganti. Trus ada beberapa genting yang nampak bocor sebaiknya kamu ganti saja.”

“Iya, Mad, Trus apakah ada wirid-wirid yang harus kubaca agar warungku tambah laris?”

“Masalah wirid sebenarnya tergantung dari si pembacanya. Harus istiqomah. Aku kasih banyak nanti malah kerjanya ndak mulai-mulai. Perbanyak saja Istighfar dan Sholawat. Jangan sampai meninggalkan sholat lima waktu. Sukur-sukur kamu bisa berjama’ah berdua. Malah akan lebih sip lagi.”

“Jadi itu saja ta, Kang Mad?” tanya istri Subhan.
“Hehehe…Iya, ndak usah banyak-banyak. Nanti plempogen,” jawabku setengah bercanda.

Mendengar keteranganaku, Subhan dan istrinya sepertinya senang sekali. Wajah mereka lebih nampak berseri. Melihat mereka seperti itu, hatiku pun ikut senang.

Setelah kurasa sudah cukup, aku berpamitan. Mereka berdua mengantarku hingga ke parkiran motor. Istrinya Subhan memberiku bungkusan sebagai rasa terimakasih dan Subhan nampak menyelipkan sebuah amplop di sakuku. Aku menolaknya. Mereka berdua bersikeras memaksaku menerima pemberian mereka. Setelah kuberikan sedikit penjelasan, akhirnya yang kubawa pulang hanya bungkusannya saja.

Segera kustarter motor ulungku. Sebelum pergi, aku juga kuberpesan pada subhan untuk membersihkan rumput dan ilalang liar di depan dan samping warungnya yang sudah mulai lebat. Mereka berdua mengucapkan terimakasih berkali-kali.

Dalam perjalanan pulang. Entah mengapa hatiku juga merasa lega. Bukan karena aku berhasil dalam menjalankan misi penerawanganku. Karena jujur saja, aku tidak tahu menahu soal ilmu-ilmu seperti itu. Di Pesantren, yang banyak kupelajari dari para Kiai adalah ilmu mengaji. Belajar sungguh-sungguh untuk ngalap ilmu yang manfaat dan barokah.

Adapun tentang apakah besok warung kopi si Subhan menjadi laris atau tidak? Semua kuserahkan pada Allah Ta’ala. Menjadi hal terpenting ketika aku sudah berhasil untuk mengajak mereka, yang pada dasarnya juga mengajak diriku sendiri, untuk bisa lebih berserah pada sang penguasa takdir manusia. Aku yakin, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini tidak luput dari kekuasaanNya, pun tentang hal-hal ghaib dan sejenisnya. Asalkan kita menempatkan diri pada titik kepasrahan yang paling pasrah padaNya. Semua akan baik-baik saja.

Lamongan, 22 januari 2019

*) Jadid Al Farisy, lahir di bantaran Bengawan Solo, Desa Kendal, Sekaran, Lamongan. Menulis puisi, cerpen, esai, geguritan. Beberapa karyanya tersiar di media Republika, Radar Bojonegoro, Iqro.id, Alif.id, Pesantren.id. Puisi dan cerpennya bisa dijumpai dalam antologi bersama: Bocah Luar Pagar, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh dan Muhasabah Warna. Buku tunggalnya: Kopi Kang Santri (cerpen), Aku Membacamu, Kekasih (puisi), Dialektika Akar Rumput (esai), Kawula Mung Saderma (geguritan). Pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan, dan MI Ma’arif NU Islamiyah Kendal.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *