Jalan Keluar –

oleh -29 views


Khansa Arifah Adila *

Ia mengurangi kecepatan mobil, menginjak perseneling, mengalihkan gigi tiga ke gigi dua, lalu mengarahkan setir ke pekarangan rumahnya. Mesin mobil terdengar tersendat dan sedikit meraung. Ia tahu, pasti persenelingnya bermasalah lagi. Ia selalu kesulitan setiap akan memindahkan gigi. Seret, seperti ada yang menyangkut, dan mesin mengeluarkan suara bagai batuk berdahak. Seharusnya ia membawanya ke bengkel. Tetapi tidak bisa. Jatah untuk perawatan dan perbaikan mobil bukan lagi prioritas walaupun nafkahnya tergantung pada kendaraan tua yang dibelinya dua tahun lalu itu.

Dari dalam rumah, anak lelakinya yang berusia tiga tahun menghambur keluar dan bersorak menyambutnya. Bagi anak itu – seperti semua anak kepada ayahnya – ia adalah pahlawan super. Ia hafal suara mesin mobil ayahnya dan selalu setia menyambutnya dengan keriangan yang tak pernah berkurang sedikit pun.

Kali ini anak itu meniru suara mesin mobilnya yang tersendat-sendat. Petang jadi riuh oleh paduan suara itu. Mak Enab, istri Mang Koblan tetangga depan rumah, tertawa kecil menyaksikannya.

Kini ia memasuki garasi di samping rumahnya dan parkir di situ. Garasi itu sederhana saja, terbuat dari tiang kayu dan atap seng tanpa dinding. Mungkin itu lebih tepat disebut kandang, kandang mobil. Di sepanjang garasi atau kandang itu, persis di bawah cucuran atapnya, ditanami jahe merah, kunyit, dan cabe secara berselingan. Dan di belakang keduanya ditanam singkong. Istrinyalah yang menanam.

Ia membuka pintu mobil dengan sentakan dan mendorongnya dengan kuat dan menutupnya dengan bantingan keras. Harus begitu sebab pintu tersebut sudah tak lagi berfungsi sempurna sejak dibelinya dulu. Istrinya muncul dari dalam rumah dan segera menggendong anaknya. Mereka masuk rumah beriringan. Ia tersenyum pada anaknya, “Nanti ya, Ayah mandi dulu.”

Di rumah, ia merogoh saku dan menyerahkan hasil tarikan hari itu pada istrinya.
“Berapa?” tanya perempuan itu.
“Hitunglah.”

Istrinya menurunkan si kecil dan mengingatkannya untuk tidak mendekati ayahnya dulu. Anak itu menurut, duduk di kursi depan televisi. Ia tidak menonton Sponge Bob tetapi memandang ayahnya dengan senyum mengembang bagai spons. Sementara ibunya sigap menghitung lembar-lembar uang. “Dari pagi hanya segini?” ia menatap suaminya. Keningnya mengerut, mulutnya merengut dan hati suaminya menciut. Lelaki itu hanya melengos sambil mengeluarkan ponsel, meletakkannya dekat televisi, kemudian bergegas ke kamar mandi, “Handuk, Dik,” pintanya dalam gumam.

Wabah ini seperti tetesan zat pewarna yang dilarutkan dalam segelas air putih, menyebar begitu cepat dan mengubah total keadaan semula. Ia yang biasanya membawa angkutan umum saban hari mendadak kehilangan penumpang, terutama anak-anak sekolah. Kalau dulu mendapatkan seratus ribu sehari semudah menciduk air bak dengan gayung, sekarang mendapatkan lima puluh ribu saja bagai menimba air di sumur saat musim kemarau.

“Bang!” panggil istrinya depan pintu. Ia membuka pintu sedikit, hanya untuk meloloskan handuk yang disodorkan. Sekilas dilihatnya wajah perempuan itu. Tumben ia tak terlalu lesu. Padahal tiga puluhan ribu yang ia berikan tadi tentu tak bisa membuat semangat menyala.

“Barusan Bang Munzir telepon, katanya soal kerjaan. Teleponlah balik kelak,” lapornya. Ah, pantas saja, ia menyimpan harapan. Lelaki teman SMA-nya itu bekerja di tambang timah milik swasta. Apakah ia akan ditawari bekerja di sana?

Usai mandi, ia segera mengambil ponsel, mencari nama Munzir dan menekannya. Setelah basa-basi sejenak soal kabar keseharian, kawannya itu menawarinya pekerjaan, bukan di lokasi tambang timah konvensional tempatnya dulu bekerja melainkan di kapal isap tambang timah milik swasta. Hal yang kini sedang ramai dibincangkan sebab selain relatif banyak, kapal-kapal itu beroperasi di laut kawasan wisata. Kini kawannya itu bekerja di sana. Ia bertugas mengawasi mesin penyortir bijih timah dan pasir.

“Sekarang sedang dibutuhkan pengawas mesin keruk,” kata lelaki itu. Ia menjawab akan mempertimbangkan tawaran itu dengan serius.
“Kau sedang butuh pekerjaan baru, Zul.”
“Ya. Kubicarakan dulu dengan istriku.”
“Kurasa dia pasti setuju. Kutunggu jawaban secepatnya,” Munzir menutup pembicaraan tepat azan maghrib sayup terdengar.
***

Di meja makan yang hanya terhidang nasi, sambal, telur dadar, dan rebusan pucuk daun singkong – yang diambil dari halaman rumah – istrinya menatapnya dengan mata ingin tahu, “Apa kata Bang Munzir, Bang?”

Ia mengambil daun singkong rebus, mencocolnya dengan sambal di tepi piringnya, dan mulai makan dengan lahap. Anak lelaki yang duduk di sebelahnya rewel minta ikan goreng. Perhatian perempuan itu teralihkan. Ia makan secepat-cepatnya.

Tinggal di pesisir pantai membuat mereka terbiasa makan ikan. Ikan relatif murah dengan kesegaran yang terjamin. Sisik ikan yang hijau keperakan dengan mata jernih akan menjadi santapan yang gurih dan manis saat dimasak dan disajikan di meja makan.

Meskipun sesekali tetangga yang melaut memberi cuma-cuma tangkapannya, mereka harus tetap tahu diri dengan membelinya, sekalipun dengan “harga tetangga” yang jauh lebih murah. Itulah masalahnya. Sejak wabah menyerbu dan orang-orang lebih banyak berdiam di rumah, mereka jadi kesulitan mencukupi kebutuhan hidup. Jangankan ikan, sekadar bisa memastikan beras dan gas untuk memasak tetap tersedia pun sudah harus bersyukur.

Terlepas dari kesulitan yang mereka hadapi, para tetangga yang menggantungkan hidupnya pada laut pun akhir-akhir ini menghadapi masalah pelik. Ikan-ikan jadi payah didapat. Sejak kapal isap bermunculan, air laut jadi keruh dan dangkal, terumbu karang banyak yang mati, dan ikan-ikan menghilang. Mereka harus berlayar lebih jauh mencari ikan dan itu artinya lebih dekat dengan maut. Apalagi di musim angin kencang seperti saat ini.

Setelah makan malam, istrinya mendiamkan si kecil yang masih rewel. Ia memutuskan pergi ke warung dekat rumah, bermaksud membeli jajanan untuknya. Di luar angin berembus meniup daun-daun jahe merah yang ditanam berjajar sepanjang teras. Ia melangkah cepat dengan tangan mendekam di saku celana.

Setiba di warung, sepintas ia dengar orang-orang membicarakan soal kapal isap yang mendapat izin beroperasi di laut kawasan wisata. Seseorang mempertanyakan soal izin yang dikeluarkan pemda itu. “Ya bisa saja. Kapal-kapal itu milik “orang Jakarta” dan asing. Asal duit masuk, apapun diizinkan,” ucap Ikbal. Orang-orang daerahnya menyebut para pejabat tinggi atau pengusaha besar yang berdiam di Jakarta dan memiliki hubungan dengan para pejabat tinggi negara sebagai “orang Jakarta”.

Ikbal adalah anak Haji Kipli, juragan ikan. Rumahnya berkelang lima rumah dari rumahnya. Ia mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jawa. Sudah setahun ini pemuda itu di kampung, kuliah daring. Ikbal salah satu orang yang berani memprotes kehadiran kapal-kapal isap itu secara terbuka. Cepat-cepat ia membayar belanjaan: sebungkus mie instan, dua batang sosis murah, dan enam bungkus permen, Lalu bergegas pulang.

Di teras, istrinya sudah menunggu. Ia duduk di bangku memangku anak lelakinya yang masih menangis. Di meja sebelah bangku sudah ada secangkir air jahe hangat. Tinggal di kawasan pantai dengan sebagian besar bekerja sebagai nelayan membuat warga – termasuk dirinya – terbiasa menghangatkan diri dengan minuman tersebut selain kopi. Hampir tiap orang memelihara tanaman jahe merah di pekarangannya.

Ia menyodorkan sebungkus permen pada anaknya dan menjejalkan yang lain ke saku celananya. Tangis anak itu reda. Sambil menyerahkan kantong hitam belanjaan pada istrinya, ia mengambil anaknya dari pangkuan sang ibu dan berharap perempuan itu segera masuk ke dapur dan memasak mie untuk anaknya. Tapi perempuan itu malah memanggil Aida, anak sulung mereka, untuk membawa belanjaan. “Simpan untuk lauk besok,” perintahnya.

“Dia masih lapar,” katanya seraya memandang anak lelakinya yang sibuk membuka bungkus permen. Istrinya mengatakan bahwa anak itu bisa tenang dengan permen yang ia belikan dan ia membantahnya. “Kalau begitu dia harus mendapat makanan yang lebih baik,” tukas perempuan itu.

Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan lesu, menurunkan anaknya, dan duduk di sisi istrinya. Anak itu berlari masuk rumah. Kini mereka bak sepasang pengantin di pelaminan. Kalau dulu duduk berdampingan dengan sedikit canggung dan malu karena ditonton banyak undangan, kali ini canggung dan bingung lantaran tuntutan hidup.
“Kapan Abang mulai kerja sama Bang Munzir?”
“Dia mengajakku ke kapal isap,” ujarnya pelan.

Perempuan itu cepat menoleh kepadanya lalu perlahan kembali memandang lurus ke depan. Daun-daun kelapa di halaman rumah tetangga berkilauan ditimpa sinar bulan dan bergoyang ditiup angin. Daun-daun jahe merah di depan mereka tetap tegak dengan ujungnya yang lancip. Sebagian umbinya pastilah sudah direbus istrinya dan airnya sudah dalam cangkir yang dihidangkan untuknya. Ia meraih cangkir dan menyeruput isinya. Tenggorokannya terasa hangat.

“Bulan itu seperti liontin emas,” ucap istrinya.
“Kau telah menjual cincin emasmu hampir setahun lalu.”
“Itulah gunanya perhiasan emas.”
“Mungkin aku tak akan bisa menggantinya lagi.”
“Aku yakin bisa.”
Ia menggaruk belakang telinga.

“Aku tak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, Bang.”
“Dunia memang sedang tak baik-baik saja.”
“Aku tak peduli dengan dunia. Yang kupedulikan hanyalah kita.”
“Ikan-ikan di laut juga bagian dari kita.”
“Kita bisa menggantinya dengan ayam.”
“Tapi anak kita lebih suka ikan. Kau tak bermaksud mengganti anak kita’kan?” ia mencoba melucu. Tetapi perempuan itu menatapnya dengan mata bara.

“Kapal-kapal itu membawa berkah juga. Aku yakin, kalau orang kecil seperti kita bisa tertolong, pasti lebih banyak lagi yang terselamatkan. Tetangga-tetangga bisa kita ajak juga kelak. Pemerintah tak mungkin sengaja menelantarkan rakyatnya.”

Ia memandang daun-daun jahe merah. Di antara helai-helainya yang segar hijau, wajah para tetangga yang acap memberi ikan secara cuma-cuma atau menjual dengan harga murah berlintasan serupa wajah-wajah di lembaran buku. Mang Koblan dan istrinya yang dianggap anak-anaknya sebagai kakek nenek mereka sendiri, Mak Marti tukang urut – istri Mang Sapar – yang sering mengurutnya jika pegal-pegal dan masuk angin saat narik angkot, Muis yang kerap dimintai tolong memperbaiki ini itu, Haji Kipli yang tak pernah keberatan meminjami uang, adalah beberapa dari nelayan tetangga yang bertahun-tahun ikut mengisi lembaran hidupnya sekeluarga.

Mungkin mereka bisa juga bekerja di kapal-kapal itu. Tetapi tidak semuanya. Kalau pun semua bisa ditampung bekerja di sana, apakah akan selamanya? Setelah kapal isap berhenti beroperasi, bagaimana nasib mereka? Sebagaian dari mereka tak punya keahlian apapun selain menangkap ikan di laut sebagai nelayan konvensional.

Angin bertiup kencang, dan langit kosong tanpa bintang, dan bulan purnama yang keemasan bagai ditusuk-tusuk daun-daun pohon kelapa milik tetangga. Pandangannya kembali jatuh ke dedaunan jahe merah di depan mereka. Lama ia tercenung. Kemudian ia meraih cangkirnya, membauinya penuh nikmat sebelum menyesapnya. Ia tersenyum dan memandangi istrinya yang masih termenung melihat bulan. Ia merasakan kehangatan air jahe memenuhi tenggorokannya, menjalari dadanya, dan mengendap di sana. Ia merasa telah menemukan jalan keluar untuk masalah mereka.

Sungailiat, Bangka, 29 Jan 2021


*) KHANSA ARIFAH ADILA, 30 Mei 2000. Mahasiswa Sastra Inggris, FIB Unand. Bergiat di Lapak Baca Pojok Harapan, Padang dan Hutan Litersasi, Sungailiat, Bangka. Ketua Bidadang PP HMI Komisariat FIB Unand.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *