JIBRIL YANG KESEPIAN –

oleh -132 views



Taufiq Wr. Hidayat *

Ketika senja. Langit jingga. Batu-batu di atas sungai itu, hitam dan teguh. Pohon-pohon jati. Dan udara yang sejuk. Hujan. Dan harum daunan. Perlahan Jibril melayang-layang. Kemudian hinggap pada sebongkah batu besar, seperti seekor burung kesepian. Tatapan matanya tajam. Menyimpan kedalaman yang tak terjelaskan. Di dalam tatapan matanya itu, perjalanan panjang berabad-abad membayang. Perihal susahnya membawa wahyu Tuhan untuk diturunkan kepada para utusan. Tapi ia selalu tersenyum, berjalan penuh pengabdian. Dan selalu bersedih melihat dunia.

Jibril seringkali menjenguk orang-orang berdosa. Orang-orang yang menyakiti dirinya sendiri. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, lantaran bukan tugasnya menyadarkan manusia. Ia hanya membawa wahyu, menyampaikan pada para utusan Tuhan, yakni manusia-manusia agung yang telah dipilih-Nya menemui orang-orang berdosa. Semua berjalan sebagaimana mestinya, berabad-abad lamanya tugas itu ia laksanakan dengan sepenuh hati, hati-hati, sepenuh tanggungjawab, dan sangat teliti. Jibril tak pernah sekalipun mengeluh. Keluhan baginya adalah aib.

Kini Jibril yang berusia berabad-abad, berhenti pada atap sebuah hotel berbintang. Langit malam. Dari ketinggian atap hotel yang menikam langit itu, Jibril dapat mengamati lampu-lampu kota yang berkedip-kedip dan berserakan di bawah sana. Layar-layar android menyala. Jibril tidak menyimpan wahyu Tuhan dalam memori android. Ia mengingat seluruh wahyu Tuhan yang pernah Tuhan suruhkan padanya agar disampaikan pada Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa, dan nabi-nabi lain sampai Nabi Muhammad. Semua wahyu yang telah menjadi kitab-kitab suci itu, filenya tetap tersimpan begitu rapi dalam ingatan Jibril sampai pada titik-komanya, berabad-abad lamanya. Tak setitik pun wahyu Tuhan tertinggal. Semua diingat dengan tepat oleh Jibril tanpa flasdisk, tanpa penyimpan data pada android. Kadang-kadang kepala Jibril merasa pusing ketika wahyu-wahyu itu tiba-tiba muncul mengepung ingatannya. Tetapi malam itu, di atas puncak atap sebuah hotel berbintang, Jibril terdiam. Sayapnya memeluk tubuhnya agar terlindung dari dingin yang mencukil tulang belulang.

Kesunyian selalu menggoda dan memesona, bisik Jibril. Kesunyian menciptakan telaga biru yang tak seorang pun tahu pasti kedalamannya. Batu-batu besar berlumut. Dan tatapan yang berkabut. Jibril mendesah. Ia selalu bersedih dan khawatir menyaksikan dunia. Dan dari ketinggian di puncak atap sebuah hotel berbintang itu, Jibril tak sekali pun mendengarkan wahyu Tuhan diucapkan manusia. Memang benar. Jibril hanya mendengar banyak agamawan mengucapkan wahyu Tuhan, tapi yang sampai ke telinga Jibril hanyalah hasutan. Bunyi hakiki wahyu Tuhan sudah punah pada dunia, desah Jibril. Apa yang diucapkan manusia melalui mulutnya, bukanlah wahyu Tuhan, melainkan bunyi dari suatu bahasa manusia yang tak sedikit pun membawakan dan menghidupkan maksud Tuhan pada kemanusiaan. Lantaran hati dan perilaku manusia tak pernah turut menghidupkannya. Yang terdengar hanya bunyi-bunyi ramai mengganggu ketenangan, begitu ramai begitu ribut mengotori udara dan menjebol dada. Di dalam dada Jibril, wahyu Tuhan tak pernah tertulis. Namun Jibril bisa membacanya dengan sempurna tanpa huruf dan suara.

Kadang kesunyian membuat seseorang rapuh. Tetapi barangsiapa yang tabah dalam sunyi, dialah orang yang terberkati, kata orang asing yang datang dalam senja pada ingatan Jibril. Seseorang itulah utusan Tuhan yang pernah Jibril temui saat menyampaikan wahyu Tuhan padanya. Orang asing itu rambutnya terurai basah, sekujur tubuhnya menyimpan jejak derita yang begitu panjang begitu kelam, dan sikap hidup yang wajar dan sederhana. Ia menyelinap, menghilang di tikungan kota, tatkala mendung pelan-pelan meliputi udara. Ia menemui kesunyian dengan melintasi ramai demi ramai dalam sejarah. Ia bukan manusia yang selalu hidup di dalam kemapanan, melainkan ia terlahir dari rahim penderitaan yang tak terjelaskan.

“Jangan-jangan orang asing itu si tukang kayu dari dusun di pedalaman jauh dan tak dikenali,” bisik seseorang yang matanya menyimpan awan.

Lalu hujan.

Tak segala hujan menceritakan awan. Hujan juga membawa cerita tak terduga tentang hati yang terjebak dalam dinding cor-coran yang kokoh. Dingin. Dan sendiri. Harapan masih saja melintas. Tapi siapa lagi yang akan menangis? Siapa lagi yang akan tertawa? Siapa lagi yang teriris? Hujan datang. Muskil ingatan dan orang-orang yang ditelan pertanyaan. Digerakkan sesuatu yang tak pernah ia ketahui dan pahami. Tergeletak di lorong zaman yang tak dapat diuraikan.

Kini di matanya, ia melihat ada yang berjalan di dalam hujan. Sendirian. Seperti melangkah menemui kenangan. Belantara kota. Dan ayat-ayat Tuhan yang tak lagi terdengar di udara. Selain ramai dan ribut, selain perseteruan dan kebanggaan-kebanggaan.
***

Malam itu hujan. Seseorang yang kelaparan berteduh di sebuah gardu tepi jalan. Sepi. Langit gelap. Diam-diam seorang anak kecil mendekatinya dengan tubuh yang basah.

“Kenalkan! Saya Jibril, utusan Tuhan,” katanya tanpa mengulurkan tangan. Dia menatap tajam seperti mata yang berharap. Seseorang terperanjat. Dan merasa lucu.

“Wah.. Mari, Jibril, berteduhlah dari hujan,” kata orang itu gugup.

“Tidak. Cahaya tidak terpengaruh hujan. Aku adalah Jibril, aku ini cahaya, tidak perlu berteduh dari hujan dan kedinginan,” jawab Jibril tenang. Matanya bagai kilat yang menembus langit.

“Tapi, Jibril. Maaf sebelumnya, saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa? Apakah harus kupanggil Tuan Jibril, Pak Jibril, Pak De Jibril, atau Mbah Jibril? Atau cukup Jibril saja?” tanya orang di gardu yang kedinginan dan kelaparan itu menyimpan kelucuan.

“Hahaha.. Aku Jibril utusan Tuhan. Tugasku memberikan wahyu kepada seseorang yang telah dikehendaki penyuruhku yang maha agung, melalui yang paling rahasia dalam diri seorang manusia,” kata Jibril tertawa. Tubuhnya adalah tubuh anak-anak yang basah kehujanan, bertelanjang dada. Matanya tajam seperti dendam.

“Tuan Utusan Allah, Tuan Jibril, apakah engkau akan memberikan wahyu Allah kepadaku?”

Jibril tak menjawab. Tiba-tiba kilat menjilat-jilat di langit. Anak kecil yang mengaku Jibril, atau Jibril yang dalam penyamaran sebagai anak kecil, menatap langit. Lalu dengan riang dan ringan, ia berlari mengejar kilat di langit, lenyap di balik awan. Di ketinggian yang tak terjelaskan, Jibril bahagia dapat menyapa manusia yang bukan utusan Tuhan. Hatinya berdebar-debar. Ia telah menyapa manusia terlantar yang kelaparan dan kedinginan, tanpa rumah, tanpa nama, tanpa siapa-siapa, tanpa negara. Baru pertama kali Jibril merasakan nikmatnya menyapa manusia yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Manusia yang hidup tanpa pengakuan, tak memerlukan pujian, tak membutuhkan panggung, tak ingin dikenali, tapi hanya membutuhkan makan dan ingin hidup sewajar-wajarnya. Nikmat menyapa manusia yang tak dikenali dunia, manusia yang ingin selalu lenyap dari dunia itu, lezatnya melebihi dosa, seindah cinta. Jibril tersipu, ia seakan telah berhasil menipu Tuhan secara diam-diam, melanggar tugasnya dengan menemui manusia yang bukan utusan-Nya. Manusia yang dilupakan sejarah, tanpa keributan, tanpa keramaian. Manusia yang hanya hidup menerima kenyataan yang tak terpecahkan, yang Tuhan karuniakan padanya tanpa ia minta.

Tembokrejo, 2021

Keterangan foto: Pelangi di Atas Laut Pelabuhan Muncar, oleh Aditya Prayuga

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.