Kafka dan Kuli Jawa di Kaledonia Baru –

oleh -17 views



Sigit Susanto

JIKA ditanyakan, adakah keterkaitan antara Franz Kafka dan Jawa? Jawabnya, ada. Setidaknya ada 2 bukti yang bisa dipaparkan di bawah ini. Pertama, pada catatan perjalanan Kafka berjudul Perjalanan ke Weimar – Jungborn (Reise Weimar – Jungborn) antara 28 Juni – 29 Juli 1912.

Dalam perjalanan itu Kafka membaca sebuah Koran Misionaris Evangelis (Evangelischen Missionszeitung) yang berisi kegiatan para misionaris di Jawa yang berpraktik sebagai dokter. Komentar Kafka, “Begitu banyak orang yang menentang kegiatan para misionaris yang kurang cakap mempraktikkan pekerjaan dokter, dan itu terjadi di banyak tempat, meskipun demikian itu sebagai solusi penting, karena tak ada pilihan lain.”

Kedua, Klaus Wagenbach, seorang peneliti karya dan sosok Kafka menerbitkan ulang prosa Kafka berjudul Hukuman di Tanah Jajahan (In der Strafkolonie) dilengkapi dengan temuan barunya, darimana Kafka mendengar cerita atau membaca tentang kebrutalan hukuman bagi para tahanan di daerah koloni Prancis di Kaledonia Baru, dekat Australia.

Pada bulan Oktober 1914 Perang Dunia Pertama sudah berjalan selama dua bulan dan saat itu Kafka genap berusia 31 tahun. Sebagai wakil sekretaris pada Kantor Asuransi Kecelakaan Karyawan untuk kerajaan Böhmen di Praha, ia mendapat liburan selama dua Minggu.

Kesempatan itu ia pakai melanjutkan menulis novel Proses (Der Prozess) yang sudah sampai bab tujuh, dua bulan silam. Ia melanjutkan menulis prosa Pada Hukuman di Tanah Jajahan dari 12 sampai 18 Oktober 1014.

Kafka sangat kritis terhadap pekerjaannya di asuransi yang mengurus musibah kecelakaan para karyawan. Sebab itu Hukuman di Tanah Jajahan ia anggap sebuah realitas. Karya ini terbit pertama kali disertai dengan catatan buku hariannya, foto serta ungkapan-ungkapan, biografi atau penelitian sejarah.

Di zaman Antik Yunani bentuk hukuman berupa pelarangan atau deportasi. Di zaman baru ini tiga negara seperti Inggris, Prancis dan Rusia menerapkan hukuman berkaitan dengan tiga faktor yaitu kolonialisme, penemuan wilayah baru tak berpenghuni dan menaklukkan negara-negara lain.

Dari sinilah awal mula muncul istilah Koloni Hukuman atau Hukuman di Tanah Jajahan. Sebuah hukuman yang dipraktikkan di wilayah bekas koloni bagi para tahanan. Mereka tinggal di bekas daerah koloni serta diawasi dan diatur sangat ketat. Hukuman mereka bisa lebih ringan atau dibebaskan asal tetap tinggal di daerah bekas koloni.

Rusia menggunakan Sibiria sebagai tempat penampung para tahanan dalam tiga kelas. Tahanan pertama tinggal di rumah dengan kaki diikat rantai. Tahanan kedua sebagai pekerja berat di gunung. Tahanan ketiga menempati koloni itu. Salah seorang sebagai tahanan rumah antara tahun 1849 – 1859 adalah Fjodor Dostojewski. Ia menuliskan laporan berjudul Catatan dari sebuah Rumah Mati (Aufzeichnungen aus einem Totenhaus). Laporan ini sempat dibaca oleh Kafka.

Inggris sejak abad 17 telah mendeportasikan tahanannya ke koloni Inggris di Amerika Utara. Disusul pengiriman para tahanan ke Australia, tempat yang sudah dipersiapkan. Prancis mendeportasikan khususnya para tahanan pada tahun 1810 ke Algeria dan Cayenne, terutama di Pulau Setan. Salah satu penghuni Pulau Setan yang terkenal bernama Hauptmann Alfred Dreyfus hidup pada tahun 1894 – 1899.

Sejak tahun 1864 Prancis menggunakan Koloni Hukuman di pulau Kaledonia Baru. Ke pulau dekat Australia itu para tahanan Pariser Kommune dideportasi. Praktik di Koloni Hukuman ini dijalankan Prancis hingga sampai tahun 1945. Jerman pertama kali menduduki sebagai kekuatan kolonial pada tahun 1884, sepuluh tahun kemudian menjadi isu perdebatan yang terbuka. Kafka membaca dua pengarang Hans Gross dan Robert Heindl pengenai polemik ini.

Dari mana Kafka mendengar atau membaca tentang Hukuman di Tanah Jajahan?

Pada waktu itu Hukuman di Tanah Jajahan di Kaledonia Baru sangatlah terkenal yang telah mendeportasikan tahanan hidup dari Pariser Kommune.

Pada tahun 1911 Kafka tidak hanya ikut partisipasi merayakan peringatan Pariser Kommune, namun dia menyaksikan sendiri setiap hari kekejaman para borjuis. Sejak 30 Juni 1871 ada ketegangan internasional dalam pertahanan dan peperangan antara Kanselir Bismark di Jerman dengan Kanselir Austria.

Kafka sebagai pegawai asuransi kecelakaan karyawan mengalami sendiri efek pembuatan hukum dalam mengatur kesejahteraan sosial rakyat. Pada tahun 1911 di kerajaan Hongaria dan Austria terdapat 40.000 perusahaan dengan 650.000 karyawan. 50% dari seluruh karyawan itu diwajibkan mengikuti asuransi.

Kafka sibuk dengan para karyawan perusahaan yang mengalami kecelakaan. Kemungkinan Kafka saat itu merupakan satu-satunya sastrawan yang betul-betul terlibat persoalan kecelakaan dan sistem kerja di perusahaan. Tercatat Thomas Mann, Rilke, Hofmannsthal, Schnitzler, dan George tidak pernah melihat pabrik dari dalam.

Pada waktu itu para karyawan tidak memiliki pengacara, padahal ada praktik korupsi sampai 1000 Krone. Tak jarang para karyawan itu mendatangi Kafka secara pribadi. Max Brod dalam biografinya menulis, ”Betapa polosnya para karyawan itu mendatangi kami meminta bantuan, bukan malah memprotes perusahaan mereka.”

Max Brod mewartakan, bahwa Kafka melihat ketidakadilan itu dengan mata terbuka. Sebuah pulau dengan gunung menjulang, lembah dan hamparan savana di Kaledonia Baru mencuat dalam politik di Eropa. Pulau ini sebelumnya dipakai sebagai pusat militer Prancis. Kemudian warga sipil diperbolehkan tinggal.

Pada tahun 1910 bermukim 10.000 tahanan dan 1700 militer. Ada sekitar 8000 pendatang dari Australia, sehingga Bahasa Inggris dan budayanya mulai diperkenalkan. Penduduk asli Kaledonia Baru sendiri lebih dari 30.000 bangsa Melanesia. Kafka mengetahui Pulau Setan (Die Teufelsinsel) dari kasus Dreyfus. Jumlah tahanan di Pulau Setan ini tidaklah banyak.

Kepulauan Andaman di utara Sumatra yang ditempati kurang dari seratus orang lokal dengan ibu kota Port Blair pada tahun 1858 dijadikan koloni hukuman. Spahi, tentara Prancis berperang dengan sebagian tentara India. Sisa tentara Prancis itu tinggal di Port Blair sekitar 900 dan 11.000 tahanan. Kafka membaca biografi T.B. Macaulays karya Lord Clive, tentang pendudukan Inggris atas India.

Mesin Pembunuh Tahanan

Sebuah berita tentang alat pembunuh tahanan di masa perang telah beredar luas. Mesin ini disebut Kematian Tenang (Der Stille Tod) untuk menggantikan berbagai perangkat perang lain.

Tak tanggung-tanggung para tahanan itu dibunuh dengan cara yang keji dan biadab yaitu ditaruh di bawah mesin yang di atasnya ada besi-besi runcing siap menusuk ke seluruh tubuhnya dan diangkat ke atas. Mesin modern buatan Prancis itu dilengkapi dengan saluran pembuangan darah ke lubang yang disediakan.

Ia ikuti perkembangan politik di Prancis pada tahun 1899. Kelompok kiri mengajukan usulan jelas untuk memisahkan antara negara dan gereja. Kelompok ini mendorong terjadinya sekolah yang bebas dan sekolah modern, Kafka mendukungnya sejak ia masih di sekolah, bahwa sekolah itu sebaiknya memang bebas.

Kafka membaca novel berjudul “Kebun Kekejian,” (Garten der Qualen) karya Octave Mirbeaus.

George Lukacs: Kafka Tetap Sastrawan Klasik

Lukacs menyebutkan, masyarakat kapitalis sudah menunjukkan bukti bahwa di masa depan kaum intelektual mengalami ketakutan, kengerian, kalah dan tak percaya diri. Di sisi lain sekaligus sebagai pemantik keraguan dan penghinaan. Tanpa sebuah penggambaran yang sebenarnya, tanpa kebangkitan yang emosional, tanpa posisi itu sebagai pantulan isi dunia.

Apakah semua permasalahan dunia ini sudah terjawab? Ini yang harus dicarikan solusinya. Kafka menulis tentang kebingungan manusia itu. Kafka tetap sebagai sastrawan klasik dengan mata buta dan ketakutan dari sebenarnya. Kafka diuntungkan dari akar suasana kerajaan Austria kuno dan kenaifan yang sesungguhnya.

Review Hukuman di Tanah Jajahan

Seorang pelancong Eropa mendapat undangan terhormat untuk mengunjungi sebuah Pulau Tanah Jajahan yang dipakai menghukum para tahanan. Pelancong itu dipandu oleh seorang opsir untuk ditunjukkan sebuah mesin pembunuh manusia. Mesin itu terdiri dari beberapa besi bergerigi dan semcam ranjang untuk meletakkan calon tahanan.

Opsir itu dengan bangganya menjelaskan bahwa apparat atau alat itu cukup canggih, dalam waktu 24 jam sudah bisa melibas kurban. Secara teknis sang pelancong diajak lebih mendekat ke mesin itu sekaligus untuk menyaksikan bagaimana seorang terdakwa akan dibunuh. Calon yang akan dieksekusi masih diberi bubur sebelum akhirnya mulutnya disumbat dengan bahan kulit, agar tak sempat berteriak.

Seorang terdakwa yang tidak diketahui salahnya dan tak ada keputusan dari pengadilan harus telentang di semacam ranjang, kemudian mesin itu mulai diaktifkan. Turunlah besi bergerigi dari atas turun siap menusuk sekujur tubuhnya.

Namun mesin itu tidak berfungsi seperti yang direncanakan, akibatnya si terdakwa disuruh minggir dan dibebaskan, batal dihukum mati dengan mesin itu. Terdakwa itu senangnya bukan main dan tidak mempercayainya.

Si opsir mencoba sendiri, namun lagi-lagi mesinnya tidak berfungsi dengan sempurna. Ia menunjukkan surat-surat yang ditulis tidak jelas yang menjelaskan proses hukuman bagi para tahanan.

Akhir cerita, si petugas di mesin itu dan terdakwa mengantar pelancong ke sebuah kafe dan ditunjukkan di dekat situ ada makam seorang opsir yang meninggal karena mesin pembunuh itu mengenai dirinya sendiri.

Tak lama lagi si pelancong melompat ke kapal di pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan. Namun kedua orang, petugas dan terdakwa itu ingin ikut pelancong, tetapi ditendang dan kapal melaju meninggalkan pulau.

Pada tahun 1916 Kafka membacakan karyanya berjudul Hukuman di Tanah Jajahan di Münster Galeri di Munich dan ada seorang hadirin perempuan yang menjadi sedih tak berdaya, lalu Kafka bilang, “Seharusnya aku tak membacakan cerita yang kotor itu.” Sumber lain sebut, bahwa mesin pembunuh itu juga dipakai di zaman Nazi di Jerman.

Catatan:
Menariknya Kafka tak menyebut nama pulau Kaledonia Baru. Barangkali tujuan Kafka bahwa prosanya itu sebagai contoh dan bisa berlaku di tempat lain. Atau memang Kafka tetap melepas sebuah tempat yang abstrak.

Meskipun Kafka tak menyebut nama pulaunya, namun Klaus Wagenbach, pemerhati karya Kafka di Jerman menemukan latar belakang karya itu. Ini karya Kafka yang sengat bernuansa horor dan benar-benar mencekam.

Orang Jawa yang Nrimo dan Pekerja Keras

Ada sebuah buku yang cukup baik untuk menggambarkan suasana orang Jawa yang berada di Kaledonia Baru berjudul Jejak Orang Jawa di New Caledonia oleh Widyarka Ryananta, mantan konsul RI di Kalidonia Baru.

Disebutkan pada buku itu bahwa terjadi emigrasi orang Jawa ke Kaledonia Baru diawali dengan permintaan negeri Prancis kepada penjajah Belanda yang masih menjajah di Indonesia.

Prancis memerlukan tenaga kerja dari Indonesia untuk keperluan pembangunan di Kaledonia Baru di bidang perkebunan, petambangan nikel dan pembantu rumah tangga. Lebih detil disebutkan, angkatan pertama kuli kontrak dari Jawa itu diangkut oleh kapal uap Saint Louis pada 16 Februari 1896. Angkatan pertama sebanyak 170 orang Jawa.

Disebutkan sejak tahun 1896 hingga tahun 1948 terdapat 87 kali perjalanan kapal dari Jawa ke Kaledonia Baru. Terakhir jumlah pekerja kontrak asal Jawa mencapai lebih dari 19.400 orang. Banyak para kuli Jawa yang masih hidup enggan membeberkan kisahnya mengingat mereka seperti merasa ditipu oleh sistem kontrak kerja itu.

Pada buku itu ditulis, kenapa kuli itu kebanyakan dari Jawa? Ditemukan jawaban, bahwa kuli Jawa dikenal sebagai pekerja keras dan nrimo alias penurut. Selain mereka punya pengalaman sebagai petani yang rajin.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, maka sebagian besar kuli Jawa itu kembali ke Indonesia lagi. Mereka merasa bangga menjadi orang Indonesia, karena sebelumnya saat berangkat sebagai orang Jawa berkonotasi sebagai kuli.

Dari sumber lain disebutkan, bahwa para kuli Jawa itu setelah berada di Jawa, mereka ada yang merasa sulit mencari lapangan pekerjaan, sehingga sebagian dari mereka kembali ke Kaledonia Baru lagi.

Tapi dari buku di atas dan beberapa literasi Bahasa Indonesia kemungkinan tidak ada sebuah cerita yang menggambarkan mesin pembunuh bagi para tahanan Prancis seperti yang digambarkan oleh Kafka.

Zug, 05 Februari 2021.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *