KARANGKITRI, NASKAH MONOPLAY

oleh -48 views


Karya: Agus R. Subagyo

SINOPSIS

Perempuan paruh baya dari desa bernama Sholikah, sikapnya konservatif dan berpikiran cerdas namun berpenampilan sederhana. Dia tinggal di pinggiran kota dengan masyarakat yang penuh sifat iri dan bersaing dalam hal harta dan penampilan. Berisi orang-orang yang suka pamer, terbelenggu gengsi dan mudah emosi.

Dia bersuami pegawai rendah di lingkungan Pemerintah Daerah dan memiliki dua anak yang keduanya sudah sekolah menengah atas. Kehidupan keluarganya tenang dan damai dalam kesederhanaan. Sholikah tiap hari berjualan jajanan yang dibuatnya sendiri keliling dengan sepeda pancal.

Sholikah masih memegang teguh prinsip-prinsip hidup yang diwariskan oleh orang tuanya. Sebuah perilaku langka di jaman yang serba tergantung dan instan. Dia kerap dicemooh oleh tetangganya karena pakaiannya yang sederhana khas masyarakat desa tempo dulu. Dia tak lepas dari jarit (sinjang) dan kebaya. Setiap kali mendapat cemoohan tetangga dia hanya tersenyum walau sebenarnya dia tidak terima. Dia berusaha sabar.

Sepulang berjualan dia selalu menyempatkan merawat tanaman di pekarangan rumahnya yang sempit. Rumahnya dikelilingi tanaman-tanaman kebutuhan dapur dan obat yang terawat dan rapi seperti taman. Ada lombok, tomat, jahe, kunyit, lengkuas, serai dan lain-lain.

ADEGAN

Siang hari di serambi rumah. Ada meja dan kursi tempat santai dan ngobrol keluarga. Di atas meja ada buku bacaan dan koran.

1. (Sholikah pulang jualan. Masuk dan membongkar belanjaan dari boncengan sepeda. Setelah selesai membongkar dia duduk sambil mengibas-ibaskan koran yang diambilnya dari atas meja. Dia memandangi tanaman yang mengelilingi rumahnya.) Sepertinya lombok harus diganti. (mendekati tanaman lombok dan membelai daunnya)

2. Besok aku akan beli beberapa bibit lombok untuk menemanimu. Tetaplah hidup dan berbuah ya… Sabar ya… Jangan marah, setelah 3 temanmu mati aku tidak segera menggantinya dengan yang baru. Ya…. sabar ya…hm… kamu kesepian. Eh kan masih ada teman yang lain yang menemanimu menghijaukan pekarangan rumah ini. (membelai tanaman yang lain)

3. (melihat tanah ada yang kering) Wah sepertinya anakku lupa menyiramimu pagi tadi. (beranjak mengambil setimba air dan gayung kemudian menyirami tanaman yang ada)

4. Aku dianggap kuno karena kalian (sambil terus menyiram) Karena baju yang aku pakai. Aku memang kuno. Sekarang jaman modern dan aku orang kuno di jaman modern. (menaruh timba dan gayung)

5. (menuju kursi dan mengupas bawang merah, bawang putih dan ketela) Aku baru tahu ciri-ciri orang modern itu ternyata responnya cepat terhadap segala sesuatu. Segala perubahannya spontan, tanpa mikir. Latah, ikut-ikutan trend. Suka mengeluh, suka nyinyir. Dikit-dikit mengeluh, pandai mencemooh, pintar mencaci, suka menghujat dan mudah terbakar emosinya. Ya! Itu yang kutahu dari masyarakat yang mengaku modern.

6. Harga beras naik kelabakan, mengeluh, ujung-ujungnya mencaci dan menghujat pemerintah. BBM naik apalagi… tambah seru. Harga lombok naik, protes. Harga telor naik, demo. Pokoknya, jika ada harga yang naik pasti mengeluh, itu ciri khas manusia modern.

7. Makanya sekarang masyarakat mudah sekali dihasut dan mudah diadu domba. Ah… kenapa mereka aku samakan dengan domba ya? Aduh…. kenapa ya? Ah malah jadi bingung gara-gara domba.

8. Kalau aku….. Harga lombok mahal ya santai saja. Ada lombok yang bisa dipetik buat nyambel. Harga sayur naik masih ada yang bisa aku petik. Harga bumbu naik, pekarangan pun menyediakan. Harga BBM naik (melirik sepeda) Sepedaku gak butuh. Cukup pancal pedal beres. Tidak perlu mencaci pemerintah, apalagi menghujat presiden. Yang tidak pecuslah, tidak perduli rakyatlah….

9. Menanami pekarangan ini sudah dilakukan oleh orang-orang jauh sebelum kita lahir, jauh sebelum orang-orang yang mengaku modern lahir.

10. Itu hasil pemikiran orang-orang jaman dulu. Kita tinggal meniru dan meneruskan saja kok gengsi. Yang bilang bisa belilah. Ngapain niru orang kuno! Bisa beli kok sambat. (geleng-geleng kepala)

11. Yo wislah sak karepmu. Kalian anggap kuno. Tapi bagiku, orang-orang dulu adalah adalah moyang yang bijak dan cerdas menyikapi hidup. Hasil pemikirannya luar biasa.

12. Tidak seperti orang-orang jaman sekarang yang katanya modern. Menyikapi hidup dengan menghujat dan mengeluh. Isine mung ngersulo, isone mung maido. Yo… maido. Kalah apik maido, kalah saingan maido, bedo pilihan maido. Oh berarti jaman modern itu jaman maido yo? Apa jaman digital? Digigit langsung diuntal! Tanpa mikir!

BLACK OUT
TAMAT

Ri, 20-12-2015/09:12



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.