KASUNYATAN

oleh -122 views


Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan ketika Nabi Musa harus menjalankan tugas berat melawan Fir’aun dan membawa bangsa Israel keluar dari penindasan, Tuhan menyediakan padanya hadiah. Yakni “tanah yang dijanjikan”. Tanah yang dijanjikan Tuhan bagi bangsa Israel yang berada di bawah koordinasi Nabi Musa dalam rangka melawan kekuasaan Fir’aun dan selanjutnya membangun keberlangsungan hidup suatu bangsa dalam kedamaian. Namun hingga akhir hayatnya, setelah Musa berhasil secara gemilang menumbangkan Fir’aun dan membawa bangsa Israel pada kehidupan yang sejahtera, sampai namanya terkenal dalam sejarah agama-agama, tanah yang dijanjikan itu tak kunjung diberikan Tuhan padanya.

“Di mana dan kapankah tanah yang telah Engkau janjikan itu aku terima, Tuhan?” tanya Musa dalam doa-doanya.

Dan Tuhan selalu menjawab dengan pertanyaan balik: “Janji-Ku pasti. Apakah kau meragukan Aku?”

“Ampun, Tuhanku.”

Musa tak berkutik, mana mungkin ia meragukan Tuhan. Ia pun menanti. Menanti-nantikan tanah yang dijanjikan Tuhan tersebut dengan sepenuh harapan. Bahwa tanah yang dijanjikan Tuhan itu akan diberikan kepada Musa dan bangsa Israel, jika mereka terus mengolah hidupnya dengan benar, mengabdi pada kehidupan, dan menjadi hamba Tuhan yang baik yang dipedomani dengan Sepuluh Perintah. Hingga berabad-abad kemudian, tanah yang dijanjikan itu tak kunjung tiba. Sebagian terus menanti dengan tabah dan terus bekerja hingga akhir hayatnya seperti yang telah dilakukan Musa. Sebagian tidak sabar, kemudian menyalah-artikan pengertian “tanah yang dijanjikan” itu dengan merampas tanah dan hak orang lain. Begitulah. Setiap kali orang bertanya kapan tibanya tanah yang telah dijanjikan itu, teks suci yang diabadikan sejak zaman Musa menjawab dengan pertanyaan balik dari-Nya: “Janji-Ku pasti. Apakah kau meragukan Aku?”

Orang beriman tak akan meragukan janji Tuhan itu. Sedang yang tak beriman, menganggap janji-Nya dusta, tak sabar, kemudian mengklaim semua tanah yang bagus adalah tanahnya. Terjadilah perebutan, penguasaan, dan penindasan. Mereka tak pernah sampai pada suatu pengertian suci sebagaimana yang didapatkan Musa di akhir hayatnya, bahwa tanah yang dijanjikan itu adalah tujuan hidup. Ia tak bermakna harfiah semata-mata, melainkan suatu ketentuan yang mesti diwujudkan manusia dengan hidupnya yang baik. Dan sebagaimana sabda-Nya: “Janji-Ku pasti. Apakah kau meragukan Aku?”. Kebenaran janji-Nya bukan omong kosong, lantaran Dia sang pencipta dan pemilik waktu. Janji-Nya melampaui waktu dan kenyataan, menjadi benar-benar pasti di dalam upaya-upaya kemanusiaan yang dilakukan manusia beserta seluruh perjuangannya menempuh sejarahnya sendiri.

Lantaran tempat, waktu, atau suatu kondisi tidaklah menetap. Ia memastikan pada perubahan, pergantian, kehilangan sebagai keniscayaan. Ada dulu, kini, dan yang mendatang. Orang meninggalkan hari-hari yang lalu. Yang tinggal hanya kenangan, dan rasa kehilangan. Pada indera manusia, tak ada yang menetap secara permanen di dunia ini, ujar Plato. Tak ada bentuk sejati yang kekal, melainkan berubah, pudar, berganti, selalu pergi entah ke mana. “Sejatining kraton tan kandulu, yen kandulu niniwasi, manjing watu lan kekayon,” tutur orang Jawa. Secara bebas, penuturan Jawa itu bermakna, bahwa tempat, bentuk, keadaan, satuan waktu yang “mapan” dan permanen ialah jika ia tak melulu tampak, tak belaka dinyatakan dengan indera. Seperti “tanah yang telah dijanjikan” dalam narasi Musa. Jika ia tampak belaka, ia rawan menipu, lalu membuat orang memutlakkan benda-benda, keadaan, atau pencapaian-pencapaian. Sepeda, jendela, alpokat, ayam, dan kopi adalah bentuk-bentuk. Jika semua kopi dimusnahkan di muka bumi, apakah bentuk sejati dari kopi akan sirna? Oh tidak! Tegas Plato. Bentuk sejati secangkir kopi kekal dalam dimensi yang tak tampak, meski ia telah musnah dari tatapan dan rasa pada lidah manusia. Ini berlaku pada segala bentuk, termasuk manusia sendiri. Tak ada yang kekal, katanya. Selain “wajah-Nya” atau—dengan perkataan lain, bentuk-Nya, sang maha bentuk yang tak terjangkau pada hadir dan tak hadir, ada dan tak ada, harus atau pun tak harus.

Maka jika belaka meyakini bentuk dan membuatnya permanen tanpa boleh diotak-atik, ia menjadi “niniwasi” kata orang Jawa. Rawan celaka. Jiwa terkurung dalam keharusan-keharusan subyektif yang dimutlakkan dan diharuskan seharus-harusnya. “Manjing watu lan kekayon”; menjelma berhala yang disembah. “Bukankah berhala selalu membawa celaka?” tanya orang bijak yang entah siapa.

Muncar, 2021

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.