Kehidupan Bathin dari Orang Besar –

oleh -172 views


Hamka
luqmansastra.blogspot.com

Meskipun pada penglihatan orang2 diluar, radja2 jang besar itu hidup dalam kemewahan dan kemegahan namun pada ‘adatnya kemewahan dan kemegahan itu hanja nampak dari luar sadja. Banjak sekali orang2 demikian menanggung kesengsaraan dan kesusahan jang tiada terperikan. Disini tidak akan kita terangkan bagaimana sengsara nasib orang2 besar dan radja2 yang masih hidup, tjukup salah seorang jang telah meninggal kita ambil perumpamaan, supaja mendjadi keinsjafan bagi kita.

Kaizer Frans Josep bekas Keizer dari keradjaan Oostenrijk-Hongaria yang begitu luas.–seketika Keizer itu masih hidup, disekitar kemewahan lahir yang kita lihat, baginda telah ditimpa berbagai matjam bala bentjana jang besar dan ngeri, tetapi semuanja baginda hadapi dengan hati jang teguh bagai batu dan kemauan jang keras lajaknya.

Pada lahirnja adalah Keizer Frans Josep keturunan Habsburg itu seorang radja jang paling beruntung. Dialah seorang radja yang paling lama dibandingkan denga radja2 jang semasa dgn di, duduk diatas singgasana kerajaan. 68 tahun baginda memerintah disuatu keradjaan yang sangat luas. Dia meninggal dunia dalam usia 86 tahun, setelah matanja kenjang oleh kemegahan dan kedjajan dunia, jang agaknja orang yang ta’ tahu rahsia kesusahannja akan merasa dengki melihatnja.

Diwaktu dia masih muda belia, sadara kandungnya Maxiemilien telah dihukum bunuh. Meskipun bagaimana bergontjang hatinja diwaktu itu, sedikitpun ta’ kelihatan berbekas pada tubuhnja. Semangatnja jang masih muda dan darahnja yang masih hangat telah berkuasa untuk menghilangkan peringatan jang pahit itu dari dalam otaknja dan kenangannja. Belum lama setelah Maximilien dihukum bunuh, dengan perasaan tabah dia menghadapi kematian istri saudaranja, perempuan mana mati dibakar.

Tidak berapa lama kemudian; datang pula satu tjobaan jang paling mengenasi diri baginda, pemaisuri keradjaan Oostenrijk, ratu Elizabeth ditimpa penjakit otak. Seorang dokterpun tak kuasa mengobatinja lagi. Lantaran itu, permaisuri tersebut ta’ kuasa lagi tinggal dalam astana, ta’ kuat terikat oleh ‘adat dan isti’adat radja2 jang begitu berat, dia tinggalkan suaminja jang malang itu, dia pergi mengahabiskan harinja ketempat2 mandi jang indah di corfo, Riviera, Switzerland, untuk mengobat-obat sakitnja, setelah ta’ bertemu lagi dengan baginda . Musibah jang besar itu telah diterimanja dengan teguh hati teguh sebagai biasa, tjuma orang2 istana sadja jang keheranan melihat bagaimana rupa dan wajah baginda ta’ berobah lantaran itu.

Sesudah itu datanglah satu musibah jang lebih besar lagi. Anak tunggalnja Arst-Hertog Rudolf, Putera Mahkota jang akan menggantikan baginda duduk diatas singgasana keradjaan, telah hadir dlm satu gala-abond jg diadakan oleh Ambasador Djerman di Wenen, memepringati hari lahirnja Imperium Djerman Raja. Disana Arts-Hertog, telah berkenalan dengan Baronesse Fitzera. Baronesse ini masih muda dan djelita, baru berusia 17 tahun, sangat tjantiknja, sehingga baru melihat sadja, hati Arts- Hertog telah lupa rasam-basi dan ‘adat isti’adat, dimuka orang banjak dia menarokkan perhatian kepada Baronesse ini, dan dia lalai menjelanggarakan istrinja sendiri Prises Stefani. Lantaran ini isterinja sangat murka. Setelah hari pagi ia pergi kepada Keizer mengadukan halnja, bahwa suaminja ditempat umum sebagai demikian telah melupakannja dan tidak menghargainja sebagai seorang isteri. Dia kadukan pula bahwa sanja perhubungan suaminja dengan Baronesse Fitzera telah diketahui oleh umum, telah menjadi buah tutur orang banjak , djadi perbintjangan surat2 kabar. Prinses Stefani memohonkan perlindungan kepada Keizer, sebab bagindalah pemimpin kefamilian besar jang mulia itu, supaja baginda sudi memberinja perlindungan, sebab dialah kelak jang akan mendjadi permaisuri dari Keizer Oostenrijk.

Baru sadja Prinses itu keluar dari istana, baginda menjuruh Arts-Hertog datang keistana. Dia bawa duduk berdua-dua, waktu itulah anaknja dimarahinja dan ditjelanja atas perbuatan jang djauh dari radja2. Anak itu disuruhnja berdjandji, – djandji radja2 – supaja djangan bertemu lagi dgn Baronesse Fitzera. Tetapi sebelum matahari terbenam, pangeran itu telah keluar dengan keretanja keluar kota Wenem, didjemputnja Baronesse itu, dibawanja kesebuahV illa didusun Mayerling, disana dia semalam-malaman itu. Sampai disana dia mengadukan halnja kepada direktur villa itu, bagaimana kemerdekaan dirinja diikat, langkahnja dihambat2, segala langkah kakinja dihitung, itu terlarang , ini ta’ boleh. Baru sedikit gerak geriknja, bagi orang umum mendjadi perhatian besar, jang sedjengkal menjadi sedepa lajaknja. Apakah sebabnja ahli2 diplomat, dan orang2 ahli bitjara dan utusan2 luar negeri banjak benar menghiraukan soal persoon orang? ,,Wahai, – kata pangeran itu, – alangkah beruntungnja djika saja dahulunja dilahirkan kedunia mendjadi seorang anak orang tani sadja, tidak terhambat, –terhalang terbelintang seperti jang sekarang ini . Orang diluar istana tidak mengetahui bagaimana kesusahan burung jang dikurung dalam sangkar emas itu. Mereka hanja melihat keindahan sangkar itu, tidak mengetahui bagaimana kesusahan dan penderitaan manusia2 jang diberi gelar radja, bangsawan, pangeran dengan gelaran bintang mentereng, tetapi diikat dengan beberapa aturan jang amat berat menjempitkan,dengan tidak memperhatikan kesukaan dan tudjuan dan tjita tjita dari orang2 jang diikat itu. Hatta urusan perkawinanpun, tidak hendak dilihat dan diperiksai perempuan manakah jang disukainja; melainkan perempuan jang disukai orang2 ahli diplomat itu kemuslihatan keradjaan itulah jang lebih dipentingkan. Segala keketjiwaan itu telah disabarkan oleh direktur gedong jang indah itu, sebagaimana kebiasaan orang2 jang telah mahir berhidmat kepada radja2 dan orang2 besa. Dan demi setelah hari pagi Direktur itu terkedjut mendapati pangeran itu dengan Baronesse Fitzera telah hantjur kepala keduanja oleh pelor.

Itulah musibah jang sebesar2nja diantara demikian banjak musibah jang menimpa diri baginda Franz Josef. Musibah jang sekali ini tidak akan memberi izin lagi baginda hidup lama2 didunia, ibarat bergantang sudah terlalu penuh. Tatapi orang ,,besi” ini tetap dalam ke-besi-annja. Dia tidak senang mendengar kalau ada orang membisikkan bahwa baginda kalah menghadapi serangan takdir jang begitu hebat. Demi setelah dia bermenung seorang dirinja beberapa menit lamanja, dia pergi kemedja sembahjang dia berlutut mendo’a dan memohon ampunan Tuhan. Tidak beberapa djam kemudian, keluarlah perintah baginda dengan tenang dan tegap, jang bersetudju dengan kedudukanja jang besar itu, menjiarkan kabar opisil dari dalam istana, bahwasanja putera mahkota telah meninggal dunia lantaran suatu luka dalam otak, dan penjakit djantung jang hebat. Adapun kabar kemayian Baronesse Fitzera tidak disertakan dalam maklumat opisil itu. Masa itu djuga dimaklumkan bahwasanja saudara baginda jang paling besar Aarts-Hertog Franz Ferdinand menjadi putera mahkota. Setelah habis hari perkabungan umum menurut ‘adat, baginda kembali pula mengerdjakan pekerdjaan pemerintahan sebagai sediakala.

Tetapi belum sempurna ketentraman hati baginda atas musibah jang sebesar2nja itu, datanglah raport dari Switzerland menerangkan bahwa permaisuri baginda telah mati ditikam dengan pisau belati oleh seorang monarchist, ketika permaisuri akan naik tangga kapal, jang biasa membawa penompang dari satu negeri kenegeri lain dipinggir lautan.

3 bulan setelah permaisuri mati terbunuh, di Weenen dirajakan orang ,,jubileum mas” memperingati 50 tahun baginda duduk diatas singgasana keradjaan.

Orang banjak merasa gembira, orang jang kurang pikir merasa dengki melihat keberuntungan baginda telah 50 tahun dapat duduk diatas singgasana keemasan, tetapi sedikit sekali orang jang meratap menangisi radja jang malang itu. Golongan inilah jang tahu bahwa radja ini ta’ pantas dibentji, tetapi pantas dikasihani dan diratapi.

Tidak beberapa lama setelah jubida Giravin Shofin Csheko, djuru raport bahwasanja Aarst Hertog Franz Ferdinand jang akan menggantikan keradjaan itu, telah djatuh tjinta kepada Gravin Shofie Csheko, djururawat Aarst Hertogin Izabella. Putera Mahkota kerapkali benar berulang-ulang kedalam istana dengan alasan hendak ziarah kepada Prinses padahal hanja lantaran hendak bertemu dengan djururawat Shofie itu. Ketika itulah baru njata kemarahan baginda, sehingga segala tjertjaan dan kemarahan didjatuhkan kepada saudaranja itu. Untunglah hal ini diketahui oleh ahli2 bitjara dengan segeranja — sehingga bisa didamaikan. Jaitu: Aarst-Hertog diizinkan kawin dengan djururawat itu tetapi dia harus melepaskan hak2 jang perlu diterima oleh anak2nja dengan Shofie itu.

Tetapi malu besar itu telah mulai menambah banjak kerut kening baginda dan membungkukkan punggungnja. Dan baru sadja hendak hening pembitjaraan orang, tiba2 datang pula suatu malu jang lebih besar dari segala malu. Jaitu anak dari saudaranja Aarts-Hertog Otto, telah keluar dari satu kamar dari sebuah hotel jang bernama ,,sacha” –bertelandjang bulat, tidak berkain sebenang djuga dalam keadaan mabuk. Tiba diluar kamar, bertumbuk dengan Ambasador keradjaan Ingris, jang datang makan dengan isteri dan anak perempuannja kedalam hotel itu.

Inilah musibah yang tidak dapat ditanggung baginda lagi, tuanja bertambah, mukanja bertambah kerut, malu jang bertjoreng dikeningnja dibawanja bermenung . Lantaran timpaan jang tidak berhenti2 itu, rupanja ta’ tahan orang ,,besi” itu lagi. Tiba2 pada tahun 1916, diwaktu perang besar sedang berketjamuk, dan keradjaan Oostenrijk-Hongarie, berpihak pula kepada Djerman dan Turkey, pada ketika itulah baginda mati dengan tiba2 lantaran hartverlamming, — dalam usia 86 tahun; setelah memerintah 68 tahun lamanja.

Dia kembali keachirat, kenegeri ketenangan dan kerahatan, terlepas dari kebisingan dunia jang ta’terhingga ini.

Dia mati, dengan penuh kepertjajaan: bahwasanja kepalanja, satu kepala jang lebih tahan memikul mahkota!

***



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.