KEIDIOSINKRETISAN DAN KEMOMENTANAN APRESIASI SASTRA (13) –

oleh -132 views


Djoko Saryono *

Di muka sudah disinggung ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan proses berlangsungnya apresiasi sastra. Ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini perlu dijelaskan dan ditegaskan supaya penjelasan tentang keberanekaragaman dan faktor-faktor yang memengaruhi proses keberlangsungan apresiasi sastra tidak dipandang dan disikapi sebagai sesuatu yang konstan, tetap, dan tidak berubah. Sebabnya, kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra dan faktor-faktor yang memengaruhinya berkaitan erat dengan keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini.

Keindividualan proses keberlangsungan apresiasi sastra mengisyaratkan bahwa proses berlangsungnya apresiasi sastra senantiasa bergantung pada pribadi-pribadi pengapresiasinya, bukan orang lain yang menuntun, membimbing, dan memberitahu pengapresiasinya. Orang lain tidak menentukan proses keberlangsungan apresiasi sastra, melainkan hanya membantu mengembangkan atau memekarkan kegiatan-kegiatan apresiasi sastra yang dilakukan oleh pengapresiasi.

Keindividualan berkaitan dengan keidiosinkretisan. Adanya keidiosinkretisan mengisyaratkan bahwa proses keberlangsungan apresiasi sastra bergantung pada karakteristik pribadi pengapresiasi. Kualitas pribadi, misalnya wataknya, emosinya, kepercayaan dirinya, etosnya, pathosnya, dan logosnya, menentukan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra. Hal ini membuat setiap pengapresiasi sesungguhnya memiliki proses apresiasi tersendiri. Tidak ada dua pengapresasi atau lebih yang memiliki proses yang persis sama. Perbedaan selalu ada.

Kemomentanan menunjukkan bahwa proses keberlangsungan apresiasi sastra sebenarnya terikat waktu dan suasana. Ini berarti dari satu saat ke saat lain terdapat perbedaan proses keberlangsungan. Bilamana kualitas pribadi pengapresiasi kuat, tidak mudah terpengaruh oleh waktu dan suasana, perbedaan proses keberlangsungan apresiasi memang kecil. Akan tetapi, jika pribadi pengapresiasi mudah terpengaruh waktu dan suasana, maka akan terjadi perbedaan besar proses keberlangsungan apresiasi sastra. Oleh karena itu, kadar kemomentanan selalu berkaitan dengan kadar keindividualan dan keidiosinkretisan pengapresiasi.

Sehubungan dengan itu, kecenderungan proses keberlangsungan apresiasi dan faktor-faktor yang memengaruhinya hanyalah sebuah sketsa umum atau sebuah mosaik. Dalam kenyataannya, proses keberlangsungan apresiasi sastra tidak sesederhana penjelasan-penjelasan di muka. Kenyataannya sangat renik dan rumit, mustahil dipetakan secara lengkap dan sebagaimana adanya.

Bersambung 14

*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.