KEMBARA ATTAR –

oleh -83 views


Taufiq Wr. Hidayat *

Waktu seolah sungai maha besar. Sungai itu memiliki kedalaman yang tak terjelaskan, keluasan yang tak terpahamkan. Dan tak ada yang tahu, apa di kedalaman air yang misterius itu. Apa saja tenggelam ke dalam sungai tanpa diketahui nasibnya. Tetapi ada pula yang terapung-apung, berenang ke sana ke mari. Sungai maha besar itu mengalir, alirannya deras namun tenang, arusnya mematikan, gelombangnya menakutkan. Sungai itu tanpa dasar, tanpa tepian, tanpa batasan. Manusia hanya bisa mengaliri sungai waktu itu dengan perahu, seperti Nabi Nuh. Dan bagi Nietzsche, perahu itu harus senantiasa diperbaharui guna menghadapi segala kemungkinan tak terduga dalam pelayaran yang tak akan pernah menuju tepian. Para pemikir Islam seakan menangkap apa yang kelak dipikirkan Nietzsche perihal perahu tersebut, sehingga mereka menamainya “safinah” sebagaimana pesan utusan Tuhan. Bahwa menurut Muhammad sang nabi, perahu itu mestilah senantiasa dibongkar-pasang terus menerus untuk menghadapi kedalaman samudera. “Jadidis safinanata fainnal bakhra ‘amiq,” bisiknya.

Mari kita lupakan dulu Nietzsche. Dalam “Bahasa Burung-burung”-nya yang mashur, Fariduddin Attar menuliskan kembara burung-burung mengarungi abad-abad yang sibuk, ribut, palsu, perang, wabah, dan penderitaan. Para burung itu melakukan pengembaraan suci mencari sang sejati, yakni burung yang paling hebat, raja dari segala burung. Itulah burung sejati yang tak akan pernah selesai dikenali, tak mungkin selesai dicari-cari dan ingin ditemui.

Bagi Attar, keimanan pada yang maha ada tak mengharuskan Dia harus ada. Atau dengan kata lain, Dia tak harus hadir. Lantaran ada dan tak ada, hadir dan tak hadir hanyalah keharusan bagi makhluk. Bukan bagi-Nya. Dia yang tak harus, juga yang harus. Tak terjelaskan oleh keharusan dan ketidakharusan, ke-ada-an dan ketidak-adaan, kehadiran dan ketidakhadiran. “Tan kena kinaya ngapa,” kata orang Jawa. Dan dalam kerinduan yang pekat, Dia yang dirindukan itu, melampaui ada atau tidak ada, melewati segala batas kehadiran atau ketidakhadiran. Dia harus ada, tapi Dia belaka yang tak harus ada, Dia yang harus hadir, namun Dia jua yang tak harus hadir. Dan rindu itu sesungguhnya hanya tiba pada dirinya sendiri, mustahil sampai pada-Nya. Namun pecinta yang sejati, mustahil berhenti mencintai meski harus melewati kemuskilan dan kemustahilan. Lantaran mustahil dan tak mustahil hanya berada dalam pandangan-pandangan. Ia terus mencintai, mencari, dan merindukan meski mengembarai atau menempuh kemustahilan. Ia berikrar dan berupaya menyeberangi segala kemustahilan. Bagi Attar, begitulah iman. Dan begitulah nilai-nilai kemanusiaan itu dihidupkan, dijaga, dan dikerjakan dalam kehidupan.

Iman itu kemudian menguatkan dan mengutuhkan penerimaan kehidupan. Hidup yang diimani sebagai karunia. Tetapi juga cobaan. Lantaran yang lolos dari cobaan atau yang sanggup melampaui kemustahilan yang sesungguhnya hanya hinggap dalam pandangan-pandangan, mencicipi lezatnya keimanan bagai Bima mereguk “tirta prawitasari” di kedalaman samudera “tanpo dasar tanpo tinepi”. Kesadaran hidup yang tak hanya untuk hidup, tetapi hidup yang sanggup menerima kehidupan. Seseorang kenyang, yang lainnya lapar biarkan, seseorang selamat, yang lainnya celaka terserah, seseorang senang, yang lainnya menderita lupakan. Begitu—bagi Attar, hidup yang tak menerima kehidupan. Maka di situ, kebahagiaan yang ingin diwujudkan dalam ritus-ritus agama atau spiritualitas, cuma omong kosong dan tai kucing. Namun sedalam apa seseorang merasakan dan meringankan penderitaan, itu sesungguh keimanan. Ia melewati kemustahilan. Jika mustahil seseorang berkorban buat orang lain, ia melakukannya. Melewati kemustahilan itu dengan bahagia, tulus, dan seyakin-yakinnya.

Konon Attar menulis “Manthiqu’t Thair”nya dalam 3 tahun (1184-1187), ia tewas dipenggal serdadu Jenghis Khan di usia lebih seabad lantaran perlawanannya yang keras kepala pada kekuasaan dan kebakhilan. Attar dijuluki “sauthus salikin” (pelecut para “pesuluk”/pejalan iman). Sastrawan Indonesia, Hartojo Andangdjaja, menerjemah “Manthiqu’t Thair” Attar yang agung itu dari “The Conference of The Birds” C.S. Nott. Attar membangun 7 ngarai dalam penerbangan para burung itu, yakni Ngarai Pencarian, Ngarai Cinta, Ngarai Insaf, Ngarai Kebebasan dan Keterlepasan, Ngarai Keesaan, Ngarai Keheranan dan Kebingungan, Ngarai yang Terampas dan Kematian. Dalam sastra Attar yang mashur, burung-burung mengendarai angin dengan sayapnya, melesat ke mana saja, bebas bagai ruh. Sang raja burung yang dicari, dikisahkan berwajah dan berbentuk sama dengan para burung yang mencarinya. Simurgh adalah nama si raja burung dalam fabel kuno tersebut, memiliki bayang-bayang yang bayang-bayangnya adalah para burung yang mencarinya. Seperti Bagong, bayang-bayang Semar yang bukan Semar. Seperti manusia, bayang-bayang Tuhan yang bukan Tuhan.

Dialah hamba. Maka hamba sejatinya Dia. Meski hamba niscaya bukanlah Dia. Persamaan dan perbedaan yang utuh dalam nama dan sifat, “bahasa rasa” dan hidup. Jika hamba menderita, siapakah yang sesungguhnya menderita kalau bukan Dia belaka?

Tembokrejo, 2021


*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.