KENANGAN DAN KEYAKINAN PADA PERSINGGAHAN BAYANG-BAYANG –

oleh -306 views



A. Syauqi Sumbawi *

Sebuah koridor bagian depan gedung itu mulai ditinggalkan orang-orang. Resepsi wisuda telah usai. Tak ada lagi kerumunan. Hanya perayaan kecil bersama keluarga dengan foto bersama. Juga ucapan selamat yang beredar dalam selang-seling ungkapan kegembiraan lainnya.

Duduk dekat sebuah tiang koridor, Abdun diam mengamati yang tergelar di hadapannya. Membayangkan suatu hari nanti. Menghadiri acara ketika anak-anaknya diwisuda. Entah wisuda apa, yang jelas pendidikan tinggi setelah madrasah aliyah atau SMA. Baik sarjana, magister, maupun doktor. Mungkin juga pengukuhan gelar guru besar atau profesor.

Wah, ngelindur opo maneh iki?! gumamnya. Kemudian tertawa. Seperti menertawakan diri sendiri. Menghentikan panjang angan-angan. Sebelum semuanya jadi tak karu-karuan.

Opo jare wis?! gumamnya lagi. Berusaha menenangkan gejolak diri terkait harapan dan kenyataan atas hidup kedua anaknya kelak.

Abdun mengarahkan matanya pada keluarga Pakde Banjir yang sedang foto bersama. Mbak Mila, putri ragil Pakde Banjir, baru saja diwisuda. Itu berarti, kelima anaknya telah jadi sarjana. Abdun berbahagia untuk itu. Kemudian teringat keluarganya. Terutama kedua anaknya, yang memberikan harapan besar pada dirinya. Teringat pada keberadaannya di sekitar gedung itu, yang tak lain sebagai sopir yang mengantar Pakde Banjir dan keluarganya.

Kembali Abdun mengedarkan matanya. Tak jauh di sampingnya, dia melihat seorang laki-laki dengan pakaian wisuda. Di bawah bayang-bayang remang sebuah tiang, laki-laki itu berdiri menghadap ke arahnya. Menatap ujung koridor yang sepi.

Abdun tak tahu apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu. Namun lebih seksama memperhatikan di kedua matanya, dia seperti menemukan serangkaian pengalaman mengendap kuat dalam ingatan. Sebagai kenangan yang tidak mudah dilupakan. Membentuk persona.

Laki-laki itu mengalihkan matanya ke udara terang. Tersenyum saat kedua matanya bersiborok dengan mata Abdun. Tampak kikuk bersama anggukan keramahan, sebelum kemudian melangkah pergi.
***

Kenangan yang kuat mengendap dalam ingatan, terkait harapan dan kenyataan, serta pilihan hidup yang diyakini, agaknya menjadi sasaran dalam puisi “Persinggahan Bayang-Bayang” karya Bambang Kempling. Dalam buku antologi Persinggahan Bayang-Bayang (Lamongan: Pustaka Ilalang, 2014) hlm. 29, diungkapkan sebagai berikut:

PERSINGGAHAN BAYANG-BAYANG

sebuah koridor
memanjang di lubuk malam
membawamu terdiam
berhitung dalam detik hentinya
: sendiri

hari-hari yang tergambar,
menyajikan keengganan untuk menunggu
malam di persinggahan
antara pilar-pilar
cengkerama bayang-bayang
memberi kesaksian abadi atas sangsi

kini pesta telah usai
lepas bagaikan sketsa angin
dan sebuah koridor itu
tak mampu mengisahkan keheningan
***

Koridor menjadi diksi kunci puisi ini, dengan berbagai muatan kesan citraan, imaji, kenangan, serta keheningan yang tak terkisahkan. Umumnya, koridor dipahami menunjuk pada lorong dalam rumah, atau lorong yang menghubungkan gedung yang satu dengan yang lain.

Pada bangunan gedung, kesan panjang sebuah lorong lebih tertangkap bersama tiang-tiang atau pilar-pilar yang tegak berdiri. Lebih panjang dan pekat lagi ketika malam hari bersama bayang-bayang yang tercipta dengan bohlam. Suasana yang agaknya tergambar dari bait pertama puisi, …sebuah koridor/ memanjang di lubuk malam/ membawamu terdiam/ berhitung dalam detik hentinya/ :sendiri//.

Koridor yang cenderung menghadirkan kesendirian bagi seseorang. Kesendirian yang terasa begitu dalam, yang membuat seseorang akan mengingat dan merenungkan kembali perjalanan hidup yang terjaring dan terbentang dalam ingatan. Menilai berbagai peristiwa, menerjemahkan diri sendiri. Dalam dimensi waktu, seseorang akan melihat dirinya di masa lalu, juga mengambar keberadaannya di masa yang akan datang. Sendiri, tak ada yang lain.

Dalam kesendirian itu pula, mungkin seseorang akan melihat… hari-hari yang tergambar,/ menyajikan keengganan untuk menunggu/. Menemukan dirinya dalam serangkaian episode hidup yang sangat membekas. Begitu dalam. Bahkan, membuatnya tak ingin mengulang kembali pada…malam di persinggahan/. Tak ingin berlarut-larut dalam balutan rasa—baik suka maupun duka—yang lahir dari episode hidup.

Barangkali, sebab kebosanan dan bayangan kesia-siaan yang kerap dirasakan dari sesuatu keberadaan yang bersifat mungkin,… antara pilar-pilar/ cengkerama bayang-bayang/. Terlebih dalam proses mempertemukan antara harapan dan kenyataan, yang… memberi kesaksian abadi atas sangsi//. Dalam proses menjadi diri, di hadapan keniscayaan hidup manusia yang ragu-ragu, lantaran tak ada kepastian. Keberadaan manusia yang mumkin wujud, yang terus memberikan kesaksian atas apa yang diyakini.

Sebuah keyakinan atas pilihan hidup, yang selalu tumbuh di antara dualitas yang disebut kegagalan dan kesuksesan. Keyakinan, yang barangkali paling berharga bagi seseorang. Meskipun,… kini pesta telah usai/ lepas bagaikan sketsa angin/, dan sebuah koridor itu/ tak mampu mengisahkan keheningan//, kebahagian yang dirasakan selalu penting bagi seseorang. Untuk disimpan dalam ingatan. Sebagai kenangan, yang tak pernah mengisahkan (keheningan) kualitas proses seseorang dalam memelihara keyakinan atas pilihan hidupnya.
***

3 Jan 2021

*) Ahmad Syauqi Sumbawi, sastrawan kelahiran Lamongan 28 April 1980. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, kritik, dll. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa. Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi: Dian Sastro For President; End of Trilogy (Insist, 2005), Malam Sastra Surabaya; MALSASA 2005 (FSB, 2005), Absurditas Rindu (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Laki-Laki Tanpa Nama (DKL, 2007), Gemuruh Ruh (2007), Kabar Debu (DKL, 2008), Tabir Hujan (DKL, 2010), Darah di Bumi Syuhada (2013), Pesan Damai di Hari Jumat (2019), Menenun Rinai Hujan (2019). Dan beberapa cerpennya dapat dibaca pada kumpulan: Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela, 2006), Bukit Kalam (DKL, 2015), Di Bawah Naungan Cahaya (Kemenag RI, 2016). Sementara antologi tunggalnya: Tanpa Syahwat (Cerpen, 2006), Interlude di Remang Malam (Puisi, 2006), dan #2 (SastraNesia, Cerpen 2007). Novel-novelnya yang telah terbit: Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (2007), Waktu; Di Pesisir Utara (2008), dan “9” (2020). Sedangkan bukunya dalam proses cetak ulang “#2,” dan Limapuluh (kumpulan puisi) segera hadir. Selain menulis, juga berkebun, dan mengelola Rumah Semesta Hikmah, dengan kajian dibidang sastra, agama dan budaya, di dusun Juwet, Doyomulyo, Kembangbahu, Lamongan. Blognya: http://syauqisumbawi.blogspot.com/



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.