KERAGAMAN PENGAPRESIASI SASTRA (15) –

oleh -78 views


Djoko Saryono *

/1/
Secara mental psikologis, keragaman pengapresiasi sastra dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu (i) pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif, dan (ii) pengapresiasi sastra yang intelektualistis-kognitif. Yang pertama menekankan dan mengutamakan penggunaan unsur-unsur intuitif-afektif dalam melakukan kegiatan apresiasi sastra, sedangkan yang kedua menekankan dan mengutamakan unsur-unsur intelektualistis-kognitif dalam melakukan kegiatan apresiasi sastra. Sebagai contoh, dalam batas-batas tertentu, H.B. Jassin dan Sapardi Djoko Damono merupakan dua pengapresiasi sastra yang condong intuitif-afektif, sedangkan Umar Junus dan Rahmad Djoko Pradopo merupakan dua orang pengapresiasi yang condong intelektualistis-kognitif meskipun keempat orang tersebut berlatar Pendidikan-tinggi sastra dan ahli sastra serta dikenal sebagai kritikus sastra Indonesia papan atas.

Perlu diingat di sini bahwa kedua ragam pengapresiasi ini semata-mata mencerminkan jenis, bukan merupakan tingkat kemampuan pengapresiasi sastra. Tak ada jaminan pasti bahwa pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif tingkat kemampuannya lebih rendah daripada pengapresiasi sastra yang intelektualistis-kognitif. Misalnya, tak ada jaminan bahwa kualitas H.B. Jassin lebih rendah atau sebaliknya lebih tinggi daripada Umar Junus. Demikian juga tidak ada bukti bahwa pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif lebih mudah dan ringan kerjanya dibandingkan pengapresiasi sastra yang intelektualistis-kognitif. Kalau kita menilik kerja Sapardi Djoko Damono dan Rahmat akan terlihat bahwa keduanya bekerja dengan sungguh-sungguh dan sama-sama berat meskipun menempuh jalan dan cara berbeda.

/2/
Yang dimaksud dengan pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif ialah seseorang yang melakukan kegiatan apresiasi sastra dengan menggunakan unsur-unsur intuitif-afektifnya secara menonjol, tinggi, dan kuat daripada unsur intelektualistis-kognitifnya. Unsur rasa, emosi, kepercayaan, keyakinan, empati, simpati, dan sejenisnya digunakan secara menonjol, dominan, dan kuat dibandingkan unsur-unsur nalar, pikiran, persepsi, dan logika. Hal ini mengimplikasikan bahwa unsur-unsur intelektualistis-kognitif tetap ada dalam kadar tertentu, hanya perannya kalah menonjol, dominan, dan kuat dibandingkan dengan unsur intuitif-afektif.

Pengapresiasi sastra yang cenderung intuitif-afektif melakukan kegiatan apresiasi sastra untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan dari sastra, suatu keterhiburan sastra (literary enjoyment). Dia menghanyutkan dan menenggelamkan diri, tanpa menjaga jarak dan kesadaran, ke dalam karya sastra yang diapresiasinya. Itulah sebabnya, dia akan memperoleh banyak pengalaman dan hiburan, tapi mungkin tidak akan memperoleh pengetahuan dan kesadaran. Dikatakan demikian karena pengetahuan dan kesadaran pada umumnya dapat diperoleh dengan proses pemikiran dan penalaran yang dipandu oleh daya intelektual dan kognisi, sedang pengalaman dan hiburan dapat diperoleh dengan intensitas rasa dan selera yang dipandu oleh emosi dan afeksi.

/3/
Pengapresiasi sastra yang intelektualistis-kognitif ialah seseorang yang melakukan kegiatan apresiasi sastra dengan menggunakan unsur-unsur intelektualistis-kognitif secara menonjol, dominan, dan kuat dibandingkan dengan unsur-unsur intuitif-afektif. Unsur logika, persepsi, nalar, pikiran, dan sejenisnya digunakan secara menonjol, dominan, dan kuat dibandingkan unsur-unsur rasa, emosi, empati, dan kepercayaan diri. Hal ini mengimplikasikan bahwa unsur intuitif-afektif tetap ada, hanya perannya kalah menonjol dan kuat dibandingkan dengan unsur intelektualistis-kognitif.

Pengapresiasi sastra yang condong intelektualistis-kognitif melakukan kegiatan apresiasi sastra bukan untuk literary enjoyment semata-mata, melainkan setingkat lebih tinggi daripada itu, yaitu sesuatu yang bermakna dan berguna bagi dirinya. Dia menceburkan dan memasrahkan diri, tetapi tidak menghanyutkan dan menenggelamkan diri, ke dalam karya sastra. Karena itu, jarak dengan karya sastra dijaga adanya dan kesadaran digunakan sesuai keperluannya. Itulah sebabnya, dia akan banyak memperoleh pengetahuan dan kesadaran, dan mungkin juga pengalaman dan hiburan. Dikatakan demikian karena pengetahuan dan kesadaran dapat diperoleh dengan pemikiran dan penalaran yang dipandu oleh intelektual dan kognisi, sedangkan pengalaman dan hiburan di samping dapat diperoleh dengan intensitas rasa dan selera juga bisa diperoleh melalui proses pemikiran dan penalaran.

/4/
Di atas sudah disinggung bahwa pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif secara menonjol, dominan, dan kuat menggunakan intuisi dan afeksi daripada intelektual dan kognisi; dan pengapresiasi sastra yang intelektual-kognitif secara menonjol dan kuat menggunakan intelektual dan kognisi daripada intuisi dan afeksi. Ini menunjukkan bahwa dalam masing-masing ragam pengapresiasi sastra selalu ada unsur-unsur tersebut di atas, hanya kadar penggunaannya tidak sama. Lebih jauh hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengapresiasi sastra yang semata-mata dan murni intuitif-afektif atau intelektualistis-kognitif; dalam kadar tertentu pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif menggunakan intelektual dan kognisi; sebaliknya, dalam kadar tertentu juga pengapresiasi sastra yang intelektualistis-kognitif menggunakan intuisi dan afeksi.

Hal tersebut mengimplikasikan bahwa keragaman pengapresiasi sastra sebenarnya merupakan suatu kontinum yang bertitik ekstrem pada dua ragam yang telah dijelaskan di atas. Di antara rentangan garis kontinum yang bertitik ekstrem pada ragam pengapresiasi yang intuitif-afektif dan intelektualistis-kognitif terdapat berbagai ragam pengapresiasi sastra yang lain. Di tengah garis kontinum kita bisa menemukan ragam pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif sekaligus intelektualistis-kognitif, yaitu pengapresiasi sastra yang menggunakan intuisi-afeksinya dan intelektual-kognisinya secara berimbang dan padu dalam melakukan kegiatan apresiasi sastra.

Pengapresiasi sastra yang intuitif-afektif sekaligus intelektualistis-kognitifmampu mengatur dirinya sendiri pada saat melakukan kegiatan apresiasi sastra. Dia dapat mengatur kapan harus menggunakan nurani dan rasanya dan kapan menggunakan nurani dan budinya, kapan harus menghanyutkan dan menenggelamkan diri ke dalam karya sastra yang diapresiasi dan kapan harus menjaga jarak agar bisa memahami karya sastra yang diapresiasi, kapan harus menggunakan kesadarannya dan kapan menggunakan ketidaksadaran dan kebawahsadarannya. Dengan kata lain, dia mampu menguasai dan mengendalikan dirinya sendiri, dan bukan hanya dikuasai dan dikendalikan, dalam melakukan kegiatan apresiasi sastra. Karena itu, dia mampu melukiskan sekaligus menjelaskan, menceritakan sekaligus menerangkan apa yang diapresiasinya. Di samping itu, dia mampu memperoleh pengalaman, pengetahuan, kesadaran, dan hiburan sekaligus dalam apresiasi sastra. Pengapresiasi sastra semacam ini bisa dikatakan merupakan ragam pengapresiasi yang ideal.

Bersambung 16


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.