Kopi Kang Santri –

oleh -109 views


Jadid Al Farisy *

Sampai saat ini tidak ada yang tahu nama persisnya. Ada yang mengatakan kalau namanya ketika pertama kali nyantri dulu itu Seger. Namun ada juga yang menceritakan bahwa di desa tempat tinggalnya, orang-orang memanggilnya Waras. Tapi menurut penuturan Kang Urip, salah seorang kurir pondok, Mbah Yai sepuh telah memberinya nama arab Umar Hasan. Karena logat jawa yang medok, nama itu berubah aksennya menjadi Markasan. Tetapi para santri hingga saat ini, lebih suka memanggilnya Kang San atau diblanjur saja menjadi Kang Santri.

Bukan tanpa sebab jika kami para santri memanggilnya demikian. Panggilan “kang” bisa berarti yang dituakan, sedangkan “santri” merujuk pada statusnya hingga saat ini yang masih aktif sebagai santri di pondok. Kang Santri termasuk yang paling lama tinggal di pesantren. Menurut informasi yang pernah kudengar dari santri senior, Kang Santri itu masih menangi zamannya Mbah Yai sepuh. Itu artinya sekitar tahun 60-an, Kang Santri sudah hidup di pesantren. Karena alasan itulah kemudian tidak berlebihan jika julukan santri abadi disematkan padanya.

Jika dilihat dari lamanya waktu nyantri, panggilan yang pantas disandang oleh Kang Santri sebenarnya adalah Mbah. Karena meruntut sejarah awal mondok hingga saat ini, pastilah usianya sudah tidak muda lagi. Bahkan mungkin seusia Mbah Kakung di rumah. Tapi disinilah uniknya, dari perawakan dan raut wajahnya, Kang Santri seperti baru berusia kepala tiga saja.

Kang santri termasuk orang yang unik dan nyleneh. Bahkan sebagian para santri senior biasa menyebutnya sebagai santri majdzub. Jadi apapun yang ia lakukan, memang kadang tidak bisa dinalar. Jarang sekali ia berkomunikasi dengan orang lain. Kang Santri biasanya lebih senang menyendiri ditempatnya. Ia lebih memilih sebuah ruangan bawah dari bangunan menara masjid lawas sebagai tempat tinggalnya daripada di gothakan kamar para santri.

Meskipun demikian, kalau urusan ngaji, Kang Santri selalu menyempatkan untuk ikut pengajian Abah Yai Mukhsin, salah seorang putra Mbah Yai sepuh. Selain itu, ia biasa mendatangi kelas-kelas untuk ikut belajar di sekolah mu’alimin. Biasanya sa’at seperti itu, iKang Santri akan membawa qalam dan membuat coretan-coretan tidak jelas pada sobekan kertas yang dibawanya. Tidak ada yang tahu apa maksudnya. Para murid lain pun tak ada yang berani menertawakannya.

Banyak hal yang kalau dalam bahasa kitabnya, khowariqul adah, jika berbicara mengenai Kang Santri. Dalam hal makanan misalnya, Mbok Mi, tukang masak di dapur pondok, punya kisah tersendiri tentang Kang Santri.

“Kang San itu senengnya makan umbi-umbian, seperti ubi, kentang atau singkong rebus. Selama saya kerja disini. Sudah hampir lima belas tahun, ndak pernah sekalipun ngerti Kang San itu makan nasi,” terang Mbok Mi.

“Apa itu yang dinamakan puasa ngrowot Mbok?” tanyaku sambil melahap makan siangku di dapur pondok.

“Ya embuh le, pancen Kang San itu riyalatnya sungguh-sungguh, wani tirakat.”
“Mungkin itu rahasianya Kang Santri tetap awet muda Did,” kata si Karim, salah seorang teman sekelasku.

“Kang Santri juga tidak pernah sakit lho katanya,” terang si Kipli. Karim mengangguk tanda membenarkan.

“Kang Santri itu orang sakti, kapan-kapan aku kok ingin berguru padanya. Eh, tapi Kang Santri kok ndak ingin menikah ya?”celetuk si Karim sambil tersenyum. Aku dan Mbok Mi hanya geleng-geleng saja.

“Kang Santri itu tidak sama kayak kita Rim, maqomnya beda dengan kita-kita ini,” ucap Kipli.

“Sudah-sudah, ayo berangkat ngaji. Jatuhnya malah kita ngrasani Kang Santri nanti, kalau tidak benar, bisa kualat malahan,“ kataku sambil bergegas mengambil kitab yang tadi kutaruh di atas meja dapur.

Sebenarnya, diantara teman-teman yang lain. Bisa dikatakan kalau aku jauh lebih bisa mengakrabi Kang Santri. Itu karena aku sendiri jarang berada di kamarku. Aku lebih suka tinggal di serambi Masjid sebelah selatan yang dekat dengan kulah. Bahkan tidur pun aku sering di serambi masjid. Sedangkan Kang Santri tinggalnya di ruangan menara, kadang seusai jama’ah, ia suka duduk-duduk di serambi. Berawal dari itulah aku dan Kang Santri bisa lebih akrab meskipun hanya sekedar bertegur sapa singkat. Itu sangat mending dari santri lain yang jarang sekali bisa berkomunikasi dengan Kang Santri.

Pernah pertama kalinya, selain karena rasa penasaranku, juga karena ingin bersilaturohmi, aku sambangi ruangan kamar yang menjadi tempat tinggal Kang Santri. Pintu kubuka sedikit. Nampaknya ia tidak berada di tempat. Aku hanya menjumpai tumpukan kitab-kitab kuning dari mulai yang tipis hingga yang tebal berjilid-jilid. Buat apa ya Kang Santri mengumpulkan Kitab-kitab lawas itu? Apakah hanya ditumpuk saja atau memang untuk dipelajari? Fikirku. Belum selesai fikiranku menerka, tiba-tiba Kang Santri datang dari belakangku. Tanpa menyapaku ia langsung masuk ke ruangannya sambil berujar,

“iqro’ bacalah…iqro’…bacalah”. Kata-kata itu diulangi sampai beberapa kali. Aku tercengang mendengarnya, Kang Santri seperti tahu apa yang sedang kufikirkan.

Selain tumpukan kitab-kitab lawas, di atas meja dampar Kang santri juga selalu tersaji secangkir kopi hitam. Aroma sedap kopi menyeruak memenuhi ruangan. Sejak saat itu, jika aku berniat sambang ke tempat Kang Santri, aku lebih berhati-hati menjaga fikiran dan bersitan hati. Jangan sampai membawa prasangka yang tidak baik. Selain itu, aku juga selalu membawakan Kang Santri bungkusan kopi hitam kesukaannya.

Di kalangan masyarakat sekitar pesantren sendiri, tidak ada pemilik warung kopi yang tidak mengenalnya. Banyak yang menuturkan, kalau bicara tentang Kang Santri, maka tidak bisa dipisahkan dengan minuman yang menjadi kesukaannya, kopi hitam. Dalam sehari, Kang Santri bisa berpindah dari warung satu ke warung yang lain untuk sekedar minum secangkir kopi. Tidak hanya itu, yang selalu menjadi kebiasaannya ketika membayar, Kang Santri selalu mengambil uang yang disimpan di selipan kopyah hitamnya. Berapapun jumlahnya, ia tidak pernah minta kembalian.

Kang Santri seperti hidup dalam dunianya sendiri. Ia sudah biasa datang dan pergi sesuka hati. Jika mendekati awal puasa, dua bulan sebelumnya, yakni sejak bulan Rajab. Jangan berharap bisa menjumpai Kang Santri di pesantren. Biasanya ketika itu, Kang Santri tidak tinggal di pondok. Lalu kemana perginya? sampai sa’at ini tidak ada yang mengetahuinya.

Namun ketika hari pertama puasa, bisa dipastikan sejak sholat tarawih, Kang Santri sudah berada di shof terdepan. Memang ketika malam tiba, aku jarang sekali bahkan tidak pernah melihatnya tidur. Sepanjang malam kadang kulihat ia hanya duduk-duduk di depan menara dan serambi masjid sambil menyeruput kopi. Tanpa rokok. Iya, Meskipun Kang Santri doyan ngopi, tapi anehnya, ia tidak suka merokok. Jika waktu sahur tiba, ia biasa duduk bersila di bawah menara masjid lawas sambil bergumam tiada henti sampai waktu shubuh tiba. Sudah sahur atau belum, tak ada yang pernah tahu.

Meskipun jarang berkomunikasi dengan santri lain, Kang Santri sebenarnya sangat loman. Pernah suatu ketika, saat berbuka puasa, tiba-tiba saja Kang Santri membawa satu wadah plastik yang besar berisi bungkusan makanan dan dibagikan satu-satu pada para santri di kamar-kamar. Seperti sudah memperkirakannya, jumlah bungkusan sama persis dengan jumlah para santri, sehingga tidak sampai kurang. Padahal ketika itu, ada juga santri pendatang yang hanya ikut ngaji ketika Ramadhan saja.

Seperti lazimnya pesantren-pesantren di daerah Jawa Timur. Pada bulan Ramadhan, selain memperbanyak khatam Al Qur’an, biasanya juga tidak pernah sepi dari kegiatan khataman ngaji kitab kuning. Istilah lain menyebutnya kilatan. Para Kiai dan Gus secara bergantian mengisi pengajian tersebut hingga bisa khatam sampai beberapa kitab. Santri-santri sangat antusias mengikuti semua kegiatan, tak terkecuali Kang Santri. Ia biasanya tidak pernah melewatkan setiap ngaji kilatan yang ada. Meski hanya ngaji kuping, Kang Santri selalu datang lebih awal dari yang lain. Sungguh luar biasa semangat Kang Santri jika telah masuk bulan puasa.

Sampai pada suatu malam, ketika tepat malam ganjil ke-21. Seperti biasa, Kang Santri sudah berada di shof paling depan. Sholat tarawih kali ini diimami oleh Gus Firman, salah satu putra Abah Yai yang satu bulan yang lalu baru datang dari Yaman. Bacaan surat Al Fatihah dan ayat-ayat Al Qur’an beliau sangatlah fasih dan merdu. Meskipun ayat-ayat Al Qur’an yang dibacakan disetiap roka’at terhitung lumayan panjang, tetapi seperti tidak terasa saja. Ketika sudah sampai pada sholat tarawih yang terakhir, pada roka’at pertama, Gus Firman membacakan surat Al Qodar dengan fasihnya. Suasana lenggang dan syahdu. Tiba-tiba ketenangan itu menjadi pecah karena terdengar suara orang menjerit dan menangis tersedu-sedu. Hingga selesai sholat tarawih, barulah diketahui bahwa sumber suara orang yang menangis itu berasal dari Kang Santri yang masih nampak bersujud dan sesenggukan.

Sejak kejadian itu, lumrah saja jika kemudian fenomena itu menjadi perhatian dan perbincangan dikalangan para santri. Karena khawatir salah menyimpulkan, aku dan teman-temanku, si Karim dan Kipli. Datang sowan ke ndalem Gus Firman untuk meminta wejangan.

“Kang Santri itu manusia pinilih, jangan sampai kalian mengolok atau mengejeknya. Bisa jadi beliau salah satu kekasih Allah,” kata Gus Firman.

“Maksudnya, wali Gus?” tanya si Karim.
“Wallahu a’lam bisshowab,” kata Gus Firman sambil tersenyum. Kami bertiga mantuk-mantuk saja.

“O iya Gus, kulo pernah mendengar maqolah “laa ya’riful wali illa wali”, niku pripun Gus?” aku mencoba bertanya.

“Iya, betul, tidak ada yang mampu mengetahui kewalian seseorang kecuali ia adalah seorang wali, tapi alangkah baiknya jika terhadap orang-orang seperti Kang Santri, kita mendahulukan hati daripada akal fikiran untuk memandangnya. Kita dahulukan husnudzon, persangkaan yang baik-baik terlebih dahulu daripada pengetahuan tentang apa-apa yang nampak secara dhohir. Bisa jadi secara batiniyah, orang seperti Kang Santri jauh lebih baik dari kita-kita ini, jauh lebih ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Biasanya para wali mastur, jika rahasia dirinya diketahui oleh khalayak umum, ia akan pergi dan tak pernah kembali. Wallahu a’lam bisshowab.” Kedua mata Gus Firman tampak berkaca-kaca. Sungguh bijak dan sejuk ilmu yang beliau terangkan. Kami bertiga sangat bersyukur bisa mendapatkan pencerahan. Kami menjadi tahu harus bagaimana memandang dan berprasangka pada orang-orang seperti Kang Santri.

Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, Kang Santri tidak menampakkan diri di pesantren. Banyak yang mengira Kang Santri hanya pergi dari pondok untuk sesaat seperti biasanya. Namun, aku dan teman-teman yang kemarin didawuhi Gus Firman, menjadi sangat gusar dan sedih. Jika benar seperti apa yang dijelaskan Gus Firman tentang sifat para orang-orang pilihan yang gemar menyembunyikan identitasnya di hadapan manusia, maka berarti kami tidak bisa lagi bertemu dengan Kang Santri untuk selamanya. Dan ada hal lain yang menguatkan kepergian Kang Santri. Di ruangannya, semua kitab-kitab yang bertumpukan di atas meja dampar pun ikut menghilang. Apakah dibawa pergi oleh Kang Santri? tidak ada satu pun yang tahu. Sementara yang masih tertinggal dan seolah menjadi pengingat atas dirinya hanyalah secangkir kopi hitam kesukaannya.

Lamongan, 05 Maret 2019

*) Jadid Al Farisy, lahir di bantaran Bengawan Solo, Desa Kendal, Sekaran, Lamongan. Menulis puisi, cerpen, esai, geguritan. Beberapa karyanya tersiar di media Republika, Radar Bojonegoro, Iqro.id, Alif.id, Pesantren.id. Puisi dan cerpennya bisa dijumpai dalam antologi bersama: Bocah Luar Pagar, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh dan Muhasabah Warna. Buku tunggalnya: Kopi Kang Santri (cerpen), Aku Membacamu, Kekasih (puisi), Dialektika Akar Rumput (esai), Kawula Mung Saderma (geguritan). Pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan, dan MI Ma’arif NU Islamiyah Kendal.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.