KOPIKIR KOKEREN? –

oleh -42 views



Irfan Sholeh Fauzi *

Virus korona tak cuma menarik garis imajiner 2 meter antar-orang, ia juga memberi batas antara yang adaptif dan yang puritan. Salah satu paling kentara adalah seniman pertunjukan. Mereka tak seperti para guru kelas yang menjemukan. Di kelas, guru-guru menjengkelkan ini tinggal meluncurkan hapalan-hapalan yang sudah bertahun-tahun bercokol di kepala. Mereka tak ambil pusing apakah para siswa terpukau atau terkantuk. Yang penting jangan ribut. Itu saja. Pandemi malahan bikin banyak hal lebih leluasa. Guru tinggal kasih tugas dan siswa bisa bertingkah sesuka hati di rumah. Konser lain. Ada percakapan antara pemanggung dan penonton meski, misal, di bangku penonton sunyi belaka. Tatap mata dan lenguh mereka adalah energi. Dan mata kamera begitu dingin. Dan dengung komputer serupa teror.

Kira-kira begitulah pikir aktor dan Sutradara Wawan Sofyan, juga rekannya, penulis naskah E. D Jenura. Dua orang gelisah melihat pegiat teater lain berbondong-bondong menuju semesta maya. Baru tiga bulan sejak pandemi, kok ya sudah ada pentas daring. Serbuan ini mungkin dianggap Wayan-Jenura sebagai latah. Barangkali juga mereka curiga, “adaptasi” adalah dalih buat segera dapat duit. “Mari menghormati teater dengan berdiam sejenak, jeda tanpa mengunggah apapun secara online,” tutur Wawan. Dibaca bulan Maret 2021, kalimat Wawan—khususnya pada “berdiam sejenak”—terdengar konyol. Ia terlihat seperti saya. Dulu, sembari mengetik skripsi yang mesti mengadakan penelitian lapangan, saya percaya saja pada pemerintah kalau pandemi rampung dalam dua minggu. Sejenak saja. Saya tunggu dua minggu, ada penambahan, 1 bulan pandemi rampung. Selang sebulan, tambah lagi, dan seterusnya-dan seterusnya. Sekarang saya menaruh keyakinan pada pengumuman pertama. Pandemi bakal rampung dua minggu dengan catatan, satu minggu virus korona sama dengan satu tahun bagi manusia. Setiap kita punya cara hitung berbeda-beda. “Berbicalah dengan bahasa mereka, maka kau bisa ambil hati mereka,” kita akrab dengan nasihat ini. Pemerintah berbicara menggunakan bahasa virus korona dan Wawan-Jenura berbicara menggunakan bahasa puak-puak adaptif.

Pertunjukan Terol (teater online) tentu membantah anjurannya sendiri, tapi itu cara mendapat hati. Adegan mengocok kopi dalgona jadi selubung siasat menyindir kelatahan. Bagi Wawan-Jenura apa-apa yang latah pasti gugup. Pertunjukkan daring mereka anggap mengabaikan sisi artistik kayak sudut pengambilan gambar, pencahayaan, dan penataan suara. Afrizal Malna, misalnya, yang hanya perlu sebulan (April-Mei 2020) untuk menerbitkan dua lusin pertunjukan bertajuk “teater masker”, mungkin dianggap bak bapak-bapak yang tahu teater dan baru saja belajar mengambil gambar, edit video, dan audio di komputer—semacam “joke bapak-bapak” tapi ini “teater bapak-bapak” begitulah. “Kualitas? Apa itu? Musim pandemi hanya butuh kuantitas,” kata Wawan. Di antara kemarahan itu, bunyi tek tek tek kocokan dalgona memenuhi udara. Sepanjang 40 menit pertunjukkan monolog, bunyi dalgona tak terjeda.

Tapi bagi Moyang Kasih Dewi Merdeka (Tempo, 1-7 Juni 2020), semua olok-olok Wawan- Jenura juga menuding hidung mereka. “Terol mengkritik teater daring yang mengabaikan artistik […] Sementara itu, pertunjukkan monolog ini tak baik-baik amat dalam mengemas persoalan teknis artistik tersebut,” tulis Moyang. Saya kira ada nada “kemarahan” pada yang merasa diri kelewat becus pada kalimat Moyang. Selama menonton pertunjukkan, Moyang mengurut sabar. Kekesalan Moyang sepertinya juga dipercik kopi dalgona. Saya bayangkan, pada awal-awal dalgona viral, Moyang juga membuat kopi ini dan putus asa terlebih dahulu. Dua hal menjengkelkan membuat Moyang menutup ulansan dengan keji: “Pertunjukan ini berakhir dengan kopi dan gula yang terus dikocok Wawan telah berubah menjadi krim kental. Krim itu akan dicapur dengan susu dingin untuk menjadi kopi dalgona, minuman kopi yang viral di media sosial di tengah pandemi karena teknik pembuatannya yang ribet padahal rasanya seperti kopi susu biasa. Monolog ini begitu pula, tampaknya berbeda karena mengkritik karya lain. Padahal sama saja.”

26 Maret 2021

*) Pembaca buku dan Takmir liqo Akar Sungai, Solo.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *