LELAKI DI ATAS POHON ARAUCARIA –

oleh -256 views



Karya: Sara Gallardo
Penerjemah: Erwin Setia

Seorang lelaki menghabiskan dua puluh tahun untuk menjadikan dirinya memiliki sepasang sayap. Pada suatu fajar 1924 ia menggunakan sepasang sayapnya untuk pertama kali. Perhatian utamanya adalah polisi. Sayapnya berfungsi dengan gerakan yang lambat. Sayap itu tidak dapat membawanya terbang lebih dari dua puluh meter, ketinggian yang setara dengan sebatang pohon araucaria di Alun-Alun San Martin.

Lelaki itu meninggalkan istri dan anak-anaknya demi melewatkan lebih banyak waktu di atas pohon. Ia adalah seorang pegawai di perusahaan asuransi. Ia pergi untuk tinggal di sebuah pesanggrahan. Setiap tengah malam ia mengoleskan oli mesin jahit di sayapnya dan pergi ke alun-alun. Ia membawanya dalam sebuah kotak cello.

Ia memiliki sarang yang tenang dan nyaman di atas pohon itu. Bahkan ia mempunyai bantal.

Pada malam hari, kehidupan di alun-alun teramat penuh hiruk-pikuk, tetapi ia tidak pernah merasa terganggu untuk memandanginya. Ia merasa cukup dengan dedaunan, rumah-rumah yang gelap, dan sebagian besar bintang-gemintang. Malam-malam dengan sepotong rembulan adalah yang terbaik.

Ketidakberuntungan kita adalah kita tidak pernah menerima keterbatasan. Ia memutuskan untuk melewati sepanjang hari di sarangnya. Itu terjadi pada hari libur perusahaan.

Matahari terbit. Tidak ada yang seelok matahari terbit di pucuk pohon. Sekawanan burung terbang tinggi melintasi kota jauh di bawahnya. Lelaki itu memandangi mereka dengan mata sebak, dan merasa mengalami sejenis vertigo.

Terbang tinggi seperti kawanan burung itulah apa yang ia idam-idamkan selama dua puluh tahun usahanya membuat sayap. Bukan hanya bertengger di atas sebatang araucaria.

Ia memberkati mereka. Hatinya terbang jauh mengejar mereka.

Seorang pelayan membuka daun jendela sebuah rumah yang didiami seorang wanita tua yang tak bisa tidur. Wanita tua itu melihat seorang lelaki di sarangnya. Sang wanita tua memanggil polisi dan pemadam kebakaran.

Dengan membawa pengeras suara, tangga-tangga, mereka mengepung si lelaki.

Perlu beberapa lama baginya untuk memperhatikan apa yang terjadi. Ia mengenakan sayapnya. Ia berdiri.

Mobil-mobil mengerem. Orang-orang berhimpun. Jendela-jendela dibuka. Ia melihat anak-anaknya dalam balutan seragam sekolah dan istrinya menenteng tas belanja. Pelayan dan wanita tua berpegangan satu sama lain.

Sayapnya bekerja, dengan gerakan lambat. Ia menerobos dahan-dahan pohon.

Tapi ia kehilangan ketinggian. Ia jatuh mendarat ke monumen. Ia melompat. Ia duduk mengangkang di bagian belakang kuda. Ia memegangi jenderal San Martin di bagian pinggang. Ia tersenyum.

Seorang anggota polisi melepaskan sebuah tembakan.

Sebelah sepatunya masih tertambat di tubuh kuda.

Ia masih bisa terbang lagi. Dengan gerakan lambat, ia berusaha melaju, sedikit lebih tinggi daripada kepala orang-orang yang ada di alun-alun, dan tak seorang pun mengembuskan napas, demi mengamati lelaki yang terbang itu.

Ia tiba di Torre de los Ingleses. Angin membantunya menuju ke selatan.

Ia tinggal di antara cerobong asap sebuah pabrik. Ia tua dan makan cokelat.
***

*) Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14. Blognya: setelahmembaca.wordpress.com

Diterjemahkan dari cerpen “The Man on the Araucaria” karya Sara Gallardo yang terhimpun dalam Land of Smoke (Pushkin Press, 2018). Cerpen itu dialihbahasakan dari Bahasa Spanyol ke Bahasa Inggris oleh Jessica Sequeira.

Sara Gallardo adalah salah seorang pengarang dan jurnalis Argentina yang cukup berpengaruh. Ia lahir di Buenos Aires, 23 Desember 1931, dan wafat pada 14 Juni 1988. Karyanya yang sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris adalah Land of Smoke.

Sumber gambar: theconversationdotcom



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.