Lelaki Jempolan –

oleh -58 views


Akhmad Sekhu *
Solopos, 21 Feb 2021

Sudah berulangkali Pak Kades Matropik mengingatkan Pak Giat Maktratap untuk KB karena zaman sekarang banyak anak bukan lagi banyak rezeki, tapi banyak merepotkannya. Buktinya orang kepercayaannya itu minta bantuan terus. Sebagai kades, Matropik memang harus mau membantu kesusahan warganya karena itu memang sudah tugasnya. Apalagi Pak Giat itu orang paling berjasa membuat dirinya terpilih jadi kades. Tapi Pak Giat itu kemaruk, minta dilayani terus, jadi bisa-bisa seluruh waktu kerja Matropik tersita habis hanya untuk mengurus si sontoloyo terus. Itu tidak adil namanya.

“Pak Giat harus mengerti saya karena saya kerja sebagai kades tentu bukan hanya untuk mengurusi situ saja, “ kata Matropik dengan ucapan penuh penekanan, memohon dengan amat sangat pengertian dari Pak Giat.

“Tapi sewaktu pemilihan kepala desa kan saya memilih dan mencoblos gambar singkong, gambarmu Matropik, “ ungkap Pak Giat mengingatkan.

“Kan bukan hanya Pak Giat saja yang mendukung saya, tapi sebagian besar warga desa kita sehingga saya yang terpilih menjadi kades, “ ucap Matropik tampak tak mau kalah berargumentasi dengan orang yang selalu merepotkan terus.

“Tapi saya kan yang bertugas membagi-bagikan amplop ke seluruh pendukung kita, “ ungkap Pak Giat lagi mengingatkan, yang kali ini terdengar sangat blak-blakan sekali.

“Husssss, jangan bilang-bilang begitu, nanti kalau sampai kedengaran KPK bisa-bisa saya dipecat jadi kades, “ reaksi Matropik kaget sekali dan buru-buru menyilangkan jari telunjuk di bibirnya yang sumbing. Wajahnya mendadak pucat. Sungguh keterlaluan memang Pak Giat bicaranya blak-blakan.

Tapi sebenarnya, lanjut Matropik, ia harus mengakui kalau Pak Giat itu jempolan karena bisa memenangkan dirinya di luar prediksi banyak orang menjagokan pertahana akan memenangkan pemilihan kepala desa Warudoyong. “Untuk urusan pengerahan masa, aku akui kalau Pak Giat jempolan!” puji Matropik seraya menunjukkan jempol tangannya.

“Makanya pak kades bantu saya-lah karena saya sekarang butuh bantuan, “ Pak Giat tampak memohon-mohon dengan amat sangat. Wajahnya begitu sangat memelas, bahkan sengaja dibuat seiba dan semenderita mungkin.

“Ah, Pak Giat selalu saja bicaranya seperti itu terus, “ Matropik terlihat jengah.

Pak Giat mendesakkan permohonannya, “Saya sekarang memang benar-benar butuh banget bantuan pak kades. “

“Masak Pak Giat tiap hari minta bantuan terus?”

“Tidak tiap hari-lah Matropik karena kemarin saya kan tidak datang kesini.”

“Pak Giat jangan ngeles begitu, kemarin ada warga yang laporan ke saya.”

“Aaarghh, Pak Denny awas ya, “ Pak Giat geram, “Baru diutangi uang segitu saja pakai lapor-lapor segala.”

“Saya tidak bilang itu Pak Denny ya, tapi Pak Giat sendiri yang mengatakannya.”

“Iya, tapi beberapa hari lalu saya kan ke rumah Pak Denny.”

“Beberapa hari lalu juga ada warga lainnya yang laporan ke saya.”

Pak Giat kembali geram dan serta-merta langsung mengekspresikan kegeramannya, “Oh, jadi Pak Hasto sudah mulai main lapor-laporan ya.”

Matropik geleng-geleng kepala, kemudian menyampaikan, “Sudah banyak sekali warga yang laporan ke saya.”

“Oh, jadi warga desa kita janjinya tidak ada yang bisa dipegang!”

“Jangan menyalahkan mereka!”

“Habisnya menyalahkan siapa?”

“Salahmu sendiri, sudah saya bilang dari dulu, banyak anak bukan lagi banyak rezeki, tapi yang ada banyak merepotkan Pak Giat.”

“Ya, dikasih Tuhan banyak anak jadi saya terima saja.”

“Tapi itu kan bisa dikendalikan.”

“Kendalikan bagaimana?”

“Datang saja ke dokter ikut KB.”

“Tidak mau ah, takut nanti disuntik.”

“Pak Giat egois, maunya ‘nyuntik’ istri terus, tapi tidak mau disuntik dokter.”

“Wah kalau suntik yang itu lainlah Pak Kades.”

“Samalah.”

“Sudahlah Matropik, saya kesini minta bantuan, bukan minta dinasihati.”

“Kali ini saja, terakhir Pak Giat minta bantuan ke saya ya.”

“Iya terakhir Matropik. Maklum banyak anak.”

“Jangan juga minta bantuan ke warga-warga lagi.”

“Lah, terus saya minta bantuan sama siapa?”

“Pak Giat kan bisa kerja lebih keras lagi.”

“Ah, sekeras-kerasnya kerja sebagai buruh serabutan paling berapa sih.”

“Kan bisa kerja lainnya.”

“Zaman sekarang sudah semakin susah cari lowongan pekerjaan.”

“Ah, Pak Giat, makanya sekolah SMAnya diselesaikan, suka bolos terus, jadinya bablas tidak lulus, “ ucap Matropik tampak kesal, “Kalau kau lulus dan dapat ijazah SMA kan bisa kerja di balai desa bantu-bantu saya.”

“Kalau kerja formal kan minimal harus ijazah SMA, “ imbuh Matropik meyayangkan.

“Ayo mana nih Matropik, saya minta bantuan kok diputar-putar banyak cerita,” protes Pak Giat tampak mendesak.

“Iya, sudah, ini, “ ucap Matropik, kemudian langsung menyodorkan amplop. “Ini yang terakhir lho ya.”

“Terima kasih, Pak Kades, “ Pak Giat menerima amplop dan kemudian mengecupi tangan Pak Kades Matropik karena begitu sangat gembira.
***

Sepulang dari rumah Pak Kades Matropik, Pak Giat mendatangi rumah Pak Denny dengan tujuan akan mendampratnya karena sudah melapor pada Pak Kades Matropik sehingga dirinya malu sekali. Rencananya, sebagian uang yang diterima dari Pak Kades Matropik akan dikasihkan sehingga ia bisa tenang bisa melunasi hutang. Tapi melihat rumah Pak Denny yang tampak sepi membuat Pak Giat jadi urung melunasi hutangnya.

“Selamat siang, Pak Giat, “ sapa seseorang yang lewat depan rumah Pak Denny.

“Siang Pak Gondho, “ Pak Giat langsung membalas sapaan.

Orang yang dipanggil Pak Gondho itu kemudian menanyakan, “Pak Giat dari tadi saya perhatikan kok memandangi rumah Pak Denny, ada apa Pak?”

“Tidak ada apa-apa, “ Pak Giat menggeleng.

“Mau hutang ya?!” Pak Gondho menebak.

“Tidaklah, “ Pak Giat mengelak.

“Terang Pak Giat, saya juga datang kesini mau hutang sama Pak Denny, “ Pak Gondho jujur mengakui, kemudian menerangkan. “Tapi dari tadi saya perhatikan rumahnya sepi, mungkin Pak Denny lagi muter nagih hutang ke orang-orang.”

Pak Giat tersentak heran serta-merta langsung mempertanyakan, “Lho masa sih?”

“Iya benar Pak, “ jawab Pak Gondho menegaskan.

Dalam hati, Pak Giat semakin geram karena baru dimintai hutang langsung lapor ke Pak Kades Matropik, tapi didatangi untuk melunasi hutangnya malah tidak ada di rumah.

“Pak Giat, saya permisi pulang, “ Pak Gondho pamitan, kemudian menerangkan, “Kalau Pak Denny pergi pasti pulangnya malam.”

Geregetan hati Pak Giat karena ternyata Pak Denny muter nagih hutang ke orang-orang, bisa-bisa Pak Denny juga cerita ke banyak orang kalau dirinya hutang.
***

Tak berhasil menemui Pak Denny di rumahnya, Pak Giat buru-buru langsung pulang. Jalannya cepat setengah berlari karena ia ingin secepatnya sampai rumah. Ia sudah membayangkan uang yang diterima dari Pak Kades cukup untuk menyelesaikan masalah keuangan keluarga yang membelitnya.

Baru sampai teras rumah, Pak Giat langsung diberondong Bu Rukmini, istrinya, dengan banyak pertanyaan, “Mas kemana sih pagi-pagi? Tidak tahu ya pagi-pagi ada yang nagih hutang? Kenapa sih harus hutang sama rentenir? Apa Pak Kades Matropik sudah tak membantu kita? Memangnya bansos sudah habis? Mas kan tangan kanan Pak Kades, apa tidak bisa minta dobel jatah bansosnya? Atau posisi Mas sebagai tangan kanan sudah diganti orang lain…..”

Pak Giat hanya diam tak menjawab apa-apa karena saking begitu banyaknya pertanyaan. Bu Rukmini kini menatap tajam menghujam dada Pak Giat yang ditanya tapi tidak menjawab. Napas istrinya itu sampai ngos-ngosan karena mulutnya nerocos terus.

“Ditanya kok tidak jawab Mas?” tanya Bu Rukmini dengan suara merendah, tapi tensi emosinya masih sangat tinggi membumbung ke ubun-ubun.

“Memangnya aku harus jawab apa, hah?” Pak Giat tampak tak mau kalah balik bertanya, kemudian menyalahkan, “Suami pulang bukannya disambut dengan senyuman, tapi mulutnya cas-cis-cus nerocos terus.”

Bu Rukmini sontak terdiam, tapi matanya masih menatap tajam ke arah Pak Giat, tampak diamnya seperti menyimpan dendam kesumat.

Pak Giat dengan penuh ketenangan, menerangkan, “Pagi-pagi aku pergi ke Pak Kades Matropik dan dapat bantuan, tapi kata Matropik ini bantuan terakhir kali.”

“Terakhir kali? Apa itu artinya Mas terakhir kali menjadi tangan kanannya Pak Kades?” Bu Rukmini kembali mulai nerocos lagi.

“Terakhir kali Pak Kades memberi bantuan ke kita, tahu?!“ Pak Giat berang dengan nada suara yang cukup keras.

“Kok Mas nyolot?!” Bu Rukmini protes.

“Makanya dengarkan, kalau suami bicara hormati!” Pak Giat menegaskan.

“Aku selalu menghormati Mas sebagai suami, kebutuhan kita memang semakin banyak yang semuanya harus dipenuhi, tapi sebaiknya janganlah hutang pada rentenir karena nanti bukannya menyelesaikan masalah, malah akan semakin menambah beban masalah, “ papar Bu Rukmini panjang lebar dengan suara bergetar.

“Aku tidak tahu kalau itu rentenir, karena kita butuh bantuan ya minta bantuan, “ Pak Giat enteng saja menanggapinya.

“Salahnya Mas punya banyak anak, bukannya banyak rejeki, tapi banyak masalah.”

“Lho kok menyalahkan aku.”

“Habisnya menyalahkan siapa? Tetangga, hah!”

“Kamu yang maunya punya anak banyak, melahirkan terus.”

“Sudah dari dulu, aku minta ikut KB saja, tapi Mas tidak mau karena takut disuntik, jadinya kita banyak anak sehingga semakin banyak beban kebutuhan.”

“Sudah, capek, sudah, jangan bertengkar terus.”

“Kalau tidak mau bertengkar ya penuhi semua kebutuhan,” ucap Bu Rukmini kembali meng-smes telak Pak Giat yang membuatnya kembali terdiam saja.

Sementara itu, jalanan yang ramai dengan kendaraan lalu lalang seperti turut nimbrung pada suami-istri yang pagi-pagi sudah bertengkar. Lalu ditingkahi juga anak-anaknya yang sangat banyak, yang kalau main begitu ramai sekali suasananya sudah seperti pasar pagi.

“Berisik! Berisik! Berisik!” Bu Rukmini menjerit-jerit yang sontak membuat anak-anak langsung berhenti main. Juga kendaraan dan orang yang lewat di depan rumah jadi berhenti mendengar jeritan Bu Rukmini yang sangat menarik perhatian.

Pak Giat malu jadinya hingga buru-buru merangkul istri dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tangannya besar dan kekar sehingga mampu membuat istri tak berkutik, meski sekuat tenaga berusaha lepas, rangkulannya memang begitu sangat kuat.

Sampai ke dalam rumah barulah Pak Giat melepas rangkulan dan membebaskan istrinya yang tampaknya sudah lemas tak berdaya. Kini sang istri hanya bisa menangis. Pak Giat bukannya meredakan tangisnya tapi malah pergi keluar rumah.
***

Beberapa hari kemudian, setelah pertengkaran-pertengkaran yang sangat hebat itu pecah, Pak Giat menyampaikan pada Bu Rukmini kalau ia mau pergi ke dokter untuk konsultasi KB agar terhenti punya anak lagi.

“Nah, begitu dong Mas mau ke dokter!” Bu Rukmini menyambut gembira.

Pak Giat juga menyatakan diri siap kalau disuntik. “Aku siap, “ ucapnya mantap.

“Kalau ke dokter itu tidak semuanya perlu disuntik kok, Mas, “ kata Bu Rukmini, menerangkan, “Ada yang hanya dikasih obat karena tergantung sakitnya.”

“Lha aku kan tidak sakit, jadi pasti aku tidak disuntik,” ucap Pak Giat tersenyum lega. Meski ia sudah siap disuntik, tapi dalam hati masih tetap berharap tidak disuntik.

Bu Rukmini tersenyum dan geleng-geleng saja.
***

Besoknya, Pak Giat benar-benar pergi ke klinik dokter. Hatinya harap-harap cemas karena dirinya memang sungguh takut disuntik. Begitu melihat seorang anak kecil yang diemban ibunya, disuntik menangis histeris, ia tampak jadi begidik karena dirinya traumatik benar-benar takut disuntik.

Tiba gilirannya dipanggil perawat untuk diperiksa pak dokter, Pak Giat tak menyahut, pura-pura tidak dengar. Karena karena pasien tak ada lain hanya Pak Giat, maka perawat yang tadi memanggil mendekat ke arah Pak Giat dan memaksanya untuk masuk ke ruang dokter, “Bapak Pak Giat ya? Ayo cepat masuk, sudah ditunggu pak dokter lho!”

Pak Giat terpaksa nurut masuk ke ruang dokter. Adapun, Pak dokter tahu psikologi orang yang takut pada dirinya tampak maklum dan buru-buru mengatakan kalau dirinya tidak akan menyuntik. “Tenang Pak, silakan duduk, “ tutur pak dokter lembut menyilakan.

Pak Giat menyampaikan maksud kedatangannya untuk konsultasi KB. “Agar saya tidak punya anak lagi karena sudah terlalu banyak anak, “ ungkapnya malu-malu.

Pak dokter tersenyum, kemudian memberinya kondom dan sekalian juga mencontohkan cara memakainya, yang tentu saja dengan memasangkan kondom ke jempolnya, bukan ke alat vitalnya. “Pakailah kondom Pak kalau berhubungan badan dengan istri bapak, “ pak dokter menegaskan.

“Iya, Pak, “ kata Pak Giat tampak malu-malu menerima beberapa kondom, kemudian buru-buru memasukkan ke dalam saku celananya.

“Hanya kondom, Pak, “ tanya Pak Giat dengan suara bergetar.

“Iya, Pak, “ jawab pak dokter singkat.

“Tidak disuntik?” tanya Pak Giat lagi, kali ini beberapa bulir keringat mulai mengucur dari kepalanya yang peang.

Pak dokter kembali tersenyum, lalu dengan penuh ketenangan, memberikan jawaban, “Tidak disuntik Pak karena memang belum perlu disuntik.”

“Terima kasih, pak dokter, “ Pak Giat tampak gembira tersenyum lega.
***

Pulang dari klinik dokter, Pak Giat tampak begitu sangat gembira karena sudah berhasil melewati rasa ketakutannya disuntik. Malamnya, Pak Giat yang orangnya terlalu naif, berhubungan intim dengan istrinya memakai kondom dengan memasangkan ke jempolnya. Beberapa kali ia hubungan badan dengan cara sama persis seperti yang dicontohkan dokter.

Beberapa hari kemudian, istrinya muntah-muntah. Pak Giat buru-buru ke Pak Kades Matropik minta bantuan uang untuk periksa ke dokter. Dari pemeriksaan dokter, istrinya dinyatakan hamil dan dokter tampak begitu sangat heran karena beberapa hari lalu sudah memberinya banyak kondom.

Kehamilan istrinya langsung Pak Giat sampaikan ke Pak Kades Matropik. Pak Giat juga jujur menyampaikan ia sudah ke dokter dan menceritakan dirinya melakukan hubungan badan dengan istrinya sesuai dengan cara sama persis seperti yang dicontohkan dokter.

Metropik jadinya ketawa terbahak-bahak begitu sangat keras karena saking lucunya. “Hahaha, Pak Giat, Pak Giat….”

Pak Giat sudah punya sepuluh anak, kini tambah satu anak lagi, bisa menjadi kesebelasan satu grup sepakbola. Dengan kenyataan itu, Matropik kemudian jadinya mencak-mencak karena kebutuhan Pak Giat tentu akan semakin membengkak lagi, yang berarti dirinya akan semakin direpotkan dan seluruh waktunya akan benar-benar habis hanya untuk mengurusi semua kesusahan Pak Giat seorang.

Tapi, kembali Matropik memang lagi-lagi harus mengakui kalau Pak Giat itu jempolan, sungguh benar-benar jempolan karena meski sudah ke dokter konsultasi KB tapi masih tetap bisa membuat istrinya hamil lagi. “Bukan hanya urusan pengerahan masa, aku akui kalau Pak Giat dalam urusan membuat anak memang jempolan!” puji Matropik dengan kagum campur bercanda seraya harus menunjukkan dua jempol tangannya sekaligus.

Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2021


*) Akhmad Sekhu, sastrawan dan juga wartawan, kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 27 Mei 1971. Bukunya; Penyeberangan ke Masa Depan (puisi, 1997), Cakrawala Menjelang (puisi, 2000), Jejak Gelisah (novel, 2005), Chemistry (novel, 2018), Pocinta (novel, 2021), Golden Scene (puisi, siap terbit), Semangat Orang-Orang Jempolan (cerpen, siap terbit).



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *