Membaca Pengembaraan Mahfudz –

oleh -46 views



Zehan Zareez *

Pengembara, ditulis oleh Mahfudz dalam buku antologi puisi “Gandrung”:

“Setiap dari kita adalah pengembara
Yang menggiring waktu
Menuju asal muasal
Adam tercipta”

(Setiap dari kita) Merupakan sebuah penggambaran anggapan perihal kemayoritasan/keseluruhan/hampir menyeluruh dari manusia-manusia yang dianggap penulis bagian dari kelompoknya. Menimbang latar belakang sosok penulis yang kesehariannya adalah seorang santri, maka masyarakat santri-lah yang dalam hal ini menjadi sehimpun yang dimaksud penulis. Dengan kata lain, kata (kita) di sini yang dituju adalah mayoritas para salik/santri. Tidak logis ketika penulis bermaksud mencantumkan kata “kita” di sini dengan merangkul maksud semua kepribadian, misalkan; sekelompok tentara, polisi, menteri. Kelompok-kelompok selain masyarakat santri bukan tergolong dalam “kita” yang dimaksud penulis dalam puisi ini.

(adalah pengembara) di baris ke dua ini tampak penulis sudah mulai bermain majas. Pengibaratan. Dalam istilah pesantren sering kita dengar dengan sebutan ilmul bayan. Ilmu bayan merupakan salah satu cabang ilmu bahasa arab yang memberikan fokus kontribusinya terhadap kesastraan. Di dalamnya mengupas antara lain pembahasan tasybih (pengibaratan).

Kata “pengembara” dipilih penulis untuk mengibaratkan kata “kita (yang dalam konteks ini adalah kelompok santri)”. Tapi penting diingat, tidak semua kata “kita” nanti dalam buku puisi ini akan selalu memiliki makna “kelompok santri”. Mahfudz tentu punya beberapa dramaturgi backstage dalam kehidupannya di balik yang sudah umum diketahui banyak kalangan. Mungkin selain santri dia juga penulis, sastrawan muda, pekerja, politikus, dll yang tentu setiap kajian telaahnya harus menimbang ruang dan sudut pandang penggalian yang lainnya.

Kembali, kata “pengembara” bisa dimaknai sebuah pelaku pekerjaan. Seseorang yang dikenai aktifitas pengembaraan (berpetualang, istilah lainnya). Sebuah keterpontang-pantingan yang wajar dan yang memang harus dihadapi seorang untuk menuju sesuatu yang diinginkan. Perihal sesuatu yang diinginkan penulis disini tak lain adalah sebuah pengembaraan ilmu, pengembaraan pengalaman, atau bahkan sampai pada menuju tujuan akhirnya : Tuhan, sebagai garis finish pencapaian segala pengembaraan.

(Yang menggiring waktu) kalimat ini juga tergolong bentuk gaya bahasa personifikasi yang tanpa alasan. Lumrahnya sesuatu yang digiring adalah : bola, bebek, dll. Bukan waktu. Namun, Mahfudz sebagai penulis puisi lebih memilih kosa kata “menggiring” sebagai verba dari objek“waktu”. “Menggiring” ialah aktifitas yang melibatkan kesadaran dan kontrol konsentrasi penuh. Kegiatan menggiring memuat keberadaan objek yang normalnya ada di depan, hingga si objek sendiri pasti dalam kondisi terpantau. Objek ini tidak bisa beraktifitas semaunya sendiri melainkan berdasarkan kehendak penggiring yang ada di belakangnya.

Waktu sendiri (berdasarkan istilah nahwiyah) memiliki 3 pembagian : madhi, mudhori’, mustaqbal. Atau lebih jelasnya mengandung makna lampau, sedang terjadi, dan yang akan datang. Waktu di sini yang dimaksud penulis tentu adalah mustaqbal. Masa depan penulis, atau waktu-waktu yang belum terjadi. Di mata Mahfudz, waktu (di benak para santri) perlu mendapat perhatian serius. Sebagai kelompok yang mengembara tadi, hendaknya setiap santri memiliki fokus, jangan sampai ada kelengahan sedikit pun untuk mengantarkan waktu itu sendiri menuju sebuah titik tujuan yang dituju. Kemanakah tujuannya?

(Menuju asal muasal
Adam tercipta)
Baris kalimat akhir ini menjelaskan tujuan pengembaraan puncak. Letak finish tempat yang semestinya. Ialah pada sebuah keadaan/sejarah sebelum keterjadian atau keber ‘ada’an Adam AS.

Dalam khazanah sejarah keislaman kita, Adam AS adalah manusia pertama. Tidak ada manusia sebelum Adam. Sebelum Adam diciptakan, artinya yang ada adalah ketiadaan Adam. Kata “Ketiadaan” inilah yang sebenarnya diinginkan penulis sebagai garis finish pengembaraan dalam puisinya. Bahwa manusia itu, berawal dari : tidak ada – ada karena diadakan – berjalan mengembara menuju kembali ke ruang ketiadaan. Dalam bahasa tashawwufnya, al wujuud huwa Allah (yang ada hanyalah Allah SWT).

Pun, semakin lebih jelas bahwa penulis adalah seseorang yang berlatar belakang religius ditunjukkan dalam penggunaan kata Adam. Seandainya penulis bukan santri, mungkin saja bukan kata Adam yang dipilih untuk menjelaskan frasa penutup tadi.

Kesimpulan amanat :

Mahfudz (dalam puisi pertama dalam bukunya ini) ingin mengajak seluruh kalangan santri untuk tidak menyiakan-nyiakan waktu. Mahfudz juga ingin menyadarkan bahwa santri itu seluruhnya adalah pejalan (pengembara) yang harus memiliki fokus terhadap tujuan hidup setelah kehidupan hari ini.
Ini sesuai dan relevan dengan apa yang pernah disampaikan Imam syafi’i dalam syairnya :
Da’ al ayyaama taf’al maa tasyaa’ # wa thib nafsan idza hakama al qodhoo’u
Wa laa tajza’ li chaaditsati al layaali # fa maa li chawaaditsi ad dunya baqoo’u
….

Muhammad Mahfudz adalah putra dari KH. Muhammad Faqih (Gus Muh) Langitan. Usianya masih sangat belia. Santri kelahiran tahun 2000 ini telah melaunching buku antologi pertamanya bersama rekan Muhammad Muslim tepat penghujung bulan April 2021. Di usia mudanya ini, dia layak diapresiasi sebagai penggerak kesastraan santri, khususnya di Wilayah Jawa Timur.
***

*) Saya, santrinya Mbahnya.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *