Membaca Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa –

oleh -27 views



Judul: Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa
Penulis: Fernando Baez
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: 2017
Halaman: xiv, 410 halaman
Peresensi: Kahfi Ananda Giatama, S.Sos
basipda.bekasikab.go.id

Memasuki jaman yang serba instan dan cepat ini, membuat apapun akan terlihat modern jika tampil dalam moda digital. Khususnya era milenial memang semua yang berbentuk konvensional akan diubah menjadi digital. Alasan nya pun berbagai macam, entah itu tuntutan jaman, unsur pendukung efektifitas dan koefisiensi dalam bekerja, sampai hanya sekedar ikut-ikutan.

Hampir semua piranti yang kita gunakan berbentuk digital, jika ada yang belum dikemas dalam bentuk digital itu hanya masalah waktu saja. Termasuk juga dengan buku, salah satu penemuan manusia yang paling lawas ini juga terkena imbas dari digitalisasi. Betapa tidak, beberapa tahun belakangan sudah banyak buku yang dicetak dalam bentuk digital, toko buku online pun menjamur, dengan alat untuk membaca buku digital semakin banyak.

Disatu sisi ini merupakan capaian impresif dari teknologi yang seyogyanya memang untuk mempermudah manusia memperoleh dan menggunakan kebutuhan nya, namun percaya atau tidak, disisi lain ini adalah sebuah kemunduran terkhusus perihal buku. Memang buku digital tidak kenal batas waktu dan tempat, siapapun bisa membaca dimanapun dan kapanpun tanpa perlu repot. Tapi buku digital secara tidak sadar ikut menurunkan indeks kunjungan masyarakat menuju perpustakaan.

Fenomena ini oleh banyak pihak diprediksi sebagai akhirnya masa kejayaan buku fisik, tuntutan jamanlah yang memaksa salah satu penemuan kuno tersebut untuk rehat entah sampai kapan. Buku Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa inilah yang menunjukkan bahwa bukan hanya invasi digitalisasi saja yang menjadi penyebab penghancuran buku, ada banyak faktor yang mempengaruhi penghancuran buku tesebut.

Secara garis besar, buku ini mencoba menelusuri jejak-jejak penghancuran buku yang terjadi sejak jaman kuno hingga kontemporer. Ternyata, sejak buku ditemukan pada peradaban Sumeria hingga saat ini sudah terjadi ribuan tragedi penghancuran buku yang didasari oleh banyak faktor.

Sejarah panjang penghancuran buku itulah yang digunakan oleh penulis untuk melacak apa saja yang menjadi faktor sekaligus aktor yang melakukan penghancuran buku. Dan yang mengejutkan adalah terdapat banyak faktor yang melatari kegiatan amoral ini, sedangkan aktor dibelakang layar hanyalah satu. Kaum terdidik.

Misalkan, ketika peradaban kuno yang terbentang dari Mesopotamia hingga Alexandria sedang berjaya. Tak terhitung jumlah manuskrip-manuskrip kuno yang ketika itu terbuat dari tablet dan perkamen dibakar habis, motif utama kejadian tersebut adalah perang. Entah itu perang antar bangsa, kudeta ataupun perang internal. Tak sampai disitu, buku dibakar juga karena dianggap sesat dan tak sesuai dengan kepercayaan mayoritas yang dianut saat itu. Nama-nama seperti Hypatia dan Giordano Bruno menjadi korban kegiatan penghancuran buku tersebut.

Tak hanya ulah manusia yang bertindak barbar dan vandalisme, terdapat banyak faktor eksternal seperti bencana alam yang menghancurkan buku. Gempa bumi dan kebakaran menjadi musuh terbesar buku selama berabad-abad, belum lagi banjir, tsunami hingga tanah longsor yang bisa kapanpun menimpa gedung perpustakaan yang sudah tua dan rapuh.

Buku ini pun dengan apik menjabarkan refleksi dari penghancuran buku tersebut. Pun buku ini berusaha menunjukkan bagaimana buku bisa sangatlah berbahaya dan menggangu, tergantung pada isi buku tersebut dan seberapa besar pengaruh yang mampu dihasilkan oleh buku tersebut terhadap pembaca dan realitas sekitar.

Jika bukan karena itu mustahil Joseph Goebbels selaku Menteri Penerangan dan Propaganda NAZI selalu membakar buku disetiap kawasan yang telah ia kuasai, sesuatu hal yang sia-sia pula jika pada masa Orde Baru pemerintah bersama Jaksa Agung rajin memilah buku mana saja yang boleh diterbitkan dan tidak boleh.

Muatan ingatan dalam setiap buku sangatlah besar, jika ia dihancurkan maka mustahil suatu negara-bangsa bisa mengenali rekam jejak leluhurnya. Maka tak heran pemberangusan buku seperti ini sangatlah bersifat ideologis nan politis, semata-mata untuk mengaburkan sekaligus memanipulasi sejarah bangsanya sendiri.

Yang terakhir dan paling esensial mungkin definisi penghancuran buku itu sendiri. Penulis setuju kepada konsepsi sastrawan Italia, Umberto Eco yang mengatakan bahwa penghancuran buku hanyalah fase klimaks yang sebelumnya telah melewati tahapan-tahapan dramatik berupa pensensoran, penjarahan, pengabaian lalu baru penghancuran.

Banyaknya tahapan tersebut mengindikasikan bahwa penghancuran buku adalah masalah yang sangat mendesak dan mudah untuk dilakukan, semisal penyensoran. Indonesia pada masa Orde Baru sering melakukan penyensoran terhadap buku yang berpotensi menyulut pertikaian atau konflik antar masyarakat.

Diatas telah dijelaskan bahwa perang menjadi momok mengerikan bagi buku, betapa tidak perang dengan tanpa belas kasihan telah menghancurkan buku yang disusun selama beberapa dekade. Dalam situasi perang pastilah keadaan sangat semrawut, tidak karuan dan berantakan. Kesempatan ini yang digunakan oleh sekelompok oknum untuk melakukan penjarahan terhadap perpustakaan dan gedung arsip, menjarah manuskrip kuno lalu menjual dengan harga murah di pasar lelang berskala internasional.

Perpustakaan yang menjadi garda terdepan pendongkrak budaya membaca justru yang paling sering melakukan pengabaian terhadap buku. Ribuan buku yang dinilai kurang menarik bagi pemustaka dibiarkan saja meringkuk, sampai kertas berubah menjadi kuning, sebagian dimangsa rayap hingga sebagian halaman yang entah kemana.

Pada dasarnya, buku ini tidak diperuntukkan terhadap satu kelompok atau individu tertentu. Buku ini justru memanggil seluruh elemen formal maupun informal yang peduli akan dunia literasi khususnya buku untuk menghentikan tindakan penghapusan terhadap ingatan sekaligus belajar memperlakukan buku secara humanis dengan mengacu pada kejadian-kejadian penghancuran buku yang sudah terjadi sebelumnya.
***

1 Agustus 2017



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *