Membaca R. Ng. Ranggawarsita dalam Satria Piningit –

oleh -111 views



Jadid Al Farisy *

Ketika berbicara pemimpin, pikiran orang kebanyakan akan selalu tertuju pada seseorang, lembaga, atau institusi dimana ada subjek menjadi center yang bertugas memimpin objek yang harus dan butuh dipimpin. Para pemimpin bekerja pada ranah mengkonsep, mengarahkan, menjalankan, mengorganisir, serta berkewajiban mengevaluasi segala hal berkaitan dengan bidang tanggung jawabnya. Namun pemaknaan pemimpin tergantung dari sudut pandang ia ambil, di ruang lingkup mana tinggal. Sehingga perbedaan argumentasi menjadi keniscayaan.

Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara tugas maupun moral terhadap sebuah komunitas atau masyarakat yang dipimpinnya. Dalam prosesnya, banyak hal yang melatar belakangi terbentuknya sosok pemimpin. Tentu saja berbeda-beda sesuai ranahnya masing-masing. Mulai dari tingkat kepemimpinan paling kecil, misalnya keluarga, sampai lingkup lebih luas seperti dalam tata kelola suatu negara. Dari semua itu ada satu hal pasti dan menjadi keinginan semua orang, yaitu adanya pemimpin adil. Karena dari sana kesejahteraan dapat diraih.

Di kalangan masyarakat Jawa, terdapat salah satu kepercayaan tentang pengharapannya pada seorang pemimpin yang adil. Ketika keadaan sosio culture sebuah komunitas masyarakat berada di titik resesi, kronis atau akut yang meliputi semua aspek, pada titik itu pula sebenarnya terjadi kulminasi partikel-partikel cahaya yang siap menyemburat menjadi damaring kahanan. Atau lingkaran cahaya tersebut boleh kita sebut ratu adil, satria piningit dalam terminologi budaya Jawa, atau sang imam Mahdi pada khazanah keislaman.

Menurut sebagian orang ngerti (sebutan orang linuwih) kejawen, meramalkan bahwa untuk sampai tahapan ini, harus melalui prosesi yang dalam pewayangan disebut perang brubuh, suatu keadaan chaos yang kan benar-benar menghasilkan perubahan besar dalam dimensi apapun yang berada dalam lingkup lakon pakem pewayangan.

Misalnya seorang raja angkara sebuah kerajaan akan tergantikan dengan yang lebih berbudi bawa leksana, ksatria yang telah purna lelana brata didaulat menjadi raja, seorang raja tua yang lengser keprabon menjadi brahmana atau menjalani kehidupan yang menjauhi urusan duniawi, dan hanya mempersembahkan jiwa raganya kepada ingkang murbeing dumadi, dan sebagainya.

Seseorang siapapun itu bolehlah meramalkan, memprediksi, memproyeksikan pandangannya terhadap alur kehidupan manusia, termasuk perihal kepepimpinan, tetapi hal tersebut tidaklah cukup menjadi patokan yang mutlak. Karena dalam keberlangsungan lakon manusia di dunia, sungguh amatlah kecil bagian yang bisa terbaca oleh akal manusia itu sendiri.

Semua bisa saja terjadi, misal dalam konsep munculnya satria piningit yang diidam-idamkan oleh kaum tertentu, tidak harus melalui kronologi bencana super dahsyat terlebih dahulu. Bisa juga penafsiran atas bencana hebat, gonjang-ganjing huru-hara yang mengiringi lahirnya ratu adil, bukan dari segi pengertian dhohir, melainkan dari sudut pandang batin.

Munculnya konsep satria piningit sendiri dalam histori babad tanah Jawa, tak bisa dilepaskan dengan dua tokoh yang sangat berpengaruh. Pertama Prabu Jayabaya, sang raja Kediri (1135-1157 M) dengan pandangan futuristiknya yang dikenal dengan istilah jangka Jayabaya, yaitu sejenis kumpulan prediksi masa depan, diantaranya menjelaskan tentang munculnya ratu adil.

Sedang tokoh kedua seorang pujangga keraton Surakarta, yaitu Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1875 M). Beliau dikenal sebagai pujangga yang sangat fenomenal karena karya-karyanya. Di setiap tulisannya, R.Ng. Ranggawarsita seolah bisa membaca zaman, menyiratkan pandangan melebihi zamannya kala itu. Seperti yang dianggit dalam sebuah pupuh tembang macapat sinom menyebut adanya jaman edan. Dari sini kemudian para penafsir Serat Kalatidha mulai membabar, membuka konsep ratu adil atau satria piningit. Berikut ini bunyi baitnya:

Amenangi zaman edan
ewuh aya ing pambudi
melu edan nora tahan
yen tan melu anglakoni
boya keduman melik
kaliren wekasanipun
ndilalah karsa Allah
begja-begjane kang lali
luwih begja kang eling lawan waspada

Terjemahan bebasnya kurang lebih di bawah ini:

mengalami hidup di zaman gila
serba sulit dalam menetukan sikap dan pikiran
ikut gila tak tahan
kalau tidak ikut
tidak mendapat bagian
akhirnya kelaparan
tapi, Allah maha berkehendak
bagaimanapun beruntungnya orang yang lalai
masih beruntung orang yang ingat dan waspada

Ketika dihubungkan dengan kehidupan saat ini, konsep Satria Piningit merupakan simbol akan pembaharuan dalam kepemimpinan nasional. Satria Piningit ialah dua kata sifat yang menyatu dan melekat pada diri seseorang.

Satria adalah sifat seorang yang menegakkan kebenaran dan membela kejujuran, sedang Piningit merupakan sifat memingit diri artinya berlindung, menyembunyikan dirinya dari segala yang tidak baik. Satria piningit adalah seorang pemimpin yang bisa manunggaling kawula Gusti.

Kalau dalam penafsiran konsep kepemimpinan bisa dimaknai sebagai yang bisa menjaga mandat dari rakyatnya, sebagaimana menjaga amanah dari Tuhan yang menjadikannya kholifah fil ardl, sehingga tidak akan berani menyakiti rakyat, karena itu sama halnya mencederai ketaatannya kepada Tuhan.

Inilah sejatinya yang menjadi muatan nilai-nilai dari istilah satria piningit. Siapapun orangnya, kapanpun saatnya, dan bagaimanapun kedatangannya? Tiada menjadi masalah, yang terpenting memiliki kecenderungan selain dekat dengan rakyat, dekat pula terhadap Tuhannya.

Gresik, 21 Desember 2020

*) Jadid Al Farisy, lahir di bantaran Bengawan Solo, Desa Kendal, Sekaran, Lamongan. Menulis puisi, cerpen, esai, geguritan. Beberapa karyanya tersiar di media Republika, Radar Bojonegoro, Iqro.id, Alif.id, Pesantren.id. Puisi dan cerpennya bisa dijumpai dalam antologi bersama: Bocah Luar Pagar, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh dan Muhasabah Warna. Buku tunggalnya: Kopi Kang Santri (cerpen), Aku Membacamu, Kekasih (puisi), Dialektika Akar Rumput (esai), Kawula Mung Saderma (geguritan). Pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan, dan MI Ma’arif NU Islamiyah Kendal.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.