MENGAPA “JALINAN RASA” Niken Fajar Ningrum TIDAK MENJADI 3 TERBAIK DALAM ACARA TANTANGAN DI GRUP GORESAN PENA QALBU | Belajar Menulis

oleh -78 views

MENGAPA “JALINAN RASA” Niken Fajar Ningrum TIDAK MENJADI 3 TERBAIK DALAM ACARA TANTANGAN DI GRUP GORESAN PENA QALBU

 

 

Lengkap sudah rasa di dada

Indah ikatan bagai keluarga

Meski hanya dalam dunia maya

Ada canda tawa bahkan suka duka

 

Hidup bagai menoreh lukisan di atas kanvas

Kemana pun kaki melangkah haruslah terarah

Menggapai mimpi untuk menjadi harapan nyata

 

Setiap peluh yang mengalir tertera makna

Lika-liku dunia nyata jadikan bahagia

Oktober ceria saatnya bersama

 

Puja doa ada dalam sukma

Jemari erat ikrarkan janji

Jalinan rasa dua insani

Duduk dalam singgasana cinta

 

 

Sragen, 15 Oktober 2020

 

 

Puisi ini sama bagusnya dengan puisi yang menjadi 3 Terbaik. Karena ada aturan tema maka hampir semua nafas puisinya sama. Lalu di mana letak kesalahannya. Letak kesalahannya adalah pada sajak bait terakhir. Dalam bentuk soneta ada sajak abba tapi dalam bentuk 4334 tidak ada.

 

Kita lihat bahwa kata “sukma, janji, insani, cinta” bersajak aiia. Kalau Niken Fajar Ningrum membaca lagi patokan menggubah bentuk 4334 pasti ia akan senyum dan bergumam “o ya, saya salah”.

 

Lalu –menurut saya- NFN tampak menyempitkan makna kata “cinta”. Mari kita ambil bait terakhirnya :

Puja doa ada dalam sukma

Jemari erat ikrarkan janji

Jalinan rasa dua insani

Duduk dalam singgasana cinta

 

 

Kalimat ini –sekali lagi menurut pendapat saya- sama sekali bukan cinta. Apa yang tersirat dalam puisi ini, terutama pada bait terakhir adalah “hasrat asmara”. Beda sekali apa yang disebut dengan cinta dan hasrat asmara. It is different between love and desire.

 

3 bait sebelumnya sudah menampakkan tema yang luas tapi menyempit pada bait terakhir.

 

Tidak banyak yang bisa membedakan mana cinta dan mana hasrat asmara. Bukan saja para pemula, penulis yang telah ubananpun ada yang masih gamang membedakannya.

 

Memang susah untuk memahami bahwa gerombolan buaya yang menerkam kawanan kerbau ketika menyeberangi sungai di Serengate (Afrika) ada cinta di dalamnya. Kebanyakan orang hanya melihat cinta pada peristiwa yang menyenangkan dirinya. Misalnya senang dan gembira ketika melihat seekor induk burung membawa belalang untuk disuapkan ke paruh anaknya. Dan sedih ketika melihat seekor ular pemanjat pohon menghampiri sarang dan menelan bulat anak burung yang ada dalam sarang.

Semuanya adalah cinta. Dan hasrat untuk memahami cinta adalah rindu.

 

Mereka yang ingin menjadi penulis sungguhan hendaknya belajar dari sekarang bagaimana mengolah rasa agar benar-benar bisa membedakan antara cinta dan hasrat asmara.

 

Dua puisi ini menampakkan beda antara cinta dan hasrat asmara.

 

BUIH PADA GELOMBANG (5)

 

Gadis buih pecah merintih di hamparan pasir

Hilang tarian hilang nyanyian

Gadis buih menangis menyesal melepas pikir

Membawa banyak rasa yang menyimpan penyesalan

 

Gelombang melukis biru hitam bayangan langit

Lukisannya pada kanvas adalah buah-buah pahit

Buih pada gelombang merenda bait-bait sakit

 

Ini jalan telah jadi tak bisa mundur

Rasa tanpa pikir berjalan tak bisa diukur

Berdirilah dengan tegar atau menunduk hancur

 

Gadis buih menimang meraba perut

Seribu harapan berubah menjadi seribu takut

Gelombang kembali membelai menimang alun

Menghempas keras mengalun lembut mengayun

 

201908081213_Kotabaru_Karawang

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.