Mengisahkan Ulang Dongeng-Dongeng sebagai Cerpen –

oleh -49 views


Sunlie Thomas Alexander *
Jawa Pos, 3 Jan 2021

Raudal Tanjung Banua mencoba menonjolkan permainan plot dalam strategi naratifnya menghidupkan pengalaman personal sekaligus kolektif atas tradisi mendongeng.

Buku cerpen terbaru Raudal Tanjung Banua, Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan (Akar Indonesia, 2020), boleh dikatakan sebagai usaha mengisahkan ulang dongeng-dongeng yang berserakan dalam khazanah tradisi lisan ke dalam bentuk sastra modern.

Jika pada kumcernya terdahulu, Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (Akar Indonesia, 2018), Raudal tampak berusaha menghamparkan setting lokasi sebagai pusat pengisahan bahkan ’’subjek utama cerita dan […] sumber cerita itu sendiri’’ sembari menggali ketegangan antara fakta dan fiksi, kali ini ia mencoba menonjolkan permainan plot dalam strategi naratifnya menghidupkan pengalaman personal sekaligus kolektif atas tradisi mendongeng. Atau, dalam kata-katanya sendiri di pengantar buku: Mengembalikan ’’kemurnian’’ plot atau alur kisah sebagaimana pada dongeng atau suasana keseharian.

Apa yang dimaksud Raudal dengan kemurnian plot?

Plot –struktur kisah, urutan peristiwa, atau story line yang dibangun berdasar prinsip sebab-akibat– dalam sebuah cerita pada dasarnya dapat dimulai atau dibuka dari mana saja. Baik secara kronologis menggunakan alur maju maupun dengan teknik flashback atau alur mundur. Atau dengan alur campuran tatkala cerita dituturkan dari tengah, dari puncak konflik (klimaks).

Puncak dari permainan alur ini, hingga kepada teknik naratifnya yang paling kompleks, barangkali dapat kita temukan dalam cerita-cerita bergenre detektif. Tapi, dalam tradisi mendongenglah kita seyogianya bersua dengan esensi cerita sebagai pelipur dan penyampai pesan. Dalam spontanitas dan keikhlasan berbagi, dalam keasyikan dan siasat sugestif, dalam kenaifan dan kemahiran menahan suspense.

Karena itu, tak heran apabila membaca Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan dengan segera kita pun seakan berjumpa kembali dengan pengalaman kita sendiri di masa kecil.

Sebagian cerita-cerita kecilnya itu, misalnya dongeng dari nenek, dari paman, dari ayah, dari orang-orang kampungnya di Surantih, Sumatera Barat, dan dari siapa saja, memang seolah-olah dikumpulkan begitu saja untuk ditulis ulang, dibiarkan tetap ’’murni’’, demikian adanya seperti ketika didengarnya semasa kanak-kanak: sebagai pengantar tidur, petuah-nasihat dan amsal-umpama, peneguh dan penghibur di masa wabah.

Namun, pada saat yang bersamaan, toh dongeng-dongeng lama ini hanyalah dimungkinkan hidup dalam cerita lain di mana author-narator hadir sebagai penghimpun dan penutur ulang mereka, yakni dalam hal ini sebagai cerita dalam cerita, cerita berbingkai, himpunan rangkaian cerita dengan kesadaran metafiksi.

’’Malam ini entah mana lebih dulu: tersebab aku tak bisa tidur lalu teringat cerita-cerita masa kecilku bersama ibu, atau aku yang teringat cerita ibu lantas tak bisa memejamkan mata? Rasanya seperti bertahun-tahun lalu: ibu yang bercerita dengan harapan supaya aku cepat tertidur, padahal dengan begitu mataku nyalang terbuka!’’ Begitulah tulis Raudal mengawali ’’Cerita-Cerita Kecil yang Tulus dan Murni dari Ibuku’’ pada halaman pertama.

Di sini Raudal bisa dibilang bertindak layaknya para sahibul hikayat, atau katakanlah –yang lebih sederhana– ibu, ayah, paman, dan orang-orang kampungnya sendiri tatkala mendongeng, beranjak dari kekinian, lalu menoleh ke belakang (flashback) dalam ingatan, lantas memulai cerita dalam ceritanya dengan semacam ’’alkisah’’ –teknik membuka kisah yang paling konvensional. Tertib rapi dan linear-kronologis.
***

Memang tidak semua dongeng Raudal dalam buku ini yang bertolak dari kesilaman itu semata-mata menjumput kisah-kisah yang tercecer, melainkan juga cerita-cerita yang dihidupkan sebagai rasa kangen atas ragam kejadian pahit-manis dalam ingatan. Itulah dongeng-dongeng kontemplatif-reflektif yang berangkat dari pengalaman keseharian sang narator di masa kanak-kanak: dari padang penggembalaan, dari keriangan bermain, dari gesekan rabab si tukang kaba, dari rasa takjub (sekaligus takut) pada alam kampung halaman yang dinaungi mitos-hikayat-amsal-umpama. Juga dari jalan-jalan yang terbentang panjang di muka rumah, atau dari gunjingan tetangga dan kabar burung.

Karena itu, kita pun menemukan bagaimana dongeng-dongeng jenis lain yang sarat dengan kritik sosial merayap di atas badan Jalan Lintas Barat Sumatera dan mengintip dari balik semak belukar lebat, atau tumbuh bercecabang di pohon-pohon yang diberi nama sekenanya oleh imajinasi kecil para bocah. Lalu, bertukar tangkap dengan cerita-cerita rakyat di Sumatera Barat. Persis seperti pantun-pantun pembuka kaba si Pirin Bana yang membuat merah muka orang kabupaten dan petinggi provinsi sehingga ia harus digotong paksa keluar dari panggung pertunjukan.

Selain itu, dalam kumcer ini terdapat dua buah cerpen yang memiliki pola ungkap agak berbeda dari cerpen-cerpen lainnya, baik dari segi tematik maupun gaya berkisah. Keduanya saya kira mengandung watak cerita detektif, yakni ’’Bersin’’ (halaman 111–121) dan ’’Kamus Cerita Abdul Muin’’ (halaman 147–158).
***

*) SUNLIE THOMAS ALEXANDER, Penulis adalah cerpenis.


Judul: Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan
Penulis: Raudal Tanjung Banua
Penerbit: Akar Indonesia, 2020



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *