MENIMBANG CANDIKALA SASTRA –

oleh -16 views


Mashuri *

Bapak dan ibu yang terhormat.
Adik-adik yang membanggakan!

Dalam senja penuh syukur ini, izinkanlah Patik yang hina-dina ini berbicara perihal yang muluk-muluk dan sundul langit. Siapa tahu dengan pembicaraan yang berbau khowasul-khowas dengan langgam suara langitan, kita dapat menapaki jalan pencarian kita pada ranah kebudayaan, wabil khusus kesusastraan, dengan takzim dan hikmat, tidak terjerembab dalam bilik wingit, penuh prasangka, dan kepongahan abad. Pasalnya, kita kini hidup dalam abad yang sulit terbayangkan sebelumnya. Sebuah ruas zaman yang tidak hanya menggoda kemanusiaan kita dengan riuh dan runtuhnya nilai-nilai yang selama ini dijadikan pegangan. Kita hidup dalam abad yang tidak saja pusat untuk lumat dan berantakan, tetapi juga tiadanya pusat. Kita pun seperti kuda yang dipaksa untuk terus berlari dan berlari, hingga hutang-hutang terlunasi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa proklamasi, sangkaan, praduga dan lain sebagainya ihwal senjakala kesusastraan sudah didengung-dengungkan pada awal milenia kedua. Bahkan beberapa penggiat sastra di Indonesia, terutama dari generasi kiwari, seringkali mengibarkan pernyataan serupa. Proklamasi itu adalah imbas dari kondisi kesusastraan di luar sana, dalam melihat perkembangan dunia kontemporer. Selain sebagai gejala yang menunjukkan bahwa kita tak dapat berpisah dari fenomena global, pernyataan itu juga sebagai ikhtiar untuk mengencangkan pikir dan akal. Ketika Mc Luhan berbicara tentang akhir era-Guitenberg, kita pun seakan terperangah bahwa sastra yang berbasis aksara dan kertas sedang menuju jurang kehancuran! Namun, di Indonesia, nujum itu seakan-akan masih pada taraf coba-coba, karena kebutuhan pada kehadiran buku dan kertas masih tetap menjadi sebuah kebutuhan primer, terutama bagi mereka yang melek literer. Namun, sungguh kita tak dapat abai pada kondisi kekinian, ketika generasi milenial memiliki dunianya sendiri yang mirip rayap bagi kertas. Generasi ini sudah berada dalam abad digital!

Repotnya, terjadi perkembangan yang timpang dalam alam generasi kekinian. Teknologi telekomunikasi canggih dan keterbukaan informasi tidak berimbas lurus terhadap pemahaman mereka pada dunia sastra. Memang sejak tahun 2000-an, sastra sudah merambah wilayah digital! Namun, bukan berarti generasi kini yang sudah menjadi warga digital mengenal dengan baik sastra dan perkembangannya. Tentu bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi bahwa generasi kini didominasi oleh generasi yang tidak melek literer. Kita dapat bertanya secara acak pada remaja kita dalam kisaran usia 17—22 tahunan untuk mengetahui sejauh mana mereka tahu tentang sastra Indonesia.

Patik tak hendak mengkhususkan bahwa gejala tersebut berlaku untuk masyarakat di luar sana, yang kalis dari situasi dan dunia akademik sastra. Di kalangan kita, yang berlabel sebagai akademisi sastra, sangat banyak dari kita yang mengalami buta sastra. Tak jarang kita menemukan mahasiswa sastra yang tidak mengerti sastra. Seringkali kita menemui mahasiswa sastra tidak tahu batas sastra dan tidak sastra. Kerapkali kita menjumpai adanya mahasiswa sastra yang ‘emang gue pikirin’ pada perkembangan sastra.

Tentu problemnya bukan satu arah tetapi sangat sangat sangat kompleks. Untuk urusan problem ini, lebih enak kalau kita melemparkannya ke lain pihak daripada kepada diri kita sendiri sebagaimana kegemaran kita untuk mencari kambing hitam. Adapun kambing hitam dalam hal ini dapat Patik tangkap dalam wujud tiga hal: Pertama, pendidikan kesusastraan dalam kurikulum kita yang gagal. Kedua, tiadanya strategi kesusastraan nasional. Ketiga, pendidikan sastra dalam masayrakat juga mengalami kebuntuan. Setelah melempar akar masalah ke lain pihak, tentu kondisi tersebut tidak mengurangi betapa kurang ajarnya kita sebagai manusia sastra. Pasalnya, sastra tertolak dari dalam diri kita yang notabene adalah akademisi sastra, juga tertolak oleh dinamika di luar kita yang dapat diistilahkan sebagai ruang yang berlari.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dunia yang berkembang mengandung kontradiksi yang mahahebat terhadap perkembangan sastra Indonesia. Begitu banyak ironi yang terjadi dalam sastra kita dan sebagian besar menganggapnya sebagai hal yang biasa. Tentu saja ironi maha ironi tersebut menunjukkan sebuah celah hebat dalam kondisi sejarah kesusastraan kita. Di tengah gerusan lintas batas media dan keacuhan manusia, tengara ihwal candikala sastra bukan hanya omong kosong semata. Bisa jadi satu kaki kita sudah merasuk di gerbang tersebut, meskipun masih banyak yang mendaku bahwa itu hanya sebuah guyonan ala tukang becak semata.

Dengan bertumpu pada hal-ihwal terkait dengan fenomena candikala sastra, perkembangan zaman mutakhir, dan sosok Chairil Anwar yang asolole, Patik akan mengajak bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat dan adik-adik yang mantab untuk merenungkan tiga hal saja sebagai oleh-oleh dari senja yang penuh syukur ini. Karena bila terlalu banyak hal untuk direnungkan, Patik khawatir acara ini tidak lagi bernama senja kesyukuran, tetapi sudah masuk ke malam syukurin lo! Dan, malam adalah sarang hantu-hantu, tempat godaan menemukan wadahnya yang tepat dan jitu.

Pertama, ihwal Chairil Anwar. Apapun alasannya, sosok almukarom satu ini, kiprah, dan sajak-sajaknya memang luar biasa! Sebagai penyair yang hanya berpendidikan MULO kelas 2, ia menunjukkan kapasitas pembelajarnya yang luar biasa. Tak dapat dibayangkan bagaimana generasi kini dapat seperti ia. Ia tidak hanya mewakili sosok generasi muda yang dapat menangkap gerak dan geliat zaman sesuai dengan semangat zamannya, tetapi memberikan banyak hal pada bangsanya yang masih ingusan. Tak heran, sajak dan kehidupannya menjadi pembahasan para sarjana dan para budayawan dari berbagai lintas-bidang. Ia selalu direaktualisasikan dalam berbagai bidang, mulai nasionalisme, filsafat, estetika, hingga yang paling mutakhir adalah kajian tentang kota.

Namun, mercu yang bernama Chairil Anwar itu telah meninabobokan kita semua. Buktinya, para pembelajar dan masyarakat hanya tahu segelintir penyair Indonesia, salah satunya adalah Chairil Anwar, selebihnya Taufik Ismail! Tanpa mengecilkan peran Chairil Anwar dalam memancangkan tonggak perpuisian modern di Indonesia, tentu mengenal penyair Indonesia hanya Chairil Anwar adalah bukti betapa sastra tidak lagi punya makna dan fungsi dalam kehidupan manusia modern Indonesia. Sic!

Tentu kondisi demikian menjadi sebuah lampu kuning yang sangat memprihatinkan. Repotnya, dalam masyarakat kita lampu kuning tidak lagi bermakna hati-hati dan waspada, tetapi bermakna semakin cepatlah kau pacu kendaraanmu, karena sebentar lagi lampu merah menyala. Pasalnya, energi sastra adalah energi kreativitas dan kebaruan. Bila kedua energi tersebut terkuras, tentu ada yang harus dibayar terkait dengan kemerosotan nilai literer sebuah bangsa yang berimbas pada kemerosotan peradaban bangsa itu sendiri. Sastra pun seperti derap kuda yang hanya berjalan di tempat dan berputar-putar semata di jalur yang sudah ada, seperti kereta kuda di alun-alun untuk pelesir semata. Atau seperti kuda-kudaan robot yang hanya mengangguk-angguk saja di depan minimarket.

Kedua, ihwal batas-batas dalam sastra kita. Sebagai sebuah sastra modern, sastra kita terbilang sangat muda. Bila kita membuka ensiklopedia dunia kita akan terhenyak karena kita mendapati entri sastra Indonesia begitu langka. Bila pun ada selalu dikaitkan dengan sastra Melayu lama. Tak heran bila banyak sekali para Indonesianis mengkaji sastra Indonesia dalam kapasitas kebangsaan dan politik semata dan sangat sedikit yang bertumpu pada teks dan puitika. Hal itu berbeda dengan sastra Nusantara yang menjulang pada masa lalu, meskipun kini juga terdampar dalam realitas yang membuat bulu kuduk meremang, mirip dengan melihat hantu pocong bangkit dari kubur.

Apalagi selama ini, kehidupan kesusastraan kita tidak dapat dikatakan sehat dan sentausa. Meskipun harus diakui meski masih berusia muda, beberapa karya yang dihasilkan melampaui usianya. Namun, demikian, sebagai sebuah tradisi kesusastraan, perkembangan sastra kita berjalan pincang. Dalam kurun waktu yang lama, telah berlangsung sebuah kehidupan sastra yang timpang. Salah satu yang paling mengemuka adalah kehidupan sastra tanpa kritik sastra!

Apalagi pada perkembangan mutakhir, ketika batas antara sastra dan tidak sastra semakin kabur, tentu hal ini menambah suasana muram pada sastra Indonesia mutakhir. Terlalu banyak penghuni liar dalam rumah tangga sastra Indonesia. Terlalu banyak penumpang gelap dalam kendaraan sastra Indonesia. Hal itu terjadi karena standarisasi sastra dan non-sastra belum terwujud secara maksimal dalam sebuah tradisi, lalu terburu-buru tergelincir ke era perayaan pandangan, yang disebut dengan meleburnya batas-batas yang seharusnya diamini bersama kehadiran adanya standar dan tonggak.

Ketiga, tanggungjawab akademisi sastra pada dunia sastra. Patik menengarai berubahnya Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya adalah tengara terpelantingnya sastra dari fokus para intelektual sastra di kampus. Perkembangan studi sastra di Barat memang mengacu pada cultural studies. Namun, ternyata hal itu juga dimakmumi oleh fakultas sastra di Indonesia raya. Sebagaimana yang sudah-sudah, pandangan baru dengan ruh emansipatoris dan dekonstruksi itu tidak diimbangi dengan pribumisasi teori. Tentu gejala kesusastraan di Barat berbeda dengan di Indonesia. Imbasnya sangat jelas pada cara perlakukan kepada sastra dan realitas kesastraan di Indonesia. Hari ini dapat dibuktikan dengan senyata-nyatanya begitu banyak mahasiswa sastra yang tidak hanya buta literer, tetapi tidak tahu tentang ukuran-ukuran sebuah teks disebut sastra dan tidak sastra. Salah pandang yang digunakan pun salah kaprah dan memandang semua tulisan sebagai artefak kebudayaan dengan menghilangkan kekhususannya dalam ranah estetika dan poetika…

Dari situlah terjadi bias yang sungguh tidak asyik. Kita seakan gagap menghadapi persoalan-persoalan tersebut sehingga bersikap seolah-olah tidak ada masalah. Kita enjoy dengan pengaburan berbagai oposisi, melubernya batas, dan lain-lainnya, sedangkan dalam satu sisi kita masih butuh standar meskipun di sisi lain kita harus melepas batas. Kita tidak sadar bahwa persoalan di di luar sana, dengan sastra yang sudah berusia ratusan tahun, urusan-urusan yang berbau literer dan nonliterer sudah usai. Begitu pula dengan masalah sastra sebagai ilmu dan sastra sebagai dunia kreatif sudah rampung. Kita di sini masih banyak pekerjaan rumah dan pekerjaan rumah itu kita buang ke kali karena kita anggap tidak penting sama sekali.

Tentu Patik tidak ingin menyesali, apalagi menangisi perubahan yang terjadi karena memang itulah kehendak zaman. Patik hanya ingin berbagi sebagai sesama manusia yang terdidik sastra dan memiliki tanggung jawab untuk menyantuni dan mengerti problem yang akut dan perlu ada perubahan dalam sikap mental dan tak segan mengenali akar-akar permasalahannya. Hal ihwal tersebut dapat saja terjadi di mana-mana, karena hari ini telah terjadi keserentakan fenomena terkait dengan pandangan-pandangan yang bersifat massal. Patik mengatakan hal-hal yang tidak enak di hadapan hadirin, karena Patik merasa kita lahir dari rahim yang sama, rahim sastra Universitas Airlangga.

Demikianlah.

Bila ada sumur di ladang
Bolehlah Patik menumpang mandi
Bila adik-adik sudah bosan
Bolehlah Patik sudahi sampai di sini
Wallahu waliyyut thariq!

MA, On Sidoarjo, 2021

[Teks pernah disampaikan sebagai pidato kebudayaan dalam acara Senja Kesyukuran, 28 Oktober 2017, di depan mahasiswa Sastra Indonesia FIB, Universitas Airlangga, Surabaya].

*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *