MENUJU DERRIDA LEWAT ARKOUN –

oleh -50 views


Mashuri

Akhirnya, saya mendapatkan buku asli Arkoun “Nalar Islam dan Nalar Modern” (INIS, 1994). Buku idola dan sangat berjasa dalam pengembaraan ngangsu kaweruh saya pada masa lalu. Wabil khusus, ketika saya sedang butuh Derrida, yang ada ‘hanya’ buku Arkoun tersebut, sehingga saya pun mempelajari Derrida, juga ihwal wacana, lewat Arkoun.

Mungkin karena itulah, sistematika pemikiran saya seringkali kacau. Namun, sesering itu pula saya mensyukurinya sebagai chaos yang nikmat. Karena kenikmatan itu pula, saya merasa berhutang pada buku setebal 300an halaman, dengan format besar ini.

Saya butuh Derrida, karena pada 1998, saya mulai menggarap skripsi dengan teori dekonstruksi. Adapun buku tentang Derrida masih alpa dari lapak pengetahuan di Indonesia. Beberapa buku pengantar menjadi penolong, seperti “Pengantar Posmodernisme” karya I Bambang Sugiharto dan “Fisafat Barat Abad XX-Perancis” karya K Bertens. Namun, keduanya terlalu ringkas dan tidak aplikatif. Ada pula kumpulan esai Emanuel Subagun “Syuga Derrida”, tapi otak saya yang kocar-kacir gak nyampai.

Alhasil, saya pun menyuntuki Arkoun —yang koleksi di perpus kampus hanya ada sebiji di rak buku agama. Karena sebiji itulah akhirnya saya tidak tega untuk meng-ghasabnya —di samping ukuran buku yang sulit untuk dimasukkan ke balik baju. Ehm. Saya juga tidak ingin memonopoli ilmu. Saya khawatir ada mahasiswa yang membutuhkannya, padahal dalam lembar pinjaman hanya mahasiswa itu-itu saja, dan saya kira mereka sudah katam.

Karena itulah, saya sering meminjamnya lama. Apa lacur, saya ingin menfoto kopinya tapi yang namanya duit terus berlari-lari. Pernah sih foto copi satu-dua lembar yang khusus berbicara tentang wacana dan Derrida. Kebetulan waktu itu, wacana dan Derrida dalam studi sastra di kampus Indonesia masih langka.

Seingat saya, ada beberapa kajian dekonstruksi dalam dunia akademik sastra waktu itu. Sebuah tesis S2 di UGM mengkaji Belenggu dari dekonstrukai Paul De Man. Saya tidak cocok karena berbeda dengan anggitan studi yang saya angankan. Dari sebuah esai A Teeuw di Jawa Pos, saya tahu disertasi Bos Faruk adalah aplikasi pengamal dekonstruksi. Sayangnya, ketika saya mencari di perpus Fakultas Sastra UGM, tidak ada salinannya.

Sungguh, masa itu adalah masa-masa sulit akses informasi dan pengetahuan. Pernah sih seorang kawan jurusan arsitektur ITS menawari saya buku “Margin of Philosofy” dari Derrida, tapi tidak jadi. Soalnya, dia sudah ngasih mukadimah yang bikin saya ngepir. Saya mendapatkan “Of Grammatology” dari senior Sony Karsono, dan sempat mengkopinya, tapi kitab itu sulitnya sundul langit, apalagi bekal filsafat dan Inggris saya compang-camping dan cingkrang.

Alhamdulillah, pada 2000–2001, saya berhasil menfoto copy buku Arkoun secara memanjang dari perpus, bukan dalam bentuk buku. Saya juga mampu menfoto copy buku S/Z Barthes dari senior, juga memanjang, dan beberapa buku lainnya. Alhasil, berbekal dengan teori dekonstruksi ramban dari sumber sekunder, terutama Arkoun, saya menyelesaikan skripsi pada 2002. Hasilnya sungguh gado-gado. Ada aroma Barthes sebagaimana dalam S/Z, ada aroma Arkoun dalam soal ideologi, ada aroma Geertz dalam soal tafsir budaya, ada aroma Foucault dalam hal wacana, dan ada aroma-aroma yang lain.

Oleh karena itu, begitu ada kawan dan pengajar yang minta saya untuk menerbitkan skripsi menjadi buku, saya malu. Tentu bukan soal ketebalannya yang lebih dari 300 halaman karena terlalu banyak nggedabrus, tetapi lebih pada ikhtiar saya yang tak tahu malu menggunakan teori-teori besar –yang paradigmanya kadang saling hadang– semau gue.

Apapun itu, mendapatkan buku Arkoun terbitan INIS, 1994, asli ini adalah sebuah berkah tersendiri. Mumpung Jumat, Dul!

On Makam Ulama Siwalanpani, 2020
Keterangan Ilustrasi: dari Mas Jemie Simatupang

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *