MODAL ORANG AWAM –

oleh -173 views


Aprinus Salam *

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal budaya, modal ekonomi, dan modal simbolik. Persoalannya, tidak semua orang sukses menabung modal-modal tersebut. Banyak sebab mengapa seseorang gagal mengakumulasi modal-modal dalam hidupnya.

Tulisan ini tidak barmakasud menjelaskan mengapa banyak orang gagal dalam mengakumulasi modal-modal dalam hidupnya. Hal itu membutuhkan penjelasan tersendiri yang cukup panjang. Jika sedikit boleh diringkas, selain kepercayaan terhadap takdir, antara lain adanya kekuasaan struktur yang “mengatur” hidup seseorang untuk tidak berkembang kelasnya. Kelas terkait dengan pemilikan modal.

Dalam pemahaman lama, struktur kuasa itu menyebabkan yang miskin tetap miskin, yang kaya bertambah kaya. Berbagai sistem yang dibangun tidak cukup membuka peluang bagi yang miskin naik kelasnya. Tentu terdapat di antaranya beberapa pengecualian. Namun, jumlah orang yang miskin dan tidak memiliki modal-modal, sangat banyak.

Kegagalan mengatasi kuasa struktur tersebut, dan dalam keadaan miskin modal, menyebabkan seseorang biasanya dimasukkan ke dalam kategori orang awam. Memang, batas dan pengertian orang awam cukup kompleks. Dalam konteks ini adalah mereka yang secara relatif tidak memiliki modal-modal yang cukup sebagai syarat untuk mendapatkan posisi sesuai dengan perbandingan hierakis dalam struktur masyarakatnya.

Dengan demikian, dalam konteks ekonomi, orang awam adalah mereka yang hidup serba pas-pasan. Dalam konteks pendidikan adalah mereka yang kurang terdidik atau tidak memiliki pengetahuan memadai. Dalam konteks sosial mereka yang tidak cukup memiliki jaringan teman. Dalam konteks politik adalah mereka yang tidak mengerti atau tidak terlibat dalam politik, dan sebagainya.

Dalam struktur yang hierarkis tersebut, sebagai orang awam, mereka harus menghormati, menyegani, atau bahkan mematuhi kepada mereka yang memiliki modal lebih besar, kepada mereka yang kedudukannya lebih tinggi. Kalau tidak patuh, orang awam bisa tidak kebagian rejeki, tidak kebagian kerjaan.

Lantas, modal apa yang masih tersisa, walau tidak diakui secara formal dan etik, agar orang awam tersebut bisa mendapatkan posisi sosial dalam masyarakatnya.

Pada sebuah pasar kecil, terdapat dua orang pemuda yang kerja sehari-hari sebagai tukang parkir. Sebagai tukang parkir, tidak ada orang yang menghargai mereka. Seseorang kemudian mengambil keputusan sering membawa pentungan ketika sedang bekerja. Sejak itu, orang tersebut sedikit dihargai dan ditakuti.

Ketika seorang pejabat lokal bertanya mengapa orang tersebut belakangan suka membawa pentungan, dengan santai orang tersebut menjawab. “Lah Bapak enak. Begitu bertemu dengan Bapak, banyak orang segan dan menghormati Bapak. Bahkan sebagian takut dengan Bapak. Lah saya, dengan membawa pentungan baru orang takut ke saya.”

Di desa saya waktu kecil, ada seorang bernama Sampah (Kebetulan panggilannya Sampah, bisa ditanyakan kepada teman-teman saya yang kebetulan tinggal di Airmolek, Riau). Sampah tidak berpendidikan, bodoh, dan pemabuk. Tapi, dia orang yang berani berkelahi. Banyak orang Airmolek yang segan dan hormat padanya.

Fakta lain, ada seseorang yang diremehkan karena penampilannya demikian sederhana. Bukan karena orangnya sederhana, tapi karena orang tersebut tidak mampu membeli barang-barang cukup bagus dan berharga. Belakangan, dia membeli beberapa barang palsu bermerek untuk dijadikan sandang atau asesoris. Semenjak itu, mulai ada yang melirik orang tersebut.

Di lain kisah, ada seorang pemuda gelandangan yang mencoba menghapal beberapa ayat suci. Dalam beberapa pembicaraan terbuka, orang tersebut mulai faseh melafazkan ayat-ayat suci. Ayat-ayat tersebut kadang dipakai untuk menjelaskan hal-hal untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Semenjak itu, beberapa orang mulai memanggilnya ustad. Bahkan masyarakat di lingkungannya mulai menghormatinya.

Ada juga kisah seseorang yang dulunya cukup pendiam dan kurang percaya diri karena dia merasa tidak memiliki apa-apa yang bisa diandalkan dalam hidupnya. Belakangan, orang itu menjadi tahu bawah berkat sosmed, ada orang tiba-tiba terkenal karena sering marah-marah dan maki-maki di media sosial.

Orang tersebut berkesimpulan, marah-marah dan maki-maki itu penting. Ia pun sekarang sering marah-marah dan memaki. Hanya karena hal-hal yang dia tidak suka dan merasa diremehkan, dia marah-marah. Tidak jarang bahkan memaki-maki dan siap berkelahi. Sejak itu, orang tesebut mulai ditakuti dan disegani.

Apa arti, paling tidak, dari lima contoh cerita tersebut. Bahwa orang awam masih memiliki modal untuk berusaha mendapatkan posisi dalam masyarakatnya. Modal tersebut antara lain modal kekerasan dan keberanian di satu sisi dan modal menyamar penampilan atau pengetahuan di sisi yang lain.

Teori tersebut perlu diklarifikasi lebih jauh karena terdapat perbedaan penting antara kekerasan, keberanian, dan penyamaran. Hal yang perlu diklarifikasi terutama soal kekerasan. Siapapun tentu tidak boleh menggunakan kekerasan. Hal yang dimaksud dengan kekerasan, keberanian, dan penyamaran di sini terutama terkait dengan pemberdayaan emosi yang mengarah pada simbol-simbol justru untuk mengatasi atau menembus batas hierarki.

Artinya, boleh-boleh saja dong masyarakat awam memperlihatkan dirinya bahwa mereka masih memiliki marah, keberanian, dan tipuan penampilan/pengetahuan, agar kehadiran mereka di dalam masyarakatnya juga diperhitungkan. Banyak hal dalam kehidupan ini perlu dilihat dari sisi mereka yang direndahkan atau mereka yang dalam strukturnya ada di bawah dan relatif diremehkan.

Yang mengherankan, ada orang yang memiliki modal segalanya, tetapi dia masih suka main kekerasan, marah-marah, dan memaki-maki. Ini sungguh orang yang menghina dirinya sendiri, orang yang tidak bersyukur, orang yang tidak mau berterimakasih pada Semesta. Padahal, kalau dia mau bertindak santun, berkata sopan dan indah, banyak orang yang dengan sukarela akan mengikuti dan menghormatinya.
***


*) Dr. Aprinus Salam, M. Hum., Sastrawan kelahiran Riau, 7 April 1965. Dosen FIB UGM, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM sejak 2013, Anggota Senat Akademik UGM 2012-2016, Konsultan Ahli Dinas Kebudayaan DIY (2013-2016). Pendidikan S1, Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM (Lulus 1992), S2 Program Studi Sastra Pasca Sarjana UGM (Lulus 2002, salah satu wisudawan terbaik), S3 Program Studi Sastra (Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora, Pascasarjana FIB UGM, lulus 2010). Alamat website https://aprinussalam.com/



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.