MUJUR

oleh -22 views


Taufiq Wr. Hidayat

Tak seorang pun yang dapat memastikan masa depan. Segalanya perihal masa depan adalah ketidaktahuan. Namun tak seorang pula dapat menjelaskan masa lalu secara detil dan benar. Segalanya perihal masa lalu adalah samar. Kabur. Dan tak bisa diutuhkan. Kebenaran masa lalu tak pernah tampil secara bulat di saat ini, melainkan selalu membutuhkan tafsir atasnya. Dan segala tafsir terhadapnya, tak lain pengertian yang senantiasa tepat pada konteksnya. Tak ada tafsir benar. Sebaliknya tak ada tafsir salah. Yang dipungut adalah “tafsir cocok”. Sebagai tafsir, ia cocok pada suatu keadaan tertentu dan tidak cocok pada keadaan yang lain. Bukan lebih pada salah atau benar.

Tetapi orang takut pada bencana. Meski sesungguhnya bencana tak lain bagian dari kehidupan. Bagi Chaplin, bencana yang di sana adalah komedi bagi yang di sini. Sehingga pada sebentang jarak, simpati dan bela sungkawa terdengar seperti pura-pura belaka, basa-basi sosial media yang diselenggarakan untuk suatu “kebutuhan formal” belaka. Rutinitas yang tak menggetarkan dada.

Konon dunia diciptakan dengan rapuh. Tetapi dengan kerapuhannya itu, ia mengandung kesempurnaan. Kelengkapannya sangat menakjubkan. Namun justru karena kelengkapannya, orang berhasrat melakukan penguasaan secara brutal. Ketimpangan pada diri dan lingkungan, menciptakan keributan. Namun apa sejatinya yang menggerakkan manusia untuk menguasai dan menggarong kehidupan secara keras kepala? Tak lain adalah banalitas. Kecongkakan diri sendiri.

Bisma sang putra Gangga, di akhir hayatnya, tak kuasa menyaksikan kehancuran dan penderitaan yang jauh lebih pedih dari ratusan anak panah yang menembus seluruh tubuhnya. Kutukan itu bukanlah bencana dan penderitaan. Tapi kutukan bagi Bisma, adalah keabadian dirinya. Kenapa dirinya tidak langsung mati saja? Kenapa baginya mati harus memilih? Pada titik ini, kutukan menyerbunya dengan hinaan. Di hadapan bencana, derita, kemelaratan, dan kepedihan nasib, suatu kemujuran hanyalah kutukan. Lantaran buat apa sebuah kemujuran, jika kemujuran tak dapat mengentaskan atau turut serta dalam penderitaan dunia? Di situ kiranya, orang yang percaya takdir, memahami anugerah kebebasan adalah yang “direlakan-Nya” bagi kehidupan.

Tembokrejo, 2021



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *