NASIB MANUSIA, SEPI JELAGA –

oleh -204 views


A. Syauqi Sumbawi *

Duduk di ruang tamu, Abdun termangu. Entah, berapa lama matanya menerawang ke arah pintu. Meninggalkan huruf-huruf dan kata-kata yang tercetak hitam di halaman buku yang sedang dibacanya. Huruf-huruf dan kata-kata, yang juga mengantarnya masuk di alam pikiran. Sementara di luar, langit malam memperlihatkan bayang-bayang samar. Malam di musim penghujan.

Halaman buku yang masih terbuka itu menyebutkan tentang pertemuan dan dialog antara Musa dan Adam. Pada satu riwayat dijelaskan bahwa Musa berkata: “Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Tetapi engkau telah mengecewakan kami, karena telah menyebabkan kami keluar dari surga.”

Adam pun menjawab: “Wahai Musa, engkau telah dipilih dan dimuliakan-Nya. Dengan kehendak-Nya, engkau dapat bercakap-cakap dengan-Nya. Apakah engkau mencelaku karena urusan yang telah ditakdirkan atasku sejak empatpuluh tahun sebelum aku diciptakan-Nya?!” –-(lihat, HR. Bukhari, no. 3407 dan HR. Muslim, no. 2652)—

Yah, keluarnya Adam dari surga, bukanlah suatu hal yang biasa, jika tidak dikehendaki-Nya. Karena boleh saja, Dia memberikan ampunan dan membiarkan Adam tetap di surga. Tidak mengeluarkannya. Atau boleh jadi, Adam dihukum dengan hukuman lain, bukan dengan menurunkannya di bumi.

Namun, itulah kehendak-Nya. Itulah hikmah-Nya yang nanti akan dikenali. Nasib manusia yang susah payah dalam kehidupan di dunia.

Abdun kembali dari pikirannya. Perlahan mengarahkan matanya ke ruang tengah. Dilihatnya si nyonya telah berdiri dengan mukena. Mungkin itulah, gambaran nasib manusia yang ditanggung setiap orang. Juga, hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sendiri dan sepi.

Gambaran nasib dan keberadaan manusia, yang agaknya juga dikemukakan dalam puisi berjudul “Prologue” karya Sapardi Djoko Damono. Pada buku berjudul “dukaMu Abadi, Sajak-sajak 1967 – 1968” (Jakarta: Pustaka Jaya, Cet.II, 1975), secara lengkap dituliskan sebagai berikut:

Prologue

masih terdengar sampai di sini
dukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
sewaktu dingin pun terdiam, di luar
langit yang membayang samar
kueja setia, semua pun yang sempat tiba
sehabis menempuh ladang Qain dan bukit Golgota
sehabis menyekap beribu kata, di sini
di rongga-rongga yang mengecil ini
kusapa dukaMu jua, yang dahulu
yang meniupkan zarah ruang dan waktu
yang capai menyusun Huruf. Dan terbaca:
sepi manusia, jelaga

***

Istilah prologue— yang juga menjadi judul puisi—, berarti pembukaan, pendahuluan, Dari semua yang ada di sana, yang (terdengar) adalah sebuah kisah tentang suatu peristiwa. Sebuah kisah yang lampau, yang disampaikan berulang-ulang dari generasi ke generasi. Kisah yang teramat penting dan selalu menjadi kaitan dari kehidupan umat manusia, Sebuah kisah pembukaan (Prologue) dari perjalanan hidup di muka bumi. Kisah yang menggambarkan historisitas universal manusia. Dan kisah itu adalah kisah Adam dan Hawa.

Tradisi agama samawi—Yahudi, Nasrani, dan Islam—menyebutkan, bahwa keduanya “jatuh” karena melanggar larangan Tuhan. Melampaui batas dan berbuat dosa, sekaligus menggambarkan keberadaan manusia yang disebut mahallu al-khatha’ wa an-nisyan. Tempatnya salah dan lupa. Tak ada satu pun manusia yang terbebas dari keduanya. Salah dan lupa yang menjadi tanda dari dosa-dosa. Barangkali, inilah nasib manusia, yang dikemukakan oleh penyair dalam ungkapan… (duka-Mu abadi).

Akan tetapi, tidak ada keburukan mutlak dari dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia. Memang, sebuah dosa bisa mendorong manusia pada kerusakan dan kehancuran. Namun, sebuah dosa juga merupakan sesuatu yang membuka pintu kesadaran manusia. Seperti Adam dan Hawa yang “turun” ke dunia, yang kemudian bersusah payah dalam penyucian diri (tazkiyaun nafs). Untuk kembali pada fitrahnya dengan penuh kesadaran.

Kira-kira inilah kisah itu, yang… masih terdengar sampai di sini/ dukaMu abadi. (…)/. Lantas, ketika seseorang merenungkan kodrat dan nasib manusia, nasib diri sendiri bersama kisah itu, mungkin dia akan menemukan dirinya berada dalam keheningan. Seperti mengalami dan merasakan suasana,…(…) Malam pun sesaat terhenti/ sewaktu dingin pun terdiam, (…)/. Juga merasakan dan mengenali keberadaan (di luar) dirinya, yaitu tentang kekuasaan-Nya, yang terbentang bersama… langit yang membayang samar//.

Langit, bumi, dan semua yang ada di antara keduanya, adalah ayat-ayat, yang selalu mengarahkan manusia kepada-Nya. Barangkali sebab itu, maka,… kueja setia, semua pun yang sempat tiba/, seperti menjelaskan bahwa dengan menyakini keberadaan-Nya, aku lirik atau seseorang akan berusaha untuk menerjemahkan satu demi satu (kueja) takdir yang diberikan, bersama keimanan.

Terlebih setelah memahami dan menyadari kisah tentang Qabil (Qain) yang tidak rela, yang benci dan hasud kepada saudaranya. Tentang kisah Isa al-Masih yang rela kepada-Nya, yang cinta kasih kepada sesama di (bukit Golgota). Hal ini diungkapkan yaitu,…sehabis menempuh ladang Qain dan bukit Golgota/. Juga,… sehabis menyekap beribu kata, di sini/ di rongga-rongga yang mengecil ini//. Setelah berusaha mencegah dari segala hal yang bisa menjadikan seseorang tidak mau menerima takdir. Dan itu adalah (beribu kata) semacam dalih keegoisan yang terus-menerus bergolak di dalam jiwa.

Kemudian pada bait terakhir, diungkapkan… kusapa dukaMu jua, yang dahulu/ yang meniupkan zarah ruang dan waktu/. Bersama keimanan, aku lirik atau seseorang berusaha menyambut takdir dari-Nya dengan ridla dan penerimaan. Takdir yang menjadi pandangan umum, telah dituliskan sejak (dahulu), bersama ditiupkannya ruh ke dalam jasad (zarah ruang dan waktu).

Yakni sebagai manusia,… yang capai menyusun Huruf. (…)/, yang pasti akan susah payah dalam kehidupan yang penuh masalah di dunia. Terutama untuk menemukan dan mengarah kembali kepada-Nya, Dari semuanya, barangkali inilah yang kemudian dipahami, yaitu …(Dan terbaca:)/ sepi manusia, jelaga//.

Sebuah pemahaman sekaligus wacana tentang keberadaan manusia yang sepi dengan takdirnya sendiri-sendiri. Kesepian manusia dalam menerjemahkan dirinya, yang ber-Tuhan, yang keberadaannya tak lain hanyalah seperti (jelaga). Ibarat butiran arang halus dan lunak, yang terjadi dari asap lampu. Hitam bersama bayang-bayang.
***


*) Ahmad Syauqi Sumbawi, sastrawan kelahiran Lamongan 28 April 1980. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, kritik, dll. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa. Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi: Dian Sastro For President; End of Trilogy (Insist, 2005), Malam Sastra Surabaya; MALSASA 2005 (FSB, 2005), Absurditas Rindu (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Laki-Laki Tanpa Nama (DKL, 2007), Gemuruh Ruh (2007), Kabar Debu (DKL, 2008), Tabir Hujan (DKL, 2010), Darah di Bumi Syuhada (2013), Pesan Damai di Hari Jumat (2019), Menenun Rinai Hujan (2019). Dan beberapa cerpennya dapat dibaca pada kumpulan: Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela, 2006), Bukit Kalam (DKL, 2015), Di Bawah Naungan Cahaya (Kemenag RI, 2016).
Sementara antologi tunggalnya: Tanpa Syahwat (Cerpen, 2006), Interlude di Remang Malam (Puisi, 2006), dan #2 (SastraNesia, Cerpen 2007). Novel-novelnya yang telah terbit: Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (2007), Waktu; Di Pesisir Utara (2008), dan “9” (2020). Sedangkan bukunya dalam proses cetak ulang “#2,” dan Limapuluh (kumpulan puisi) segera hadir. Selain menulis, juga berkebun, dan mengelola Rumah Semesta Hikmah, dengan kajian dibidang sastra, agama dan budaya, di dusun Juwet, Doyomulyo, Kembangbahu, Lamongan. Blog pribadinya: syauqisumbawi.blogspot.com



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.