Naturalisme Mistis Novel Fatah Anshori –

oleh -27 views



S. Jai *

Ana tan ana—ada karena tak ada
(kearifan lokal)

Bukan kebetulan jika kutipan yang saya petik dari cuitan pengarang besar Putu Wijaya, di twitter-nya 25 Januari 2021 lalu itu, dimaksudkan sebagai pembuka tulisan ini. Dalam pernyataan lengkapnya, Putu sang teroris mental itu sedang menegaskan ikhwal eksistensialisme.

Tulisan ini tak lain juga hendak menyoal, mempertanyakan serta mencari jawab dari semacam misteri pertanyaan di sebalik sebuah karya sastra—tepatnya novel Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Buku Russa, 2020) karya penulis muda Lamongan, Fatah Anshori.

Judul tulisan ini musti diakui mengingatkan pada sejumlah konsepsi dan teks yang selama ini bertebaran; misalkan perihal sejarah sosial, juga filsafat eksistensialisme dan sudah barang tentu tentang realisme magis. Naturalisme mistis sedikit banyak saya pungut dan adopsi dari pelbagai jejaring sejarah estetika, termasuk realisme magis di dalamnya.

Otentisitas Memahami, Memahami Otentisitas

Saya akan memulai dengan suatu pernyataan: Ada hubungan kuat, dan bahkan inhern antara kata dan bunyi, sastra dan makna, pencarian dan penemuan serta pembacaan dan penulisan.

Sastra ditulis melalui pembacaan dan pemaknaan, atau penafsiran. Demikian halnya pembacaan, tak lain adalah kegiatan pemaknaan atau penafsiran atas teks. Tinggal bagaimana menempatkan teks itu apakah sebagai kata, bahasa, bunyi, prosa ataukah teks dalam pengertian semesta realitas—teks sekaligus konteks.

Dengan kata lain, disitulah jarak baik ruang maupun waktu antara sastra sebagai suatu karya otentik pengarang, dan momen puitik-prosaik-dramatik sebagai suatu proses pembacaan, penafsiran, pemaknaan pengarang atas suatu peristiwa sehingga karya sastra perlu dituliskannya.

Sementara itu  karya sastra sebagai karya kreatif dari suatu proses pencarian dan penemuan melalui peristiwa tertentu yang menggetarkan pengarangnya, menerbitkan suatu tanya; apakah karya sastra harus bermakna?

Maka terang jawabannya adalah, harus.
Karena yang bekerja dalam tataran pemaknaan tak lain adalah penafsiran, pemahaman dengan pelbagai jejaring pengetahuan manusianya baik penulis maupun pembacanya. Jejaring pengetahuan yang dimaksud antara lain interpretasi, imajinasi, intuisi, persepsi dan lain sebagainya yang diharapkan menerbitkan pemaknaan, atau pemahaman ketika sedang melakukan pembacaan (bagi pembaca) dan momen puitik-prosaik-dramatik (bagi pengarang).

Kemudian dalam sejarah filsafat aktivitas membaca dan menulis ditelisik secara mendalam, termasuk metafisika dalam bahasa tulis dan bahasa lisan pun persoalkan—ingat perbedaan pandangan Jacques Derrida dan gurunya, Martin Heidegger perihal metafisika kehadiran.[1]

Peristiwa pembacaan, penafsiran, interpretasi atas teks oleh siapapun “manusia” inilah yang disebut Martin Heidegger dan dikutip dengan sangat baik oleh F. Budi Hardiman sebagai Seni Memahami. Sekali lagi teks yang dimaksud bisa teks apa saja, bisa berupa konteks peristiwa, maupun teks bahasa, termasuk karya sastra.

Pendek kata, bagaimana memaknai, menafsirkan dan memahami keseluruhan makna novel karya Fatah Anshori ini tergantung pada kekayaan jaring pengetahuan pembacanya. Maka, dengan demikian kehadiran buku tersebut sebagai suatu teks hasil pembacaan pengarang atas teks musti dirayakan untuk dibaca seluas-luasnya. Karena betapapun, mengadopsi ungkapan penulis besar Franz Kafka ikhwal penyair—sastrawan adalah seorang yang ‘menemui’ dan ‘menemukan’ kata. Dia tak hanya menghitung jarak bahasa yang ditemuinya dengan konvensi yang sudah ada tetapi lebih dari itu menciptakan, menemukan yang baru bermula dari pengalaman-pengalaman puitik-prosaik-dramatiknya sendiri.

Maka sudah barangtentu, novel Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya jelas memperlihatkan usaha keras pengarangnya dalam melukiskan ‘perjumpaan’ dan ‘penemuan’ itu sebagai pengalaman-pengalaman prosaiknya, usaha menyingkap dan mengungkap otentisitas dari pengalaman-pengalaman eksistensialisnya. Terang tujuannya, tak lain adalah untuk dibaca.
***

Apakah “perjumpaan” dan “penemuan” atas kata itu lantas paralel dengan pembacaan, penafsiran, pemahaman atas teks dalam prosa sejak dari ide awal hingga terciptanya sebuah karya, katakan novel–baik novel sebagai rekonstruksi, reproduksi, maupun dekonstruksi makna?

Saya akan coba periksa beberapa hal penting terkait dengan “perjumpaan” dan “penemuan” melalui sumber pertama apa yang tadi disebut-sebut sebagai otentisitas karena dengan demikian sebuah karya akan terbuka pemaknaannya—hal yang amat dibutuhkan proses kreatifnya bagi pembaca novel, sebagaimana sama persis kebutuhan pengarang ketika menuliskan karya novelnya.

Selebihnya, sudah barangtentu baru kemudian selanjutnya memeriksa ulang hal-hal yang tidak disingkapkan oleh sumber pertama, namun demikian mengemuka dalam novel tersebut, sebagai temuan baru pemaknaan bagi pembaca.

Sumber pertama yang saya maksudkan adalah perihal otentisitas. Tepatnya otentisitas karya dan otentisitas pengarang. Persisnya otentisitas pengarang melalui karya tersebut dalam hal ini novel Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya. Pengarang yang otentik akan menelurkan karya yang otentik. Sebaliknya karya yang otentik akan memperkaya ikhtiar bagaimana memahami otentisitas pengarang sebagai suatu energi eksistensial yang tentu saja amat penting untuk diserap. Sehingga dalam hal ini kedua-duanya musti diperiksa.

Dengan kata lain dua-duanya amat komplek keberadaannya, sehingga dibutuhkan kejernihan untuk “memahami”-nya pada saat secara bersama-sama bergumul, jalin kelindan dengan waktu peristiwa kehidupan sehari-hari. Ada fenomena dan tentu saja ada simbol, ada mitos, ada fakta, ada fiksi, ada realitas, ada mimpi, ada surealitas, ada faktisitas.

Heidegger menandai otentisitas itu dengan dasein (arti harfiahnya ada di sana)–faktisitas ada begitu saja dan tidak bisa ditolak, khas dan tak bisa tergantikan secara eksistensial.[2]

Sumber pertama otentisitas, sebagaimana kata Heidegger adalah “kecemasan” sebagai suasana hati yang mendasar—sebelum “campur tangan” pelbagai  pandangan dunia subjek, jauh sebelum dirumuskan pikiran. Dengan kata lain sumber pertama otentisitas yang melampaui subjek dan objek. Dengan kata lain otentisitas adalah keunikan. Unik, dalam segala hal ‘aku adalah milikku sendiri,’ yang tak bisa ditukar orang lain, yang primordial yang melampaui subjek dan objek, lalu mendunia. Dunia yang dimaksud dalam hal ini tentu saja adalah sastra, novel.

Inilah otentisitas Heidegger. Orang otentik sudah terbiasa dengan cemasnya, dengan kesendiriannya. Artinya dalam kesendiriannya pun ia tetap bening dengan dirinya. Inilah sebetulnya mistiknya; bening menatap Ada-nya. Situasi seperti itu memang sangat rohaniah. Otentik, orang yang sadar terhadap kesehariannya, sadar akan kecemasannya, kerasan dengan rasa cemasnya, kerasan dengan berbagai suasana hati yang muncul.

Yakni otentik dalam menghayati, memahami, melakoni keseharian diri maupun terhadap, di hadapan, bersama-sama otentisitas yang liyan—faktisitas lainnya.

Pertanyaan yang timbul adalah otentisitas Heidegger adalah bersumber utama dari  fenomena keseharian. Fenomenologi. Tepatnya fenomenologi tentang ada sebelum ada perjumpaan—objek/subjek, yang primordial, yang belum ada rumusan keadaannya. Lalu, bila otentisitas adalah faktisitas—“Membiarkan apa yang memperlihatkan diri itu dilihat dari dirinya sendiri dengan cara dia memperlihatkan diri dari dirinya sendiri”—kata ini saya kutip dari ceramah F Budi Hardiman, pendeknya fenomena yang menampakkan diri; apakah sesuatu, yang abstrak seperti mimpi, mitos, emosi, wahyu adalah fenomena sebagaimana tubuh atau realitas?

Menariknya fenomenologi Heidegger adalah fenomenologi eksistensial (tentang ada) yang bukan perihal benda-benda, melainkan situasi. Sehingga jawaban atas pertanyaan di atas teranglah sepanjang tentang situasi, tentang situasi ada. Dengan kata lain memahami novel Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya, karya Fatah Anshori tak lain adalah memahami/menempatkan tentang mimpi sebagai fenomena, mimpi tentang ada. Singkatnya Mimpi perihal pencarian, perjumpaan, dan penemuan tentang situasi Ada. Dengan demikian sekaligus menempatkan novel tersebut sebagai semacam stasiun, tempat pemberhentian, baik oleh pengarang maupun pembaca, penafsir. Bukan sebagai gambaran situasi pelarian keduanya.

Sebagai suatu fenomena, kata Ibnu Khaldun, mimpi terdapat di semua lapisan masyarakat dan siapa saja tanpa terkecuali, dan harus diungkapkan. Khaldun juga menguraikan “mekanika” mimpi sejak ruh hati hingga ruh rasio. Menurutnya dari ruh hati  merupakan uap yang lembut dan muncul dari bagian organ hati kemudian menyebar ke berbagai pembuluh darah dan mengalir bersama darah ke seluruh tubuh. Mimpi merupakan bentuk-bentuk dalam imajinasi ketika tidur. Tapi apabila bentuk-bentuk tersebut turun dari ruh rasio yang mempunyai daya pikir, maka inilah mimpi.[3] Adabta mekanisme kejiwaan (libido, termasuk mimpi di dalamnya) juga diimani Sigmund Freud yang membenarkan manusia sebagai mesin biologis dan mengikuti prinsip-prinsip gaya dalam mekanika Newton.[4]

Lebih lanjut, dalam memahami tentang mimpi sebagai fenomena, mimpi tentang Ada–pencarian, perjumpaan, dan penemuan tentang situasi Ada, maka gagasan utama, juga isi novel selain perihal kecemasan, cinta serta bahagia musti dipahami pula sebagai fenomenologi eksistensial, situasi ada. Perlu diketahui, kedua hal ini, cinta dan bahagia, sama sekali tak dibahas oleh Heidegger, yang hanya menitikberatkan pada suasana hati kecemasannya. Sehingga pada kesempatan pembacaan novel karya Fatah Anshori ini selain suasana hati kecemasan yang dipraktikkan dalam memahaminya, juga akan dibahas cinta dan bahagia.

Saya akan coba periksa jika kecemasan yang primordial adalah energi eksistensial dalam memahami cara berada, sebagai pra-reflektif, serta mewaktu dengan momen penyingkapan kebenaran eksistensi saat perjumpaan pembaca (penulis) dengan teks liyan, bagaimana dengan cinta dan bahagia? Bagaimana dengan cinta dan bahagia yang primordial sebagai suasana hati yang mendasar? Apakah cinta dan bahagia yang dimaksud tak lain adalah kecemasan akan cinta dan kecemasan akan bahagia yang pra-reflektif, pra-kognitif, tak verbal, kebisuan sebagaimana kemurungan-kecemasan?

Tersebab itu penting untuk memastikan kembali sumber pertama perihal tersebut; memaknai, menafsirkan, memahami, membaca, menuliskan.

Bahwa Heidegger tidaklah menafsir, tapi membiarkan yang ditafsir tampak, lalu penafsir menjumpai sendiri keyataan itu. Bahwa memahami sebagai tindakan primordial menampakkan diri adalah bereksistensi. Memahami adalah cara berada. Memahami adalah kemampuan seseorang untuk menangkap kemungkinan-kemungkinannya sendiri untuk berada. Bahwa memahami ranahnya ontologis, sesuatu yang tidak terartikulasi secara verbal dan kognitif namun mendasar. Memahami selalu terarah ke masa depan, mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan karena mewaktu, berciri proyektif, juga pra-struktur, pra-reflektif.[5]

Dan satu lagi, dalam memahami Heidegger tak melibatkan Tuhan dan Keabadian. Bahwa sesuatu yang hidup abadi, tindakan-tindakannya jadi tidak bermakna karena tidak ada horizon yang memberi makna.

Mimpi, dan Cinta yang Niscaya

Bagaimana mitos, kecemasan, mimpi, juga bahagia dalam tafsir dan pemahaman pengarang novel Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya, sedikit banyak dapat tergambar dari sinopsis berikut ini;

Di, seorang ‘bocah’ remaja siswa sebuah SMA. Di bermimpi mengejar wanita yang naik tangga ke langit. Itulah mimpi perjumpaannya dengan wanita yang sama, yang sering datang padanya. Mimpi itulah kecemasannya yang berlanjut, selain hasratnya untuk bekerja.

Latar belakang orangtuanya yang miskin menyebabkan demikian. Ayah Di petani tembakau dusun Alas Wangon. Di sendiri saban Minggu mesti ke pasar kecamatan untuk menjual kayu-kayu bakar. Ayah Di, dipecat dari kuli penggilangan padi. Sementara ibunya terjerat utang.

Di pembaca banyak buku sastra. Mulanya karya Abdoel Moeis, Putu Wijaya, Sapardi Djoko Damono, atau Marah Rusli telah dibacanya.

Suatu saat perbuatan baiknya pada Pak To–lelaki tua pemilik warung kopi–, berbuah nasib baik. Di lantas dipekerjakan di tempat tersebut, sekaligus mengawali persahabatannya dengan Ian, bocah satu sekolah dengannya. Ian gemar melukis sejak melihat lukisan Vincent van Gogh dan sehari-harinya menjadi buruh pengangkut ikan di sebuah tempat pelelangan ikan. Ian si anak pantai itu adalah musuh bebuyutan Mat—jagoan di sekolahnya—berawal dari tindakannya merusak lukisan ke 159 karya Ian yang berjudul ‘Neraka di Dalam Kelas.’

Demikanlah mula Di, juga Ian (serta Mat yang kemudian takluk pada Ian dan Di) bertekad mencari dan menemukan cinta masing-masing berawal dari petunjuk mimpi Di tersebut.

“Aku benar-benar tidak mengerti namun rasanya aku tidak bisa memungkiri, aku adalah laki-laki yang menemukan cinta melalui mimpi,” ujar Di.

Saat di tempat kos, kepada Ian, Di minta dibantu menemukan perempuan dalam mimpinya itu yang dijawab Ian dengan perintah tidur. Nah, dalam tidur itu Di, mimpi lagi tentang pertemuannya dengan perempuan yang sama dilatari peristiwa tenggelamnya Kapal Van Der Wick.

”Waktu itu aneh sekali, tidak seperti di dunia nyata. Tubuhku tidak bisa mengapung ke permukaan malah sebaliknya ia menuju ke dasar laut bagai sebuah batu, sedikitpun tak ada tanda-tanda tubuhku akan mengapung.”

Lantas Ian menyakinkan Di dan mengajaknya ke tempat yang dimaksud dalam mimpi Di. Sebelum mengawali petualangan, keduanya menghajar 10 anggota komplotan Mat. Termasuk juga kemudian dalam perjalanan ke arah Pantura harus berhadapan dengan gerombolan orang dengan sarung sebagai penutup wajah. Sebuah komplotan penjahat yang dikenal melarang korbannya untuk tertawa. Sebuah komplotan pimpinan Boni Gajah yang melegenda. Semua orang yang tinggal di sekitar Pantai Utara tahu kisah Boni–bayi jumbo yang ditemukan pasangan kakek-nenek di Gunung Ratu sepulah berdoa memohon seorang putra. Sebab itulah Boni dipercaya sebagai anak Gajah Mada.

“Ini seperti mimpi, dapat bertahan hidup setelah ditangkap gerombolan Begal.”

Selama di Pantura diceritakanlah tentang mitos kodok di masa hidup para Wali. Juga kisah bencana laut di Brondong, dan seorang perempuan yang menenggelamkan diri bersama sebuah kapal besar yang terbawa angin, karena cintanya dengan lelaki dipisahkan adat, akibat kelalaian mengadakan upacara sedekah laut yang berupa pemenggalan kepala sapi untuk dihanyutkan ke laut.

Peristiwa lain yang dialami di pantura adalah perjumpaannya dengan seorang kakek yang pernah satu penjara dengan Pramoedya dan memberinya buku Gadis Pantai. Serta tekad keduanya membebaskan Mat yang dalam bahaya ancaman preman pasar.

Kepada Mat, suatu malam Di mengisahkan mimpinya saat melihat perempuan itu ada di atas bukit dan berucap, “Aku akan menunggumu di sini, di puncak bukit ini. Jika kau ingin bertemu denganku datanglah segera.”

Seperti halnya Ian, kini giliran Mat menunjukkan tempat yang dimaksud dalam mimpi Di.

Tempat yang dimaksud adalah desa Tegal Singit, Gunung Ratu. Diceritakan, pada Di dan Ian, Mat minta untuk tak sesekali menatap mata orang-orang yang memandangimu lebih dari lima detik. Juga kisah Kamerad Lembu sosok yang menyebabkan pertumpahan darah akibat Orang Barat dan Timur bersitegang di tahun 1965. Pertemuan Di dengan perempuan itu dalam kesempatannya menunjukkanku pada sebuah peristiwa yang benar-benar menakutkan.

Di Tegal Singit, Gunung Ratu, dalam cerita Mat, terjadi banyak pembantaian. Pembantaian orang barat, lalu menyusul giliran Orang Timur atas perintah Presiden. Mat sendiri dari keluarga miskin di Timur yang dibesarkan oleh dendam turunan. Orang Timur yang kebanyakan anak para penyamun, petani miskin, penjudi, peminum, bar-bar dan masa depan yang tidak pernah jelas dan neraka adalah tempat mereka berpulang kelak. “Kau tahu, itulah fatwa Orang Barat terhadap kami yang lahir dari keluarga Orang Timur.”

Mat punya kisah cinta di masa silam dengan Mayang Dewi, putri orang disegani di Wilayah Barat. Namun keduanya dijuluki anak demit karena berkencan di bangku yang dikenal tempat melahirkan anak oleh jin. Mat satu-satunya orang Timur yang sekolah oleh dorongan Mayang Dewi. Mat berpisah dengan Mayang karena melanjutkan sekolah.

Meski berpisah dengan Mayang, darah dendam antar kampung membawa nasib Mat (dan Di), hari itu disekap orang-orang barat. Pelakunya kelompok Komar—calon pendamping Mayang. Beruntung Di dan Mat yang tersekap dibebaskan Ian.

Pencarian Di atas perempuan dalam mimpinya nyaris berakhir putus asa hingga dalam situasi ketaksengajaan, di sebuah warung Di menganali suara perempuan pelayan warung. Dialah, tak lain sang pemilik suara perempuan dalam mimpi Di, satu-satunya yang bias memecahkan misteri pencariannya selama ini.

Mat, mengenalinya sebagai Karmilah—tetangganya di waktu lalu, perempuan malang putri seorang wanita penghibur para lelaki begundal, bajingan, bromocorah, brandal dan semacamnya itu. Mat juga mengenalinya sebagai perempuan malang yang diusir penduduk Tegal Singit karena dianggap gila.

“Ia berteriak-teriak tidak jelas sambil berjalan mengitari desa dan menurut beberapa orang ia kerap membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan imajinasi-imajinasi yang tidak bisa diterima dengan akal sehat,” ungkap Mat.

Meski demikian, perempuan yang suara dan sosoknya dikenali Di melalui mimpi itu, dan yang disebut-sebut Karmilah itu, ternyata perempuan misterius. Dia mengaku hanya mirip Karmila. Dia mengaku seorang penjelajah waktu dan dimensi yang berbeda-beda. Dia mengaku telah berjumpa dengan Karmilah, dan Karmilah satu-satunya perempuan yang tahu pusaran misteri dirinya.

”Aku tidak memiliki nama, dan tidak pernah punya tempat pulang atau tujuan berhenti, mereka hanya menyuruhku untuk melompati lubang-lubang yang tercipta di udara itu yang akan membawaku ke berbagai tempat dan waktu yang berbeda-beda,” akunya.

Masih dalam pengakuannya, kepada dirinya Karmilah bercerita tentang laki-laki imajiner yang kerap menjumpainya di dalam mimpinya, lelaki yang datang menghiburnya saban kali dalam kesulitan. Karmilah, ingin sekali menemukan lelaki itu.

Dikisahkan, demi tujuan pencarian itu, Karmila bersikeras memilih jalan keabadian untuk bisa bepergian lintas waktu dan ruang, meski telah diingatkan dirinya bagai seorang musafir di tengah-tengah padang pasir; tidak tahu hendak ke mana dan harus kembali ke mana. Satu-satunya tujuan akhir hidup adalah mati, tapi tidak bagi keabadian. ”Apa apa yang terjadi jika kau tak bisa mati, dan abadi sepanjang waktu dan ruang?”

Karmilah telah memilih jalan keabadian. Sementara sudah tertutup bagi Di untuk menemukannya. Kecuali ada takdir keberuntungan—garis dari Sang Pencipta.

Perempuan misterius pelayan warung itu sendiri telah mendapatkan takdir keberuntungan, sebagaimana ditunjukkan sebuah simbol di lidahnya. Dia telah terbebas dari takdir kutukan keabadian.
Tak ada kelanjutan kisah Milah yang bisa diceritakan.

Kodrat Alam Mimpi

Ia masih berlari, dan seperti biasanya, kakinya mulai menapak udara seakan-akan ada anak-anak tangga tak terlihat yang hanya bisa ia pijaki. Sambil menapaki anak tangga demi anak tangga ia mengulurkan tangannya padaku. Dan itulah saat-saat aku harus terbangun dari mimpiku. (Hal.1)

Sejak pembuka, Novel karya Fatah Anshori ini menuntun saya untuk kembali membincang simbolisme (terkait dengan realisme/realitas tentunya) dalam sastra. Katakan sejak sastra sebagai simbol di negeri kita dikibarkan oleh pengarang Kuntowijoyo.

Manusia–subjek sastra–memahami dirinya sendiri, manusia itu sendiri sekalipun nyata dalam realitasnya, harus dengan memakai simbol. Sastra bukan sekadar representasi dari realitas, tetapi simbol. Simbol ialah penemuan dan penciptaan manusia, yang merupakan upaya spiritualnya untuk bisa hidup dalam dimensi baru dari realitas. Dengan kata lain karya sastra, produk manusia sebagai subjek sama dan paralel dengan simbol-simbol lainnya; mitos, agama, bahasa, kesenian, sejarah dan ilmu pengetahuan adalah simbol. Sastra adalah simbol yang menggunakan bahasa sebagai alatnya.

Pendeknya simbol adalah pencapaian manusia-pengarang dalam menghantarkan pengalaman nyata kepada yang lebih tinggi bagi semua. Sebuah novel adalah pencapaian itu. Sebuah novel adalah pasca realitas atau bahkan yang menolak realitas atas nama jalan menuju demensi baru.

Jauh sebelumnya, pasca realitas atau yang menolak realitas dalam sejarah estetika dipancangkan melalui manifesto simbolis (penyair Yunani Jean Moreas, 1886) berusaha melakukan penolakan terhadap sastra dan seni naturalisme yang didengung-dengungkan oleh seorang novelis ternama Emile Zola.

Kekuatan imajinasi dan fantasi dalam manifesto itu menjadi nahkodanya. Sebagai suatu gerakan sebagaimana sastrawan Charles Baudelaire, Stephane Mallarme ada di barisan itu, melakukan penolakan terhadap realisme dan terutama naturalisme. Pilotnya tak lain ambiguitas, subjektif dan misterius dari emosi, mimpi dan psike-spiritual yang dimiliki oleh manusia. Pendeknya, kepercayaan pada realitas psikologis. Singkatnya karya-karya simbolisme yang mengakomodasi mimpi-mimpi.

Charles Baudelaire, penyair besar berkebangksaan Prancis itu meneguhkan dalam Les Paradis Artificiels, bahwa realitas itu sendiri hanya ditemukan dalam mimpi. Sebab menurutnya kesadaran atas kenyataan yang lebih tinggi tidak akan ditemukan melalui kepekaan biasa atau yang sifatnya umum. Lalu di belahan dunia lain, Edgar Allen Poe menyambutnya, “Segala yang kita lihat atau yang sepertinya terlihat, tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah mimpi dan impian.”[6]

Boleh jadi sesuatu yang bisa diperdebatkan, apa dan bagaimana, perbedaan dan persamaan antara gerakan simbolisme dengan sastra sebagai simbol dari Kuntowijoyo, tapi tampaknya keberangkatan dari representasi realitaslah yang menjadi kunci. Jikapun keduanya saling melengkapi maka bagi penganutnya; sastra adalah tanda, simbol, persamaan (misal), realitas ambigu atas mimpi dan kenyataan.

Dalam simbolisme, fiksi dan realitas dengan sengaja dikaburkan. Simbol diketengahkan dan ditempatkan lebih tinggi melalui ekspresi ruang batiniahnya, khazanah primitifisme, mistisisme dan psikologi ketaksadaran dan mimpi adalah kendaraan yang sempurna untuk pencapaian visi idealistisnya. Sebab mimpi merupakan manifestasi dari bawah sadar dan gerak ruang batiniah manusia. Dengan demikian hal-ihwal mengenai sihir dan kemukjizatan, menurut kaum simbolisme dapat menjadikan mimpi menjadi realitas.

Bagaimana dengan Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya?

Aku benar-benar tidak mengerti namun rasanya aku tidak bisa memungkiri, aku adalah laki-laki yang menemukan cinta melalui mimpi. (Hal.30)

Namun ketika aku hendak mengajaknya pergi perempuan itu hanya tersenyum padaku, lantas tubuhnya berubah menjadi ribuan kunang-kunang yang segera beterbangan. Kunang-kunang terakhir terbang dari genggaman tanganku. Sementara itu air semakin naik. Di lantai satu tangis dan jeritan histeris semakin tidak terbendung. Aku segera turun dan mencoba sebisa mungkin ikut membantu para kelasi. (Hal.41)

Dan terakhir adalah insiden tenggelamnya diriku ke dasar laut. Waktu itu aneh sekali, tidak seperti di dunia nyata. Tubuhku tidak bisa mengapung ke permukaan malah sebaliknya ia menuju ke dasar laut bagai sebuah batu, sedikitpun tak ada tanda-tanda tubuhku akan mengapung. (Hal.43)

Teranglah yang real dan yang fiktif saling mengutuhkan. Begitu juga yang natural, yang mistis bercampur dengan yang abstrak maupun yang konkret. Berbagai khazanah cerita rakyat, dongeng, fantasi, mitos-mitos, narasi-narasi yang telah umum diketahui publik diekspresikan kembali secara masif.

Di sana adakah naturalisme? Simbolisme? Surealisme? Atau Realisme Magis?

Untuk mengenali sejumlah hal tersebut, membutuhkan kehadiran sejumlah nama; Carl Gustav Jung, Sigmund Freud, juga Andre Breton.

Di tataran fenomena psikologis, Jung menyebutnya energi psikis yang bersumber dari libido— jiwa dalam totalitasnya terutama dalam hubungannya dengan lingkungan yang lebih luas.[7]

Menurut Jung, jiwa sadar itu “tumbuh dari psyche bawah sadar yang lebih tua dari pada jiwa sadar, dan yang tetap berfungsi terus bersama-sama dengannya atau bahkan sebagai penggantinya.”  Oleh karena itu Jung membedakan dua wilayah psyche bawah sadar: bawah sadar pribadi yang menjadi milik individu, dan bawah sadar kolektif yang merupakan suatu strata psyche yang lebih dalam dan bersifat umum bagi semua umat manusia.

Dia memandang alam bawah sadar sebagai sebuah proses yang melibatkan “pola-pola dinamis yang ada secara kolektif” yang disebutnya sebagai arketip. Pola-pola ini yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman kemanusiaan yang terpencil, tercermin di dalam mimpi-mimpi dan motif-motif universal yang ditemukan di dalam mitos-mitos dan dongeng-dongeng di seluruh dunia.

Sejak deklarasi manifesto surealisme[8], André Breton menegakkan tonggak bahwa; surealisme mencoba meniadakan batas antara rasional dan irasional dengan mengkaji lebih dalam mengenai akal, mimpi, halusinasi, dan hasrat seksual. Para surealis mengkombinasikan automatic writing atau penulisan otomatis dengan asosiasi bebas dari gambar acak sehingga membawa mereka pada jukstaposisi (penjajaran).

Surealisme tidak memperhatikan teknik pengembangannya, tetapi lebih pada mengkaji asosiasi bebas, otomatisme, dan manifesto lain dari alam bawah sadar, seperti yang diungkapkan Breton pada manifesto surealisme pertamanya.

Melalui pendapat tersebut, surealisme merupakan otomatisme psikis murni yang digunakan untuk mengekspresikan fungsi pikiran yang sebenarnya, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Ia juga menambahkan, pikiran tersebut dituangkan secara tepat dengan meniadakan kontrol dari akal dan segala nilai estetika dan moral.

Surealisme tidak hanya diterapkan dalam seni lukis saja, tetapi juga dalam karya sastra. Seorang pengarang dapat menggunakan kedua unsur surealisme tersebut, yakni otomatisme dan asosiasi bebas, dalam menuangkan pikirannya dalam sebuah karya sastra. Melalui otomatisme atau automatic writing, pengarang membiarkan imajinasinya mengalir dengan bebas tanpa memikirkan segala hal yang dapat menghalangi imajinasi tersebut. Ditambah dengan teknik asosiasi bebas atau penciptaan bentuk lain, akan menjadi nilai estetika tersendiri bagi karya sastra.

Lalu perihal mimpi, psikoanalisa Sigmund Freud memastikan bahwa semua pikiran dan perilaku sadar adalah proses ketaksadaran yang diringkas dalam frase pikiran yang tidak sadar—akan termanifestasi dalam perilaku tidak sadar seperti keseleo lidah, kekeliruan perilaku, fantasi, serta mimpi. Dalam hal energi psikis, libido mempengaruhi sangat kehidupan seseorang hingga memunculkan perilaku tidak sadar sebagai factor utama yang pemunculan citraan surealisme.

Bila Freud memandang libido sebagai suatu dorongan insting yang terkait erat dengan seksualitas dan mempunya sifat-sifat yang mirip dengan sifat gaya dalam mekanika Newton, Jung memahaminya sebagai suatu “energy psikis” umum yang dilihatnya sebagai manifestasi dari dinamika kehidupan dasar. Jung memusatkan sepenuhnya pada aspek-aspek psikologi fenomena.[9]

Merawat Eksistensi, Melawan Lupa

Novel Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya karya Fatah Ashori lebih cenderung dekat dengan teori Jung ketimbang Freud–merupakan landasan bagi seniman surealis dalam berkarya dikarenakan atas peranan psikonalisa dalam mengungkap alam ketidaksadaran yang dimiliki manusia. Hal ini berkaitan dengan pendapat awal Freud mengenai tiga instansi psikis yang dimiliki manusia, yaitu “ketidaksadaran”, “prasadar”, dan “kesadaran”.

Struktur yang tak sadar atau ketidaksadaran (unconcious) meliputi apa yang terkena represi (proses psikis yang tak sadar di mana suatu pikiran atau keinginan yang dianggap tidak pantas disingkirkan dari kesadaran ke taraf tak sadar, termasuk di sini kecemasan). Yang prasadar (subconcious) dan kesadaran (concious) membentuk suatu sistem dan bernama Ego. Aspek prasadar meliputi mimpi, “kesalahan ucap?, dan lain- lain; sedangkan kesadaran adalah keadaan yang dimiliki manusia saat terjaga. Antara sistem tak sadar dan sadar terdapat “sensor” yang menjembatani keduanya. Batas tersebutlah yang sesungguhnya ingin ditembus oleh Breton dan kawan-kawan dalam gerakan Surealisme.

Lima teori besar Freud mengenai Keadaan Kesadaran – Pra-sadar – Ketidaksadaran Jiwa; Libido; Id Ego dan Superego; Tahap Perkembangan Psikoseksual, dan; Mekanisme Pertahanan Diri berpengaruh dalam pendidikan dan kesenian (lukis, sastra, dan film) modern. Hal-hal yang irasional, serba kebetulan menjadi lahan eksperimen dalam proses kreatif seniman. Dunia batin berisi mimpi-mimpi dan khayalan yang sebelumnya dianggap absurd dan tidak logis mendorong seniman untuk mendalami dan mencari makna di dalamnya.

Meski demikian ada pernyataan Freud yang patut digarisbawahi dalam pembacaan Novel Fatah Anshori, yakni yang terkait dengan libido. Meski tokoh-tokoh dalam novel ini mengingatkan saya akan Id, Ego, dan Superego. Bahwa asumsi Freud tentang seni adalah bahwa sublimasi libido yang tidak terpuaskan merupakan sumber inspirasi bagi terciptanya semua seni dan kesusastraan. Freud menganggap bahwa seniman menyalurkan semua seksualitas masa kanak-kanaknya dengan mengubahnya ke dalam bentuk yang sifatnya  tidak naluriah. Seniman, sebagai seorang yang memiliki bakat bawaan, dianggap sebagai orang yang dapat menghindari neurosis (gangguan jiwa yang mempunyai akar psikologis) dan perversi (penyimpangan seksual) dengan cara menyublimasi rangsangan ke dalam karya mereka.

André Breton sendiri sang Paus Surealisme mengumumkan manifestonya sebagai reaksi realisme melalui humor, mimpi, dan absurditas yang tidak logis. Tujuannya adalah penggalian secara sistematis dan studi mendalam tentang kualitas ketidaksadaran (unconcious qualities) manusia. Dengan kata kunci otomatisme psikis (psychic automatism) murni yang diungkapkan dalam alam mimpi (dream   state) yang berdampingan sejajar. Pada tahapan inilah kajian psikoanalisis Sigmund Freud tentang alam bawah sadar manusia turut berperan. Jika pada psikoanalisis Freud mimpi menjadi bagian penyembuhan, maka bagi para seniman Surealis mimpi justru  menjadi sumber imajinasi dan ekspresi. Potensi alam bawah sadar diungkapkan sepenuhnya melalui otomatisme tanpa pertimbangan rasio atau nilai estetik dan moral yang berlaku.

Terkait hal ini, apakah dalam Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya mimpi bagi pengarang benar-benar menjadi sumber imajinasi dan ekspresinya? Juga bagaimana hubungan libido, seksualitas, kemudian termasuk di dalamnya dorongan cinta terhadap lawan jenis. Tak terkecuali perihal sejauh mana otomatisme tanpa pertimbangan rasio, pelbagai asosiasi bebas menentukan dan menjadi pertimbangan estetis di dalamnya.

“Jatuh cinta hanyamembuat orang-orang tersiksa dan menderita.”
“Bodoh kau.”
“Lihat dirimu, setiap malam kau resah memikirkan perempuan di mimpimu, di kelas kau lebih banyak melamun, sampai-sampai tak menyadari penghapus papan melayang ke wajahmu, lalu anak-anak menertawaimu. Kau harusnya belajar tidak mencintai apapun!”
“Kau kira aku batu.” (Hal.55)

Satu hal lagi, Fatah Anshori, penulis novel ini adalah pembaca yang tekun untuk sastra yang disebut-sebut bergenre-gaya Realisme Magis. Karya-karya Eka Kurniawan misalnya, dan sejumlah karya sastra Amerika Latin. Pertanyaannya apakah pada Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya jejaring spirit estetika Realisme Magis mampir kesana? Untuk memastikan ini, saya membutuhkan bantuan uraian Sunlie Thomas Alexander yang meminjam sejumlah karakteristik Wendy B. Faris untuk disebut sebuah karya sebagai Realisme Magis; Irreducible Elemen (unsur yang tak tereduksi); The fenomenal world (dunia yang fenomenal); Unsetling Doubts (keraguan yang menggoyahkan); Merging realms (dunia yang bercampur-aduk); Disruption of time, space, and Identity (gangguan atas waktu, ruang dan identitas).[10]

“Jika nanti kita masih selamat aku ingin memukulmu dan perempuan itu jika ia berani muncul ke dunia nyata!” 113

“Aku hampir lupa mengatakan padamu, jika kau naik dan turun tangga di bukit ini kau wajib menghitungnya sebab kata para orang tua anak tangga di Gunung Ratu ini bisa berubah-ubah jumlahnya tidak pernah pasti. Salah satu dari kita harus ada yang menghitung, dan aku sudah menghitungnya. (Hal. 118)

Aku menganggukkan kepala. Sebagai orang normal aku mestinya merasa bersalah akan semua ini. Akulah yang meminta Mat mengantarkanku ke tempat yang mirip seperti yang kuceritakan dalam mimpiku meski kadang aku tidak yakin tempat itu benar-benar ada di dunia ini, sebab sekalipun aku tak pernah pergi ke tempat-tempat asing yang mirip dengan mimpiku. Entah bagaimana caranya itu bisa terjadi. Memang kadang dunia nyata lebih banyak menyimpan hal-hal tidak masuk akal ketimbang perkara-perkara masuk akal lain di dalam cerita-cerita fiksi. Di tubir puncak ini aku masih ingat perempuan itu berdiri di sana, kedua tangannya berpegangan pada pagar bambu sambil matanya menyisir ladang jagung di lereng bukit. (Hal.118)

Hingga akhirnya suatu hari di bulan September, Presiden mengeluarkan mandat untuk membunuh seluruh pemberontak itu. Hampir atau mungkin seluruh orang timur pendatang itu ditangkap dan dimasukkan truk, sementara orang-orang timur asli hanya beberapa orang yang ditangkap, selebihnya ditutup-tutupi oleh orang barat, hanya karena alasan masih ada hubungan darah dan kesalahan mereka tidak terlalu besar. (Hal.122)

Sejumlah pertanyaaan timbul selepas mencermati Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya kemudian menelusuri jejaring spirit genre realisme magis padanya. Katakan mengenai dunia fenomenal yang kerap kali terkait erat dengan realitas, sejarah, dunia nyata yang mendasari realisme di dalamnya. Lantas bagaimana dengan fenomena psikis berupa mimpi yang boleh dikata memiliki pengertian yang lebih mendekati igauan ketimbang sebagai fenomena dunia nyata? Boleh jadi sesungguhnya bisa dikatakan sebagai semacam intertekstualitas dalam pengertian Derrida yang menempatkan mimpi sebagai suatu teks pertama yang memungkin hadirnya fantasi, alegori, asosiasi sebagai teks yang lain.

Inilah sesungguhnya apa yang saya sebut sebagai Naturalisme Magis dalam pengertian yang baru. Perihal istilah ini, Abdul Hadi WM dalam tulisannya Taoisme: Ajaran dan Konsep-Konsep Kunci, sempat menyinggung istilah Naturalisme Mistis untuk menyebut ajaran Yang Chu, yang diduga sebagai muasal Toisme sebelum Lao Tze menulis kitab induk Tao Te Ching.[11] Dalam tulisan tersebut Abdul Hadi memang tidak memperdalam perihal Naturalisme Mistis yang dimaksud. Penyair dan pakar tasawuf itu juga tak menekankan makna alam sebagai keseluruhan-segenap semesta. Meski demikian Abdul Hadi menegaskan perbedaan antara Konfusianisme yang tak mengandung makna metafisik, dengan Taoisme yang menaruh perhatian besar terhadap persoalan metafisika dan persatuan mistikal antara manusia dengan alam. Fenomenologi-Metafisika Heidegger, saya maksudkan untuk mempertajam pandangan akan hal ini dan sedapat mungkin guna mencari dan menemukan pengertian-pemahaman yang sama sekali baru dari pembahasan saya.

Bila realisme magis menempatkan realisme sebagai spirit dasar fenomena-fenomena yang kemudian diutuhkan dengan teks-teks mistis-magis, pada Melalui Mimpi Ia Mencari Cinta yang Niscaya mimpi yang memungkinan meruang dengan fenomena yang berjejaring psike fantasi, imaji, alegori, simbolisasi justru meneguhkan naturalisme fenomena kemanusiaan. Dengan kata lain, bila sejarah estetika simbolisme, surealisme menolak atau menyeberang dari realisme-naturalisme, justru pada karya Fatah Anshori ini boleh dikata menghadapkan kembali di satu sisi naturalisme dan realisme di sisi lainnya.

Bila realisme magis menolak, melawan, memanfaatkan, atau setidak-tidaknya menggoyahkan dengan mencampur aduk pelbagai wacana postkolonial (negeri jajahan-dunia ketiga) pada karya Fatah Anshori dapat dikatakan sebagai bentuk ikhtiar perjuangannya dalam melawan lupa eksistensial, yang dengan demikian demi menggoyahkan metafisika barat. Pada titik akhir ini, utamanya Disruption of time, space, and Identity (gangguan atas waktu, ruang dan identitas) karya Fatah Anshori bersepaham dengan Realisme Magis—termasuk di dalamnya intertektualitasnya dengan pelbagai teks-teks kearifan lokal, beberapa cerita sejarah, cerita novel, meskipun perlu ditelisik lebih mendalam apakah teks-teks tersebut untuk atas nama melawan lupa, membuyarkan wacananya, ataukah dalam rangka mengaburkan yang realis-magis, natural-mistis, fakta-fiktif. Diantaranya; Cerita rakyat tentang suka duka sejoli Katak Jantan dan Betina pembawa kayu gelondongan yang ingin menikah atas restu Wali. Itu memang janji Sang Wali setelah keduanya berhasil menjalankan tugas Sang Wali. (Hal.58) ; Cerita tentang Boni Gajah orang kuat yang konon ditemukan di dekat makam ibunda Gajah Mada mulai terdengar ke telinga orang-orang desa. Mereka kemudian mengarang cerita bahwa Boni Gajah adalah anak Gajah Mada. (Hal.75)

Sebagaimana pula diperlihatkan sejumlah kutipan berikut:

“Maaf, Nak. Kami tidak bisa menyelamatkan kalian, seharusnya kalian tidak tertawa tadi. Aku lupa memberi tahu bahwa tertawa di sini adalah larangan.” Orang yang telah membuka penutup mataku, juga penutup mata Ian itu menggeleng-gelengkan kepala. “Berdoalah, semoga nasib baik masih menyertai kalian.” (Hal.64)

Enam orang tadi memang mampu melompat dari ranting ke ranting sebagaimana yang dilakukan tupai atau monyet saat sedang dikejar manusia. (Hal.68)

Dan yakin memang itu adalah kesalahan yang membuat cuaca tiba-tiba memburuk di hari-hari itu. Sebenarnya kesalahannya adalah mereka lalai belum mengadakan upacara sedekah laut yang berupa pemenggalan kepala sapi untuk dihanyutkan ke laut. (Hal.80)

Namun di antara keriuhan orang-orang panik itu tepat di atas kemudi kapal tampak seorang perempuan yang sejak tadi hanya berdiri memandang jauh ke depan, entah ia sedang memandangi apa, tidak ada yang tahu. Tapi yang pasti ia tampak paling ganjil, dari sekian banyak orang di lautan ia adalah satu-satunya perempuan yang tidak merasa panik, khawatir atau semacamnya dengan kondisi kapal yang akan tenggelam. (Hal.81)

Ia menanyakan tentang seorang perempuan yang mengenakan gaun putih seperti noni-noni Belanda. Mungkin yang dimaksud adalah perempuan yang berdiri di atas ruang kemudi kapal itu. (Hal. 82)

“Tapi kata orang-orang sekitar mereka pernah satu dua kali melihat seorang perempuan bergaun putih itu berdiri di tepi pantai pada malam-malam ketika mereka hendak melaut. Sebenarnya apa perlu kalian dengan perempuan itu?” Kakek itu terbatuk lagi. dan padangannya lurus mengarah ke debur ombak yang bergulung-gulung di bibir pantai. (Hal. 83)

Perempuan itu masih sama seperti yang kulihat sebelumnya di dalam mimpi, rambutnya terurai ke belakang, senyumnya yang tipis selalu membuatku merasa diterpa semilir angin tiap kali memandangnya. Ia juga masih mengenakan gaun putih itu. (Hal.98)

“Aku akan menunggumu di sini, di puncak bukit ini. Jika kau ingin bertemu denganku datanglah segera.” (Hal. 99)

“Jika kita sampai di tempat itu, jangan pernah menatap mata orang-orang yang memandangimu lebih dari lima detik. Apa kau mengerti?” (Hal.102)

Meski demikian, sama-sama sebagai fenomena kemanusiaan Fatah Anshori tak mendasari karyanya dengan realisme, melainkan kodrat alam mimpi, alias sesuatu yang natural bagi pengalaman manusia. Sehingga proses kreatif selanjutnya tak lebih dari ‘meniru alam mimpi.’ Lantas, apakah suatu mimpi bisa direduksi? Jawabannya: mudah. Tapi untuk apa suatu mimpi direduksi, terlebih jika untuk menciptakan estetika sastra yang konon demi kepentingan diri-kemanusiaannya, kejujuran adalah panglimanya.

Terang Fatah tengah merawat naturalisme yang menganggap apa yang spesifik manusiawi sebagai suatu perluasan semata-mata dari tata biologis, menurut prinsip-prinsip ilmu alam. Ini mengingatkan akan pendapat Freud yang kemudian dikoreksi Jung di atas. Dengan kata lain mendasari karyanya dengan kodrat alam mimpi, adalah melestarikan metafisika anti reduksionis yang dalam kosa kata Aristotelianisme; yang objektif, nyata, dan pengalaman indrawi.

Memang ini khas metafisika Aristotelianisme, sebagaimana kata Yervant Krikorian: Naturalisme berpandangan bahwa semua penjelasan pada akhirnya harus mengacu pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa dalam kerangka ruang-waktu. Sebagaimana deret kosa kata nabi naturalisme; Emile Zola; “Kenyataan apa adanya.” “benda-benda dan fenomena” “pengamatan langsung, anatomi yang akurat serta penerimaan dan penggambaran atas apa yang ada.” “Tidak ada moralitas di luar kebenaran.”[12] Pernyataan novelis besar Prancis tersebut tak lain dimaksudkan bahwa tak ada pemihakan dalam naturalism dan naturalism sudah inhern dalam diri manusia.

Fatah tak sedang mereduksi mimpinya. Fatah hanya menafsirkannya-memahaminya sesuatu hal yang bahkan ia sesungguhnya telah memiliki pemahaman sebelumnya sebagai pra-reflektif, pra struktur dalam bahasa Heidegger. Singkatnya dari mimpi, mengejar yang nyata. Tentang membuka kemungkinan-kemungkinan masa depan sebelum dibahasakan. Ketika orang bungkam, seseorang juga berbicara dalam arti eksistensial sebagai asal usul bahasa atau bahasa primordial sebelum diartikulasikan dalam bentuk kata-kata, simbol-simbol linguistik. Dan menulis baginya tak lain menjaga, merawat, eksistensinya untuk tidak jatuh dalam situasi melarikan diri sebagai obrolan-obrolan yang semakin banyak kata, semakin banyak kata-kata, semakin sedikit yang dikatakannya. Inilah perlawanan terhadap lupa eksistensial.

Kehidupan, Kematian, Keabadian

Lantas apa yang nyata, yang dikejarnya?
Jawabnya: Suasana hatinya. Kecemasannya. Cintanya. Kebahagiaannya. Hidup dan matinya.  Bukan sekadar keingintahuannya perihal misteri masa depan. Melainkan masa depan itu sendiri. Masa depan dalam pengertian di belakang hari. Masa depan dalam arti hari inilah masa depan itu. Suatu momen memahami sebagai antisipasi-mendahului waktu. Itulah momen eksistensial.

Kecemasan, sebagai suasana hati dasar dalam pengertian fenomenologi Ada—eksistensialisme Heidegger—berada satu palung tanpa dasar dengan cinta, bahagia. Mengapa? Karena ketika kecemasan, dimana seseorang merasa kehidupan sehari-harinya tidak bermakna—mengapa saya ada di dunia, mau kemana, untuk apa, apa makna hidup, pada saat terjaga, sadar dalam kesendiriannya baik kecemasan, cinta dan bahagia mengandung pengertian yang sama; bahwa aku adalah kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

Otentisitas cinta dan kebahagiaan pun, dipahami sebagai momen keseharian yang transparan ketika dapat direnungkan ke-Ada-annya, penyingkapannya, pewahyuannya. Situasi yang sudah terbiasa dalam kesendiriannya—yang mustahil ditemukan dalam kebersamaan sebagaimana kelahiran dan kematian. Penyingkapan cinta dan bahagia, keheningan dan kebeningan di dalamnya. Situasi yang sangat rohaniah, mistikal. Kenikmatan, kerasan dalam suasana hati cinta dan bahagia, sama dan saling mengutuhkan sebagaimana suasana hati kecemasan. Cinta karena cemas, cemas oleh karena cinta. Situasi seperti inilah yang menyembul, yang tersingkap dalam perjumpaan pembaca (dan penulis) dengan teks-teksnya.

Barangkali dengan membaca buku itu aku dapat menemukan tanda-tanda tentang keberadaan perempuan yang sedang ingin kucari itu. (Hal.86)

“Kesepian dan keterasingan adalah dua hal yang menakutkan. Aku juga tidak begitu mengerti tentang seni, lukisan, dan para pelukis dunia yang kerap kau besar-besarkan namanya itu. Tapi asal kau tahu dunia ini tidak hanya tentang seni dan seluruh isi mulutmu. Ada berjuta-juta orang bahkan mungkin lebih, dengan kesenangannya masing-masing, termasuk kesenangan berbuat jahat. (Hal.89)

Lantas apa yang membedakannya antara kecemasan dan cinta, bahagia.
Jawabnya; kecemasan adalah keheningan suasana hati, yang apabila lepas dari keterjagaan mistisnya, padanya akan terjatuh dalam keadaan lupa eksistensial. Lupa eksistensial dapat mengarah pada pelarian kecemasan. Sementara pada cinta dan bahagia pun demikian, baik cinta dan bahagia adalah kecemasan dalam bentuk lain sepanjang suasana hati cinta dan bahagia senantiasa terjaga secara mistis, otentis, eksistensialis. Apabila tergelincir ke dalam lupa eksistensialis baik cinta maupun bahagia lebih cepat mendapatkan pelariannya—dalam bentuk tawa, obrolan dan sejenisnya, kebahagiaan dan cinta atas dasar agama adalah salah satu bentuk pelarian di dalamnya.

Karena kedua bocah menyedihkan itu sejak tadi penasaran melihat roman wajahku yang tampak bahagia, akhirnya aku menceritakan apa yang telah terjadi. Aku telah menemukan perempuan itu, perempuan yang kerap kutemui di dalam mimpi.

“Apa kau yakin telah menemukannya, di mana? Apa aku boleh melihatnya dan akan kulukis wajahnya.” Ujar Ian yang juga tampak senang. (Hal.143)

Meski demikian, satu catatan penting saya kira, tidak pernah satupun ‘manusia’ sonder lupa eksistensial—situasi ketika ide kebeningan, terperangkap dalam pola hubungan dengan dunia piranti, dan benda-benda, obrolan dengan pelbagai kemungkinan terjadinya manipulasi, objektivasi dst. Dengan kata lain, inhern, menyatu, mengutuhkan antara ingat dan lupa, lahir (hidup) dan mati, keheningan dan kebisingan, kecemasan dan penghiburan. Kata kunci dalam melawan lupa adalah membiarkan peristiwa kehidupan eksistensial menampakkan diri, menyingkapkan diri dalam ‘pewahyuan Ada.’

Peristiwa pengutuhan ini dapat dipahami melalui; Orang harus mengalami keheningan untuk menyadari seberapa jauh kebisingan telah memerangkap kebebasannya, mati atas hidupnya, lupa demi ingatannya, pelarian untuk keberumahannya-kekerasanannya sebagai ‘manusia.’

Jadi memahami kemurungan, kecemasan, penghiburan, cinta dan kebahagiaan apakah hal itu sebagai praktis keheningan suasana hati, ataukah sebagai pelarian sebagaimana obrolan, agama, mitos, ilmu pengetahuan tergantung kepada apakah yang bersangkutan senantiasa menjaga otentisitas eksistensialisnya sehari-hati ataukah memilih lupa dan melarikan diri dari Ada-nya.

Jadi bicara tentang kematian sama dengan bicara tentang kehidupan itu sendiri. Tidak berbeda dan tidak dibedakan. Jadi sebetulnya manusia itu tidak mati sekali. Melainkan bisa berkali-kali. Tergantung kesadarannya.—kematian sebagai sesuatu yang datang bagi dirinya (hilangnya segala kemungkinan, sekaligus terpenuhinya segala kemungkinan. Ini adalah kematian.

Maka makhluk yang hidup abadi, tindakan-tindakannya jadi tidak bermakna karena tidak ada horizon yang memberi makna.

Perjumpaan Perempuan Tanpa Nama dengan Milah—gadis yang telah ditelantarkan keluarganya karena dianggap gila–” (Hal.143) adalah penyingkapan diri keduanya. Milah, putri dari seorang wanita panggilan, diusir warga Tegal Singit karena  memiliki imaji-imaji tak berakal sehat. Sedangkan Perempuan Tanpa Nama, yang memiliki kemiripan paras dengan Milah, adalah perempuan lain yang datang dari waktu dan dimensi yang berbeda.

“Beberapa saat kemudian kami berpandangan agak lama, saling mengamati masing-masing. Aku yakin ia juga heran melihat wajah kami yang serupa. Lalu ia bertanya siapa sebenarnya aku, namaku dan dari mana asalku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Aku tidak memiliki nama, dan tidak pernah punya tempat pulang atau tujuan berhenti, mereka hanya menyuruhku untuk melompati lubang-lubang yang tercipta di udara itu yang akan membawaku ke berbagai tempat dan waktu yang berbeda-beda. (Hal.150)

Milah, yang dalam kisahnya seringkali didatangi lelaki dalam mimpi ingin sekali menemukan lelaki itu, dengan cara menjadi makhluk dengan takdir keabadian yang leluasa bepergian lintas waktu dan ruang. Dalam perjumpaan itu Perempuan Tanpa Nama sudah mengingatkan Milah jika dalam takdir keabadian; tersesat di ruang waktu yang entah, semacam padang kehampaan yang akan membuat apapun yang tersesat di sana mengalami keputusasaan yang tidak tertangguhkan. Milah tetap bersikukuh ingin menjelajah ruang dan waktu hanya untuk menemukan laki-laki yang kerap menemuinya di dalam mimpi.

”..kau akan mengerti hanya mati yang bisa menghentikan semuanya, dan mungkin mati itulah sebenar-benar tujuan terakhir. Tapi apa yang terjadi jika kau tak bisa mati, dan abadi sepanjang waktu dan ruang itu masih ada. Itulah siksaan dari ras kami yang hanya segelintir.” (Hal.151)
**

Diakhir kisah, Di yang mengetahui kabar dari Perempuan Tanpa Nama bahwa Milah ingin menjelajah ruang dan waktu dan berhasrat menemukan laki-laki yang kerap menemuinya di dalam mimpi, bermaksud menemuinya. Namun sudah terlambat karena takdir keabadian Milah membuatnya tidak ada satupun cara, untuk bertemu dengannya.

“Kecuali hanya sebuah keberuntungan,” (Hal. 153) kata Perempuan Tanpa Nama yang mengaku telah terbebas dari kutukan takdir keabadian melalui ritual peralihan takdir, sekaligus terbebas dari kutukan keabadian

Novel ini tak memberi kesaksian, apakah Di kemudian melakukan pencarian, penemuan dan perburuan atas Milah yang dikisahkan menggantikan takdir keabadian dari Perempuan Tanpa Nama, ataukah kemudian menghentikan segala pencariannya menambatkan keniscayaan cintanya pada Perempuan Tanpa Nama yang telah terbebas dari takdir keabadian. Sebagai sebuah novel cerita sampai disini boleh dikata lebih dari cukup. Terlebih, bila menggaungkan kembali apa pesan Heidegger bahwa dalam obrolan, semakin banyak kata-kata, semakin sedikit yang dikatakan.

Ngimbang, Maret 2021

*) Penulis adalah peminat sastra.  Lahir di Kediri, 4 Februari 1972. Pengarang sejumlah novel. Yang terbaru, Ngrong (2019). Novelnya Kumara, Hikayat Sang Kekasih memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jatim (2012). Penerima Penghargaan Gubernur Jatim (2015), Peraih Penghargaan Sotasoma dari Balai Bahasa Jatim untuk buku kritik terbaik, Postmitos (2019).  Tinggal di Ngimbang, Lamongan.

[1] Lihat F. Budi Hardiman, Seni Memahami, PT Kanisius 2015 Hal. 291-296 Dalam menyikapi metafisika kehadiran subjek (barat) Heidegger menolak semua bahasa dan memilih bahasa puisi. Pada Derrida, mengatasi logosentrisme itu dengan praktik interpretasi tanpa dasar apapun, tanpa kehadiran subjek. Prioritas tulisan atas tuturan berarti bahwa subjek itu absen, dan teks otonom

[2] Kematian adalah momen paling otentik dan eksistensial bagi dasein. F Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian. KPG, 2016 Hal. 34

[3] Lihat Ibnu Khaldun, Mukaddimah, Cetakan Kesepuluh, Pustaka Al-Kautsar,2019 Hal. 881-883

[4] Lihat  Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban, Bentang, Cet 2, 1998 Hal. 515-518

[5] Ini review saya yang saya sarikan dari berbagai sumber; F Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian 34 KPG  2016; Lihat F. Budi Hardiman, Seni Memahami, PT Kanisius 2015; Rekaman ceramah F Budi Hardiman di Salihara 18 Februari 2014.

[6] Pernyataan seputar simbolisme ini saya kutip dari tulisan Indra Tjahyadi Simbolisme: Sebuah Hal-Ihwal, Jurnal Sastra dan Budaya Anarki Edisi 4 Tahun 2003 Hal.2-9

[7] Lihat  kembali Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban, Bentang, Cet 2, 1998 Hal. 516-518

[8] Perihal surealisme saya review dari sejumlah sumber; The Concise Oxford Dictionary of Literary Terms; https://en.wikipedia.org/wiki/Surrealism; juga tulisan Esha Tegar Putra, Surealisme Yetti A. KA, Makalah untuk Pekan Kritik Sastra, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, 14-16 April 2015.  Surealisme merupakan gerakan seni yang pertama muncul di Eropa, khususnya di Perancis, pada tahun 1924 setelah berakhirnya gerakan Dada (Dadaisme) pada tahun 1922.

[9] Lihat kembali Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban, Bentang, Cet 2, 1998 Hal. 515-518

[10] Sunlie Thomas Alexander, Memahami Jagat Jungkir-Balik Triyanto Triwikromo dalam Surga Sungsang, dalam buku Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu, Gambang Buku Budaya, 2020 Hal 61-95

[11] Saya kutipkan lengkap butir tulisan Abdul Hadi WM, dalam Taoisme: Ajaran dan Konsep-Konsep Kunci tersebut sebagai berikut: “Perkiraan bahwa orang pertama yang mengajarkan Taoisme adalah Yang Chu sebagian didasarkan pada dugaan bahwa kitab Tao Te Ching baru disusun pada abad-abad kemudian, lama sesudah wafatnya Lao Tze yang dipandang sebagai penulis kitab induk Taoisme. Tetapi beberapa sarjana seperti Creel meragukan bahwa ajaran Yang Chu benar-benar bercorak Taois, Creel sependapat dengan kebanyakan sarjana sastra Cina yang meyakini bahwa pendiri Taoisme adalah Lao Tze.” Selanjutnya: “Yang diajarkan Yang Chu hanyalah semacam naturalisme mistis, yaitu persatuan manusia dengan alam. Namun ajaran itu tidaklah lengkap sebagaimana ajaran Lao Tze. Dalam falsafah naturalismenya Yang Chu, sebagaimana Lao Tze sebelumnya, mengajarkan perlunya hidup bersahaja dan selaras dengan alam. Ia menolak hedonisme material yang merajalela pada zamannya.” Sumber: https://ahmadsamantho.wordpress.com/2009/12/05/taoisme-ajaran-dan-konsep-konsep-kunci/

[12] Selebihnya lihat Martin Suryajaya, Sejarah Estetika, Gang Kabel, Indie Book Corner 2016 Hal. 510-513



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *