OBITUARI –

oleh -195 views


: Radhar Panca Dahana (26 Maret 1965 – 22 April 2021)


Sunlie Thomas Alexander *

KUKIRA yang paling kita kagumi dari Radhar Panca Dahana di luar pemikiran dan keterlibatannya dalam banyak bidang serta karya²nya dalam sastra dan teater adalah semangatnya untuk tetap survive sekaligus keikhlasannya menjalani hidup yang tak mudah.

Bayangkan saja, Anda gagal ginjal sejak 2001 dan sejak itu harus bertahan hidup dengan cuci darah secara rutin dua kali seminggu–kemudian meningkat jadi tiga kali seminggu. Itu pun belum lagi ditambah dengan hadirnya penyakit-penyakit lain akibat efek dari gagal ginjal itu.

Hidup yang demikian, bergantung pada jarum dan obat-obatan, berapa banyak dari kita yang sanggup?

Tapi Mas Radhar jalan terus, menenteng termos berisi batu es ke mana-mana selama puluhan tahun. Tetap optimis, meski tahu betul–seperti yang pernah ia katakan kepadaku dan sejumlah kawan dulu–bahwa ia seyogianya lebih akrab dengan malaikat maut ketimbang sekian banyak orang di dunia ini. Karena itu pula, kukira ia memang telah jauh lebih siap daripada kita untuk dijemput kapan pun.

Aku berkali-kali menyaksikannya kepayahan dalam berbagai kesempatan lalu segar lagi untuk beberapa waktu selepas cuci darah. Aku pernah menemaninya dua malam di rumah pelukis Nasirun, menggantikan Faisal Kamandobat yang biasa nemani ia setiapkali ia ke Jogja. Ya, kondisinya itu menuntut ia harus selalu ditemani seseorang apabila sang istri berhalangan untuk mendampinginya. Dan pada malam setelah pameran tunggal Nasirun bertajuk “Salam Bekti” di Sangkring Art Space kala itu, kondisinya kembali memburuk, ia ambruk di atas tempat tidur. Aku menjaganya sepanjang malam, mendengar ia mengerang-erang dan menyaksikan tubuh kecilnya yang pucat pasi itu berkelojotan di atas ranjang.

Aku telah menemani mendiang kakek dan ayahku pada saat² terakhir mereka, dan menemani Mas Radhar kala itu aku seolah kembali memperoleh pengalaman serupa sekaligus berbeda. Sebab, sekali lagi, seperti saban waktu dalam kondisinya, Mas Radhar (akan) mampu melawan lalu kembali pulih sesaat usai jalani cuci darah di Sardjito.

Ia seperti tak perlu dikuatirkan.

Karenanya tidak perlu heran jika dalam kondisi “sakratul maut”-nya sepanjang waktu itu, ia terus saja menulis, menerbitkan buku, menggelar pementasan teater, baca puisi, merancang acara-acara temu sastra, hadir sebagai pembicara dalam diskusi² dan talkshow televisi, ikut terlibat dalam panel Debat Cawapres, dan terus menyebarkan pemikiran²nya ke mana-mana lewat beragam format media—sebagaimana ia terus ‘bandel’ merokok, minum kopi, dan ngobrol panjang lebar dengan kawan-kawannya hingga dinihari.

Sesekali ia akan menelepon, atau mengirimkan sms dan pesan WA kepadaku: menanyakan nama orang² atau siapa kira² yang bisa dihubungi atau diajak bekerjasama untuk kegiatan tertentu, bertanya tentang komunitas tertentu, minta nomor kontak seseorang, atau bertanya bisa nggak aku mengerjakan satu hal kecil.

Agaknya aku berjumpa secara fisik dengan Mas Radhar terakhir kali adalah saat ia meluncurkan buku-bukunya di Jogja, 2015. Ada tiga buku, tapi aku cuma menyimpan satu: “Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme”. Ketika itu, anak lelakinya Cahaya, belum lama nyantri di Pondok Pesantren Al Munawwir, Panggung Krapyak. Namun sampai 20 Desember 2020, ia masih rutin mengirimiku link-link channel Youtube-nya via WA.

Ya, tubuh kecil ringkih itu ada batasnya. Sekuat apapun ia coba bertahan, setinggi apapun gairah hidupnya. Pukul 20.00 semalam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), tempat ia menjalani cuci darah secara rutin selama bertahun-tahun, akhirnya ia lewat juga. Pada usia yang seharusnya masih tergolong muda: 56 tahun.

“Radhar,” kata Chavchay Syaifullah seperti yang dikutip Tempo, “tak hirau meskipun kondisi kesehatannya terus memburuk. Ramadan ini saja, ia masih mengisi diskusi online meski dipasang selang oksigen. Dalam keadaan tersengal-sengal, masih semangat berbicara dengan anak-anak muda.”

Berikut ini aku sertakan sebuah puisi Mas Radhar yang ditulisnya pada 1985 dan terhimpun dalam buku Lalu Waktu (1994): “Perjalanan”.

inilah arti banyak dari satu kata laknat: saat.
inilah halte kehidupan, konstanta peradaban, partikel
sebuah perjalanan; semua tumbuh sendiri semua rusak
sendiri, untuk akhirnya mati. (dan saat mengalir di situ).

inilah arti banyak dari perjalanan yang tak mampu kita
hentikan. biang keladi semua yang tak terelakkan.
tak pernah aku percaya jika hanya Tuhan dan kematian
bisa meluputkan kita darinya.
tapi, inilah arti banyak jika hidup dan peradaban baru
dari sejarah yang terbelenggu, akan kita rapikan.
dengan segenap kemurnian, tanpa lagi campur tangan
raksasa perusak itu. dan cuma ini jawabku,
“kalahkan waktu!”

***

*) Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, (lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, 7 Juni 1977), sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, DetikSport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.