Para Penulis yang Menjengkelkan –

oleh -276 views


A.S Laksana *
Jawa Pos, 15 Agu 2016

ADA sejumlah pengarang yang saya benci karena mereka keterlaluan; bukan saja karena karya-karya mereka bagus, tetapi juga karena pemikiran mereka terasa mengada-ada. Jorge Luis Borges, pengarang Argentina, adalah yang paling saya benci.

Dia terlalu pintar dan sepertinya sudah membaca semua buku sepanjang hidupnya. Sementara kebanyakan pengarang berusaha meyakinkan pembaca bahwa cerita mereka adalah ”nyata” dan masuk akal, Borges menulis cerita untuk membuat kita ragu-ragu apakah yang ditulisnya benar-benar terjadi atau tidak.

Dia menulis fiksi dengan wibawa dan otoritas seorang yang penuh pengetahuan, dengan penuturan yang dingin dan cerdas, seolah-olah dirinya sedang menyampaikan tulisan ilmiah tentang sebuah dunia yang fantastis.

Ada juga cerpennya yang mencantumkan ayat Alquran sebagai kutipan pembuka; saya yakin dia menggunakannya sebagai perangkat untuk meneguhkan ”kenyataan” yang sedang disampaikannya. Bukankah Alquran bagi orang Islam adalah kitab tentang kebenaran sejati?

Pernah dia mengulas sebuah novel dan menerbitkannya di jurnal ilmiah –dia membahas edisi kedua novel tersebut dan menyebutkan revisi di beberapa bagian– dan sejumlah orang tertarik dengan novel yang diulasnya. Mereka menelepon penerbitnya, menanyakan novel itu, dan pihak penerbit menjawab tidak pernah menerbitkan novel tersebut.

Borges memang mengulas novel yang tidak pernah ada. Dia merasa menulis novel adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Maka, ketika memiliki gagasan yang hanya cocok untuk ditulis sebagai novel, dia memilih menulis ulasannya, seolah-olah novel itu sudah terbit.

Pengarang lain yang juga ajaib cara berpikirnya adalah James Joyce. Pengarang Irlandia itu sangat menyukai Ulysses karya Homerus dan ingin memberikan judul Ulysses untuk semua cerita yang ditulisnya. Yang patut dikenang dari Joyce adalah gagasannya untuk menulis novel yang hingga seratus tahun kemudian orang tetap sulit memahaminya. Maka, lahirlah novelnya, Ulysses, dan dia diakui sebagai salah seorang penulis yang paling berpengaruh pada abad kedua puluh.

Di Meksiko ada Juan Rulfo, pengarang yang sangat dikagumi oleh Gabriel Garcia Marquez. Dia menerbitkan novel tipis berjudul Pedro Paramo, sebuah novel yang naratornya nyaris tidak melakukan apa-apa, kecuali menyampaikan kalimat-kalimat transisi. Jalan cerita novel tersebut digerakkan oleh tokoh-tokohnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Pengarang berikutnya yang sangat menjengkelkan ialah Milorad Pavic, novelis Serbia yang menulis Dictionary of the Khazars. Kita bisa merasakan pengaruh Borges pada sejumlah karyanya, tetapi dia menambahkan sesuatu yang unik dalam bentuk penceritaan.

Dengan novel pertamanya itu, yang terbit saat penulisnya berusia 55 tahun, Pavic menceritakan punahnya sebuah etnis Yahudi karena berpindah agama, yang disampaikan dalam tiga versi: Kristen, Islam, dan Yahudi. Versi bahasa Indonesia-nya berjudul Kamus Khazar, diterjemahkan dan diterbitkan beberapa tahun lalu atas inisiatif Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

Sebelum menerbitkan novel tersebut, Pavic memikirkan bentuk novel yang bisa dibaca mulai dari halaman mana saja dan diakhiri di halaman mana saja, tidak perlu dari halaman awal sampai halaman akhir. Terus-menerus memikirkan bentuk yang seperti itu, akhirnya dia menemukan juga jalan keluar: sebuah novel dalam bentuk kamus.

Kita tahu bahwa kamus, juga ensiklopedia, adalah buku yang orang bisa membacanya dari halaman mana saja dan mengakhirinya di halaman mana saja. Ketika menuliskan novelnya dalam bentuk kamus, dengan lema yang tersusun urut sesuai abjad, dia mempersilakan para pembaca untuk menikmati ceritanya seperti membuka kamus. Orang tidak perlu membaca novel itu secara linear dari halaman awal menuju halaman akhir, sama halnya dengan kita tidak harus membaca kamus urut dari halaman pertama sampai halaman penghabisan.

Juga, karena bagian demi bagian dalam novel itu disusun menurut urut-urutan abjad, susunannya bisa berubah juga ketika ia diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Penerjemahan ke dalam bahasa Jepang, misalnya, niscaya akan melahirkan susunan yang berbeda. Sebab, urutan abjadnya berbeda.

Sebelum novel itu ditulis, gagasan untuk menerbitkan cerita yang bisa dibaca dari halaman mana pun dan diakhiri di halaman mana pun tentu terasa mengada-ada. Selama ini kita mengenal novel sebagai bacaan yang harus dibaca sejak halaman pertama hingga halaman terakhir.

Kita akan kehilangan kenikmatan membaca jika langsung melompat ke bab terakhir setelah selesai membaca bab pertama, apalagi jika yang kita baca adalah cerita detektif. Kita tahu bahwa di bagian akhir penulis akan menyampaikan siapa pelaku pembunuhan, tetapi kita tidak mau langsung membaca halaman terakhir. Sebab, itu akan membuat kita kehilangan kenikmatan membaca.

Tetapi, Milorad Pavic, dengan pemikiran yang terasa mustahil diwujudkan, mencoba membuat pembaca mendapatkan pengalaman lain dalam menikmati novel. Dari gagasan yang terasa mengada-ada itu, dia melahirkan sebuah inovasi dalam bentuk penceritaan. Selain bentuknya seperti kamus, novel Kamus Khazar terbit dalam dua versi, yakni versi feminin dan maskulin. Saya membaca versi maskulinnya, yang membubuhkan pengantar ringkas: ”Ini adalah versi maskulin; versi feminin novel ini berbeda satu kata dari versi maskulinnya.”

Lama saya dibuat penasaran apa satu kata yang membedakan versi maskulin yang saya punya itu dengan versi feminin, yang tidak berhasil saya dapatkan. Lama kemudian, ketika saya sudah melupakan rasa penasaran saya, seorang teman memberi tahu bahwa perbedaannya adalah pada angin yang berembus. Pada versi maskulin, angin yang berembus adalah angin maskulin; pada versi feminin, angin yang berembus angin feminin. Itu seperti tindakan kekanak-kanakan oleh seorang tua, tetapi kreativitas memang sering mengandung unsur kekanak-kanakan.

Novel-novelnya yang lain tetap dikerjakan dengan kepedulian terhadap bentuk. Salah satunya ialah Last Love in Constantinople, disusun bab demi babnya mengikuti gambar-gambar kartu tarot. Pavic memberikan pengantar ringkas untuk novelnya: ”Novel ini bisa Anda gunakan sebagai panduan untuk meramal dengan kartu tarot, bisa juga Anda baca secara urut dari awal sampai akhir sebagai novel.”

Pavic memang orang yang suka mengada-ada dan dia, sebagaimana penulis-penulis lain yang tidak puas terhadap bentuk-bentuk penceritaan yang standar, mencoba memikirkan bentuk-bentuk baru. Tidak semuanya berhasil, tetapi kreativitas memang sering bermula dari pemikiran yang seperti mengada-ada dan terasa muskil sebelum orang berhasil mewujudkannya.

Masih ada lagi sejumlah penulis yang menjengkelkan, di antaranya Bohumil Hrabal dari Ceko. Dia menulis novel dalam satu kalimat panjang dan sampai halaman terakhir, kalimatnya tidak berakhir. Dia tidak membubuhkan satu titik pun di dalam novel itu.

Sebetulnya saya ingin melihat hal yang sama terjadi di dalam kesastraan kita serta menjumpai para pengarang yang tekun memikirkan bentuk dan sama menjengkelkannya dengan mereka.
***

*) A.S. LAKSANA, cerpenis kelahiran Semarang, 25 Desember 1968. Ia merupakan lulusan Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Buku kumpulan cerpennya Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004) terpilih sebagai buku sastra terbaik 2004 pilihan Majalah Tempo. Sementara itu, novelnya Cinta Silver (Gagas Media, 2005) difilmkan dengan judul yang sama. Buku-buku kumpulan cerpennya yang lain adalah Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu (Gagas Media, 2013) dan Si Janggut Mengencingi Herucakra (Marjin Kiri, 2015). Sedangkan buku-buku non-fiksinya yang telah terbit, antara lain Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel (Mediakita, 2007), Podium DeTik (Sipress, 1995), Skandal Bank Bali (Detak, 1999), dan Creative Writing (Banana, 2020). A.S. Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, dan Tabloid Investigasi. Selanjutnya, ia mendirikan dan mengajar di sekolah penulisan kreatif Jakarta School.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.