PARIWISATA, TRANSFORMASI BUDAYA, DAN PENGKAJIAN BUDAYA SASAK –

oleh -38 views


Djoko Saryono *

Catatan Pengantar: Saat menyiangi dan merapikan file-file yang ada di laptop, saya menemukan satu tulisan tentang pariwisata dan budaya Sasak yang saya tulis hampir tiga puluh tahun lalu ketika saya baru menikah dengan seorang gadis Sasak — dan tentu saja pariwisata Lombok belumlah maju sepesat sekarang. Tulisan itu bersifat impresif dan subjektif tentang Lombok, yang saya ketik di komputer Redaksi Koran Kampus Komunikasi IKIP Malang dalam format XT/XP (lupa). Oh ya saya pertama kali menjejakkan kaki ke Lombok awal tahun 80-an tatkala masih senang-senangnya bertualang di alam bebas. Sebab itu, tulisan ini harus dibaca dengan membayangkan Lombok 30-an tahun lalu, bahkan dalam hal tertentu 38-an tahun lalu.

1
Mengawali makalah ini, perkenankan saya bercerita:
Alkisah, sekitar 12 tahun lalu, datang seorang lelaki muda ke Lombok. Ia datang dari Jawa, dan ia membayangkan Lombok sebagai ‘negeri’ yang jauh. Bayangan sebagai sebuah ‘negeri’ yang jauh itu makin mengental selama perjalanan. Sebabnya, baginya, perjalanan itu tak selancar dan semudah di Jawa. Betapa tidak! Bus malam jurusan Malang-Mataram tak ada. Mau tak mau mesti estafet lewat Denpasar. Penyeberangan Padang Bai ke Lembar hanya dilayani satu kapal tiap hari; naasnya, ia ketinggalan kapal sehingga harus menginap di Padang Bai. Tiba di Lembar, ia pun lama menunggu angkutan jurusan Mataram, yang diketahuinya sebagai ibukota NTB. Setiba di Mataram, ia tak melihat hiruk pikuk derum mobil dan lalu lalang angkutan bermotor seramai di kotanya di Jawa. Di Cakranegara, jantung kota Mataram, yang ditemuinya Cidomo berjajar-jajar menunggu penumpang atau berjalan mengangkuti penumpang. Itu mengingatkannya pada lagu Naik Delman. Tampaknya angkutan umum di kota Mataram didominasi oleh Cidomo, sebuah angkutan sejenis delman atau dokar di Jawa yang ditarik oleh seekor kuda yang rodanya berupa ban mobil (roda mobil).

Lelaki muda itu ingin menginap di hotel. Tidak sulit baginya mencari hotel. Soalnya, jumlahnya tak terlampau banyak. Hanya beberapa saja. Ia menemukan hotel Selaparang di Cakranegara yang konon hotel terbaik di Mataram. Tapi, ia tak berminat menginap di hotel itu. Dicarinya hotel lain. Dan, ditemukannya hotel Mareje, sebuah hotel sederhana di dekat kompleks kantor Gubernur NTB. Sekitar seminggu lebih lelaki muda itu ‘bermarkas’ di Mareje, dan selama seminggu itu pula ia keliling Lombok. Disaksikannya pemandangan alam dan khazanah budaya Lombok yang diketahuinya bernama ‘negeri’ dan budaya Sasak; sebuah ‘negeri’ yang penduduk aslinya umum disebut suku atau orang Sasak yang memiliki budaya khas yang disebut budaya Sasak, yang pada masa lalu sudah biasa bersentuhan dengan manusia (orang) dan budaya lain, misalnya Bali, Jawa, Cina, Arab, dan Belanda karena faktor perdagangan dan politik.

Lelaki muda itu pergi ke Senggigi. Sungguh mengesankan dan elok, pikirnya. Dilihatnya hutan-hutan bakau memagari sepanjang pantai Senggigi yang berpasir indah kemilau ditimpa sinar matahari. Pohon-pohon kelapa menapis hutan bakau; pohonnya menjulang ke angkasa, bergerak-gerak digoyang angin laut. Laut pun tampak elok benar diisi oleh debur ombak dan perahu-perahu nelayan. Nelayan-nelayan yang ramah menambah dalam kesannya. Lebih-lebih ketika matahari senja merapat ke kaki langit Barat dan mengirimkan pendarnya ke pantai, sungguh makin bertambah elok suasana pantai Senggigi. Berhari-hari di Senggigi ia merasakan sebuah suasana yang demikian ramah, menyenangkan, dan menakjubkan; alam dan manusia Lombok. Hal yang sama dirasakannya pula ketika pergi ke pantai dan tempat lain antara lain Batu Bolong, Gili Terawangan, Mayura, Narmada, dan Sembalun.

Lombok Tengah dan Timur dikunjunginya. Perjalanan ke sini dirasakannya tak mudah juga. Jalan bergelombang dan tak beraspal harus dilewati mobil yang dinaikinya. Sesuatu yang indah justru dirasakannya, bukan sesuatu yang mengesalkan atau menjengkelkan. Arsitektur Sasak terutama berugak-berugak dirasakannya sungguh indah dan khas. Bentangan persawahan dan panorama Rinjani nikmat dipandang. Udara dirasakannya masih alamiah kendati panas menyengat. Keindahan-keindahan yang ditawarkan oleh alam, budaya, dan manusia Sasak sepanjang perjalanan ke Lombok Tengah dan Timur, pendeknya, mengalahkan segala kesusahan dan kesulitan perjalanan. Ia merasa memasuki dunia Sasak yang masih jelas dan tegas sosoknya; sebuah dunia yang mitologi dan kosmologinya belum koyak dan retak sehingga belum terjadi penurunan mutu budayanya.

Tak mengherankan, lelaki muda itu tak bosan-bosannya ke ‘negeri’ dan budaya Sasak di Lombok. Ia berkali-kali pergi ke Lombok, merasa melihat dunia Sasak meskipun bukan hanya orang Sasak yang mukim di Lombok. Tapi, setiap kali kunjungannya, dirasakannya ada sesuatu yang selalu berubah pada alam, budaya, dan manusia Sasak di Lombok. Semakin sering ia berkunjung, dilihatnya semakin banyak perubahan di alam dan dunia Sasak. Bangunan-bangunan, pantai-pantai, taman-taman, suasana-suasana, dan lain-lain berubah. Berugak dilihatnya berubah jadi bangunan batu-bata. Pantai-pantai kehilangan hutan bakau dan nelayannya. Suasana tenang dan lengang berubah hiruk-pikuk oleh kendaraan bermotor. Pendeknya, wajah dan dunia Sasak banyak sekali berubah setelah berkali-kali kunjungannya ke Lombok. Bangunan sosial budaya Sasak dirasakannya juga ikut berubah.

Lelaki muda itu kini sudah setengah baya. Sekarang makin sering ia ke Lombok. Ia sudah jatuh cinta kepada Lombok. Kadang-kadang dibayangkannya Lombok sudah menjadi ‘tanah air’nya, tak lagi sebuah ‘negeri’ yang jauh, walaupun dengan rasa gamang. Ia pun makin mengerti betapa banyak sekali yang sudah berubah di Lombok. Pantai dan hutan bakau di Senggigi sudah terkapling menjadi hotel-hotel megah, yang menurut perasaannya bukanlah milik orang Lombok atau Sasak. Kehidupan malam, sesuatu yang tak dilihatnya dulu, kini menjamur di hotel-hotel di Senggigi dan menggoda orang-orang Lombok. Nelayan-nelayan Senggigi sudah menghilang, pergi entah ke mana dan menjadi apa mereka. Jalan-jalan sekeliling Lombok sudah mulus. Tanah-tanah rakyat banyak berpindah tangan ke ‘bos-bos’ dari tempat lain yang jauh. Kuda-kuda yang menarik cidomo-cidomo sudah tergusur oleh kuda-kuda Jepang alias mobil-mobil. Biro-biro perjalanan dan hotel-hotel makin menjamur di terutama Kodya Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Orang-orang baik bule maupun sawo matang dilihatnya makin banyak keluar masuk (datang ke dan pergi dari) ‘negeri’ Sasak. Menurut statistik, jumlahnya ratusan ribu orang per tahun, dan makin lama makin bertambah. Demikian pula perilaku sosial (gaya hidup, selera makan, ketertiban di tempat umum, dan lain-lain) dan sendi-sendi budaya Sasak (nilai-nilai budaya, norma-norma etis, kesenian, adat-istiadat, dan lain-lain) dilihatnya sudah banyak berubah. Pendeknya, sedemikian banyak perubahan telah terjadi di ‘negeri’ Sasak Lombok selama sekitar 12 tahun perjalanan ulang-aliknya Lombok-Jawa.

Semua perubahan itu bermula ketika istilah pariwisata diperkenalkan di Lombok, dan memasuki khazanah bahasa, sosial, dan budaya Sasak. Dalam penglihatan lelaki muda itu, sejak pariwisata dikenalkan di Lombok berbagai perubahan berlangsung cepat sekali daripada wilayah lain. Dengan kata lain, pariwisata telah mengubah Lombok sedemikian cepat dalam banyak segi. Oleh karena itu, disimpulkannya bahwa kehadiran, watak, dan tabiat pariwisata di Lombok merupakan faktor utama dan penentu perubahan-perubahan material, kultural, sosial, religius, dan lain-lain terjadi di ‘negeri’ dan dunia Sasak. Itu berarti bahwa ‘negeri’ Sasak sudah masuk ke dalam pariwisata, bahkan di bawah bayang-bayang pariwisata. Di sinilah kosmologi dan pandangan dunia Sasak ditagih dan ditantang oleh pariwisata agar memberinya ruang hidup dan ruang bergerak.

2
Sekarang pariwisata memang sudah mencengkeram dunia Sasak atau Lombok. Lombok dapat disebut sudah memasuki era pariwisata; sebuah era yang sifatnya global dan kosmopolitan yang penuh paradoks, tapi mampu menggerakkan perekonomian dunia (tenaga kerja, modal, pajak, dan lain-lain), demikian dinyatakan John Naisbitt dalam buku barunya Global Paradox. Oleh pemerintah pusat, Lombok sudah ditetapkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia (DTW) yang perlu digarap secara serius. Oleh pemda KDH Tk. I NTB, sektor pariwisata dijadikan primadona kedua setelah sektor pertanian. Pariwisata dan pertanian diandalkan sebagai andalan Lombok. Itu berarti bahwa pariwisata sudah dijadikan paradigma pembangunan ekonomi Lombok khususnya dan NTB umumnya.

Tak mengherankan, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah, pembangunan sektor pariwisata mendapat prioritas dan perhatian besar sekali sebanding dengan sektor pertanian, bahkan mungkin lebih. Berbagai prasarana dan sarana, perangkat lunak dan perangkat keras, pariwisata dibangun dan diperbaiki. Pelabuhan Lembar dan bandara Selaparang, sebagai palang pintu wisatawan terutama mancanegara, terus dikembangkan dan ditingkatkan mutunya. Bahkan direncanakan pula pembuatan bandara baru bertaraf internasional untuk memudahkan wisatawan mancanegara langsung ke Lombok. Jalan-jalan diperbaiki dan dibangun untuk menembus berbagai objek wisata. Hotel-hotel dan biro-biro perjalanan didorong pertumbuhannya. Peraturan yang menopang dan memudahkan berkembangnya sektor pariwisata diputuskan dan diundangkan. Bermacam-macam objek wisata, misalnya wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah, dikembangkan oleh pemerintah dengan merangkul pihak swasta. Wahasil perkembangan fisikal dan administratif yang menyangga keberhasilan pariwisata di Lombok sangat pesat. Tak aneh, banyak promosi dan reportase pariwisata Lombok menonjolkan keberhasilan-keberhasilan ini.

Kepesatan perkembangan tersebut di atas sudah tentu membawa berkah bagi pemerintah dan masyarakat. Bagi pemerintah, sektor pariwisata mampu meningkatkan penerimaan pemerintah atau PAD, membuka lapangan kerja, mengembangkan wilayah Lombok, menggairahkan perekonomian, mempercepat proses monetesi perekonomian Lombok, membuka isolasi daerah-daerah di Lombok dan Lombok sendiri, dan lain-lain. Bagi masyarakat, sektor pariwisata telah meningkatkan pendapatan, membuka peluang kerja, memungkinkan bergerak lebih luas (mobilitas sosial), memberikan peluang untuk melakukan penganekaragaman (diversifikasi) kegiatan dan kerja, mendapatkan kemudahan-kemudahan untuk berhubungan dengan dunia luar, dan lain-lain. Pendeknya, secara ekonomis, geografis, dan sosio-ruang pariwisata telah mendatangkan banyak maslahat bagi pemerintah daerah dan masyarakat Lombok. Ia, pariwisata itu, bagaikan vitamin baru yang memberi energi bagi Lombok.

Janganlah lupa bahwa perubahan ekonomis, geografis dan sosio-ruang selalu disertai oleh perubahan sosial, kultural, dan religius, bahkan makan ongkos sosial, religius, dan kultural. Dan, hal ini dapat saksikan pula di Lombok. Kohesi sosial masyarakat Sasak makin melonggar, setidak-tidaknya yang saya kesani demikian. Etos kerja generasi muda Sasak terkesan melemah. Mereka terkesan kurang mampu mengantisipasi dan menjadi ‘pemain utama’ dalam kancah pariwisata. Norma-norma sosial lama (Sasak) makin tak fungsional: lihatlah betapa ironisnya seseorang yang sangat sopan santun di rumah bisa kebut-kebutan di jalan raya dan berlaku-lagak (mejeng) di depan Mataram Plaza. Struktur sosial dan pelapisan sosial masyarakat Sasak juga berubah: muncul dan tumbuh kelas sosial baru. Pekerjaan pun demikian: jenis dan struktur pekerjaan bertambah banyak terutama yang terkait dengan sektor pariwisata. Demi pariwisata, kesenian dipadatkan dan dikemas sedemikian rupa. Kekayaan ragam bahasa Sasak (yang jumlahnya puluhan) juga berkurang akibat makin banyak generasi muda berbahasa ‘gaya’ Jakarta. Tradisi sastra Sasak, yang demikian kuat dan kaya khazanahnya, terputus atau praktis tidak lagi berlanjut. Nilai-nilai tradisi Sasak banyak yang mengalami pelapukan atau perapuhan di hadapan ‘raksasa’ pariwisata: upacara Bau Nyale beserta nilai tradisinya sudah jauh berubah fungsi, misalnya. Arsitektur Sasak semakin menghilang: kurang mampu bertransformasi seperti arsitektur Minang, Jawa, dan Bali. Demi pariwisata, dibuatlah lokalisasi arsitektur beserta masyarakat Sasak penghuninya dengan istilah cagar budaya; yang menurut reportase suratkabar Kompas bukannya mencerminkan ketahanan arsitektur dan masyarakat Sasak, melainkan mengesankan kemiskinan (lihatlah Sade di Lombok Tengah). Tradisi-tradisi religius yang kaya tampak menghilang satu demi satu di kalangan generasi muda. Jadi, pariwisata Lombok yang telah mengubah sendi-sendi ekonomis, geografis, dan sosio-ruang Lombok menyebabkan berubahnya berbagai sendi sosial budaya Sasak termasuk serat-serat nilai budaya Sasak.
Dalam kondisi demikian jelas budaya Sasak menjadi subordinat pariwisata di Lombok. Pariwisata yang perspektifnya ekonomis berposisi dominan dan menjadi agen perubahan. Budaya Sasak yang berposisi subordinat menjadi pasien perubahan. Posisi seperti ini jelas merugikan sebab manusia atau masyarakat Sasak akan kehilangan kosmologi dan pandangan dunia yang dihidupi oleh budaya Sasak, sehingga pada akhirnya mereka pun menjadi pasien perubahan. Sebagai pasien, jelas budaya Sasak tidak dapat memberi daya hidup kepada orang Sasak. Dengan kata lain, karena budaya Sasak tidak lagi mampu memberi dan menjaga kosmologi dan pandangan dunia Sasak yang memberikan daya hidup, maka masyarakat Sasak menjadi pasien sebuah perubahan. Dan, kita sebenarnya menyaksikan hal itu. Lihatlah, nelayan-nelayan yang kehilangan pekerjaan dan tak mampu memasuki sektor pariwisata. Masyarakat kehilangan tanah-tanah berharganya dengan imbalan simbol-simbol modernitas (teve, mobil, sepeda motor, supermarket, dan lain-lain) yang makin lama makin rusak. Tampaknya, hanya sebagian kecil masyarakat Sasak yang mampu atau berhasil memasuki sektor pariwisata. Kebanyakan sebenarnya dapat dikatakan belum berhasil memasuki era pariwisata. Hal itu setidaknya dapat dilihat pada tidak banyaknya orang Lombok yang bekerja di hotel, mengendalikan hotel, biro perjalanan, dan jaringan arus wisatawan. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat masih berada di pinggiran dalam era pariwisata di Lombok. Semua itu menunjukkan bahwa budaya Sasak belum siap menghidupi sebuah ‘dunia Sasak’ yang dihadiri oleh pariwisata, di samping pertanian, dalam paradigma nasionalitas dan globalitas.

Hal tersebut perlu diatasi. Harus dilakukan upaya agar pariwisata di Lombok dan budaya Sasak dapat berhubungan saling menguntungkan sehingga keduanya bisa memberikan maslahat dan mengembangkan masyarakat atau manusia Sasak atau Lombok. Penyesuaian-penyesuaian dan pelarasan-pelarasan hubungan antara pariwisata dan budaya Sasak perlu diupayakan. Untuk itu, diperlukan transformasi budaya Sasak. Transformasi budaya Sasak ini dimaksudkan agar budaya Sasak mampu menyambut dan menanggapi kehadiran, tabiat, dan watak pariwisata di Lombok seca-tegar, tegas, dan mantap sehingga pariwisata tidak menjadi determinan budaya Sasak, melainkan ekspresi budaya Sasak; dan budaya Sasak dapat menjadi pedoman, penuntun, pemandu, tolok ukur, acuan, dan norma pengembangan dan perkembangan pariwisata di Lombok.

Transformasi budaya Sasak sebenarnya merupakan kodrat budaya Sasak sendiri sebab tanpa ciri transformatif, budaya Sasak akan kehilangan fungsinya, bahkan bisa mati. Pada masa lalu, tampak ciri transformatif itu dimiliki budaya Sasak ketika bertemu dengan budaya Bali, Jawa, dan agama Islam. Masalahnya sekarang, apakah transformasi budaya Sasak untuk menyambut dan menanggapi pariwisata dibiarkan berlangsung secara alamiah ataukah justru perlu dicampurtangani oleh manusia. Dengan kata lain, transformasi budaya Sasak perlu dikelola atau tidak? Jelaslah bahwa transformasi budaya Sasak perlu direncanakan dan dikelola oleh masyarakat Sasak atau Lombok. Membiarkan transformasi budaya Sasak berlangsung alamiah dapat memakan ongkos waktu lama dan ongkos sosial budaya yang besar. Dengan direncanakannya dan dikelolanya transformasi budaya Sasak berarti dapat ditentukan (i) ke mana arah perubahan budaya Sasak dalam era pariwisata, (ii) sendi dan serat budaya Sasak apakah dan manakah yang perlu berubah dalam era pariwisata, (iii) bagaimanakah perubahan budaya Sasak itu dilangsungkan dalam era pariwisata, (iv) seberapa cepatkah perubahan budaya Sasak harus berlangsung dalam era pariwisata agar tidak menimbulkan gegar budaya, ketertinggalan budaya, disorientasi, anomali, dan involusi dalam masyarakat Sasak atau Lombok, dan (v) faktor-faktor budaya apakah yang menentukan perubahan budaya Sasak sehingga dapat mendorong reintegrasi, reorganisasi, reorientasi, reformasi, dan kontinuitas budaya? Di samping itu, timbul pertanyaan pula: (i) apakah falsafah transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata, (ii) apakah prinsip-prinsip dasar transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata, dan (iii) apakah strategi transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata. Pertanyaan-pertanyaan ini kiranya layak diperhatikan dalam mengelola transformasi budaya Sasak.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan suatu pengkajian budaya Sasak. Dengan kata lain, pengkajian budaya Sasak diperlukan untuk merumuskan dan mengelola transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata sehingga mampu menjadi penuntun, pedoman, pemandu, pengendali, tolok ukur, acuan, dan norma pariwisata, dan menjadi agen perubahan dan kesinambungan (kontinuitas) budaya Sasak dalam era pariwisata. Di sinilah budaya Sasak dapat berperan sebagai paradigma atau wawasan pariwisata. Tanpa transformasi kiranya sulit budaya Sasak dapat menjadi paradigma atau wawasan pariwisata. Mengapa demikian? Sebab, pada dasarnya budaya Sasak adalah budaya agraris yang menghidupi dunia pertanian; padahal pariwisata merupakan sebuah industri yang berkembang dari budaya industri dan informasi.

3
Pengkajian budaya Sasak bukanlah pekerjaan mudah, yang segera dapat dikerjakan dan diselesaikan. Mengapa demikian? Banyak hal perlu dipersiapkan dan disediakan. Pada dasarnya, ada tiga hal penting perlu dipersiapkan dan disediakan, yaitu (i) sumber daya insani yang menjadi tulang punggung pengkajian, (ii) wadah yang mengoordinasi dan menangani pengkajian, dan (iii) perangkat lunak (peta masalah, teori, dan metodologi) pengkajian. Siapakah yang melakukan pengkajian budaya Sasak? Sipakah yang akan merumuskan, merencanakan, mengkoordinasi, dan menangani pengkajian budaya Sasak? Apakah wadah yang digunakan untuk merumuskan, merencanakan, dan mengelola pengkajian budaya Sasak? Bagaimanakah permasalahan (peta dan program) pengkajian budaya Sasak dalam era pariwisata? Apakah perangkat teori yang membantu dan menunjang jalannya pengkajian yang cocok dan gayut (relevan) dengan proyek pengkajian budaya Sasak da-lam era pariwisata? Apa pula metodologi yang perlu digunakan untuk pengkajian supaya pengkajian budaya Sasak sahih dan terandal sehingga dapat digunakan untuk merumuskan pengelolaan transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata?

Sumber daya insani yang menjadi pengkaji dan pembantu-pengkaji budaya Sasak, menurut hemat saya, menjadi masalah serius. Pertama-tama karena kalangan ilmuwan sosial tidak banyak yang menaruh perhatian pada budaya Sasak di Lombok sehingga kajian dan publikasi mengenai budaya Sasak masih terbatas sekali. Bahkan lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Lombok masih kurang memberikan perhatian memadai terhadap pengkajian budaya Sasak. Dalam hubungan ini, menurut kesan saya, kalangan terdidik atau terpelajar Sasak (atau Lombok) tak banyak yang menerjunkan diri atau menaruh perhatian besar di bidang pengkajian budaya Sasak. Kebanyakan mereka memasuki birokrasi dan berbagai sektor pemerintahan demi kemapanan hidup: kegelisahan intelektual tidak tumbuh dengan baik. Oleh sebab itu, pengembangan (baik jumlah maupun mutu) sumber daya insani ini perlu dilakukan oleh semua pihak di Lombok baik pemerintah maupun lembaga pendidikan dan swasta.

Wadah yang dipakai untuk merencanakan, merumuskan, dan mengelola pengkajian budaya Sasak perlu pula dipikirkan. Memang, sekarang sudah ada organisasi dan lembaga yang mengkaji segi-segi tertentu budaya Sasak, misalnya LSM dan lembaga atau pusat penelitian di beberapa perguruan tinggi di Lombok. Akan tetapi, wadah-wadah ini tampaknya kurang saling berkomunikasi, berkoordinasi, dan bekerja sama untuk satu tujuan, yaitu mengkaji budaya Sasak secara komprehensif dan holistis dari berbagai segi dan perspektif demi eksistensi budaya Sasak dalam berbagai zaman. Demikian juga menggantungkan diri pada wadah-wadah pengkajian budaya Sasak di luar Lombok atau Indonesia bukan cara yang tepat dan baik. Itu sebabnya, semua pihak di Lombok atau segenap orang Sasak terutama kelas terdidik atau terpelajarnya dan yang merasa berkepentingan dengan budaya Sasak perlu memikirkan adanya suatu wadah pengkajian budaya Sasak yang dapat merencanakan, mengkoordinasi, dan mengelola pengkajian budaya Sasak untuk keperluan transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata. Baik pemerintah, perguruan tinggi maupun semua yang peduli akan nasib budaya Sasak sungguh terpuji bila berkehendak dan berencana memikirkan, bahkan mendirikan suatu proyek, pusat, atau lembaga pengkajian budaya Sasak. Ada baiknya, memang, di Lombok didirikan suatu Pusat/Lembaga Pengkajian Budaya Sasak yang bergerak di bidang perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, pengkoordinasian, dan pemanfaatan pengkajian budaya Sasak. Generasi muda Sasak yang bersekolah di luar Lombok, saya kira, dapat memeloporinya dengan bekerja sama dengan berbagai pihak di Lombok.

Dengan tersedianya sumber daya insani yang memadai dan adanya wadah yang representatif, saya kira, masalah perangkat lunak pengkajian budaya Sasak dapat diperbincangkan dan didiskusikan. Peta permasalahan pengkajian budaya Sasak dapat dirumuskan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, meliputi banyak dimensi, segi, dan perspektif, bila ada pengkaji dan wadah pengkajian yang memadai dan representatif. Bermacam-macam teori yang ada pun dapat dikritisi dan dipertimbangkan kesesuaian, kecocokan, dan kemanfaatannya bagi pengkajian budaya Sasak yang hasilnya digunakan untuk mengelola transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata. Teori struktural, fungsionalisme-imperatif, konflik, modernisasi, ketergantungan, interaksionisme simbolis, etnometodologis, dan lain-lain yang banyak menyerbu kita dapat dipertimbangkan kegunaannya untuk pengkajian budaya Sasak. Demikian juga metodologi pengkajian yang beraneka ragam dapat dipertimbangkan ketepatan dan relevansinya bagi pengkajian budaya Sasak dewasa ini. Mengingat tidak ada metodologi yang terlengkap dan sempurna, ada baiknya bermacam-macam metodologi digunakan untuk pengkajian budaya Sasak. Dengan demikian, pengkajian budaya Sasak bukan hanya akan beraneka ragam permasalahan, teori, dan metodologinya, tetapi juga bermacam-macam dan makin lengkap dan luas temuan-temuannya. Temuan yang lengkap dan luas tentulah sangat menunjang perumusan dan pengelolaan transformasi budaya Sasak dalam era pariwisata.

4
Menutup makalah ini, perkenankan saya bercerita:
Sahibul hikayat, waktu dan zaman telah sampai pada Abad XXI. Seorang lelaki tua, ditemani istrinya dan beberapa anaknya yang berangkat dewasa, berdiri memandang dan memperhatikan Lombok yang diyakini sebagai ‘negeri’ dan dunia Sasak. Berdecak kagum ia kepada Sasak. Mengapa Bapak kagum kepada Sasak, bertanya sang anak. Sebabnya, jawab lelaki tua itu, Sasak mampu lulus dari ujian zaman dan menyelesaikan tugas zaman dengan baik sehingga budaya Sasak tetap mampu memberikan daya hidup kepada segenap orang Sasak di Lombok. Lihatlah, lanjut lelaki tua, manusia atau orang Sasak dapat hidup makmur, adil, berkecukupan, rukun dan damai, ramah tamah, dan tertib dalam alam Lombok yang indah. Lihatlah pula, betapa kehidupan religius, etis, dan estetis masyarakat Sasak begitu intens dan elok di tengah-tengah industri pariwisata yang berkembang khas dan lain daripada yang lain. Sang anak menyambung, “Ya, orang-orang Sasak tampak menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, makhluk sosial yang tertib dan rukun, dan hamba dan khalifah Tuhan yang mampu membumikan dan mewujudkan pesan-pesan Tuhan ke dalam kehidupannya sehari-hari”. Itu berkat, timpal lelaki tua itu, kemampuan budaya Sasak bertransformasi setiap menghadapi dan menemui tantangan-tantangan zaman sehingga mitologi, kosmologi, dan pandangan dunianya tetap efektif menyangga kehidupan Sasak. Lihatlah, lanjut lelaki tua itu, tantangan industri pariwisata yang kosmopolit dan global-transkultural dapat dikelola dan ditanganinya dengan baik sehingga di Lombok pariwisata tetap berwawasan budaya Sasak tanpa harus merugikan manusia dan budaya Sasak. Maka, tak aneh, manusia Sasak selalu bangga menjadi Sasak dengan wawasan yang luas, yaitu wawasan Indonesia dan wawasan Dunia (wawasan nasional dan universal). Dengan perkataan lain, lelaki tua meneruskan penjelasannya, manusia Sasak mampu berpikir, bertindak, dan berkiprah dalam konteks nasional dan global tanpa harus meninggalkan akar budaya Sasaknya sebab budaya Sasak sendiri mampu terus-menerus mengembangkan sifat inklusif, bukan konservatif, dalam berhadapan dengan tuntutan dan tantangan luar.

5
Kita tidak tahu apakah cerita di atas khayalan belaka atau akan terbukti nyata; apakah cerita di atas sebuah ironi atau bayang-bayang orang takut; apakah cerita di atas tantangan ataukah sindiran saja; apakah cerita di atas kerinduan ataukah harapan yang ditunjang oleh kerja keras; apakah cerita di atas sebuah utopia ataukah cita-cita. Wallahualam bissawab.
***

Belilbis 5, Mataram, 1991


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *