PELAJARAN BERPIKIR DAN BERNALAR MANUSIA –

oleh -332 views



Anton Wahyudi *

“Karya sastra baik pada hakikatnya selalu bisa memberikan pesan moral kepada pembacanya untuk berbuat baik!” (Budi Darma)

ENTAH APA yang terbesit di dalam benak saya tatkala membaca dan mencermati sekilas judul novel Donny Dhirgantoro: “5 cm”. Judul novel yang saya rasa unik dan menarik jika harus disandingkan dengan karya-karya sastra yang sudah pernah saya baca dan saya ketahui sebelum-sebelumnya.

Mencermatinya sekilas, dengan perlahan tapi pasti judul novel itu membuka saklar imajinasi saya, membuka ruang berpikir, lalu menghadirkan beraneka ragam halusinasi tentang sederet pertanyaan-pertanyaan, sebagai simbol keingintahuan yang dalam. Pertanyaan-pertanyaan yang saya buat-buat sendiri, pertanyaan-pertanyaan tentang rasa keingintahuan agar sesegera mungkin saya bisa mengetahui isi novel yang sebenar-benarnya.

Sepintas, pada satu titik yang sama itulah, di permukaan cover sampul depan yang berwarna agak hitam kecokelat-cokelatan saya mendapati satu kata kunci, tentang segores kata yang berusaha merangkum jelas isi di dalamnya. Ya, ”Tanggal 17 Agustus nanti, di Puncak Tertinggi Jawa, 5 Sahabat, 2 Cinta, dan Mimpi akan Mengubah Segalanya” (baca dan cermati cover).

Sebuah pendeskripsian singkat tentang potret nasionalisme, yang dirasakan oleh lima anak muda di Puncak Tertinggi Mahameru. Dan, di dalam 5 cm inilah mereka mulai diajarkan tentang arti cinta, arti kebersamaan, arti kehidupan, dan arti pentingnya merajut dan menggenggam sebuah impian. Dalam sekejap saja, rasa keingintahuan yang tadinya sempat menggumpal di otak kepala saya akhirnya pecah.
***

Merujuk pada tataran umur atau periodisasi kesusastraan Indonesia yang bisa dibilang masih muda belia, novel 5 cm (2005) karya Donny Dhirgantoro masuk dalam periodisasi angkatan sastra tahun 2000-an. Umumnya karya-karya angkatan tahun 2000-an hadir dengan tema-tema beragam dan muncul sebagai pembaharu yang menyuguhkan sisi lain tentang spirit modernisasi dan pola tatanan kehidupan yang serba kompleks.

Dengan begitu, munculnya Donny Dhirgantoro dan beberapa sastrawan angkatan sezamannya memberikan tematik baru dan memberikan muatan isi atau pesan moral kepada pembacanya. Dewi Lestari muncul dengan novel-novel tematik cintanya yang bertajuk Supernova (2001, 2002, dan 2004).

Di sela-sela itu, Habiburrahman El Shirazy muncul dengan menghadirkan corak atau nuansa novel tematik tentang cinta dan religiusitas (nuansa Islami), seperti novel Ayat-ayat Cinta (2004), Ketika Cinta Bertasbih (2005), dan lain sebagainya. Andrea Hirata muncul dengan suguhan cerita yang kaya akan pesan edukatifnya, yang inspiratif menyoroti pendidikan di Indonesia, seperti novel Laskar Pelangi (2005), Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), dan lain sebagainya. Setelah itu, muncul juga Ahmad Fuadi dengan mengepakkan karya atau novel fenomenalnya yang berjudul Negeri 5 Menara (2009).

Pada angkatan 2000-an inilah sastrawan yang tadinya muncul bersama dalam paruh waktu sama-sama mencari eksistensinya di lingkungan publik, mengembangkan sayap-sayap publisitasnya agar bisa diterima oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia. Dan, tampak jelas pada kurun waktu ini yang tampak heroik adalah karya Andrea Hirata (melalui novel Laskar Pelangi-nya) dan Habiburrahman El Shirazy (melalui novel Ayat-Ayat Cinta-nya). Karena di samping karya tulis ini terjual laris di pasaran, dua karya fiksi ini juga diangkat ke layar lebar (difilmkan). Lalu, bagaimanakah dengan novel 5 cm yang notabene-nya sudah lewat cetakan keduapuluhan?

Pada dasarnya, novel best seller ini juga laris di pasar nasional dan novel ini diterima oleh masyarakat, lebih khususnya kalangan pemuda. Novel ini pada kenyataannya memang dapat mengayakan batin dan pikiran kita (sebagai pembacanya).
***

Novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro menceritakan tentang jalinan persahabatan lima anak bangsa; sejak masa-masa di SMA hingga ke bangku kuliah, bahkan berlanjut sampai mereka sama-sama sudah berkeluarga. Kelima sahabat yang mengakui dirinya sebagai “Power Rangers” itu adalah Zafran yang sangat puitis, Arial yang atletis dan berpikir dinamis, Riani yang harmonis, Genta yang power aktif, dan Ian yang perawakannya lucu mirip teletubbies.

Sudah hampir tujuh tahun mereka tiada pernah melewati hari tanpa berjumpa: hanya sekedar membuang-buang waktu untuk berdiskusi, berdebat, nongkrong, nonton film, pergi ke cafe, dan lain sebagainya. Lalu, tanpa disadari bersama dan menjadi salah satu titik puncak klimaks awal —oleh karena faktor seringnya bertemu dan berkumpul bersama itulah membuat mereka tiba-tiba merasakan satu titik jenuh: kebosanan. Dengan sigap Genta pun mengusulkan sebuah solusi singkat dengan jalan melakukan perpisahan untuk sementara.

“Mungkin sebaiknya kita nggak usah ketemuan dulu!” Genta mengalirkan kalimat pendek. Semuanya menjadi sensitif. “Maksudnya?” Riani menoleh lembut, jari-jarinya menari sendiri di atas celana jins gelapnya. Genta meneruskan pembicaraan sambil menatap keempat temannya, “Ya enggak ketemu dulu, nggak nongkrong dulu, nggak ke mana-mana bareng dulu, ilang aja dulu semuanya, ilang abis-abisan, nggak telepon-teleponan, nggak ‘SMS-SMS’an juga. Kita ketemu lagi tanggal 14 Agustus yah…” (hlm. 62).

Atas dasar kesepakatan dan komitmen bersama inilah akhirnya memutuskan mereka untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan.

Kesepakatan perjanjian bersama itu akhirnya berlaku bersama. Mereka menjalaninya, walaupun pada awalnya mereka ditakuti perasaan was-was: takut kehilangan. Dan yang menjadi lebih menarik lagi di dalam isi cerita adalah bagaimana si penulis novel bisa mengontemplasikan rasa, sebagai wujud atas pergulatan batin tiap-tiap tokoh pada pertemuan tiga bulan sesudahnya. Pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu oleh semuanya. Pertemuan kelima sahabat di dalam isi cerita yang ditandai dan dirayakan dengan melakukan pendakian bersama ke Puncak Gunung Semeru pada pertengahan bulan Agustus.

Pertemuan itu adalah pertemuan yang tak terduga, yang sejatinya sudah direncanakan oleh tokoh bernama Genta sebagai niatan awal untuk melepaskan kerinduan yang mendalam. Pertemuan itulah yang pada akhirnya memupuk rasa kasih sesama. Terlebih lagi, membentuk pola pikir mereka tentang arti nasionalisme karena satu impian bersama. Sebuah impian besar tentang keinginan mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih tanggal 17 Agustus di puncak Gunung Semeru.

Di sinilah seorang pengarang memulai start untuk membangun ruang imajinasi pembaca, melalui serangkaian argumentasi-argumentasi yang objektif tentunya. Hal ini saya anggap menarik nan logis sebagai pembangun awal peristiwa sebuah cerita.

Di sisi menarik yang lainnya, saya menemukan hampir di setiap antar bab, bahkan hampir juga di setiap halamannya, dipenuhi oleh kutipan-kutipan lirik lagu sebagai pencitraan suasana. Tampaknya, hal baru semacam ini dimungkinkan pengarang untuk menarik massa, terlebih pembaca kalangan muda. Dengan tidak mengurangi arti pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya, pencitraan lagu (yang di dalamnya terhitung ada sekitar 47 lagu) ini membuka ruang imajinasi pembaca sedalam-dalamnya dalam menangkap suasana teks.

Memang, kehadiran 5 cm ini seperti mendoktrin dan men-justifikasi pembaca, utamanya generasi muda—yang saat ini nyaris kehilangan rasa nasionalisme dan lebih bersifat individualistik dalam pemertahanan idealisme. Akan tetapi, doktrin dan justifikasi yang dilakukan pengarang tampak sangat halus dengan memainkan perasaan pembaca melalui karakter tokoh-tokoh yang dihadirkan di setiap jalinan peristiwa.

Pengarang seolah-olah mengajak pembaca menikmati eksotisme di dalam kereta saat perjalanan dari Stasiun Senin, menikmati keindahan alam puncak Mahameru, hingga sampai pada titik akhir novel yang memberikan warna hangat tentang arti kebersamaan. Lebih khususnya kebersamaan teman sejawat dan kebersamaan tentang keluarga.
***

Setelah saya melewati halaman demi halaman, bab demi bab, dan sebagai sudut pandang orang pertama yang bercerita tampaknya pengarang terkesan lebih. Dalam artian pengarang terkesan lebih overload dalam pencitraan pendialogan, yang seolah-olah serba tahu dengan segala bidang. Sebenarnya hal semacam ini tampak terkesan baik karena pengarang menghadirkan muatan ilmu pengetahuan yang kompleks. Akan tetapi, dalam skala kecil menjadikannya kurang logis atau cepat dalam pendialogan di beberapa titik jalinan peristiwa.

Seperti yang nampak pada pencitraan di dalam kereta ekonomi dalam perjalanan ke Malang misalnya. “Semua penumpang kereta berdiri dan berlarian berebutan mau dengerin lagi! Arial langsung membuka bajunya, berdiri tegap membelakangi seluruh penumpang satu gerbong, mengikat kepalanya pakai ikat kepala merah, mengambil cat hitam, dan mencoret-coret pipinya, persis tokoh Rambo di dalam film yang mau balas dendam. Semua penumpang pun kembali ke tempat duduk, takut sama Rambo. Mereka nggak nguping.” (hlm. 166).

Satu hal yang terbesit dalam kutipan di atas adalah berkecamuknya pertanyaan-pertanyaan tentang (1) latar belakang penumpang kereta; dengan kondisi lelah menempuh perjalanan, (2) suasana di dalam kereta malam hari, dengan kondisi kereta yang mericuh, (3) dari mana munculnya cat hitam untuk Rambo. Ketiga hal inilah yang sekiranya menjadi kekuranglogisan pengarang dalam mencitrakan dialog dan penyuasanaan cerita. Terlihat jelas kurang tepat pemakaian diksi atas apa motivasi yang dibangun oleh pengarang dalam pencitraan seluruh penumpang kereta yang sedang terkesima, ingin berebut menghampiri “Power Rangers”, dan ingin mendengarkan cerita.

Seperti yang terlihat jelas pula dalam konteks cerita, bahwa setting tempat adalah gerbong kereta ekonomi dan waktunya berlangsung pada malam hari. Hal ini tampak kurang logis ditinjau dari kondisi psikologis penumpang kereta yang sudah seharian di dalam kereta, yang lebih tidak logis tentang pencoretan cat hitam ke muka. Pertanyaan yang paling mendasar dari potongan cerita itu adalah motivasi apa pencerita bisa memunculkan aksi atau peristiwa yang sedemikian? Terlebih tentang adanya cat hitam yang ada secara spontanitas.

Di samping itu, proses kreatif (cara berpikir) pengarang menjadi tendensi yang terpenting dalam membangun konspirasi cerita, utamanya dalam membangun suspensi (ketengangan), konflik, maupun pencitraan karakter. Dan berkenaan dengan masalah pencitraan karakter, tampak jelas di awal (prolog dan sub bab pertama) pembaca sudah dihadapkan pada masing-masing latar belakang kehidupan, baik itu tentang dunia pendidikan dan aktivitas sehari-hari. Seperti yang saya tangkap bahwasannya di dalam kaitannya dengan unsur penceritaan dan sudut pandang, di dalam novel ini tampak pengarang yang bercerita, dan terlihat jelas juga bahwa posisi pencerita adalah tokoh utama yang bernama Genta. Tentunya sudah teramat jelas sekali bagaimana pengarang menghadirkan karakter yang berbeda di antara tiap-tiap anggota “Rangers”, dan tentang perihal latar belakang pendidikan yang berbeda.

Dengan mencermati pendialogan yang ada pada setiap jalinan-jalinan peristiwa, saya pun mendapati pendialogan yang kurang logis atau kurang tepat guna pada pencitraan peristiwa-peristiwa yang ada di dalam novel. Dalam hal ini tampak pembicaraan antar tokoh yang agak kurang mengena karena terkesan seperti diskusi tentang kajian ilmu di dalam kelas.

Artinya, setting dan suasana banyak yang terasa kurang klop dengan obrolan-obrolan yang ada pada pendialogan setiap peristiwa. Nampak pada salah satu pencitraan suasana dan ketidaklogisan obrolan dalam jalinan peristiwa, lebih khususnya pada jalinan peristiwa saat seluruh anggota “Rangers” sedang beristirahat, melepaskan lelah di pinggiran Danau Ranu Kumbolo. Terlihat pencitraan suasana dan obrolan yang terasa begitu menyimpang jauh atau kurang mengena dengan konteks perdebatan tentang topik kecepatan partikel atom.

“Gue ngerti!” Mata Ian berbinar-binar. “Jadinya….E=mc2, kecepatan kuadrat 344.997.000 meter per detik berapa? Itung-itung!”. Ian mengotak-atik handphonenya lagi. “Apa? 119.022.930.009.000.000 meter per detik. Gileee.” Riani mengutak-atik kesimpulannya. “Jadi, dengan hanya satu gram benda atau satu per tujuh puluh kali lipat berat Indomie, bila benda itu bergerak dengan kecepatan 119.022.930.009.000.000 atau seratus sembilan belas bilyun dua puluh dua trilyun sembilan ratus tiga puluh tryliun sembilan milyar cm per detik.” (hlm. 272).

Pernyataan atas kutipan di atas tampak membuktikan kekurangpaduan pengarang dalam mengontraskan antara setting tempat, psikologi tokoh yang bisa dibilang sangat capek karena telah menempuh perjalanan yang jauh, pendialogan yang terkesan tinggi dan kurang berimbang dengan konteks keadaan. Seperti juga yang terlihat pada kutipan teks, bahwa anggota “Power Rangers” sedang capek dan beristirahat, ada yang duduk di pinggiran danau, ada yang menggelar tikar untuk rebahan. Akan tetapi, pada pendialogan yang panjang antartokoh mendialogkan perihal partikel atom dan energi yang dihasilkannya.

Dengan demikian, sangat terkesan sekali bahwa muatan isi pada pendialogan tokoh yang dimunculkan dalam jalinan cerita bisa dikatakan menjadi kurang tepat guna.
***

Ada pendapat klasik yang menyatakan bahwa karya sastra yang baik akan selalu memberikan pesan kepada para pembacanya untuk berbuat baik. Pesan-pesan yang bisa merangsang psikologis pembacanya melalui cerita, terkhususnya melalui lakuan tokoh-tokohnya.

Novel 5 cm ini saya rasa kurang mempunyai tradisi psikologisme yang kuat. Dalam artian bahwa penokohan atau perwatakan dalam sebuah karya tidak banyak mempersoalkan perkembangan personalitas dari pelaku (tokoh-tokohnya). Tokoh-tokoh yang muncul di dalamnya tidak mempunyai perwatakan yang merdeka, akan tetapi merupakan tokoh-tokoh yang sudah ditertibkan oleh pengarangnya. Dalam 5 cm, pelaku-pelaku yang dimunculkan sudah mempunyai personalitas yang mapan, terbentuk sejak awal sejak tokoh-tokoh itu dimunculkan. Hampir tidak ada kejutan besar konflik psikis, sebab semuanya sudah didudukkan dalam kerangka personalitas para pelaku. Logika perkembangan pribadi pelaku pun tidak menuruti pertumbuhan kejiwaan yang penuh dengan krisis yang membentuknya, akan tetapi menurut kemauan pembentukan sebuah kerangka peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Kendati demikian, 5 cm dalam novel ini mempunyai pengaruh dan motivasional efek kepada para pembacanya, terkhususnya memaknai secara spesifik tentang arti berpikir dan bernalar manusia. Hal ini terjawab oleh apa arti dari 5 cm yang sebenar-benarnya.

“Kamu taruh di sini.” Ian membawa jari telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya. “Biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Dia nggak akan lepas dari mata kamu. Dan bawa mimpi dan keyakinan itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan selalu percaya bahwa kamu pasti bisa! Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri kalo kamu percaya sama keinginan itu, dan kamu nggak akan menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, dan keyakinan diri…”. (hlm. 362).

Dengan arti sederhana sedikit bicaralah, banyaklah bekerja. Ciptakan harapan dan impian untuk menyongsong hidup ke depan lebih bermakna. Tetap Semangat!

6 Maret 2021

*) Anton Wahyudi, bermukim di Dusun Jambu RT/RW: 2/2, Desa Jabon, Jombang. Mengelola Jombang Institute, sebuah Lembaga Riset Sejarah, Sosial, dan Kebudayaan di Jombang, Jawa Timur. Di samping aktif dalam kegiatan menulis, dan sebagai editor lepas, menjadi Dosen Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI, Jombang. Buku terbarunya “Guruku, Ayahku, Kakakku Kwat Prayitno” (2020).



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.