PEMBELAJARAN SASTRA (2) –

oleh -308 views


Djoko Saryono

Yang dimaksud pembelajaran sastra Indonesia berlandasan literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif di sini adalah pembelajaran sastra Indonesia yang “berjiwa, bernafas, berwawasan, berbingkai, dan berpanduan” seluruh matra [dimensi] makna literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif. Lebih jauh, juga pembelajaran sastra yang “terarah, tertuju dan terpusat” pada tercapai dan mantapnya literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis- kreatif di kalangan subjek didik. Dengan pembelajaran sastra Indonesia tersebut subjek didik harus menjadi bebas/merdeka [proses liberasi] dari ke-tuna-baca-an, ketidakmampuan baca-tulis dan ketidakmampuan berpikir kritis-kreatif. Di samping itu, subjek didik juga harus menjadi manusia [proses humanisasi] dengan menumbuhkembangkan literasi, tradisi baca-tulis dan kemampuan berpikir kritis-kreatif dalam kehidupan subjek didik.

Seturut dengan itu, visi pembelajaran sastra Indonesia yang cocok adalah: menjadikan manusia literat, bertradisi baca-tulis, dan berpikir kritis-kreatif berlandaskan spiritualitas, filosofi humanistis, dan multikulturalitas dengan sastra Indonesia. Berhubung pembelajaran sastra Indonesia bermatra makna (i) bahasa, (ii) seni, dan (iii) budaya, maka misi-utama pembelajaran sastra Indonesia yang cocok visi tersebut sebagai berikut. Pertama, terbentuknya kecintaan, sikap, kemampuan, kemahiran, dan kebiasaan berbahasa [terutama membaca dan menulis] Indonesia yang berisi gagasan dan pikiran kritis-kreatif tentang sastra Indonesia. Kedua, termilikinya kesadaran, kepekaan, kebiasaan, dan perilaku apresiasi literer, estetis, imajinatif, dan fiksional secara kritis-kreatif yang dimanifestasikan dalam tulisan/bacaan tentang sastra Indonesia. Ketiga, terkuasainya budaya [kesadaran, ketajaman, kebiasaan] berpikir kritis-kreatif yang dimanifestasikan dalam kebiasaan dan kepiawaian [ke-prigel-an] membaca dan menulis tentang segenap sendi dan matra sastra Indonesia.

Untuk mencapai tiga misi-utama tersebut, diperlukan perubahan persepsi [transforming], perubahan pemikiran [reframing], dan perubahan perilaku [acting] berkenaan dengan bahasa, sastra, dan budaya Indonesia di kalangan pemangku pendidikan dan tenaga kependidikan terutama pendidik. Jadi, pembelajaran sastra Indonesia harus bisa membuat diri subjek didik mampu berangan-angan tinggi, beroleh ilham penuh makna, bergerak, dan berubah cerdas untuk menjadi literat, bertradisi baca- tulis, dan berpikir kritis-kreatif.

Jelaslah tidak mudah – meskipun tetap mungkin sekali – mencapai visi dan misi-utama pembelajaran sastra Indonesia berparadigma atau berlandasan literasi, tradisi baca- tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif tersebut. Hal ini disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, adanya involusi tradisi baca-tulis (yang berarti juga involusi kemampuan berpikir kritis-kreatif) semakin akut dalam kebudayaan Indonesia, sehingga pembelajaran sastra Indonesia mendapat beban ganda sekaligus paradoks, yaitu harus dapat membentuk subjek didik menjadi manusia literat, bertradisi baca-tulis, dan berpikir kritis- kreatif di tengah-tengah semakin memudarnya tradisi baca-tulis dan kemampuan berpikir kritis-kreatif dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia.

Kedua, kira-kira semenjak dasawarsa 1970-an politik kurikulum (meminjam istilah Pinar dan Bowers, 1992) atau kebijakan kurikulum (baik pada tataran nasional, tataran daerah, maupun tataran sekolah) Indonesia kurang menguntungkan pembelajaran sastra Indonesia pada umumnya. Struktur kurikulum, penentuan dan pembagian mata pelajaran (subject area pedagogies) dan isi kurikulum pendidikan dasar dan menengah Indonesia kurang memihak keberadaan, kedudukan atau tempat, dan peranan/fungsi pembelajaran sastra Indonesia, di samping proporsi dan distribusi bahasan atau kompetensi, bahan pembelajaran, strategi pembelajaran, dan asesmen pembelajaran yang bersangkutan dengan sastra Indonesia juga kurang menguntungkan; bahkan sumber belajar dan alokasi waktu pembelajaran sastra Indonesia kurang menguntungkan, misalnya ketersediaan buku-buku/bacaan-bacaan sastra Indonesia dan jatah waktu pembelajaran sastra Indonesia kurang memadai.

Oleh karena itu, dalam rangka mencapai visi dan misi-utama pembelajaran sastra Indonesia berlandasan literasi, dan tradisi baca-tulis, diperlukan reinventing kurikulum pembelajaran sastra Indonesia (pinjam istilah Laidlaw, 2005). Dalam hal ini diperlukan rekonstruksi dan reorientasi kurikulum pembelajaran sastra Indonesia sekaligus sistem pembelajaran sastra Indonesia. Apanya dan bagaimana rekonstruksi kurikulum pembelajaran sastra Indonesia?

Bersambung….



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.