PEMBELAJARAN SASTRA (4) –

oleh -144 views


Djoko Saryono

Sesudah keberadaan dan tempat pembelajaran sastra Indonesia berparadigma literasi, tradisi baca-tulis, dan berpikir kritis-kreatif tersebut jelas dan mantap, berikutnya perlu diadakan dan dipilih bahan pembelajaran sastra Indonesia yang cocok, tepat, dan lengkap. Pengadaan dan pemilihan bahan pembelajaran ini sangat penting, karena bahan pembelajaran dapat menjadi perangsang, pemberi ilham, penggerak-pengubah, bahkan ruang imajinatif bagi diri subjek didik untuk membangun, mengembangkan, dan atau memperoleh imajinasi, inspirasi, dan transformasi diri.

Itu sebabnya, pengadaan dan pemilihan bahan pembelajaran sastra Indonesia ini perlu mempertimbangkan empat hal sebagai berikut. Pertama, bahan utama-primer pembelajaran sastra Indonesia hendaknya berupa teks-teks atau karya-karya sastra Indonesia dalam arti seluas-luasnya – baik berbentuk puisi, cerpen, fiksi maupun sastra dramatik – supaya subjek didik dan pendidik dapat “bersentuhan dan bergumul” secara langsung dengan teks-teks sastra Indonesia. Bahan-bahan berupa ulasan, komentar, kritik, dan esai sastra Indonesia dapat dijadikan bahan pendukung-sekunder untuk memperkaya, memperluas, dan atau memperkuat wawasan subjek didik untuk berangan-angan, beroleh ilham, dan bergerak-berubah diri.

Kedua, kadar keberaksaraan dalam karya-karya sastra perlu dipertimbangkan. Karya sastra Indonesia yang sekiranya tidak mampu memantik semangat, kegemaran, dan kebiasaan membaca dan atau menulis subjek didik tidak perlu dipilih; karya sastra Indonesia yang kental kandungan residu kelisanan primernya tidak perlu dipilih untuk dijadikan bahan utama pembelajaran sastra Indonesia. Hal ini menuntut pendidik atau guru sastra Indonesia memilih karya sastra Indonesia dengan wawasan kesusastraan yang memadai.

Ketiga, corak atau warna budaya yang terkonstruksi dalam karya sastra Indonesia perlu diperhatikan; dalam ini hendaknya pendekatan pluralisme dan multikulturalisme dikedepankan supaya kemajemukan atau keberanekaragaman budaya terwakili dalam karya-karya sastra Indonesia yang menjadi bahan pembelajaran. Dengan kata lain, bahan pembelajaran sastra Indonesia harus dapat menggambarkan taman sari keragaman budaya Indonesia. Dengan demikian, bahan pembelajaran sastra Indonesia akan dapat membuahkan dampak pengiring (nurturant effect) berupa kesadaran akan kemajemukan budaya, saling pengertian dalam hidup bersama, dan wawasan multikuralisme dalam diri subjek didik.

Terakhir, keempat, dalam menentukan bahan pembelajaran perlu dipertimbangkan karakteristik subjek didik secara komprehensif baik kematangan diri, kepribadian, watak, kecenderungan kecerdasan, maupun gaya belajar subjek didik. Subjek didik tingkat SD, SMP, dan SMA-SMK tentulah diberi karya sastra Indonesia yang cocok dengan perkembangan dirinya. Misalnya, subjek didik SD dapat dipilihkan bahan berupa puisi-puisi Faiz atau sastra anak Indonesia pada umumnya. Yang penting di sini sastra anak tersebut mengandung keberaksaraan yang cukup kuat di samping dapat memantik kegemaran baca-tulis dan berpikir kritis-kreatif.

Subjek didik SMP bisa dipilihkan bahan novel-novel awal Indonesia, misalnya Si Jamin dan Si Johan (Merari Siregar), Bentrokan dalam Asrama (Achdiat Kartamirhardja), dan di Bawah Lindungan Kabah (HAMKA). Dalam pada itu, subjek didik SMA dapat dipilihkan sastra kanon yang sudah populer, misalnya karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Idrus, Hamsad Rangkuti, Sapardi Djoko Damono, Gerson Poyk, dan Abdul Hadi W.M. Demikian juga dengan kecenderungan kecerdasan subjek didik. Jika kecerdasan natural menonjol, maka karya fiksi Wildan Yatim dan Nukila Amal bisa dipilih. Jika kecerdasan eksistensial yang menonjol, bisa dipilih – misalnya – karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Danarto.

Dengan empat pertimbangan tersebut diharapkan dapat ditemukan dan ditentukan bahan pembelajaran sastra Indonesia yang bisa menjadi instrumen efektif untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan literasi. Di samping itu, juga menumbuhkan kegemaran, kebiasaan, dan kepiawaian [ke-prigel-an] membaca-menulis dan berpikir kritis-kreatif.

Bersambung…



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.