PEMBELAJARAN SASTRA (6) –

oleh -14 views


Djoko Saryono

Apakah “permainan atau pertunjukan orkestra” pembelajaran sastra Indonesia berparadigma literasi dan tradisi baca-tulis berhasil dengan baik – dalam arti mencapai visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia – sudah barang tentu perlu pengukuran ketercapaian visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia. Secara konseptual-teoretis, pengukuran ketercapaian visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia perlu dilakukan secara komprehensif dan holistis, agar keseluruhan visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia terukur.

Untuk itu, secara konseptual-teoretis, dapat digunakan dua macam bentuk penilaian secara serempak dan saling melengkapi [komplementer], yaitu ujian atau asesmen (examination/ testing/assessment) dan non-ujian (misalnya survei, pemantauan, dan evaluasi) yang terstandardisasi. Meskipun penggunaan penilaian non-ujian (survei, pemantauan, dan evaluasi) dimungkinkan secara konseptual-teoretis, pada umumnya penggunaan ujian atau asesmen menjadi pilihan utama, karena pertimbangan faktor validitas, reliabilitas, praktikalitas, dan fairness penilaian.

Jika dibandingkan dengan penilaian non-ujian (survei, pemantauan, dan evaluasi) terbukti ujian atau asesmen dapat memiliki validitas, reliabilitas, praktikalitas, dan fairness yang jauh lebih tinggi untuk mengukur ketercapaian standar isi pembelajaran. Oleh karena itu, pada umumnya ujian atau asesmen menjadi pilihan utama dan pertama sebagai alat pengukuran ketercapaian standar isi pembelajaran (Hill, 2010). Inilah arti penting ujian atau asesmen pengukuran ketercapaian standar isi pembelajaran sastra Indonesia.

Itu sebabnya, berbagai kepentingan dan keperluan – baik kepentingan dan keperluan subjek didik, sekolah, maupun daerah dan nasional – maka pengukuran ketercapaian visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia dapat menggunakan asesmen dan ujian. Memang, dalam hal tersebut asesmen non-tes perlu didahulukan, berhubung pembelajaran sastra Indonesia menggunakan paradigma literasi dan tradisi baca-tulis.

Bersambung…



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *