PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (1) –

oleh -228 views


Djoko Saryono *

Prolog:

Sekarang kita sedang memperingati Hari Pendidikan Nasional (2 Mei 2021) pada tahun kedua pandemi Covid-19. Selama dua tahun pandemi kita dihadapkan pada kelebatan-kelebatan perubahan wajah pendidikan kita baik karena kebijakan-kebijakan pemerintah maupun tekanan-tekanan atau tantangan-tantangan tak terelakkan dari berbagai penjuru. Tak ayal, dalam dua tahun terakhir kita berhadapan dengan kelebat pelbagai jargon, terminologi atau linguistik, bahkan gelagat gerak-gerik atau gimik (gimmick) yang “dipahami atau dikesankan” sebagai adanya transformasi substansial pendidikan Indonesia kita.

Di antara gegap-gempita sorai dan puja-puji (selebrasi dan seremoni) yang menyertai gairah transformasi pendidikan Indonesia, dua terma atau konsep yang jarang disorak-soraikan — menurut hemat saya — adalah [1] humaniora dan pendidikan humaniora dan [2] kepribadian manusia atau insan yang tercerahkan. Padahal entitas pokok upaya-upaya pendidikan itu mestinya tertuju pada pembentukan kepribadian yang tercerahkan dengan polesan humaniora yang kuat guna membentuk manusia utuh yang dicita-citakan (menguasai sains, teknologi, ekonomi dan bisnis, dan patriotis-nasionalis).

Sebab itu, selagi tulisan lawas saya ini “ketemu”, ada baiknya saya bagi di sini agar kita bersama tak makin melupakan betapa pentingnya pendidikan humaniora untuk membentuk pribadi tercerahkan yang sejatinya sangat diperlukan pada zaman serba tak menentu akibat disrupsi digital, pandemi, dan segala ikutannya. Sila simak siapa tahu masih ada gunanya sekalipun sudah kedaluwarsa. Karena lumayan panjang, saya bagi menjadi tiga seri.
***

PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (1)

Untuk mengawali tulisan ini, marilah kita merenungi kondisi kehidupan dan kebudayaan kita dalam kaitannya dengan insan cendekia atau rasionalitas. Benarkah kehidupan dan kebudayaan kita sekarang sudah dipandu oleh intelek atau akal pikiran/nalar di samping pengetahuan atau ilmu? Tentu, secara serempak kita menjawab: sudah! Kalau memang telah dicapai kegemilangan ilmu, teknologi, dan ekonomi yang “beribu akal pikiran atau nalar”, mengapa kehidupan dan kebudayaan kita masih dipenuhi oleh fundamentalisme, ekstremisme, radikalisme, terorisme, sektarianisme, etnosentrisme, sadisme, kekerasan, ketimpangan kemakmuran, dan berbagai bentuk penindasan – yang tampak menafikan keberadaan dan peran nalar dan ilmu? Demikian juga mengapa paranormal, peramal, ahli nujum, astrolog, penghipnotis, dukun, “dunia lelembut”, “iming-iming sulapan”, dan sejenisnya makin hari justru makin marak, naik daun, populer, dan menguasai hidup kita (sampai mengalahkan ilmuwan dan agamawan) – yang men-cerminkan tersingkirnya akal pikiran (sehat) dan pengetahuan?. Pendek kata, kalau nalar dan pengetahuan (ilmu) menjadi nahkoda hidup kita, mengapa justru sekarang merajalela masalah kritis yang harus diselesaikan dan dijawab dengan akal (nalar) dan pengetahuan?; mengapa justru makin menghilang kejernihan dan ketajaman bernalar dan berilmu?

Selain itu, benarkah kehidupan dan kebudayaan kita sekarang sudah dipandu oleh hati nurani atau jiwa kita? Tentu, kita juga serempak menjawab sudah sambil mengunjukkan sekian banyak argumentasi dan bukti! Tapi, mengapa kehidupan dan kebudayaan kita makin dikuasai oleh sikap dan perilaku saling curiga, saling membenci, saling berpandangan negatif, saling menutup diri (eksklusif), saling tidak mempercayai, saling tuduh, saling mau menang sendiri, saling merasa benar sendiri, dan saling “monohok kawan seiring” – yang mencerminkan tergusurnya hati atau jiwa kita? Mengapa egoisme, narsisisme, rasisme, hedonisme, permisifisme, banalisme, libidonisme atau erotisme, tipu-muslihat, amora-litas, dan sejenisnya makin hari makin marak dan mengendalikan hidup kita? Mengapa stres, stroke, disorientasi, skizofrenia, dan megalomania serta kehampaan hidup makin meroket dan banyak terjadi di samping makin laris para ahli terapi jiwa atau para pemandu hati nurani (termasuk buku-buku panduan terapi jiwa atau penyembuhan hati zulmani)? Demikian juga mengapa gosip, “rumor”, kasak-kusuk, omong kosong, dan kabar angin makin marak, naik daun, dan mewarnai hidup kita di samping tayangan infotainment alias gosip dan kabar angin selalu menempati rating tertinggi – yang semuanya menggambarkan tiada berfungsinya hati nurani atau jiwa kita?

Pendek kata, kalau hati nurani atau jiwa sudah memimpin hidup kita, mengapa sekarang justru makin meruyak kekosongan jiwa, kebengisan, kekejaman, kecongkakan, dan berbagai bentuk ketakmanusiawian dalam kehidupan dan kebudayaan kita?; mengapa semakin menghilang-langka rasa kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan?

Jangan-jangan selama ini kehidupan dan kebudayaan kita memang belum dipandu oleh akal pikiran (nalar) yang sehat, pengetahuan (ilmu), dan hati nurani (jiwa).

Jangan-jangan akal pikiran, ilmu, dan hati kita selama ini telah tersesat atau menyimpang dari jalan sebenarnya – bukannya mendukung, melainkan malah menelikung kebebasan dan kelangsungan hidup manusia. Bahkan, jangan-jangan akal pikiran, pengetahuan, dan hati nurani kita sudah “mati suri” atau paling tidak kita usir dari segenap lapangan kehidupan dan kebudayaan kita – dan dengan demikian kita sepenuhnya dikuasai dan dikendalikan oleh hasrat, nafsu, dan mimpi-mimpi semata. Bukankah Robin Baker sudah menulis buku Sains yang Sesat (2004), J.W.M. Verhar menulis buku Akal yang Sakit (2002), Erich Fromm menulis buku Masyarakat yang Sakit (Sehat) (1993), dan beratus-ratus buku terapi kejiwaan telah ditulis?

Apapun jawaban kita, fenomena kontradiktif tersebut menunjukkan bahwa insan cendekia, rasionalitas, spiritualitas (spirit=jiwa, semangat), dan imajinasi kita sedang bermasalah atau tidak fungsional-konstruktif bagi kehidupan dan kebudayaan kita. Sebagai manusia, kita tampaknya sedang menyaksikan, malah mengalami ketumpulan, kedangkalan, dan kerapuhan serta kekeruhan daya intelek, rasional, spiritual, dan imaji. Hal ini berarti, insan cendekiaitas, rasionalitas, spiritualitas, dan imajinasi kita sekarang justru menjadi part of the problem, bukan problem solver dalam kehidupan dan kebudayaan kita; padahal keempatnya merupakan “empat sekawan” (empat serangkai) yang diperlukan bagi kebebasan dan kelangsungan hidup manusia. Karena itu, kita perlu memeriksanya kembali, bahkan (bila perlu) menatanya kembali.

CIRI KEPRIBADIAN TERCERAHKAN

Jika insan cendekia, rasionalitas, spiritualitas, dan imajinasi kita “beres” atau sehat, menjadi bagian dari diri kita (melebur dalam diri kita), dan selalu berfungsi memandu kehidupan dan kebudayaan kita, tentulah kita menjelma menjadi manusia intelek(tual), rasional, spiritual, dan imajinatif. Kita pun niscaya akan memiliki kepribadian insan cendekia, rasional, spiritual, dan imajinatif. Mengapa demikian? Pasalnya, manusia atau pribadi yang intelek(tual), rasional, spiritual, dan imajinatif itu selalu berpikir, bersikap, dan bertindak berdasarkan nalar sehat, pengetahuan (ilmu), dan hati nurani serta etika (moralitas). Sebagai contoh, mereka akan dapat berpikir tajam dan bernalar lurus bila harus diminta “tombok togel” atau “membeli babi ngepet”, apalagi korupsi dan niscaya kemudian akan memutuskan tidak akan melakukan dua hal tersebut. Begitu juga mereka akan mampu membangun empati dan simpati bila menyaksikan ketertindasan, ketidakadilan, dan pelang-garan kemanusiaan. Dengan demikian, bolehlah dikatakan bahwa manusia khususnya kepribadian intelek, rasional, spiritual, dan imajinatif dilan-dasi sekaligus “dipimpin” oleh nalar sehat, hati nurani, pengetahuan (ilmu), dan tindakan etis. Ia merupakan manusia atau kepribadian yang tercerahkan atau mengalami kelepasan ke atas (relevation).

Apakah tanda-tanda atau ciri-ciri makhluk manusia khususnya kepriba-dian yang tercerahkan tersebut? Sebagai manusia atau kepribadian ter-cerahkan, secara normatif atau ideal dapat dikemukakan berbagai tanda atau ciri sebagai berikut.

/1/
Kualitas hidup atau pribadinya sudah terbebas dari atau telah melam-paui kepentingan dan pamrih pribadi. Setidak-tidaknya mampu mem-bebaskan diri atau meminimalkan kepentingan dan pamrih pribadi. Kepentingan dan pamrih umat manusia atau masyarakat tertindas (yang ditindas) yang bersemayam dalam diri, pikiran, dan nuraninya di samping selalu dibelanya. Sebagai contoh, kesempatan menjadi peja-bat atau penguasa tidak akan diartikan sebagai peluang mengeruk keuntungan pribadi atau keluarga, melainkan sebagai amanah melak-sanakan kemaslahatan bersama. Bahkan pada zaman dulu tawaran atau kesempatan menjadi penguasa atau pejabat dihindari atau dito-lak sebab bersekutu dengan penguasa saja bisa disebut pengkhianat oleh Julien Benda. Dengan berlaku demikian, kewarasan masyarakat dapat dijaga dan dibelanya.

/2/
Selalu mengedepankan dan menggunakan logika (nalar sehat), akal pikiran, hati nurani, pengetahuan (ilmu), nilai luhur, dan etika (mora-litas) dalam berangan-angan (berimaji), berpikir, bersikap, dan bertin-dak. Demikian juga pada waktu menimbang dan menilai sesuatu dalam kehidupan, kebudayaan, dan peradaban kita. Ini menunjukkan, ketajaman nalar, kejernihan akal, kelurusan nilai, kebenaran pengeta-huan, dan kepekaan nurani tidak bakal ditanggalkan dari pribadi, apalagi ditukar dengan [dijual kepada] kekuasaan dan kemewahan – sekalipun zaman kita sekarang telah dikendalikan oleh tata-bahasa kekuasaan atau tata-bahasa uang [power grammar atau financial grammar].

/3/
Selalu mengutamakan dan mengusahakan kebebasan, kemerdekaan, kemandirian, dan keotonoman dalam hidup, beraktivitas, dan bahkan berpikir, bersikap, dan bertindak. Empat hal tersebut tidak bisa ditukar dengan “sangkar emas dengan makan minum serba enak” (baca: ja-batan tinggi dengan uang berlimpah). “Kurungan tidak disukai oleh manusia tercerahkan”, kata Mohammad Sobary. Menukar empat hal tersebut dengan kekuasaan merupakan sebuah pengkhiatan, demi-kian teriak Julien Benda. Dalam kebidupan dan kebudayaan pun, empat hal tersebut senantiasa diperjuangkan demi keselamatan dan kelangsungan hidup bersama. Agar mampu berbuat demikian atau mempertahakan empat hal tersebut, maka mereka – kata Rendra – mesti berumah di atas angin. Ini menunjukkan, kepribadian insan cendekia dan rasional bukan kepribadian gerombolan yang hanya mengikuti kemauan gerombolannya atau bersembunyi di dalam gerombolan. Tak heran, kadang ia tampak terasing atau sendirian.

/4/
Memiliki semangat atau jiwa emansipatoris dan liberatif (baca: yang membebaskan dan memerdekakan), bahkan merealisasikan sekali-gus mengusahakan emansipasi dan liberasi demi peningkatan kualitas kehidupan bersama (sosial, negara, dan bangsa). Sesuatu yang menjadi belenggu selalu dilawannya atau paling tidak dikritiknya. Kejumudan masyarakat atau keangkuhan kekuasaan bakal sama-sama dilawannya karena hal tersebut sama-sama merusak kehidupan bersama; sama-sama memerosotkan kualitas kehidupan bersama. Tak mengherankan, kepribadian insan cendekia dan rasional senantiasa berani bersuara lantang (dengan tetap mengindahkan keanggunan dan kesantunan) demi kebenaran yang diyakininya di samping demi mempertahankan emansipasi dan liberasi masyarakat. Di samping itu, tidak jemu-jemu mengingatkan masyarakat dan penguasa atau siapa saja agar menjaga dan menghormati emansipasi dan liberasi, tidak malah menghancurkannya.

/5/
Memiliki komitmen dan panggilan jiwa untuk memihak kemanusiaan, keberadaban, ketertindasan, dan kepentingan masyarakat. Kemanu-sian dan keberadaban senantiasa dibela dan dijaganya. Ancaman-ancaman yang dapat menghancurkan kualitas kemanusiaan dan ke-beradaban selalu dilawannya. Sebagai contoh, segala bentuk penindasan – ekonomi, politik, dan atau sosial – “diperanginya” pada satu sisi dan pada sisi lain masyarakat tertindas selalu dibelanya. Begitu juga pembangunan yang menguntungkan segelintir orang dan merugikan masyarakat bakal dikritik atau ditentangnya secara bertanggung jawab (bukan asal mengkritik atau menentang!). Ini semua dilakukan demi kesehatan atau kelancaran metabolisme kemanusiaan, keberadaban, kebudayaan, dan kemasyarakatan; bukan demi kepentingan pribadi atau sekelompok orang.

/6/
Sanggup, berani, dan mampu berpikir dan bertindak terbuka, utuh-komprehensif, lintas-sektoral (lintas-bidang), dan multi-perspektif demi kemanusiaan, keberadaban, dan kebudayaan. Ibaratnya, berpikir dan bertindak berdasarkan keluasan cakrawala langit, bukan “kesempitan tanah yang sudah dikapling-kapling”. Cara berpikir dan bertindak “katak dalam tempurung” atau “spesialistis-teknis” kurang cocok de-ngan kepribadian insan cendekia. Yang cocok cara berpikir dan bertindak “umum atau universal”. Dalam bahasa sepakbola, berpikir dan bertindaknya dengan sistem total football atau flexi football, bukan sistem cattenatio atau zonal marking, dalam arti menjelajahi seluruh luas lapangan persoalan secara lentur, tanpa harus terpaku pada tempat atau bidang tertentu. Karena itu, kepribadian insan cendekia dan rasional (yang spiritual) gemar melakukan perantuan budaya, adab atau pengetahuan – sebagai suatu kembara [passing-over] – untuk kemudian pulang kembali (coming back) dengan kesegaran dan kebugaran pikiran dan tindakan.

/7/
Sanggup, berani, dan mampu menyuarakan, malah memperjuangkan kebenaran, kejernihan, dan kebersihan pikiran dan moral secara bertanggung jawab dalam berbagai lapangan kehidupan dan peradaban. Demi terealisasinya hal tersebut, tidak takut (disebut) melawan arus atau suka berbeda pendapat, bahkan disebut “suka aneh” sejauh hal yang dilakukan kuat argementasi atau dasar-dasarnya; bukan sekadar omong atau berbuat melawan arus untuk “beraneh-aneh” agar dilihat atau diperhatikan orang lain. Misalnya, demi kebenaran yang diyakini berani mengatakan bahwa pandangan yang menyatakan Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun adalah keliru karena pemerintah Belanda hanya menguasai Indonesia selama 100 tahun dan selama 250 tahun VOC (yang tidak sama dan sebangun dengan Belanda). Contoh lain, demi tindakan etis atau dengan landasan kejernihan moralitas berani membela PKL yang terus-menerus diuber dan digusur oleh pemerintah, padahal mereka justru telah menciptakan sekian banyak lapangan kerja dan tidak pernah manja kepada pemerintah. Pendek kata, kepribadian insan cendekia bersuara dan bekerja bukan demi pesanan penguasa atau kelompok orang, melainkan demi tegaknya kebenaran dan kejernihan akal dan moral kita bersama.

/8/
Mampu dan berani melakukan introspeksi dan otokritik di samping retrospeksi dan kritik. Kalau dalam retrospeksi dan kritik dilakukan perhitungan dengan pihak lain dengan cara memproduksi dan mendistribusikan wacana kritis berdasarkan pemikiran dan penilaian yang kuat, maka dalam instrospeksi dan otokritik dilakukan “perhitungan terhadap diri sendiri” (dalam arti individu maupun kelompok) secara jujur dan jernih berdasarkan kedalaman refleksi dan kontemplasi. Melakukan retrospeksi dan kritik memerlukan kemampuan memahami orang/pihak lain secara tepat dan cermat, sedang melakukan introspeksi dan kritik memerlukan kemampuan menyelami diri sendiri secara jernih dan mendalam. Yang pertama dipandang lebih mudah daripada yang kedua, apalagi pada zaman sekarang yang ditandai oleh semangat obsesif, ekspansif, ofensif, dan megalomania. Akan tetapi, kemampuan “melihat diri sendiri atau rumah tangga sendiri” dan kemudian melakukan perhitungan terhadapnya akan dapat membawa perubahan sosial. Ini berarti, kepribadian insan cendekia itu ditandai oleh kemampuan “ngilo githoke dhewe” (melihat kenyataan tengkuk diri sendiri) di samping “ngilo githoke wong liya” (melihat kenyataan tengkuh orang lain). Ia selalu menghindari sikap dan tindakan “buruk muka cermin dibelah”.

/9/
Mampu memberi inspirasi, membangun gagasan-gagasan kreatif, dan menyodorkan wacana-wacana kritis bagi masyarakat luas demi kesehatan metabolisme masyarakat atau kehidupan bersama. Ini berarti dunia pemikiran dan pengetahuan di samping medan moralitas dan etika menjadi rumah sekaligus rujukan utama bagi kepribadian intelektual. Karena itu, manusia berkepribadian insan cendekia itu memiliki selera berdiskusi, menulis, membaca “bacaan”, mendengarkan pen-dapat atau pikiran orang lain”, dan sejenisnya, bukan pertama-tama berselera-gemar menikmati Hard Rock Café, Starbuck, McDi, Plaza Indonesia, sirkuit formula satu, dan sejenisnya – yang tampak memberikan gengsi. Perlu dicatat, kepribadian insan cendekia dan rasional itu mengedepankan reputasi, bukan gengsi; gengsi harus disimpan ke dalam “laci pribadi”. Di samping itu, kepribadian insan cendekia itu memanjakan diri dengan pemikiran yang bersumber dari diskusi, bacaan, dan wacana; bukan melenakan diri atau “menghibur diri sampai mati” dengan kenikmatan yang bersumber dari sinetron slapstick atau telenovela, tayangan infotainment, chicklit (chicken literature), salon spa atau lulur, dan tempat karaoke.

Berbagai ciri atau tanda manusia atau kepribadian insan cendekia, rasional, spiritual, dan imajinatif tersebut boleh jadi terlalu ideal atau tinggi. Dalam kehidupan nyata kita, apalagi pada zaman sekarang, tentu saja ciri atau tanda tersebut terlihat muluk. Harus diakui, di tengah tarikan atau godaan kuat modal kapitalistik dan kekuasaan yang memang mampu memberikan kemakmuran dan kenikmatan tiada tara dan tepermanai, boleh jadi memang tidak nyaman “berumah di dunia idealisme dan moralitas” yang menjadi sumbu manusia atau kepribadian insan cendekia dan rasional. Di tengah dunia yang memberlakukan tata-bahasa uang yang menjunjung tinggi benda atau barang, memang sungguh sulit “berumah di dunia pemikiran dan perjuangan etis atau moral” yang tidak menjanjikan kekayaan bendawi. Di tengah dunia yang menjunjung tinggi ketubuhan yang menyepelekan kemampuan berpikir dan bernalar, mungkin memang kurang “trend” mengusung dimensi keruhanian yang menawarkan pemikiran dan moralitas.

Tapi, bagi Julien Benda dan pemikir lain, kalau kita memang mau menjadi insan cendekia harus memiliki sejumlah tanda tersebut. Kata Benda, manusia insan cendekia memang harus menjadi semacam filsuf-raja yang berumah di atas angin dan tidak tergoda kepentingan bendawi – apapun resikonya – kalau tidak mau disebut insan cendekia pengkhianat. Susahnya, pendapat Julien Benda ini diledek oleh Antonio Gramsci. Dikatakan oleh Gramsci, kaum insan cendekia harus menyatu dalam berbagai bentuk dan aktivitas perjuangan politik dan sosial supaya mencapai predikat insan cendekia organik. Dalam kenyataan, pelibatan atau penceburan diri ke dalam aktivitas perjuangan itu sering menjerumuskan orang menjadi corong kelas tertentu sehingga kehilangan idendepensi. Inilah dilema manusia intelektual. Karena itu, tak heran, manusia insan cendekia dan rasional ini disebut manusia tapal batas oleh Daniel Dhakidae: antara idealisme versus realisme, antara materi versus pemikiran; antara kebendaan versus keruhanian; antara virtualitas hidup versus realitas hidup; antara modal—kekuasaan versus moralitas—kebernalaran.

Bersambung…


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.