PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (3) –

oleh -207 views


: Kontribusi Pendidikan Humaniora

Djoko Saryono *

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, kepribadian insan cendekia (sekaligus rasional, spiritual, dan imajinatif) berpihak kepada kemanusiaan; kebebasan dan kelangsungan hidup manusia. Untuk bisa membela dan menjaga kemanusiaan atau kelangsungan hidup manusia secara berke-lanjutan diperlukan – pertama-tama – ketajaman pikiran, kejernihan akal-budi, kecermatan nalar, kedalaman hati nurani, kepekaan rasa, dan keindahan angan-angan manusia; dan kemudian – kedua – pengetahuan (ilmu) yang mampu mengasah rasa kemanusiaan dan pemikiran kita. Hal ini memerlukan peran penting humaniora. Mengapa demikian? Kata Sartono Kartodirdjo, “Humaniora berperan atau berfungsi sangat strategis dan sentral … karena dapat menggarap dan mengolah rasa kemanusiaan ke arah lebih bermutu. Insan cendekia terkemuka kita, Soedjatmoko, juga berkata bahwa, “… humaniora merupakan sesuatu yang sentral bagi proses pembangunan, dan bahwa banyak penyimpangan yang kini terlihat dalam pembangunan muncul karena diabaikannya humaniora”.

Hal tersebut menunjukkan, humaniora dapat menjadi instrumen atau wahana efektif pengembangan (atau pembentukan) kepribadian insan cendekia, rasional, spiritual, dan imajinatif karena humaniora memang berurusan dengan keruhanian manusia atau kemanusiaan; bukan berurusan dengan aspek-aspek teknis-analitis dari kehidupan dan peradaban manusia. Humaniora akan mampu menyediakan kerangka insan cendekia, rasional, moral, dan imajinatif bagi pengambilan keputusan atau tindakan manusia yang benar-benar didasari oleh kecermatan pikir, kejernihan nalar, kedalaman hati, dan keindahan rasa. Humaniora juga akan dapat membangunkan kesadaran-kesadaran baru, pikiran-pikiran segar, dan perasaan-perasaan empatik-toleran dalam menanggapi isu-isu atau persoalan kontemporer. Di sinilah, saya kira, kontribusi penting humaniora dalam pengembangan kepribadian insan cendekia.

Pengembangan kepribadian insan cendekia melalui humaniora tentu saja melalui proses pendidikan. Ini berarti pendidikan humaniora diorientasikan bagi pengembangan kepribadian insan cendekia, rasional, spiritual, dan imajinatif. Dalam pendidikan humaniora ini, sejarah, antropologi, filsafat, etika, sastra, dan bahasa sebagai bidang-bidang pokok humaniora harus disajikan dan digarap secara sungguh-sungguh. Demikian juga perbandingan agama, hukum, arkeologi, psikologi, sejarah seni, kritik seni, dan kritik ilmu yang juga sering dipandang sebagai humaniora perlu diberikan (bila dipandang perlu). Khusus pendidikan humaniora di perguruan tinggi, rasanya semua mahasiswa – apapun fakultas, jurusan, dan program studinya – layak mendapat pendidikan humaniora yang bersangkutan dengan bidang-bidang yang sudah disebut di atas. Dalam struktur dan isi kurikulum perguruan tinggi perlu dimasukkan bidang-bidang humaniora di atas. Selanjutnya, pendidikan humaniora harus ditempatkan dan dianggap sebagai substansi pendidikan tinggi; pendidikan tinggi tidak boleh hanya menggarap persoalan teknis dan membentuk kemampuan-kemampuan teknis semata, yang ujungnya memenuhi DUDI. Jika hal tersebut terjadi, maka perguruan tinggi menjelma menjadi “bengkel manusia atau toko kelontong pengetahuan semata”. Hal tersebut jelas sebuah reduksi atau simplifikasi hakikat perguruan tinggi.

Pendidikan humaniora (pada semua jenjang pendidikan – termasuk pendidikan tinggi) memang penuh tantangan berat, tidak mudah dillaksanakan secara berhasil). Mengapa? Pertama, sekarang kita bukan hanya berhadapan dengan kenyataan dead poet society seperti ditengarai N.H. Kleinbaum, tapi malah dead humaniora society. Masyarakat kita cenderung menyanjung dan menjunjung sains dan teknologi sembari menyepelekan humaniora meskipun bukan sains dan teknologi dalam arti sebenarnya. Tandanya, mereka rabun sastra, berbahasa kacau atau centang-perentang, terjangkiti amnesia sejarah, menjauhi etika, tidak suka baca filsafat, dan mengidap pandangan stereotipis tentang manusia. Sebaliknya, mereka suka nonton telenovela, suka melahap infotainment, gemar baca chicken literature saja, dan sebagainya. Kedua, kita berhadapan dengan kenyataan bahwa pendidikan tinggi – juga perguruan tinggi – telah mengalami McDonaldisasi, bukan hanya industrialisasi. Seperti hukum waralaba McDonald, dalam McDonaldisasi perguruan tinggi ini pendidikan cepat disajikan, cepat dimakan, dan cepatlah pergi setelah habis santapan. Tak pelak, kampus sudah menjelma menjadi perluasan pasar dan proses pendidikan tinggi telah sepenuhnya menggunakan hukum pasar, mengalahkan hukum-hukum penguasaan ilmu.

Ketiga, pendidikan humaniora berhadapan dengan kenyataan masyarakat yang makin menghargai teknikalisasi-spesialisasi yang segera dapat dipakai dalam dunia kerja; bukan hidup manusia. Dalam perspektif ini jelaslah pendidikan humaniora tidak memperoleh atmosfer yang nyaman karena akan dianggap buang-buang waktu atau uang mempelajari humaniora. Bisa jadi masyarakat mengembangkan semboyan: no humaniora no cry (analogi lagu No Woman No Cry) sekalipun mereka didera stres, fanatisme, kehampaan makna hidup, dan kekosongan jiwa, dan lain-lain – yang semuanya justru merupakan topik-topik humaniora. Keempat, pendidikan humaniora memerlukan praksis, bukan teori semata; memerlukan teladan dan contoh, bukan perintah. Ini jelas tidak mudah dilaksanakan karena kurikulum pendidikan lebih condong kepada persoalan teknikalistik. Dengan empat tantangan tersebut jelaslah pendidikan humaniora memerlukan “orang-orang keras kepala”; orang-orang yang berani dianggap berteriak di tengah gurun pasir luas.

Paparan-paparan di atas telah memperlihatkan bahwa kepribadian intelektual penting dikembangkan karena relevan dengan kelangsungan hidup kita. Humaniora memiliki kontribusi penting dalam proses pengembangan kepribadian insan cendekia tersebut karena ia memang berurusan dengan aspek-aspek yang menjadi karakteristik kepribadian insan cendekia. Untuk itu, pendidikan humaniora layak dikembangkan agar memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan kepribadian insan cendekia. Akan tetapi, masalahnya, pendidikan humaniora belum beroleh tempat dan perhatian dari khalayak. Bahkan ada kecenderungan makin terpinggirkan di perguruan tinggi sekalipun kuantitas kelembagaannya luar biasa banyak melebihi kebutuhan. Karena itu, pendidikan humaniora menghadapi banyak tantangan. Untuk mengatasinya diperlukan para pendidik humaniora yang tangguh dan berdaya tahan tinggi.

Sekian dulu, selamat menjalani ibadah puasa Ramadan.


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.